Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Spare Time


__ADS_3

Syarifah mendatangi meja makan ibunya yang sedang asyik mengobrol dengan Dylan.


“Bu, ayah bilang kita mau berangkat sekarang “


“Bilang pada ayahmu. Aku kehilangan mood. Sebelum dia merubah sikapnya. Aku tidak mau bergabung bersama kalian.”


“Bu…” Bujuk Syarifah.


“Tolong sampaikan padanya. Aku harus melihat perubahan sikapnya dulu. Aku tidak mau dia berlaku seenaknya padaku.”


“Bu, tapi…”


“Dengarkan ibumu.” Dylan menengahi,”ibumu juga perlu merasa nyaman. Semuanya harus nyaman jika ingin menghabiskan waktu bersama-sama. Jangan memaksa ibumu mentolerir sikap ayahmu yang mengganggu pikirannya.”


“Baik, om…” Ujar Syarifah mematuhi Dylan.


Syarifah berjalan menuju ayahnya. Menyampaikan pesan ibunya. Ahkam memandang ke arah Haliza dari jauh. Kemudian mengajak anak-anaknya berlalu dari ruang makan.


“Kita ke Gili Terawangan tanpa ibu?”


“Yeah. Ibumu tampak ingin menghabiskan waktu dengan Dylan.”


“Ibu merasa terganggu dengan sikap ayah.”


“Alasan saja. Aku berusaha melindunginya. Tapi sepertinya dia memang labil.”


“Melindungi ibu?”


“Ibumu labil. Dia perlu dilindungi.”


“Ibu tidak bisa menerima cik Hana. Mengapa kau menikahi cik Hana?”


“Aku jatuh cinta lagi kepada wanita lain selain ibumu. Hana tampak rapuh. Seperti kau dean ibumu. Aku merasa harus melindunginya.”


“Seandainya kau tidak menikahi cik Hana. Kalian tidak akan bercerai. Kita akan tetap seperti dulu. Banyak hal yang kurindukan saat kau dan ibu masih bersama. Saat kita menghabiskan waktu berempat di kamar kalian berdua.”


“Aku juga. Momen manis serta spesial itu tidak akan tergantikan. Karena itu bantulah aku agar ibu kalian mau menerima cik Hana dan menikahiku kembali. Semua momen kebersamaan kita yang hilang akan kembali.”


“Bagaimana kami bisa membujuknya. Kau tahu bagaimana ibu?”


“Aku tahu ibu kalian sangat emosional terutama menyangkut Hana dan hubunganku dengan ibumu. Belum lagi Dylan.”


“Memang kenapa om Dylan? Dia sangat baik. Kami berdua sangat menyukainya.”


“Dia akan menjadi duri dalam daging dalam keluarga kita. Bagaimana mungkin aku bisa rujuk dengan ibumu jika dia mengincar ibu kalian menjadi istrinya?”


“Kau boleh dengan cik Hana sedangkan ibu tidak boleh dengan om Dylan. Sungguh tidak adil. Apalagi om Dylan jauh lebih baik, nyaman serta penyayang.”


“Aku bisa berpoligami sedangkan ibumu tidak boleh berpoliandri. Seandainya, poliandri dibolehkan. Aku akan mengeyampingkan egoku untuk kebahagiaan kita semua.”


“Entahlah, semua ini membuatmu bingung.”


“Bagaimana pendapatmu, Syarif?”

__ADS_1


“Aku hanya ingin kalian berdua bahagia. Apakah kalian rujuk atau memiliki pasangan masing-masing. Sama saja buat aku. Terpenting, kita semua bisa berbahagia serta berhubungan baik.”


“Yeah, kau benar.” Ujar ayahnya menyetujui.


Dylan memandang wajah Haliza yang tampak gundah. Kegusaran tergambar pada raut wajahnya.


“Mengapa kau tampak gusar?”


“Ahkam membuatku kesal.”


“Dia tidak ingin kehilanganmu dan anak-anakmu. Juga Hana.”


“Dia sudah menyakitiku. Hubunganku dan Hana juga tidak akan berjalan dengan baik. Dia mencemburuiku.”


“Yeah, aku tahu maksudmu. Sudahlah, kau tidak usah memikirkan Ahkam. Lebih baik kita berjalan-jalan.”


“Kita mau jalan kemana?”


“Kau sendiri ingin kemana?”


“Entahlah, tidak ada ide.


“Ya  sudah, kita keluar dari sini saja dulu gimana?”


Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan breakfast buffet.


“Hotel isinya kamar semua. Ahkam dan anak-anakmu juga sedang berkreasi.” Sindir Dylan.


“Astaga apa maksudmu?”


“Seandainya, kau menerima lamaranku. Mungkin saat ini…”


Wajah Haliza bersemu merah.


“Astaga! Kau…”


Dylan semakin tergelak melihat wajah Haliza yang semerah dadu.


“Aku tidak bermaksud mendesakmu. Tapi kalau kau mau mengeyampingkan aturan agama. Berbuat dosa bersamaku…”


“Astaga!” Haliza memukul bahu Dylan.


“Aku hanya bercanda!”


“Bercandamu sungguh tidak lucu!”


“Aku cuma bercanda. Aku tidak ingin mendesakmu. Walaupun, aku sudah menyadari perasaanku padamu adalah nyata. Aku menyesali bahwa aku telat menyadari semuanya. Kupikir, aku masih mencintai Sinta dan mengharapkannya. Perasaanku padamu seperti lagu Annie’s song. Perasaan itu hadir seperti malam di hutan.”


“Aku kan juga gak tau kalau ternyata aku masih mencintai Ahkam. Aku terlalu marah dan kecewa padanya sehingga tidak bisa merasakan perasaanku padanya. Masih ada atau sudah tidak bersisa.”


“Posisi kita malah terbalik ya? Aku yang mengira masih mencintai Sinta dan mengharapkannya ternyata sudah move on. Sedangkan engkau yang menganggap sudah tidak mencintai mantan suamimu ternyata masih belum bisa move on.”


“Perasaan kita kadang dipengaruhi persepsi kita sendiri. Seperti kau mengira masih mencintai Sinta. Itu persepsimu karena pernikahan kalian berjalan dengan baik. Takdir memisahkan bukan kalian sengaja berpisah.”

__ADS_1


“Sedangkan kau yang sangat marah serta kecewa pada mantan suamimu. Berlari padaku. Mengira kau sudah tidak mencintainya. Menganggap aku bisa menggantikannya.”


Haliza memandang wajah Dylan dengan pilu.


“Yeah, sort of…”


Dylan meraih tangan Haliza. Mengusap serta mengelusnya ke pipinya.


“Jangan khawatir. Aku akan menunggumu. Memastikan semuanya. Aku tidak akan kemana-mana.”


Mata Haliza mengaca. Wajahnya menyiratkan mendung. Awan kesedihan sangat tebal bergelayut di wajahnya. Perlahan butir bening menetes satu per satu membasahi pipinya.


“Sstt… jangan menangis. Bukan salah siapa pun. Kau tidak mempermainkan siapa pun. Kau hanya butuh waktu untuk memastikan siapa yang akan kau pilih untuk menemani sisa hidupmu. Aku atau Ahkam.”


“Mengapa kau bisa membaca pikiranku?”


“Karena aku sangat mencintaimu.”


“Apa maksudmu?”


“Seringkali cinta berfungsi sebagai radar. Seperti orang tua memahami anaknya. Suami memahami istrinya atau sebaliknya. Aku memahamimu.”


Haliza berlari ke pelukan Dylan. Menumpahkan seluruh sisa tangisnya. Menghabiskannya tuntas.


Dylan membelai rambut Haliza dengan sangat lembut. Membalas pelukannya dengan erat.


“Aku bisa memahami kenanganmu bersama Ahkam dan anak-anak kalian. Seperti halnya aku, Sinta dan anak-anak kami. Semua hal tersebut sangat membingungkan. Kau ingin kembali berada di masa lalu serta tidak pernah beranjak pergi. Atau kau akan menggamit seseorang ya g baru untuk menyongsong masa depan serta kebahagiaan yang baru.”


“Aku senang kau bisa memahamimu secara keseluruhan. Tidak merasa marah dan cemburu pada Ahkam.”


“Siapa yang bilang aku tidak cemburu padanya? Aku menahan diriku dari emosi serta pikiran yang tidak perlu. Aku ingin tidak membebanimu dengan apa pun.”


Haliza menjauhkan dirinya dari pelukan Dylan menatap wajah lelaki itu dengan sendu.


“Mengapa kau sangat baik dan pengertian?”


“Aku tidak ingin merasa kecewa atau patah hati. Saat kau menyadari semuanya. Kembali berlari padanya.”


“Lalu mengapa kau memutuskan menungguku?”


“Karena aku masih berharap kau melewatkan sesuatu.”


“Semua terasa membingungkan bagiku.”


“Yeah, aku tahu. That’s why just take your time. There is no pressure and you free to choose anything that is fit with your heart and soul.”


Haliza menghapus air matanya. Menatap Dylan sambil tersenyum. Senyumnya menyihir Dylan. Sejenak terpukau dan terpesona melihat senyum yang mengembang di hadapannya.


“Kita akan kemana?” Ujar Haliza membuyarkan lamunan Dylan.


“Senggigi.”


 

__ADS_1


... ...


__ADS_2