
Bagi Dylan sendiri menjalani hubungannya dengan Sinta sangat tidak mudah. Penuh onak dan duri.
Memutuskan memalsukan kematiannya. Membawanya lari dan memutuskan kehidupan Sinta dari masa lalunya. Merupakan sesuatu yang sudah dipikirkan dan ditimbang berulang kali.
Mungkin Sinta memang jodohnya. Keinginan untuk melindungi serta membahagiakannya begitu besar. Tidak mengharapkan balasan walaupun dia tahu hal itu akan terjadi dengan sendirinya kalau mereka ditakdirkan berjodoh. Mereka akan bersama dalam mengarungi kehidupan serta saling memberikan yang terbaik yang mereka bisa.
Pekerjaannya sebagai pengacara tentu penuh godaan termasuk godaan wanita cantik yang menawarkan diri bahkan sampai mengejar dirinya.
Ibarat ada gula, ada semut. Maka dimana ada uang, di sana ada wanita. Kesetiaan bagi seorang lelaki adalah pilihan.
Tidak ada yang bisa memaksa seorang lelaki untuk setia kecuali jika mereka menginginkannya.
Mulai ajakan makan siang. Menemani liburan, berbelanja dan lain sebagainya. Sederet ajakan lainnya bahkan ada yang mengajak berkencan secara terang-terangan.
Hadiah atau kado atau tawaran-tawaran pekerjaan. Beragam usia mulai dari yang muda sampai yang sudah setengah tua. Beragam tipe wajah dan tubuh.
Jika lelaki menolak perempuan seperti kucing menolak ikan asin. Perumpamaan tersebut benar sekali.
Tidak mudah bagi Dylan menolak wanita-wanita tersebut. Cantik, seksi dan wangi. Tetapi dia sudah bertekad bahwa cinta dan kesetiaan adalah pilihan.
"Temani aku berbelanja, yuk…."
"Kayaknya gak bisa deh."
"Aku sudah cek ke sekretarismu kalau jadwalmu kosong."
"Itu kan jadwal kerja. Maaf, aku tidak bisa menemanimu."
Menerima ajakan mereka sama aja. Seperti berada di tepi jurang. Parfum yang menguar memenuhi rongga hidung. Pakaian seksi dan ketat. Wajah-wajah menggoda. Dia lelaki biasa bukan malaikat.
Memiliki nafsu dan selera. Tetapi jika cinta dan setia bisa diibaratkan sebagai puasa. Dia memilih bersabar menunggu saat yang memang sudah ditentukan.
"Kau gak usah sok suci begitu." Saran teman lelakinya yang diminta untuk menyampaikan pesan sahabat wanitanya yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mencoba mengajaknya berkencan.
"Aku bukan sok suci. Aku cuma ingin melakukannya dengan orang yang tepat. Yang memang ditakdirkan untukku. Aku tidak ingin menjalani hubungan bebas seperti itu."
"Lelaki itu kan gak ada bekasnya. Kau jangan seperti orang udik begitu!"
"Terserah! Jangan ganggu aku bisa tidak? Kalau sekedar berteman. Tidak masalah tapi kalau ajakan yang sifatnya pribadi atau mengarah ke hubungan antara pria dan wanita. Maaf, aku tidak bisa."
"Kau normal kan? Bagi lelaki harta, tahta dan wanita itu adalah satu paket yang tidak terpisahkan."
"Kupikir, aku hanya membuang waktuku berbicara denganmu."
"Tolonglah! Sahabat wanitaku cantik. Kita akan dapat kasus besar."
"Aku pengacara bukan gigolo! Kalau membutuhkan layanan jasa hukum. Aku bisa melakukannya tapi kalau jasa **** komersial kupikir salah tempat."
Dylan sendiri merasa sangat prihatin dengan keadaan Dean. Setelah "kematian" Sinta tampak sangat berduka.
__ADS_1
Mereka sesekali bertemu. Dean menelponnya mengajaknya bertemu.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Dylan sesampainya di tempat makan tempat mereka berjanji untuk bertemu.
"Seperti yang kau lihat. Aku bermaksud ingin melakukan otopsi ulang. Second opinion." Wajah Dean sangat berduka.
"Untuk apalagi? Semua sudah dilakukan dengan sangat teliti."
"Di dalam penjara kan banyak orang. Bagaimana kalau tertukar?"
"Lalu kalau misal seandainya benar tertukar. Dimana Sinta? Sengaja menyembunyikan diri darimu? Untuk apa Sinta menyembunyikan diri darimu?"
Dean memandang Dylan dengan wajah bingung.
"Maksudmu tidak ada kemungkinan tertukar?"
"Tidak ada. Semua sudah diperiksa dengan teliti."
"Aku bermimpi melihatnya."
"Siapa? Sinta?"
"Yeah. Naik kuda seorang diri. Aku tidak tahu dimana dia berada. Apakah ada tempat seperti itu? Tempatnya sangat indah. Wajahnya bingung dan murung."
Jantung Dylan nyaris berhenti berdetak. Mengapa Dean bisa memimpikan Sinta? Berkuda di tempat yang indah? Omg….
"Aku melakukan kesalahan. Dia begitu dingin. Apa pilihanku? Aku bukan membela diriku. Tapi seandainya Sinta tidak berubah setelah kami menikah. Belum tentu aku berselingkuh dengan Helena."
Dylan sangat memahami kondisi Dean karena sekarang dia yang sedang menghadapinya.
Dean manusia biasa dan bukan malaikat. Sangat memahami kesalahan yang dibuatnya. Tetapi Sinta terluka dengan pengkhianatannya. Belum kekacauan yang menimpa Sinta. Membuat keadaan menjadi sangat rumit.
"Kupikir sebaiknya kau melupakan dia. Ketika dia masih hidup kau berselingkuh. Sinta sudah meninggal dan kau bebas."
"Memang seharusnya seperti itu. Tapi aku belum bisa melupakannya. Apalagi aku melihatnya di dalam mimpiku."
"Itu karena kau terlalu memikirkannya."
"Kupikir kau benar. Aku tidak pernah melihat tempat sebagus itu. Mungkinkah aku melihatnya di surga?"
"Kupikir tidak seorang pun bisa membayangkan keindahan surga. Kemungkinan kau berharap Sinta dalam keadaan baik dan bahagia."
"Ya, kau benar. Mimpi itu harapanku tentang keadaannya."
"Lanjutkan hidupmu dan lupakan Sinta. Bagaimana?"
"Menurutmu aku tidak perlu meminta second opinion?"
"Untuk apa? Kupikir biarkan Sinta bahagia di alam baka. Kalau kau tidak mengikhlaskannya. Sampai kapan pun arwahnya akan penasaran."
__ADS_1
"Aku melihat arwahnya?"
"Kupikir begitu. Apalagi yang kau lihat selain arwahnya?"
"Dia sudah meninggal. Kupikir kau benar. Aku melihat arwahnya. Ku harap dia berbahagia di sana."
"Sinta akan berbahagia kalau kau juga berbahagia."
"Aku ingin ke makamnya. Kau ingin ikut?"
"Kau ingin aku menemanimu?"
"Kalau kau tidak keberatan."
"Baiklah!"
Setelah mereka menyelesaikan makan siang. Mereka beranjak keluar dari restaurant tempat mereka bertemu.
Menuju pemakaman Sinta. Dean memberhentikan mobilnya di toko florist. Membeli sebuket bunga.
Sesampai di pemakaman Sinta. Dean meletakkan buket bunga yang dibelinya.
"Kupikir banyak yang penyesalan yang kurasakan." Dean berbicara sambil menatap makam Sinta.
"Kupikir, tidak ada yang perlu disesali. Semua sudah ada takdirnya." Jawab Dylan diplomatis.
"Seandainya aku tidak memanfaatkanmu untuk mengambil warisanku. Kemungkinan kita tidak akan menikah dan mungkin kau tidak akan berubah. Mungkin tidak ada Helena di antara kita. Kau juga tidak akan menjabat dan berakhir di penjara."
"Menjadi pelacur dosa besar. Kalau kau tidak menikahinya selamanya kalian bermaksiat."
"Tapi Sinta berubah setelah kunikahi."
"Mungkin bukan pernikahannya. Beban yang ada di dalam pernikahan membuatnya menjadi seperti itu."
"Menurutmu, dia merasa terbebani dengan menikahiku?"
"Menurutmu bagaimana? Digunakan untuk mencairkan warisanmu, mendukung karirnya agar bisa melindungi usaha keluargamu. Difitnah dan ingin dibunuh?"
"Aku tidak berpikir sampai sejauh itu."
"Kau ikhlaskan dia. Kemungkinan yang terjadi yang terbaik untuknya. Bisa lepas dari semua kekacauan serta bisa hidup tenang dan bahagia di alam baka."
"Kau benar."
"Lupakan Sinta. Semua yang menimpanya adalah yang terbaik. Jodoh tidak bisa dipaksakan. Kalau Sinta tidak tewas dalam kebakaran tersebut dan masih hidup. Bisa kau bayangkan bagaimana dia menjalani hidupnya menjalani semua fitnah yang ada? Orang yang membencinya? Keruwetan masalahnya?"
"Kupikir, memintamu menemaniku bisa mencerahkan juga membuka pikiranku. Kau tidak keberatan kan sesekali meluangkan waktu bersamaku?"
"Tidak sama sekali!"
__ADS_1