
Dean menatap resah setiap hari dan detik menantikan kabar dari Dylan
Dia melihat wanita yang sangat mirip dengan Sinta. Dia bermaksud meminta Dylan memeriksa kembali surat keterangan kematian Sinta.
Ada yang salah dengan surat kematian itu. Hatinya berbisik. Semua dimulai dari surat itu.
Dylan menatap handphonenya resah. Dean berulang kali menelpon dan memwhatsappnya. Menanyakan tentang Sinta dan surat kematiannya.
Dylan berencana untuk menghindari Dean. Khawatir Dean akan semakin curiga dan mencari tahu tentang kecurigaannya tersebut.
Seseorang menubruknya dan mendorongnya ketika Dylan bergegas memasuki kantornya.
"Mengapa kau tidak menjawab telepon dan pesanku? Kau berjanji akan menghubungiku!"
"Dean?"
"Mengapa kau mengabaikanku?"
"Aku bukan mengabaikanmu. Kau jangan emosi begitu. Aku sangat sibuk. Buat apa kau bahas surat yang sudah dibuat dengan sangat teliti?" Dylan berusaha meredam amarah Dean.
"Kau tidak menyimak perkataanku? Aku menemui seorang wanita yang sangat mirip Sinta. Aku sangat mengenalinya dengan baik."
"Aku juga sudah mengatakan tidak ada yang salah dengan surat kematian itu. Lalu mengapa harus dibahas? Aku tahu kau masih belum bisa melupakannya. Tapi kumohon, jika kau tidak bisa berdamai dengan kenyataan. Maka tidak ada satu pun orang dapat menolongmu."
Dean menatap wajah Dylan dengan marah, "Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres!"
"Kau yang tidak beres! Isterimu sudah lama meninggal dunia. Kau masih saja mengingatnya. Seperti tidak ada wanita lain. Saat kau bersamanya, kau mengkhianatinya. Apa maumu sebenarnya?" Dylan kembali membentak Dean, "Doakan isterimu di alam baka sana. Sehingga bisa tenang jiwanya. Kalau kau terus mengungkit kematiannya. Meratapinya. Kau tidak akan pernah bisa bahagia. Pilihlah wanita yang bisa membahagiakanmu. Lupakan almarhumah. Pasti banyak wanita yang mendambakanmu. Isterimu sudah tiada. Kau bisa memilih siapa pun menjadi isteri. Tidak perlu menyimpan mereka lagi seperti saat Sinta masih ada."
"Hanya Helena bukan mereka. Aku sudah memperbaiki semuanya! Jangan mengungkit lagi! Kau benar-benar tidak mau menolongku?"
"Aku tidak mau kau gila! Hadapi kenyataan bahwa isterimu sudah tiada!" Ujar Dylan tegas, "Jangan ganggu aku! Pekerjaanku banyak. Mengurusi kasus yang memang benar-benar ada. Bukan yang diada-adakan apalagi mengada-ada seperti kasusmu."
Dean menarik krah Dylan. Mendorongnya ke dinding.
"Kau tidak tahu apa yang aku lalui! Kau tidak tahu apa pun tentang aku dan Sinta. Jadi jangan menceramahiku."
Dylan kehilangan kesabarannya. Ditinjunya wajah Dean sekuat tenaganya.
"Kau tidak mau menuruti perkataanku. Nikmati bogem mentahku! Tidak ada yang salah dengan surat kematiannya. Kau meremehkan pekerjaanku. Lupakan isterimu. Dia sudah tenang di alam baka dan jangan mengganggunya lagi!"
Dean mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah. Meninggalkan Dylan dalam keadaan marah.
Aku tidak mungkin salah. Itu memang Sinta. Tapi bagaimana mungkin dia masih hidup? Surat keterangan kematiannya mengatakan bahwa dia sudah tiada karena kebakaran itu?
***
__ADS_1
Dean memutar otaknya. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Wanita yang ditemuinya mirip sekali dengan Sinta.
Wajahnya, suaranya, tindak tanduknya.
Aku tidak mungkin salah mengenalinya tetapi surat kematian itu juga valid.
Dean memutuskan meneliti surat kematian Sinta. Mencari tahu tentang pejabat yang mengeluarkan surat keterangan kematian Sinta.
Tidak sulit mencari orang yang mengeluarkan surat kematian Sinta.
"Pak Tama?"
"Iya betul. Bapak siapa? Apakah saya mengenal bapak?"
"Saya mau menanyakan tentang surat kematian yang bapak tanda tangani. Bagaimana bapak bisa mengeluarkan surat keterangan tersebut?"
"Maksudnya?"
"Prosedurnya? Saya merasa ada kesalahan pada surat keterangan tersebut. Saya bertemu almarhumah isteri saya."
"Tidak mungkin!"
"Bisakah bapak meneliti kembali surat keterangan tersebut?"
"Maksud bapak?"
"Sepertinya tidak."
"500 juta untuk mencari kebenarannya."
"Anda menyogok saya?"
"Saya bukan menyogok. Saya menginginkan kebenaran."
"Semua sudah sesuai prosedur. Anda tidak perlu meragukan itu. Kami tidak mungkin mengeluarkan surat keterangan aspal. Bisa dituntut hukum."
"Bagaimana anda menjelaskan saya bertemu dengan almarhumah isteri saya?"
"Mungkin anda salah lihat. Banyak orang mirip walaupun tidak memiliki hubungan darah sama sekali."
"Saya tidak mungkin salah mengenali isteri saya."
Dean memutuskan menyewa detektif swasta. Tidak butuh waktu lama. Dean berhasil mendapatkan identitas petugas yang bertanggung jawab memberikan keterangan hasil otopsi mayat Sinta isterinya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan informasi yang benar? Aku sangat yakin itu Sinta."
__ADS_1
Dean tidak berhasil mendapatkan keterangan yang diinginkan. Petugas tersebut bersikukuh bahwa dia salah mengenali Sinta.
Di tengah keputusasaannya. Dia memiliki ide lain. Meminta tolong kepada kenalannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap mayat Sinta yang dikubur.
"Ada prosedur yang harus dilalui untuk memeriksa mayat isteri anda."
Dean menyerahkan cek senilai satu milyar, "Aku butuh cepat dan tidak ingin publikasi apalagi diketahui orang lain."
Orang tersebut menerima cek tersebut, "Baiklah!"
Hatinya sangat cemas menunggu hasil pemeriksaan ilegal. Dia membutuhkan kepastian mengenai dugaannya tersebut.
Handphonenya berdering, "Bagaimana dengan hasil pemeriksaannya?"
"Giginya tidak cocok dengan milik isteri anda. Sedangkan kalau yang lainnya tidak bisa dikenali karena terbakar habis."
Bingo!
Siapakah yang berusaha memalsukan kematian isterinya. Dan untuk apa?
Dean memutuskan mencari tahu sendiri dan tidak berniat memberitahukan Dylan.
Sesuatu melintas dalam pikirannya dan raut wajahnya terlihat sangat terkejut.
Astaga!
Dean menyewa detektif swasta untuk memata-matai Dylan. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan semua informasi tentang Dylan.
"Memiliki seorang isteri dan tiga anak di Swiss." Sahut detektif swasta menyerahkan foto-foto tersebut.
Dean terhenyak kaget. Benar dugaannya, Sinta masih hidup. Anak lelaki yang tidak sengaja ditemuinya sangat mirip dengan Dylan. Seharusnya sejak awal dia sudah menduga bahwa Dylan dibalik semua ini.
Dylan memalsukan kematian Sinta karena ingin menikahinya. Mereka berselingkuh saat Sinta masih berstatus menjadi isterinya. Dia tidak pernah menceraikan Sinta.
Dean meninju dinding hingga telapak tangannya mengeluarkan darah.
"Bedebah kalian berdua! Tunggu pembalasanku! Wanita ******! Kau akan kubuat menyesal seumur hidup karena berani membohongiku! Dan kau setan buduk! Kau akan menerima akibat perbuatanmu padaku! Aku berjanji, kalian berdua tidak akan bisa selamat dari pembalasanku! Kubuat kalian menyesal dengan apa yang telah kalian lakukan padaku!"
Pantas saja, Dylan selalu menghindarinya. Selalu memintanya melupakan Sinta.
Yang membuatnya sangat sakit hati. Selama mereka menikah, Sinta enggan disentuh olehnya tetapi dengan Dylan memiliki tiga orang anak.
Apa salahku hingga kau berlaku seperti ini? Aku mengkhianatimu. Aku memanfaatkanmu untuk menebus warisanku. Tapi aku sudah menebus semua kesalahanku. Jika kau melayaniku seperti kau melayani Dylan. Rumah tangga kita tidak akan diwarnai pengkhianatan. Aku sangat mencintaimu.
Pengkhianatanku karena kau mengabaikanku….
__ADS_1
Apa yang sebaiknya aku lakukan? Hatinya benar-benar sakit. Mendapati kenyataan, pengacara yang paling dipercayainya. Melarikan isterinya dan menikahinya. Memalsukan kematiannya.