
Sinta mengalami depresi setelah melahirkan. Dia tidak mau menyusui bayinya. Selalu menangis dan marah.
Moodnya berubah lebih baik jika dia bekerja dan tidak mengurus bayinya.
Dean merasa sangat sedih dan putus asa melihat keadaan Sinta. Merawat bayinya seorang diri tanpa bantuan isterinya.
Ini pilihanku karena memaksanya kembali padaku sedangkan dia sudah memiliki Dylan serta ketiga buah hati mereka.
Kalau pun Sinta mau memeras susunya karena *********** terasa keras dan sakit.
"Kupindahkan ASImu ke botol ya?"
Sinta menganggukkan kepalanya. Melengos tak acuh. Dia kembali menekuni pekerjaannya.
"Kau tidak lelah?"
Sinta menggeleng. Air mata meleleh dari kedua pipinya.
"Mengapa kau menangis?" Tanya Dean.
"Aku tidak tahu."
"Baiklah. Psikiatermu bilang kau menderita depresi setelah melahirkan."
"Aku tidak ingin membahas ini." Sahut Sinta mengusap air matanya yang berjatuhan.
"Aku tidak bermaksud memisahkanmu dari Dylan. Kalian berdua mengkhianatiku. Kau isteriku ketika menikahinya."
"Aku tidak ingin membahas hal ini karena kau tidak akan pernah mengerti."
"Aku akan mencoba mengerti walaupun kau dan Dylan telah sangat menyakiti hatiku."
"Perkembangan kasus hukumku menjadi kacau."
"Lalu?"
"Dylan tidak bisa memikirkan cara lain selain memalsukan kematianku."
"Tapi kau tidak perlu menikahinya kan?"
"Kami ingin pergi selamanya dan tidak kembali lagi. Aku dan Dylan tidak saling jatuh cinta saat itu."
"Lalu kenapa kalian menikah?"
"Seperti yang kukatakan. Dylan melarikanku karena keadaan sudah kacau balau. Dan kami tidak berniat kembali ke Indonesia. Aku tidak mungkin mengajukan cerai pada saat itu. Apakah kau mengerti?"
"Aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri. Kalau itu maksudmu."
"Kau membiarkan aku masuk penjara untuk sesuatu yang ditimpakan padaku begitu saja?"
"Kau saat itu sudah dipenjara. Aku akan berusaha mengeluarkanmu. Tetapi tidak dengan cara melarikanmu."
__ADS_1
"Aku tidak bisa berpikir saat itu. Semua tidak seperti yang kau pikirkan tetapi kami saling jatuh cinta setelahnya. Setelah menikah. Dylan sangat berbeda denganmu. Dia tidak pernah memaksaku."
"Aku tidak pernah memaksamu sebelum ini. Kau tahu itu."
"Dylan benar-benar tidak memaksa. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu."
"Mungkin seharusnya aku menceraikanmu dan membiarkanmu bersamanya serta ketiga buah hatimu. Tapi hatiku sangat sakit. Dia membohongi dan menipuku. Aku ingin dia membayar perbuatannya padaku."
Tangis Sinta pecah, "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Aku tidak bisa melupakan Dylan dan anak-anakku. Sangat membencimu dan anak yang kulahirkan. Aku menganggapnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi!"
"Bisakah kau melupakan semuanya?"
"Kau tidak memiliki hati. Kau sendiri mengapa tidak melupakan aku? Apalagi aku yang sudah memiliki keluarga?"
"Dylan menikahimu saat kau masih isteriku. Dia juga menipuku. Dia harus membayar perbuatannya padaku."
"Mengapa kau tidak bisa melupakan dendam dan sakit hatimu? Kau juga tidak mengizinkan aku dan Dylan tetap merawat ketiga buah hati kami?"
"Seandainya kalian berdua bisa dipercaya. Tidak mungkin semuanya menjadi seperti saat ini."
"Berikan aku waktu untuk mencerna semua yang menimpaku."
"Baiklah. Aku akan mengurus bayi kita. Aku belum memberikannya nama. Bisakah kau melakukannya untukku?"
Sinta menganggukkan kepalanya, "Ada yang ingin kukatakan padamu."
"Apa itu?" Tanya Dean.
"Aku tetap menginginkan kau kembali. Kau milikku."
Air mata Sinta kembali menganak sungai.
Sinta menepati janjinya memberikan nama untuk putra mereka. Emier Bashra Hakim.
"Terima kasih kau mau memberikan nama pada anak kita."
"Kau jangan berharap terlalu banyak. Kau bisa mengajukan cerai kalau kau tidak bisa menerima keadaanku. Membuatmu dan anakmu tersiksa."
"Semua salahku! Aku yang menginginkan kau kembali padaku. Aku bisa mengurus bayi kita dengan baik."
"Aku tidak bisa memaafkanmu. Memisahkan aku dari Dylan dan anak-anak kami berdua."
"Aku tahu apa yang aku lakukan. Dylan harus menerima balasan dari perbuatannya. Mencuri sesuatu yang bukan miliknya."
"Aku tidak ingin membicarakan ini. Aku ingin beristirahat."
"Istirahatlah! Aku akan membawa bayi kita ke kamarnya."
Dean menggendong bayinya. Wajahnya sangat mirip dengannya. Apakah hal itu membuat Sinta membenci bayi mereka? Mengingatkan padanya? Atau memang belum bisa menerima keputusannya memutuskan hubungan Sinta dengan Dylan dan anak-anak mereka.
"Kau tahu? Baba akan berusaha melindungimu. Sampai kapan pun." Bisiknya lembut pada bayinya dan menciumnya dengan mesra.
__ADS_1
Dean mengurus bayinya seorang diri. Mencari baby sitter terbaik bagi bayinya. Untuk mengurus semua keperluan dan kebutuhan bayinya. Sementara Sinta tenggelam dengan pekerjaannya.
Empat puluh hari berlalu sejak kelahiran putra mereka. Dean meminta Sinta kembali menjalankan tugasnya sebagai isteri.
"Aku baru selesai nifas."
"Justru itu aku mengingatkanmu."
"Kupikir aku sudah tidak mencintaimu lagi semenjak aku menikah dengan Dylan."
"Sebelum kau menikah dengan Dylan kau juga tidak mencintainya. Mengapa kau tidak memberikan kesempatan yang sama kepadaku? Apalagi aku adalah suamimu. Emier membutuhkan kita berdua."
"Dylan dan anak-anakku juga membutuhkanku. Aku juga mencintai mereka semua. Kau dan Emier membuatku bingung. Aku merasa kalian merengutku dari keluarga kecilku."
"Aku tidak tahu bagaimana harus memahamkanmu tentang hal ini. Aku tidak ingin mengasarimu. Berhenti menyakiti hati dan perasaanku." Dean menatap Sinta dengan wajah memohon, "Aku akan melakukan apa pun demi putraku. Aku harus memastikan dia mendapatkan yang terbaik. Melindunginya. Aku bisa melawan apa pun demi putraku."
"Aku tidak ingin melanjutkan percakapan ini."
"Kau tidak ingin menggendongnya?"
Sinta menggelengkan kepalanya.
"Biarkan dia merasakan kehangatan kasih sayang darimu."
"Dia membuatku kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Aku tidak bisa memaafkan kalian berdua." Tukas Sinta.
"Mengapa kau begitu kejam dan dingin?"
"Sebelum kau merengut kebahagiaanku seharusnya kau pikirkan semuanya. Kau ingin menghukum Dylan atas perbuatannya padamu? Mengapa aku tidak bisa menghukummu atas perbuatanmu padaku?"
"Kau?"
Sinta beranjak pergi. Fokusnya hanya bekerja dan melarikan semua kesedihan juga kepedihannya pada pekerjaan.
Aku akan meninggalkan kalian berdua jika saatnya sudah tiba. Aku tidak ingin terhubung dengan Emier. Akan sangat sulit bagiku meninggalkannya kalau emosi dan perasaanku terikat padanya. Kau akan membayar apa yang telah ayahmu lakukan padaku dan juga keluarga kecilku.
Sinta sedang sibuk bekerja di ruang kerjanya ketika Dean membawa Emier ke dalam ruang kerjanya.
"Kau mau apa?" Tukas Sinta ketus.
"Emier ingin melihatmu."
"Kau memang tidak lihat aku sedang bekerja?"
"Kau tidak pernah menggendong dan mengunjungi kamar bayinya. Tidak mengijinkan dia tidur bersama kita. Mengala kau setega itu pada anakmu sendiri?"
"Dia memilikimu yang mengurusnya dengan baik dan teliti. Memiliki semua kekayaanmu. Mencapai apa pun dengan mudah selama dia mau berusaha. Memiliki apa yang anak-anak lain mungkin tidak memilikinya. Bahkan dia juga memiliki seorang ibu. Yang tidak mungkin dimiliki oleh ketiga buah hatiku. Hidup tidak sempurna. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna. Walaupun dia memiliki segalanya tapi dia juga tidak bisa mendapatkan segalanya. Selalu ada yang terluput."
"Dia sangat manis. Tidak pernah rewel. Aku yang bersalah bukan dia. Mengapa kau menghukumnya?"
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang tidak perlu kujawab ini. Tanyakan saja pada rumput bergoyang, jawabannya."
__ADS_1