
Perasaan wanita seperti bunga. Rajin disirami, dirawat, diberi pupuk dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Maka bunga akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan subur.
Trauma Sinta berangsur membaik. Sinta sudah mulai bisa menggunakan akal sehatnya. Menyadari tidak mungkin semua berjalan seperti yang dia inginkan.
Dia menyadari bahwa Dylan sudah mengupayakan yang terbaik untuk mereka berdua.
Sikap manis, lembut juga hangat Dylan melelehkan hati dan perasaannya.
"Jika hati dan perasaanku ibarat coklat. Kau bisa memanaskannya dan membuatnya meleleh."
"Benarkah?"Dylan mengembangkan senyumnya. Berjalan mendekati Sinta yang sedang berada di tengah kebunnya.
Hatinya merindukan isterinya. Secepatnya berangkat dari Indonesia menuju Swiss. Mengecup kening Sinta dengan lembut.
"Aku sangat merindukanmu."
Sinta memandang wajah Dylan dan memeriksa dengan seksama setiap inchi wajahnya. Dia bisa merasakan Dylan berkata dengan jujur.
"Bagaimana keadaanmu?" Dylan mengangsurkan sekotak coklat dan kue kepada Sinta.
"Baik. Perasaanku semakin nyaman."
"Apakah kau masih merasa berpoliandri?"
Sinta mengambil sebuah coklat dari kotak serta mengunyahnya.
"Aku tidak merasa seperti itu lagi."
"Benarkah? Menurutmu bagaimana keadaanmu?"
"Aku tidak pernah menjalankan kewajibanku sebagai isteri saat aku menikah dengan Dean. Keadaan juga tidak memungkinkan aku bercerai dengannya secara normal. Kupikir kematian palsu itu memang jalan keluar terbaik. Memutuskan masa laluku dengan Dean."
"Aku senang kau sudah bisa berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan." Dylan memeluk Sinta mesra. Menggamit tangannya dan membimbingnya menuju kamar tidur mereka.
"May l?"Dylan mencium punggung tangan Sinta.
Sinta menganggukkan kepalanya dan mereka bercumbu.
Dylan tidak ingin terburu-buru. Mereka akan menjadi pasangan suami isteri sejati. Semua hanya masalah waktu.
Membuat Sinta menerimanya perlahan. Memudahkan semuanya berlangung dengan alamiah tanpa paksaan atau tekanan atau beban. Dibandingkan jika harus tergesa. Membuat Sinta bingung atau merasa terpaksa atau menghindarinya atau justru menolaknya?"
Kenyamanan di dalam hubungan adalah yang utama. Memastikan Sinta merasa nyaman dengannya. Menjadikannya sebagai prioritasnya.
Kenyamanan ibarat pupuk dalam menyuburkan rasa cinta itu sendiri.
Bibit tidak akan tumbuh di tanah yang tandus. Apalagi jika tidak pernah disirami, diberi pupuk dan dirawat.
Di padang tandus hanya tumbuh kaktus dan tanaman kering. Seindah apapun tanaman, ketika tidak dirawat dan menjadi kering kerontang. Lambat laun akan mati mengering.
Keindahan adalah tanaman yang bisa tumbuh dengan subur. Tidak hanya menjadi bonsai, walaupun indah, hanyalah sebatas pajangan.
"Aku ingin pernikahan kita menjadi taman cinta bagi kita berdua." Dylan membelai rambut Sinta mesra.
Mengangkat dagunya. Matanya memancarkan kesungguhan hati.
"Jika pernikahan kita ibarat taman. Aku akan berusaha menjadi tukang kebun yang merawat keindahan taman."
"Asal jangan bunga bangkai aja ya…" Ceplos Sinta.
"Kau bisa juga bercanda?"
Sinta tertawa kecil.
"Apa kau masih suka melihat medsos Dean?"
"Sesekali. Kau tidak marah kan?"
"Aku mau menerkammu sebenarnya tapi apa dayaku. Tidak tega."
Giliran Sinta yang tertawa.
"Mengapa kau masih melihat medsosnya?"
"Memastikan keadaannya baik-baik saja."
__ADS_1
"Apakah kau merasa lega setelah melihatnya?"
"Tergantung apa yang kulihat. Tetapi melihat dia sudah mulai bisa menerima "kematianku" membuat bebanku berkurang."
"Syukurlah! Aku senang keadaanmu membaik. Kuharap kau segera pulih dan bisa melanjutkan hidupmu lagi."
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat berterima kasih padamu. Kau yang terbaik!" Sinta mengalungkan tangannya pada leher Dylan.
Jantung Dylan berdetak sangat cepat. Matanya mengabut. Dylan mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sinta ringan. Memagutnya dan memperdalam ciumannya.
Dylan kehilangan kendali akan dirinya. Sinta sendiri tampak gugup. Dia belum.pernah mencium siapa pun. Tubuhnya gemetar dan bergetar.
Bertaut rasa dan jiwa di antara mereka berdua. Saling melepaskan rindu.
Dylan melepaskan pakaian Sinta satu per satu. Kemudian melepaskan pakaiannya sendiri.
"Kamu yakin, kita akan melakukannya?" Dylan memastikan kesiapan Sinta.
Wajah Sinta terlihat sangat gugup dam jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
Seperti air terjun bebas. Sinta merasa detak jantungnya terdengar ke seantereo dunia.
"Kalau kau tidak siap atau menginginkannya. Kita hentikan. Kita coba lain waktu. Bagaimana?"
Bersama Dylan semua terasa lebih mudah. Semua terasa lebih ringan untuk dilalui.
Hubungan mereka tidak hanya sebagai pasangan suami isteri tetapi juga sahabat.
Tidak ada yang harus dicapai dan digapainya. Tidak ada beban yang berada di pundaknya. Tidak ada badai yang harus dihadangnya.
Menjalani kehidupan sederhana yang membuat pikiran juga hati serta perasaannya menjadi tenang dan nyaman.
Tidak ada ambisi yang harus diraih, digenggam atau dipertahankan.
Pada akhirnya wanita hanyalah wanita. Makhluk rapuh lemah tak berdaya.
Berkuda sendirian di sekeliling pegunungan Alpen mempercepat proses penyembuhannya.
Kabar bahagia mengiringi pernikahan mereka yang mereka rajut bersama.
Sinta menyiapkan makan malam yang sangat romantis. Mereka makan di bawah sinar bulan menerangi malam. Bulan purnama menyinari malam yang gelap gempita.
Sop buntut, nasi, perkedel, bakwan, kerupuk dan sambal. Seteko jus jeruk segar melengkapi.
"Makan malamnya spesial banget. Ada apa?"
Sinta menatap wajah Dylan dengan raut wajah bahagia.
"Aku punya surprise untukmu."
"Oh ya? Apa itu? Aku jadi penasaran."
"Bagaimana kalau kita makan dulu?"
"Hmm, ide yang bagus. Kebetulan ,aku sangat lapar dan tidak bisa berpikir jernih."
Sinta tertawa mendengar jawaban Dylan.
"Kau suka 'kan berada di sini? Atau kau ingin pindah?"
"Tentu aku suka disini dan tidak bermaksud pindah."
"Apa ya, kira-kira surprisemu?"
"Tebak dong! Jangan manja begitu!"
Giliran Dylan yang tertawa.
"Uangmu habis?"
Sinta menggelengkan kepalanya.
"Ada sesuatu yang ingin kau beli?"
__ADS_1
Sinta kembali menggelengkan kepalanya.
"Kau ingin merenovasi rumah?"
Sinta kembali menggelengkan kepalanya.
"Ingin membeli furniture baru?"
Sinta kembali menggelengkan kepalanya.
"Mengganti korden?"
"Nope."
"Beli mobil lagi?"
"Nope."
"Ganti mobil?"
"Nope."
"Jual mobil?"
"Nope."
"Binatang peliharaan baru?"
"Nope."
"Aku menyerah."
"Kau menyerah terlalu cepat."
"Entahlah! Otakku buntu. Semua jawaban tidak. Aku tidak memiliki ide lain. Kau ingin membeli peralatan memasak?"
"Tidak." Sinta kembali tertawa.
"Apa ya?"
"Tebak dong!"
Wajah Dylan menegang.
"OMG!" Serunya tiba-tiba.
"Kau bisa menebaknya?"
Dylan menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah!" Sinta tersenyum lega.
"Kau ingin bercerai dariku."
"Sayangnya tidak."
"Lalu apa?"
"Daripada salah satu dari kita terkena serangan jantung akibat tebakan ngawurmu. Sebaiknya kubocorkan saja. Walaupun aku berharap kau bisa menebaknya."
Sinta mengeluarkan sebuah kotak dan mengangsurkannya pada Dylan.
Dylan membuka kotak tersebut satu per satu. Ada kotak lebih kecil di dalamnya. Dylan terus membuka kotak-kotak tersebut.
"Haruskah aku membuka semua kotak-kotak ini?"
"Kau tidak bisa menebaknya. Tentu kau harus membuka semua kotak tersebut. Menemukan surprisenya sendiri."
"Kau kan bisa mengatakannya padaku tanpa harus mengerjaiku seperti ini." Keluh Dylan.
"Bisa memang tapi aku tidak mau." Sinta tergelak melihat raut wajah Dylan.
Dylan terus membuka kotak-kotak tersebut sampai kotak terakhir. Dia membukanya dan ekspresi wajahnya menggambarkan suasana hatinya yang bahagia.
"OMG! Kau hamil?"
__ADS_1