Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Best Memories


__ADS_3

Seperti malam minggu lainnya. Mereka berkumpul di kamar Dylan. Menonton video yang dibuat Dylan ketika mereka tinggal di Swiss.


"Aku sangat merindukan mama dan saat-saat kita tinggal di Swiss." Calista memeluk ayahnya sangat erat. Air matanya tumpah. Kaus yang dikenakan ayahnya basah oleh air matanya.


"Kita semua sangat merindukan mamamu." Sahut Dylan memeluk Callista dan mengusap rambut putrinya.


Saphire memeluk perut ayahnya. Wajahnya menghadap ke depan televisi di depan tempat tidur ayahnya bersama Keanu.


Keanu sendiri meletakkan kepalanya di kaki ayahnya. Menonton video yang sama dengan mereka semua.


Saat-saat bersama anak-anaknya. Membuat Dylan tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Mereka semua sangat membutuhkannya. Dia tidak ingin perhatiannya terbagi dengan isteri barunya. Apalagi sampai mengabaikan anak-anaknya. Kenangan-kenangan manis dan indah mereka bersama Sinta.


"Pa! Mama cantik sekali. Kau lihat senyumnya?" Sahut Callista menghapus air matanya.


"Yeah! Dia sangat tergila-gila dengan kebunnya. Ibumu memang sangat cantik sekali. Sepertimu dan Saphire. Kalian berdua menuruni kecantikannya."


"Kapan mama akan kembali? Apakah mama tidak merindukan kita semua?"


"Tentu saja dia merindukan kita semua. Tetapi dia belum bisa mengunjungi kita semua. Dia akan kembali dan tinggal bersama kita lagi. Setelah semua urusannya selesai."


"Yeah! Aku tidak sabar menantikan saat itu."Ujar Callista dengan nada penuh kerinduan.


"Aku ingin melihat video saat mama menyiapkan ulang tahunku." Sahut Saphire.


"Tunggu video ini habis." Seru Callista.


"Yeah! Sehabis ini aku ingin melihat video saat mama menyiapkan ulang tahunku, kau, Keanu dan papa. Tidak ada video mama menyiapkan ulang tahunnya sendiri."


"Tentu tidak ada. Ulang tahun hari spesialnya. Aku tidak ingin mamamu menyiapkan ulang tahunnya sendiri." Tukas Dylan.


"Mama tidak keberatan sama sekali. Dia ingin membuat dan menyiapkannya sendiri."


"Yeah! Tapi aku tidak memperbolehkannya. Karena aku juga ingin memberikan surprise untuknya."


"Kau tidak pernah melewatkan ulang tahunnya." Kenang Callista.


"Hanya pada saat itu aku bisa mencurahkan seluruh perasaanku padanya." Ujar Dylan.


"Pa!" Callista memeluk ayahnya semakin erat, "Aku ingin jika nanti aku menikah. Aku akan menikahi seseorang sepertimu, Pa!"


"Tentu! Aku harus memastikan orang yang kau pilih bisa mengurusmu dan memperhatikanmu lebih baik dariku. Atau kupatahkan lehernya."


Kontan mereka semua tertawa.


"Apakah kau akan menikah Cal?" Tanya Saphire.


"Yeah! Tentu. Aku kan sudah besar."


"Tidak cukup besar untuk menikah. Kau harus menunggu dan bersabar. Aku ingin kau membereskan semua urusanmu sebelum kau memutuskan untuk menikah."


"Aku tidak akan menikah. Sampai aku menemukan seseorang sepertimu."


"Kau harus menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku." Ujar ayahnya"Apakah kalian ingin memesan makanan? Hari ini aku tidak memasak."


"Bagaimana kalau kita memesan pizza?" Ujar Keanu.


"Ide yang bagus!" Mereka semua menyetujui.


"Aku juga ingin memesan cake coklat." Ujar Callista.


"Baiklah. Cake coklat dan pizza. American favorite."

__ADS_1


"Yeah!"


"Aku juga mau ice cream." Sahut Sapphire.


"Neopolitan?"


"Durian."


"Baiklah durian.


"Vanila dan coklat, pa." Pinta Callista.


"Oke, durian, vanila dan coklat."


Mereka sedang menunggu pesanan makanan dan ice cream mereka tiba ketika bel flat mereka berbunyi.


Callista membuka pintu dan ternyata Syarifah, syarif dan ibunya.


"Halo! Kami tidak mengganggu kalian kan?" Sahut Haliza riang.


"Kami sedang menonton video di kamar papa dan Keanu."


"Video apa?"


"Saat kami semua tinggal di Swiss."


"Sepertinya menarik. Boleh kah kami bergabung?" Tanya Haliza.


"Pa! Mamanya Syarifah datang!" Teriak Callista.


Pintu kamar Dylan terbuka.


"Kami ingin bergabung dengan kalian. Boleh kan?" Sahut Haliza tersenyum lebar.


"Kalian sendiri tidak punya acara. Kita senasib kan?" Sahut Haliza.


"Kata siapa kami tidak punya acara? Kami sedang menonton video istriku. Mamanya anak-anak."


"Bolehkah kami ikut melihatnya?" Ujar Haliza setengah memaksa. Tidak akan kecewa mendapatkan lelaki sebaik Dylan. Walaupun tidak dengan paket cintanya. Yang hanya diberikan kepada istrinya.


Dylan tidak akan mengkhianatinya. Mengurusnya dengan baik dan bertanggung jawab kepadanya. Apalagi yang dibutuhkan seorang wanita dari seorang lelaki pada akhirnya?


"Kami sedang menonton di kamarku dan Keanu."


"Kita kan ramai. Bukan hanya berdua saja." Sahut Haliza keras kepala.


"Akan kubawa videonya keluar. Sebaiknya kita menonton di ruang keluarga saja." Ujar Dylan yang merasa risih.


"Baiklah! Terserah kau." Sahut Haliza. 


"Kami sedang memesan pizza, cake dan ice cream." Ujar Callista kepada Syarifah.


"Kebetulan!" Sahut Syarifah tetawa.


"Yeah!" Sahut Callista.


"Aku juga membawakan kalian makanan yang kubuat sendiri." Sahut Haliza,"Membeli cemilan untuk kita semua. Ambillah di mobil." Ujar Haliza menyerahkan kunci mobilnya pada Syarifah.


Callista, Syarifah, Saphire, Keanu dan Syarif menuju mobil bersama-sama.


Dylan terheran melihat ruang keluarga yang kosong," Kemana mereka semua?" Tanyanya.

__ADS_1


"Mengambil barang-barang dimobil. Aku membawa makanan dan minuman."


"Tidak usah. Kami juga sudah memesan makanan dan minuman."


"Tidak apa-apa. Untuk menambah makanan dan minuman yang sudah ada. Kau bisa menyimpan sisanya di kulkasmu."


"Tidak usah! Kau bawa pulang saja sisanya."


"Kita bagi dua. Gimana?"


"Terserah kau saja."


Dylan membawa videonya keluar ke ruang tamu. Menyetel vcd yang dibawanya dari kamarnya. Menggunakan televisi di ruang keluarga.


"Itu istrimu?" Tanya Haliza.


"Yeah." Sahut Dylan.


"Cantik sekali."


"Terima kasih."


"Dia sangat suka berkebun?"


"Yeah. Dia memiliki sebuah toko sayuran dan buah dari kebunnya sendiri. Toko florist dari bunga yang ditanamnya sendiri."


"Wow!"


"Dia juga membuat mentega, keju juga susu sendiri."


"Wow!"


"Kau tahu kan mengapa aku tidak bisa melupakan istriku."


"Yeah! Sepertinya dia wanita yang sangat spesial. Aku sangat menyukai senyumnya. Ekspresi wajahnya."


"Yeah! Dia seperti bunga matahari kan?"


"Yeah. Yang bersinar pada pagi hari."


"Kau menyukainya?"


"Yeah! Aku sudah bilang aku tidak keberatan jika dia kembali dan kau menikahinya kembali."


"Mengapa kau sangat ingin menjadi istriku?"


"Memang kau tidak kesepian. Seorang diri?"


"Tentu. Aku sangat kesepian. Tetapi aku tidak dapat melupakan istriku. Aku tidak ingin siapa pun mengambil kenangan tentang istriku."


"Aku berjanji tidak akan mengambil kenangan tentang istrimu. Tidak darimu atau anak-anakmu. Bagaimana?"


"Semua terlalu cepat bagiku. Aku tidak pernah berniat menikah lagi. Bagiku, pernikahan adalah sekali seumur hidup."


"Apakah aku kurang cantik bagimu?"


"Kau cantik. Hanya saja, seperti kukatakan. Aku tidak ingin kehilangan kenangan tentang istriku. Tidak ada yang dapat menerima seseorang yang masih hidup di masa lalunya."


"Aku akan menunggumu."


"Jangan menungguku."

__ADS_1


"Aku akan berdamai dengan masa lalumu. Menerima masa lalumu menjadi bagian hidup yang akan kita jalani. Bagaimana?"


__ADS_2