
Saat Sinta sedang fokus pada pengobatan kliniknya. Di lapas kembali terjadi kejadian kematian.
Satu orang narapidana melarikan diri. Tewas setelah ditembak petugas.
Pengacara Sinta dan Dean tidak memberitahukannya sama sekali. Mereka takut jiwa Sinta akan terguncang kembali. Pengobatannya menjadi mundur.
Sinta sudah memasuki sesi konseling dan hypnoterapi. Rencana untuk mengembalikan ke lapas. Ditunda dengan adanya kejadian tersebut.
Pagi ini, pada sesi konseling. Seperti biasa, psikiater meminta Sinta untuk menceritakan keadaan dirinya.
"Bagaimana keadaanmu, pagi ini?"
"Baik."
"Apakah tidurmu nyenyak?"
"Aku bermimpi, mereka mendatangiku. Mereka bilang semua salahku."
"Salahmu, bagaimana?"
"Aku yang menyebabkan mereka terbunuh."
"Apakah kau yang membunuh mereka?"
"Bukan."
"Lalu mengapa mereka mengatakan kau yang membunuh?"
"Seandainya, aku tidak memberikan uang tersebut. Meminta suami dan mertuaku memperbaikinya. Semua tidak akan terjadi."
"Kalau kau tidak memberikan uang tersebut apa yang terjadi?"
"Barang-barang tersebut tidak bisa dibayar. Infrastruktur tidak bisa diselesaikan."
"Akibatnya?"
"Proyek dihentikan."
"Siapa yang dirugikan?"
"Masyarakat."
"Apakah pengadaan barang dan infrastruktur itu sangat penting?"
"Ya."
"Lalu mengapa kau menyalahkan dirimu sendiri?"
"Secara hukum aku melanggar aturan."
"Hukum formil mungkin maksudmu?"
"Ya."
"Bayangkan dirimu berada di taman bunga. Pejamkan matamu dan rileks."
Sinta memejamkan matanya dan rileks.
"Apa yang kau lihat?"
"Bunga warna-warni. Taman bunga. Sangat indah."
"Apalagi yang kau lihat?"
"Sekawanan hama menyerang."
__ADS_1
"Bagaimana bunga-bunga yang ada?"
"Rusak."
"Bisakah kau hilangkan hama tersebut? Bayangkan hanya bunga dan taman tanpa hama?"
Sinta kembali berkonsentrasi.
"Bagaimana?"
"Tidak ada hama."
"Bagaimana bunga dan tamannya?"
"Sangat indah. Matahari bersinar cerah. Hangat. Udaranya sejuk karena masih pagi."
Sinta juga menjalani serangkaian hynoterapi.
Lewat hynoterapi, semua pikiran bawah sadarnya bisa diungkapnya.
Keengganannya menjalani karir keartisan dan politiknya. Ketakutannya dijadikan objek seksual dan dieksploitasi seksual oleh Dean. Keguncangan jiwanya karena pembunuhan beruntun.
Melalui pengobatan klinis, perlahan kondisi kejiwaannya mengalami pemulihan. Pengobatan dilanjutkan di penjara.
Perkara hukum yang dihadapi Sinta terus berlanjut. Pengacara dan suaminya berusaha membebaskannya dari tuntutan hukum tersebut.
Tanpa terasa waktu sudah berlalu selama dua ratus hari. Sinta menjalani penahanan atas dirinya untuk kepentingan penyidikan, penuntutan umum dan hakim.
Vonis dibacakan dan Sinta dinyatakan bersalah atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.Dicopot dari jabatannya karena tuntutan administrasi tersebut.
Sedangkan untuk tuntutan pidananya. Dia dijerat pasal korupsi. Dijatuhkan hukuman dua puluh tahun dan ganti rugi sebesar satu triliun rupiah.
Dalam waktu empat belas hari, pengacaranya mengajukan banding.
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Ini bukti dan saksi yang sudah kudapatkan. Para saksi semua diikutkan ke program perlindungan saksi."
"Apakah mereka sudah siap bersaksi?"
"Aku sedang melakukan penyadapan dan juga penyelidikan terhadap perusahaan kompetitor suamimu. Aku tidak mau gegabah. Kau bisa kan bersabar dulu?"
"Apa pilihanku?"
"Aku tidak ingin kerja kerasku sia-sia."
"Aku mengerti."
"Lebih baik kau berkonsentrasi mengurus pekerjaanmu. Sepertinya itu obat yang sangat manjur. Walaupun kau kerap berkata kau tidak menyukai pekerjaanmu. Kupikir bukan pekerjaanmu tapi lingkungan dan tekanan pekerjaanmu."
"Iya, kau benar. Bukan pekerjaannya tetapi lingkungan dan tekanan pekerjaanku."
"Kau mengatur semuanya dengan baik. Semenjak kau menjabat, banyak masalah bisa diatasi dengan baik. Kau bisa mengurai kerumitan."
"Berkat tim kerjaku. Aku tidak bisa melakukan apapun tanpa dukungan."
"Kau bisa membentuk tim yang solid. Pajak berjalan sesuai dengan porsinya. Pekerjaanmu sangat efektif dan efisien. Penerimaan dan layanan masyarakat berjalan dengan baik. Bahkan keputusanmu tetap meneruskan proyek urgent dan strategis juga merupakan keputusan yang berani. Kau tahu berapa banyak orang yang kau selamatkan dengan keputusan tersebut? Logistik, kesehatan, dunia usaha dan pendidikan? Belum bidang pekerjaan dan kewirausahaan? Pertanian, peternakan dan perikanan? Kau juga sangat jeli dalam mendelegasikan tugas. Efisien dan efektif."
"Tapi bagaimana dengan pembunuhan-pembunuhan itu?"
"Kau juga berhasil mengatasi sengketa tanah yang rumit. Wajar kalau banyak yang mengincarmu. Apalagi yang terbiasa menggunakan pengaruh dan uang mereka."
"Aku hanya berusaha agar semua bisa berjalan dengan baik."
"Kau menggunakan kekuasaanmu untuk meluruskan. Mengatur semua agar lebih proposional. Membebankan pada yang memang mampu bukan sebaliknya. Menyeimbangkan permasalahan pada porsinya. Sehingga semua bisa berjalan dengan lebih baik, mudah dan lancar."
__ADS_1
"Semua keputusan itu tidak mudah. Aku harus mempertimbangkan dan mendiskusikannya dengan timku. Berulang kali memastikan bahwa memang yang kuputuskan yang terbaik."
"Artinya kau bekerja untuk semua masyarakatmu. Kaya, miskin, bodoh, pintar, apapun suku dan agamanya. Kau bisa bersikap adil juga bijaksana."
"Tapi beban pekerjaanku terlalu berat. Apalagi aku seorang wanita."
"Kau mudah dipengaruhi emosi dan perasaanmu. Karena mungkin kau wanita. Tapi karena kau wanita pula, lebih mudah menyeimbangkan. Semua ada plus minusnya."
Sinta memandang pengacaranya dengan resah.
"Kau masih minum obat?"
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Kau juga menghentikan serta memangkas proyek yang mubazir dan mengalihkannya pada yang benar-benar penting. Kalau ada yang membencimu. Itu karena kepentingan mereka sendiri terganggu bukan kepentingan umum."
"Tidak mudah mengatur dan menetapkan prioritas."
"Kau juga bersikap tegas untuk masalah hutang. Menego pemberi hutang."
"Mereka tidak mungkin mencari keuntungan dari kerugian, kesempitan atau kebutuhan masyarakat yang sangat urgen dan fatal. Buat apa sama-sama hancur? Lebih baik kuselamatkan sesuatu yang bisa hancur karena dipaksakan lebih dari porsinya. Menyebabkan kebutuhan yang urgent tersebut terhenti karena pemaksaan pengaturan melebihi kesanggupan atau kemampuannya. Lebih fokus kepada hal-hal yang memang bisa memberikan keuntungan. Di beberapa hal yang urgent mungkin mereka harus mengalah agar semua bisa berjalan dengan lancar. Di beberapa hal yang memang bisa memberikan keuntungan. Bisa dilakukan pembagian secara proposional. Mengatur itu bukan ego atau arogansi tetapi memang keseimbangan konteks secara keseluruhan. Semua agar bisa berjalan dengan proposional juga lancar."
"Kau jangan banyak berpikir. Kau hanya perlu dijauhkan dari orang-orang yang toxic. Sisanya, pertimbanganmu bisa dipercaya dan diandalkan. Selama kau tidak berinteraksi dengan orang-orang yang pikirannya sempit, negatif, memanfaatkan dan toxic."
"Menurutku, beban pekerjaanku yang sangat berat untuk bisa kutanggung. Kupikir, aku akan mengundurkan diri kalau semua ini sudah selesai."
"Mengapa kau menyerah?"
"Aku ingin tenang. Hidup itu sederhana. Semakin banyak yang kau pikirkan. Semakin sulit untuk bisa merasa tenang."
"Tidak usah dibicarakan sekarang. Aku bawakan ini untukmu."
"Nasi goreng?"
Sinta menyuap nasi goreng dan mengunyahnya.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak."
"Aku bikin sendiri."
Sinta tersedak. Pengacaranya menyodorkan air mineral yang dibawanya.
"Kau kenapa?"
"Kau masih sempat membuat nasi goreng?"
"Membuatnya tidak sulit. Aku jarang masak. Jadi pilih resep yang mudah saja."
"Enak. Mengapa kau tidak membelinya saja? Lebih praktis."
"Kau pasti merindukan masakan rumah."
"Memang. Darimana kau tau?"
"Semua orang seringkali seperti itu kan?"
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Suasana berbau rumah. Membuatmu lebih nyaman. Kau juga pasti sudah sangat merindukan rumahmu. Semua yang berbau rumah."
"Aku memang sangat merindukan rumah…."
"Sudah kuduga…."
__ADS_1