Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Uncovered


__ADS_3

Callista sangat gundah. Mengetahui ibunya meninggalkan mereka semua. Menikah lagi dan memiliki seorang putra yang sangat tampan.


Dia sangat membenci ibu, adik dan ayah sambungnya. Walaupun adiknya kerap berbuat baik dan halus tutur kata serta sikapnya. Tidak meluluhkan hatinya.


Kebencian meliputi dirinya. Ibu yang dirindukan dan dicintainya. Berubah menjadi salah seorang yang paling dibencinya di muka bumi.


Ibunya masih mengingat kesukaannya dengan baik. Tapi hal itu tidak mengubah sikap dan kebenciannya sama sekali.


"Aku sangat membencimu! Tidak usah sok baik atau perhatian padaku!" Bentaknya pada ibunya.


"Aku tidak menyalahkanmu. Memang aku yang bersalah padamu, ayahmu dan adik-adikmu. Aku tetap mencintai dan merindukan kalian semua."


"Tak usah berbohong!"


"Buat apa mama berbohong padamu?"


"Kau berbohong tentang nenek. Kau berbohong tentang yang lainnya."


"Aku bisa mengerti semua kemarahanmu. Tapi kumohon jangan merasa dendam. Kita keluarga. Harus saling memaafkan kalau tidak ingin terpecah belah."


"Kau pandai berbicara! Aku ingin pulang dan bersama teman-temanku!"


"Aku meminta teman-temanmu berlibur tanpamu. Mereka tinggal di paviliun. Aku juga meminta mereka tidak memberitahukan yang terjadi sampai kau benar-benar tenang."


"Kau tidak bisa mengaturku sesuka hatimu!"


"Aku tidak ingin menjadi konsumsi media."


"Aku tidak peduli!"


"Kumohon! Mengertilah, sayang…."


"Jangan panggil aku sayang! Aku sangat membencimu!"


"Saat ini kau sedang emosi. Hubungan kita sangat buruk. Tapi kita adalah ibu dan anak. Tidak mungkin saling membenci selamanya. Ketika kau sudah dewasa. Kau akan bisa memahami semua. Sedangkan gosip akan terus ada walaupun hubungan kita sudah membaik. Pikirkanlah!"


"Tidak!" Sahut Callista keras kepala,"Aku akan membencimu selamanya. Tidak akan pernah memaafkan. Apa yang sudah kau lakukan pada kami semua!"


Emier memandang bergantian ke arah ibu dan kakak perempuannya.


Ayahnya memilih mengungsi ke rumah kakek neneknya. Sementara kakak perempuannya berada di sana. Tidak ingin emosinya terpancing melihat sikap kakaknya yang sangat kasar dan membenci mereka semua.


"Kalau kau ingin berlibur atau memberitahukan semuanya pada ayah dan saudara-saudaramu. Tenangkan dirimu! Kita tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Jika tercium dan menjadi konsumsi publik."


"Kau berusaha melindungi imagemu? Kau munafik! Aku sangat membencimu!"


"Aku memiliki tugas dan tanggung jawab. Hal itu tidak ada kaitannya dengan kehidupan pribadiku. Aku tidak bisa fokus bekerja. Kalau diganggu dengan semua pemberitaan yang bisa membuyarkan konsentrasiku."


"Kau memang tidak memiliki hati! Kau masih memikirkan pekerjaanmu?"


"Tanggung jawab."


"Kau meninggalkan dan mengabaikan kami semua. Kau ibu yang tidak punya hati dan bertanggung jawab. Jangan berbicara tanggung jawab jika kau sendiri tidak mampu melakukannya."


"Kau akan mengerti ketika kau dewasa nanti. Kumohon. Percayalah padaku dan ayahmu."


"Aku sangat mempercayai ayahku tetapi tidak kau!"


"Aku akan mengantar kalian semua pulang. Tenangkan dirimu terlebih dahulu."


"Aku ikut ya bunda."Ujar Emier.


"Tidak usah."


"Aku ingin melihat kakak-kakakku yang lain."

__ADS_1


"Anak nakal! Tidak usah ikut! Jangan membuat masalah!"


"Bunda…."


"Tidak!" Ujar bundanya tegas.


Emier memandang bundanya dengan mata bening polosnya.


"Aku akan menjaga bunda!"


"Jangan bodoh! Anak nakal! Jangan melawan!"


"Bunda! Aku sudah berjanji pada Baba!"


"Kalau kau masih nakal. Aku tidak akan segan memukulmu!"


"Bunda!"


Sinta memandang marah pada Emier. Membuatnya ketakutan.


Sinta menepati janjinya. Mengantar ketiga anak tersebut ke Malaysia.


Mendrop keduanya sebelum menuju flat Callista.


Terlibat pertengkaran yang sengit dengan Dean sebelumnya.


"Tidak perlu kau mengantarnya sendiri. Kau pasti ingin main gila dengannya!"


"Jaga perkataanmu!"


"Kau merindukannya, kan?" Sahut Dean sinis, "Mencari-cari alasan agar dapat bertemu lagi?"


"Kau tidak pernah  mau mendengarkan omonganku. Cemburu buta membuatku dibenci anakku."


"Sudah beribu kali kujelaskan tetapi kau tetap saja tidak mau mengerti."


"Tidak ada orang yang bisa mempercayai orang yang pernah mengkhianatinya."


"Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Kalau kau keberatan aku mengantar putriku sendiri. Urus saja perceraian kita!"


Sinta berkeras mengantarkan Callista dengan teman-temannya.


Sesampainya di flat. Sinta terpukau dengan suasana flat yang mengingatkan semua kenangan. Foto-fotonya ada di seluruh ruangan.


Air matanya menetes. Keanu dan Sapphire menghambur ke pelukannya.


"Mama!" Teriak mereka berlarian berhamburan memeluknya demikian erat.


Dylan terpaku melihat Sinta yang menyerupai hantu.


"Kau?" Lidahnya menjadi kelu.


"Menjauhlah dari wanita iblis itu!" Seru Callista marah.


"Callista!" Seru ayahnya.


"Maaf! Wanita setan! Maksudku…."


"Callista!" Seru ayahnya kembali.


"Tidak apa-apa! Biarkan dia." Ujar Sinta.


"Dimana kalian bertemu?" Tanya Dylan.


Callista bungkam.

__ADS_1


"Katakan padaku!" Seru Dylan.


"Aku, Syarifah dan Azizah menyeberang."


"Kau tidak mematuhi perkataanku?" Ujar ayahnya marah.


"Mengapa kalian menyembunyikannya?"


"Kau belum dewasa. Bagaimana bisa menjelaskan sesuatu tanpa kesalahpahaman?"


"Kalian pembohong! Aku sangat membenci kalian berdua!"


"Aku minta kau bersikap baik!" Tukas ayahnya. 


"Tidak mau!"


"Jangan kau paksa. Belum waktunya dia memahami semua." Ujar Sinta.


"Mama kembali!" Seru Sapphire dan Keanu dengan nada penuh kerinduan.


"Aku mengantarkan kakak kalian. Aku tidak bisa lama-lama di sini." Sinta memeluk dan menciumi kedua buah hatinya. Melepaskan semua kerinduannya.


"Apa maksud mama?"


"Mama tidak merawat nenek. Menikah lagi dan memiliki seorang anak lelaki."


"Aku tidak percaya!" Seru Sapphire marah, "Cal! Tidak lucu!"


"Kau tanyakan saja sendiri."


"Aku ingin berlama-lama. Tapi tidak bisa." Airmata Sinta kembali menetes.


"Terima kasih kau sudah mau mengantarkan Callista."


Callista mengalami shock. Dylan tidak bisa membujuk apalagi meredakan kemarahannya.


"Kau paling besar. Jangan menularkan kebencian dan kemarahanmu pada adik-adikmu. Jangan katakan apa pun pada mereka. Kumohon!" Ayahnya membujuknya.


"Aku sangat membencinya!" Callista kembali berteriak histeris.


Haliza yang mengetahui kondisi Callista dari Syarifah menjadi prihatin. Meminta ijin Dylan untuk mendampingi dan membantu mengatasinya.


"Biarkan aku membantu kalian." Tawarnya.


"Aku tidak ingin berhutang budi."


"Kalian tidak berhutang apa pun. Maafkan aku jika aku seperti mendesakmu. Lupakan apa yang pernah kukatakan padamu. Kau tidak perlu membalas apa pun. Aku merasa sangat kasihan pada Callista."


"Perasaanku pada Sinta masih sama. Tidak berubah. Semua tidak adil untukmu."


"Aku tahu. Aku tidak ingin membebanimu dengan apa pun. Aku hanya ingin membantu Callista."


"Baiklah! Terima kasih."


Haliza membawa Callista ke kediamannya. Membiarkannya mencurahkan seluruh perasaan dan kegundahannya.


"Aku sangat membencinya tante!" Callista memeluk Haliza dengan erat, "Wanita itu sangat jahat dan kejam. Aku sangat membencinya. Pembohong!"


Haliza mengelus rambut Callista. Membalas pelukannya.


"Sayang, dia ibumu. Kau tidak boleh membencinya. Tidak boleh mencampuri urusan orang tua. Ketika aku dan ayah Syarifah bercerai. Syarifah tetap menghormati dan menyayangi kami berdua. Mungkin kau bisa belajar darinya mengenai hal ini. Jangan siksa dirimu dengan kebencian. Kau tetap memiliki ibumu walaupun kalian tidak bisa hidup bersama lagi. Tapi masih bisa bertemu dan berhubungan seperti dulu. Orang tua kalian berpisah tetapi bukan berarti hubungan anak dengan orang tua juga berakhir."


"Aku sangat sedih dan marah, tante!"


"Yeah! Aku sangat mengerti."

__ADS_1


__ADS_2