Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Pepatah


__ADS_3

Pepatah mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang jalan sedangkan kasih ayah sepanjang galah.


Tetapi tidak demikian yang dialami Emier. Ayahnya memberikan kasih sayang dan perhatian yang sangat melimpah dibandingkan dengan sang ibu yang terasa lebih kejam dari pada ibu tiri.


Selalu ketus dan sinis. Bersikap kejam dan menyakiti hati. Tetapi Emier tetap mencintai bundanya melebihi apa pun bahkan ayahnya sendiri. Yang tidak pernah absen memperhatikan dan mencintainya.


Mungkin dalam kasus Emier pepatah tersebut tidak berlaku. Merupakan pengecualian.


Emier sendiri selalu mempersembahkan yang terbaik untuk bundanya. Di usianya sekecil itu. Dia sudah memahami banyak hal.


Siapa pun yang melihat dan mengenalnya akan bersimpati kepadanya. 


Sinta meninggalkan anak-anaknya ketika Keanu memasuki sekolah kindergartennya. Sapphire akan memasuki sekolah dasar sedangkan Callista akan memasuki smp.


Emier sendiri lahir dua tahun kemudian. Dia nyaris menggugurkannya. Kalau tidak terendus oleh Dean. Mungkin mereka tidak memiliki Emier.


Dan mungkin lebih mudah baginya untuk kembali kepada Dylan dan ketiga buah hati mereka.


Usia Callista sendiri sudah enam belas tahun. Emier lahir hanya berselang beberapa hari menjelang ulang tahun Callista. 


Di usianya yang genap lima tahun. Emier terlihat lebih matang dan dewasa dari anak seumurnya yang kerap bermanja serta menangis juga merengek pada kedua orang tuanya.


Emier adalah anak yang sangat manis dan penurut. Sangat menyayangi kedua orang tuanya. Tidak pernah membantah. Apalagi menangis dan merengek.


Semua yang mengenalnya. Akan sangat menyayangi Emier. Karena polahnya yang sopan. Hatinya yang lembut dan baik. Otaknya yang cerdas. Serta darah seni yang kental mengalir deras pada tubuhnya.


Emier sedang menikmati sarapannya. Ketika ibunya menghampiri meja makan mereka.


"Kau ada resital? Aku tidak bisa menghadirinya." Sahut ibunya mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang ada di meja.


"Bunda sibuk?"


"Aku mau me time. Aku juga butuh waktu untuk diriku sendiri. Mumpung ada waktu kosong."


"Kau benar-benar keterlaluan!" Ujar Dean marah. Wajahnya menahan amarah.


"Kau saja yang hadir. Aku tidak bisa." Tolak Sinta.


"Aku sudah sering hadir di acara Emier. Aku pasti datang. Tidak pernah absen. Sedangkan kau sebaliknya. Tidak pernah datang. Kau sendiri bilang waktumu kosong."


"Aku ingin refreshing."


"Mengapa kau sangat membenci Emier? Dia darah dagingmu sendiri."

__ADS_1


"Kau tahu jawabannya. Tidak usah basa basi."


"Kita akan bertengkar masalah yang sama?"


"Aku hanya berusaha adil kepada semua anak-anakku. Tidak ada satu pun yang aku hadiri acara sekolahnya. Apakah salah menjadi adil?"


"Kau benar-benar keterlaluan. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapimu."


"Baba! Aku tidak apa-apa. Bunda sangat sibuk dan butuh refreshing. Kau selalu menghadiri acara sekolahku. Kupikir itu sudah cukup. Bunda benar Baba. Jika bunda tidak bisa menghadiri acara kakak-kakakku tentu harus berlaku sama padaku. Aku bisa mengerti."


"Kau tidak usah mencari muka! Kau masih kecil tapi sudah pandai menjilat!" Ujar Sinta sebal.


"Jaga sikapmu! Jangan memancing emosiku!" Teriak Dean, "Emier masuklah ke mobil terlebih dahulu. Aku akan menyusulmu."


Emier berlari memeluk bundanya. Sinta berusaha melepaskan dan menjauhkannya. 


Dean tidak dapat menahan kemarahannya. Mendatangi Sinta dan bermaksud menarik dan menamparnya.


Emier berusaha menjauhkan ayahnya dari ibunya.


"Menjauhlah Emier!" Sahut ayahnya dengan nada emosi.


"Tidak ayah!" Sahut Emier yang bersikeras melindungi ibunya dari kemarahan ayahnya.


Emier menggelengkan kepalanya dengan keras kepala.


"Jangan keras kepala!" Ujar ayahnya.


"Siapa yang dia tiru?" Ejek Sinta.


"Kau sendiri sama keras kepalanya seperti aku." Tukas Dean.


"Tidak usah heran kalau Emier sekeras batu karang." Sahut Sinta.


Emier memeluk bundanya erat-erat. Setiap Sinta mendorongnya menjauh. Dia kembali mendekati bundanya.


"Aku hanya ingin kau memberikan sedikit perhatian dan kasih sayangmu." Sahut Dean.


"Anakku ada empat. Bukan hanya dia. Aku harus berlaku adil."


"Kau?!"


"Kalau kau tidak suka. Ceraikan saja aku." Sinta berdiri menjauhi Emier dan Dean. Meninggalkan sarapannya begitu saja.

__ADS_1


"Habiskan sarapanmu!"Teriak Dean.


"Aku sudah kenyang!" Sahut Sinta sambil berlalu meninggalkan anak dan suaminya.


"Baba! Jangan marah pada bunda." Pinta Emier dengan suara memelas.


"Bundamu sangat keterlaluan! Jangan membelanya. Dia akan semakin besar kepala!"


"Bunda benar baba. Aku bukan anak bunda satu-satunya. Aku mengerti maksud bunda, baba."


"Mengapa kau selalu membela bundamu dengan membabi buta?"


"Aku sayang bunda."


"Kau tidak sayang baba?"


"Tentu aku juga sayang. Aku sayang kalian berdua."


Dean memeluk Emier erat. Mencium pucuk kepalanya," Kau anak yang sangat baik dan berbakti pada orang tua."


"Aku anak kandung bunda. Tidak mungkin, bunda tidak menyayangiku. Kupikir bunda hanya ingin berlaku adil pada semua anaknya."


"Kau belum pernah bertemu kakak-kakakmu. Mereka belum tentu menyukai apalagi menyayangimu. Sebaliknya, bisa jadi mereka sangat membencimu. Mereka berpikir bunda sangat menyayangimu melebihi mereka semua. Jangan membela apalagi menyayangi orang yang tidak menyukaimu bahkan membencimu. Mereka akan semakin seenaknya padamu. Baba tidak selalu bisa bersamamu. Kau harus belajar melindungi dirimu sendiri. Kau tidak bisa mengharapkan bunda apalagi semua kakakmu. Mereka semua membencimu."


"Baba, darah lebih kental dari air. Mereka tidak mungkin membenciku selamanya. Mereka mengira bunda mengistimewakanku dibandingkan mereka semua. Seandainya mereka tahu apa yang aku alami. Mereka tidak akan membenciku. Baba tidak usah khawatir. Aku tidak hanya bisa menjaga diriku. Tapi aku juga akan menjaga baba, bunda dan semua kakak-kakakku." Sahut Emier tegas dengan wajah polos kekanak-kanakkannya," Aku sayang dan mencintai baba, bunda dan kakak-kakakku. Aku akan menjaga dan melindungi kalian semua. Baba dan bunda memberikan semuanya padaku. Aku berjanji, aku akan menjaga kalian semampuku."


Air mata Dean meleleh melihat perkataan dan raut wajah Emier.


"Kau baru lima tahun. Kau tidak tahu betapa kejamnya dunia. Kau mencintai mereka sedangkan mereka sangat membencimu. Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Semua yang aku dan bundamu berikan tidak dapat melindungimu. Justru dapat mencelakaimu."


Emier melingkarkan tangannya pada leher Babanya yang menekuk kakinya sehingga mereka sejajar.


"Baba. Cinta seperti air. Kebencian seperti api. Tidak pernah ada api yang bisa memadamkan air tapi sebaliknya. Air akan memadamkan api. Selama aku mencintai dan menyayangi mereka. Maka semua akan baik-baik saja."


Dean memeluk anaknya sangat erat. Usia Emier mungkin masih lima tahun tetapi minat, wawasan dan hobinya melebihi anak seusianya.


"Kau masih sangat belia tetapi jiwamu sudah sangat tua. The old soul."


"Jangan khawatirkan aku, Baba. Cinta akan menjagaku. Justru kau harus khawatir jika aku membenci mereka karena aku tidak akan bisa melindungi siapa pun termasuk diriku sendiri. Kebencian akan menimbulkan rasa iri. Iri seperti api yang menghanguskan kayu bakar. Jadilah seperti tanah. Karena tanah akan menyuburkan jika bertemu air. Menjadi tembikar jika bertemu api."


Dean memeluk Emier dengan sangat erat, "Kuharap Tuhan akan menjagamu. Memelihara dan menyuburkan cinta dalam hatimu. Memadamkan semua kebencian bahkan jika hanya terlintas di dalam pikiran dan hatimu. Melekatkan cinta dalam hati dan jiwamu. Sehingga akan subur jika bertemu tanah dan menjadi tembikar jika bertemu api."


"Baba!" Emier memeluk babanya dengan sangat erat, "Di hatiku hanya ada cinta. Tidak mengenal kebencian."

__ADS_1


Babanya menganggukkan kepalanya dan mencium putranya dengan segenap perasaannya.


__ADS_2