
Syarifah, Callista dan Sapphire sangat menyukai acara hang out dengan ibu-ibu mereka. Haliza dan Sinta.
Kesibukan Sinta membuatnya tidak bisa meluangkan waktu seleluasa Haliza. Dan sudah menjadi syarat dari Dean bahwa dia hanya boleh bertemu dengan anak-anaknya jika ditemani Dean atau Emier.
Karena Dean sibuk bekerja. Maka Emier yang sering menemaninya. Sinta menerima syarat tersebut. Terpenting baginya bisa meluangkan waktu dengan anak-anaknya.
Jika Keanu kerap merasa cemburu padanya. Dan Syarif seringkali dipengaruhi karena mereka bersahabat dekat. Callista, Syarifah dan Sapphire lebih bisa menahan diri. Apalagi melihat sikap Emier yang lugu dan polos. Membuat ketiganya kerap merasa tidak tega.
Walaupun mereka juga sering didera cemburu. Melihat betapa beruntungnya Emier bisa memiliki ibu mereka. Tidak harus mengalami nasib seperti mereka. Orang tua mereka terpaksa berpisah karena keadaan yang memaksa.
Haliza merebahkan dirinya ke tempat tidur. Sambil menunggu anak-anaknya selesai mengobrol. Bermaksud beristirahat sebelum mengajak mereka semua menghabiskan waktu bersama.
Matanya mulai terasa mengayun dan tiba-tiba saja dirinya tertidur lelap. Dirinya terbangun mendengar suara gadgetnya berbunyi. Dylan.
“Kau dimana?”
“Masih di rumah?”
“Yeah, anak-anak masih asyik mengobrol.”
“Mungkin mereka malas keluar rumah.”
“Entahlah.”
“Aku akan menelpon Callista.”
“Yeah.” Haliza menutup gadgetnya. Melanjutkan tidurnya.
Callista yang sedang asyik mengobrol dengan Syarifah dan Sapphire menerima telepon dari ayahnya.
“Mengapa kalian belum berangkat?”
“Kami masih asyik mengobrol sambil bermain Uno.”
“Baiklah. Aku akan menelpon Keanu.”
Keanu dan Syarif sedang asyik bermain play station ketika ayahnya menelponnya.
“Kalian tidak jadi pergi dengan tante Haliza?”
“Kami sedang bermain play station.”
“Baiklah. Aku akan ke sana. Aku di rumah sendirian.”
“Yeah. Ke sini aja pa...”
“Ok!”
Dylan mengendarai mobilnya menuju rumah Haliza. Memarkirnya ke dalam garasi di belakang mobil milik Syarifah. Ada dua buah mobil di dalam garasi. Milik Haliza dan hadiah ulang tahun dari Ahkam untuk Syarifah.
Ruang tamu dan keluarga sepi. Dylan membuka pintu kamar utama dan Haliza sedang tertidur lelap. Ruang makan dan dapur juga terasa lengang.
Dia naik ke atas. Membuka pintu kamar Syarifah. Tampak Syarifah, Callista dan Sapphire sedang bermain Uno sambil mengobrol dan bercanda. Kamar Syarifah didominasi warna pink. Terlihat sangat luas dengan tempat tidur king size. Dimana ketiganya sedang asyik mengobrol dan bermain kartu Uno. Pintu kamar mandi dalamnya tertutup.
Di seberang kamar Syarifah terdapat kamar Syarif. Dengan luas kamar yang sama dilengkapi kamar mandi dalam. Ukuran ranjang yang sama hanya saja ruangannya didominasi warna biru muda. Syarif dan Keanu sedang asyik bermain play station di atas tempat tidur. Menatap lurus ke arah televisi ukuran besar di depan tempat tidurnya.
Memutuskan kembali ke ruang keluarga menyalakan televisi. Memencet channel yang berisi hiburan. Tidak lama dirinya ikut tertidur pulas.
Haliza terbangun di tempat tidurnya yang luas. Panjangnya 4 meter dan lebarnya dua meter. Semenjak bercerai tempat tidurnya menjadi semakin kebesaran untuk ditempatinya sendiri.
__ADS_1
Seringkali sesekali mereka tidur bertiga. Terutama saat weekend. Menghabiskan waktu bersama di kamarnya. Mengobrol, bercanda, bermain game atau kartu.
Pada saat-saat tersebut. Dia tidak merasa tempat tidurnya kebesaran. Karena bertiga dengan para buah hatinya bisa dengan nyaman menempati dan tidur di atasnya.
Sesekali mereka mengingat masa di saat. Haliza masih menikah dengan Ahkam. Saat mereka berempat tidur bersama di kamar tidurnya yang luas.
Ahkam memang sengaja membuat design tempat tidur yang berbeda ukurannya. Agar bisa tidur bersama seluruh anggota keluarga. Mereka akan menghabiskan waktu untuk menonton bersama di kamar. Sambil mengobrol, bercanda dan bermain kartu atau games.
Haliza mengusap air matanya. Matanya terasa memanas begitu saja. Mengenang kenangan yang indah tersebut. Sebelum Ahkam bertemu Hana dan semua berakhir dengan tragedi.
Jam menunjukkan pukul lima sore. Haliza menunaikan sholat ashar nya. Keluar kamar dan melihat Dylan tengah tertidur pulas.
Menjerang air untuk membuat teh. Teh paling nikmat jika direbus. Bukan dalam bentuk celup tetapi yang memang masih dalam bentuk daun teh dikeringkan.
Menggoreng ayam ungkep. Beserta tahu dan tempe. Memasak sayur bayam. Menggoreng perkedel, aneka bento dan sosis yang ada di kulkas. Menyajikan makanan di meja makan.
Memasak nasi di rice cooker. Menaruh teh manis hangat yang dibuatnya di dalam teko kaca. Menggoreng aneka cemilan. Risoles, bitter Balen dan memotong cake yang ada di kulkas. Dipindahkan ke dalam piring. Menaruh sepiring pisang goreng, bakwan dan tahu goreng. Semua cemilan dan teh ditaruh di island dapurnya.
Selesai menyiapkan makanan. Kembali ke kamarnya. Bermaksud untuk mandi.
Tubuhnya terasa sangat segar sesudah mandi. Memutuskan menyalakan televisi di dalam kamarnya. Sambil menunggu anak-anak selesai menghabiskan waktu di kamar mereka.
Tidak lama terdengar suara langkah kaki turun dari tangga. Suara Callista, Syarifah dan Sapphire yang sedang duduk di island. Sambil menuang teh hangat yang dibuatnya. Sembari mencomot cemilan yang sudah disediakannya.
Ketika Syarifah, Callista dan Sapphire asyik mengobrol sambil makan minum di island. Terdengar langkah kaki Syarif dan Keanu menuruni tangga.
Mereka mengambil nasi di magic car dan menuju meja makan untuk mengambil lauk pauk dan sayur. Melanjutkan obrolan tentang game yang sedang mereka mainkan.
Haliza memutuskan keluar. Berjalan menuju meja makan. Mencomot makanan yang ada di meja makan.
“Kita jadi jalan gak sih?”
“Jadi lah bu, tapi nanti aja setelah maghrib.”
“Memangnya dibolehkan oleh tantemu?”
“Tan, papa ikut. Boleh ya?”
Haliza menganggukkan kepalanya dengan enggan.
“Kalian makan apa?” Tanya Dylan. Mengambil piring. Mengisinya dengan nasi dari rice cooker. Mengambil sepotong tempe, bayam dan ayam goreng ungkep.
“Kau tidak makan?” Tanyanya pada Haliza.
“Aku mencomot-comot makanan aja.”
“Diet?”
“Lagi malas makan aja. Belum lapar.”
“Aku tidak bermaksud mengganggu acaramu. Tapi aku sendirian di rumah. Kau tidak keberatan kan aku bergabung bersama kalian?”
Haliza memilih tidak menanggapi.
“Aku tidak akan mendesak mu. Kita hanya berteman. Bagaimana? Damai?”
Haliza memandang Dylan dengan sangsi.
“Aku akan menjaga sikapku. Aku akan...”
__ADS_1
“Baiklah aku percaya padamu. Tapi begitu kau membuatku tidak nyaman. Aku tidak mau lagi kau bergabung bersama kami. Napsi-napsi.”
“Baiklah!”
“Baiklah!”
Semenjak dia tidak terobsesi dengan kebahagiaan Ahkam. Dan tidak memaksakan kondisi. Hidupnya terasa bahagia dan nyaman.
Tidak hanya Dylan dan para buah hatinya yang memiliki kenangan dengan Sinta. Tetapi juga dia dan anak-anaknya.
Masa-masa indah bersama Ahkam sebagai keluarga. Sebelum Ahkam menemukan cinta sejatinya.
Mungkin dia bukan cinta sejati Ahkam. Tapi mereka pernah memiliki saat manis sebagai keluarga. Bahkan sampai saat ini. Ahkam masih memperhatikannya dengan anak-anaknya. Bukan sebagai sebagai kekasih seperti halnya Ahkam dan Hana tetapi sebagai keluarga.
__ADS_1