
Hapsari bukan terlahir dari keluarga kaya. Tantenya, Helena yang sudah menemui ajalnya adalah penopang keluarganya.
Kematian tantenya merupakan kesedihan bagi keluarganya. Selain kehilangan tulang punggung.
Bisa diandalkan untuk menjaga seluruh keluarga. Menjaganya saat orang tuanya bekerja. Merawat sepupunya saat kedua orang tuanya terpaksa menitipkannya karena harus keluar kota mengurusi usaha mereka.
Jika ada anggota keluarga yang terbaring sakit. Tantenya juga kerap membantu merawat.
Sehingga kehilangan tantenya seperti saat mereka kehilangan kakek neneknya.
Semenjak tantenya meninggal. Mau tidak mau dia dan sepupunya. Harus menjaga diri mereka sendiri saat orang tua mereka bekerja. Sesekali mereka diawasi dari jauh oleh tetangga sekitar mereka.
Sejak tantenya meninggal, dia merasa lelaki yang kerap memberikan hadiah menggantikan tantenya untuk mengawasi dan menjaganya.
Lelaki tersebut pernah menyelamatkannya saat nyaris tertabrak ketika berjalan menuju sekolahnya.
Tangannya disambar dan tubuh mungilnya dipeluk. Tubuh keduanya terhuyung nyaris terjatuh.
“Kau harus hati-hati!” Ujar lelaki yang tidak diketahui namanya. Dan dia sendiri pun enggan untuk menanyakannya. Yang dia tahu lelaki itu sering mengawasinya dari jauh dan memberikan sejumlah hadiah sampai dia beranjak dewasa.
Hapsari hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Harus lihat kanan kiri dan jangan jalan terlalu ke tengah. Kau mengerti?”
Hapsari kembali menganggukkan kepalanya. Ingatannya melayang saat Tantenya masih ada. Mengantar jemputnya. Tidak perlu dia bersusah payah berjalan dan menggunakan transportasi umum.
Setiap jam sekolah. Tantenya akan mengantar jemput dirinya dan sepupunya. Mereka akan dibawa ke rumahnya dan tinggal bersamanya dan kedua pengurus rumah sekaligus bertugas menjaga dan merawat sepupunya.
Jika tantenya tidak bisa mengantar jemput karena ada yang harus dikerjakan. Supirnya akan mengantarnya dan sepupunya ke sekolah.
Kedua orang tua mereka akan menjemput di akhir pekan atau saat mereka tidak bekerja.
Semenjak tantenya meninggal. Mereka kembali tinggal dengan kedua orang tua mereka. Supir dan pengurus rumah yang bekerja di rumah tantenya diberhentikan.
Rumah milik tantenya dijual. Begitu juga dengan simpanan milik tantenya. Karena tidak memiliki anak dan pasangan diberikan kepada kedua orang tua mereka sebagai warisan.
Ayah Hapsari adalah adik tantenya sedangkan ibu Brian, sepupunya, adalah kakak tantenya. Mereka bertiga bersaudara kandung.
Kematian tantenya menimbulkan kesedihan bagi Hapsari dan Brian, sepupunya. Mereka tidak hanya kehilangan sosok yang selalu ada buat mereka dan menjaga mereka berdua.
Tetapi juga sosok yang kehadirannya melebihi kedua orang tua mereka sendiri.
Almarhum tantenya tidak memiliki suami dan anak. Sehingga semua kasih sayang dan perhatian dilimpahkan pada kedua ponakannya serta dua saudara kandung dan dua orang iparnya.
Hapsari dan Brian harus mulai belajar mengurus diri mereka sendiri.
Berangkat sekolah sendiri. Menjaga diri mereka sendiri di rumah masing-masing dengan diawasi dari jauh oleh tetangga-tetangga sekitar mereka.
Hapsari dan Brian semakin jarang bertemu. Ketika tante mereka masih ada. Selama weekdays mereka berada di rumah tante mereka.
Sampai hari Jumat malam keduanya dijemput orang tua masing-masing. Senin diantar orang tua mereka ke sekolah. Pulangnya dijemput tantenya.
Saat-saat bersama tante Helena sangat membahagiakan.
Hapsari seperti masih mengingat jelas saat tante Helena menjemputnya dan Brian. Membawa mereka ke rumahnya.
Tante Helena menyetir mobilnya lamat-lamat.
“Bagaimana sekolah kalian?” Ujarnya sambil menyetir.
Hapsari dan Brian bergantian menceritakan mengenai hal-hal yang mereka alami di sekolah.
“Ada anak baru di kelasku.” Hapsari memulai ceritanya, “Tidak ada yang mau menemaninya.”
“Mengapa?”
“Mereka bilang anaknya sombong.”
“Sombong?”
“Tidak suka mengobrol.”
__ADS_1
“Pendiam, maksudnya?”
“Bapaknya sering pindah kerja. Jadi dia sering tidak memiliki teman.”
“Kasihan.” Sahut Helena.
“Yeah.”
“Kau tidak berusaha menemaninya?”
“Aku mengajaknya makan siang bersama.”
“So sweet. Apakah dia menyambutnya?”
“Awalnya tidak.”
“Mengapa?”
“Dia khawatir aku menjahili dan menjahatinya.”
“Mengapa dia berpikir sejelek itu?”
“Di sekolah lamanya. Beberapa temannya ingin menjalin pertemanan dengannya. Ternyata mereka semua mengolok-olok dan mempermalukannya.”
“Benarkah? Mengapa begitu?”
“Mereka berteman untuk mengorek semua hal tentangnya. Orang tuanya bercerai. Dia ikut ayahnya. Ibunya menikah lagi. Suami baru ibunya orang kaya.”
“Lalu?”
“Mereka meledeknya karena itu.”
“Maksudmu. Dia enggan berteman denganmu awalnya karena khawatir kau akan meledeknya?”
“Ya.”
“Tapi kau tidak meledeknya kan?”
Helena mengusap kepala keponakannya dengan lembut.
“Tante bangga padamu. Anak baik.”
“Terima kasih tante.” Sahut Hapsari dengan wajah berbinar.
“Apakah dia menceritakan banyak hal padamu?”
“Yeah. Aku kan temannya.”
“Jadi teman yang baik.”
“Yeah. Aku tidak akan meledeknya.”
“Bagaimana denganmu, Brian?”
“Bu guru menyita mainan yang kubawa.”
“Tidak boleh bawa mainan ke sekolah? Peraturan yang aneh.”
“Mike meminjam mainanku. Dia memainkannya di kelas bersama Deni.”
“Pantas saja mainanmu diambil. Ya sudah, lain kali jangan dipinjamkan di dalam kelas.”
“Yeah.”
“Sudah nanti kita beli lagi.”
Sesampainya mereka di rumah. Mereka menaruh tas mereka ke dalam kamar mereka masing-masing.
Kemudian mereka akan melakukan berbagai hal di free time mereka.
Belajar, menonton televisi, ikut kursus dan bermain. Mereka tidak tahu pekerjaan tante Helena.
__ADS_1
Tidak seperti orang tua mereka yang selalu sibuk dan tidak memiliki waktu. Tante Helena memiliki banyak waktu luang sekaligus uang yang cukup.
Sesekali dia pergi bekerja atau ke luar kota dan negeri. Tante Helena sendiri bukan seorang yang kaya raya dengan limpahan harta melainkan berkecukupan.
Memilih sebuah rumah type empat lima dengan tiga kamar, sebuah kamar mandi yang ditempatinya bersama kedua keponakannya. Sebuah mobil dan sejumlah deposito senilai 500 juta. Semua itu menjadi warisan kedua orang tuanya ketika meninggal dunia.
Hapsari dan Brian yang paling merasa kehilangan. Karena tidak ada yang bisa menjaga dan merawat mereka sebaik tante Helena.
Lamunannya buyar. Sekolahnya sudah tinggal beberapa langkah lagi. Kerinduannya pada tante Helena membuncah. Ingatannya sesekali melayang pada almarhum tantenya tersebut.
Mereka semua berduka. Seluruh keluarganya menyayangi tante Helena. Walaupun kedua orang tuanya sempat shock dengan kematian tante Helena. Semakin dia dewasa, dia semakin mengerti mengenai pekerjaan tantenya.
Brian tanpa sengaja menguping pembicaraan kedua orang tuanya membahas kematian tante Helena.
“Aku mendengar mereka mengatakan bahwa tante Helena simpanan pengusaha.”
“Benarkah? Kau tahu darimana?”
“Aku tidak sengaja menguping pembicaraan kedua orang tuaku.”
“Apa yang mereka katakan?”
“Tante Helena mengorbankan dirinya untuk keluarga. Ayahku dan ibumu bisa memiliki pendidikan dan pekerjaan yang baik karena pengorbanan tante Helena.”
“Benarkah?”
“Apakah kau tahu?”
“Apa itu?”
“Tante Helena tewas dalam keadaan hamil.”
“Apa?”
“Yeah.”
“Bukankah tante Helena gantung diri?”
“Yeah. Ada surat berisi pesan sebelum dia bunuh diri.”
“Maksudmu, dia membunuh dirinya beserta bayi yang dikandungnya?”
“Yeah.”
Usia keduanya menjelang tujuh belas untuk Hapsari dan menjelang delapan belas tahun untuk Brian saat mengetahui fakta tersebut.
“Aku sering merindukan tante Helena.” Ujar Hapsari.
“Aku juga.” Balas Brian.
__ADS_1