
Tuntutan pelecehan seksual yang ditujukan pada Dean, berimbas pada karir politik Sinta.
Tuduhan merambat pada pekerjaan Sinta. Dia terkena tuduhan penyalahgunaan kekuasaan karena melindungi bisnis mertuanya.
"Maafkan aku, mengacaukan semuanya!" Ujar Dean menyesal.
"Simpan permintaan maafmu. Kau tidak hanya menghancurkan karirku tapi juga usaha orang tuamu. Sepertinya kau dijebak. Mengapa kau harus ke tempat hiburan itu?"
"Kau menolakku. Aku sudah kehabisan akal mengajakmu agar mau melayaniku. Tidak ada yang menjebakku. Aku ke sana spontan dan sendirian. Tidak memiliki janji dengan siapapun."
"Itu bukan alasan kau mengkhianati pernikahan kita."
"Aku bukan malaikat! Berapa kali harus kukatakan?"
"Aku juga mengatakan, jangan memaksaku."
"Kau isteriku!"
"Aku malas meladenimu. Tidak akan ada habisnya. Seandainya, kau setia. Tidak akan seperti ini jadinya."
"Apa yang mereka tuntut darimu?"
"Penyalahgunaan kekuasaan. Karena aku memberikan sejumlah tender pada perusahaan orang tuamu."
"Apakah itu salah?"
"Conflict interest. Secara argumen asumsi hukum, tetapi secara substansial tidak ada yang dilanggar. Bukan proyek fiktif. Perusahaan orang tuamu juga bisa menyelesaikan proyeknya dengan baik. Hanya saja, ada kesalahan ketika mengerjakan proyek, sepertinya orang tuamu salah merekrut orang. Tapi aku sudah menyarankan kemarin agar memperbaikinya. Dan itu juga sudah diatasi. Hanya saja ada yang tidak suka, aku mengeluarkan budget tambahan untuk memperbaikinya. Itu saja."
"Mengapa kau melakukan itu?"
"Aku merasa ada sesuatu yang tidak wajar. Aku belum bisa membuktikan tetapi aku mencurigai ada yang sengaja menaruh orang tersebut di perusahaan orang tuamu. Ada yang sengaja bermain. Kemungkinan memang ada yang ingin menyingkirkan perusahaan keluargamu. Aku hanya membantu melindungi dari mereka yang tidak menyukai keberadaan usaha orang tuamu saja. Seandainya, benar dugaanku, sudah seharusnya mereka bertanggung jawab dan bukan dilimpahkan pada orang tuamu. Apalagi perusahaan orang tuamu juga sedang banyak urusan. Membebani mereka bisa menyebabkan mereka rugi atau bangkrut. Setidaknya, akan mempengaruhi kinerja perusahaan mereka."
"Wow! Bu Sinta!" Dean bertepuk tangan,"Pantas saja, orang tuaku berkeras bahwa kau harus terjun ke politik!"
Sinta tidak menghiraukan ucapan Dean.
"Apa rencanamu?"
"Aku tidak memiliki bukti. Aku tidak punya rencana apapun. Aku hanya mengikuti naluriku."
"Kau ingin mengatakan, kau tidak bisa menghindar dari tuntutan hukum tersebut?"
"Entahlah!"
"Katakan padaku! Apakah karena aku, engkau jadi ikut terseret ke penjara?"
"Tidak ada hubungannya denganmu. Mereka sudah merencanakannya sejak aku menjabat. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat."
"Mengapa kau mau memegang jabatan itu?"
"Memangnya aku punya pilihan?"
__ADS_1
Dean memandang ke arah Sinta. Wanita berhati baja yang tidak mungkin bisa dia taklukan.
"Orang akan menganggapmu ambisius dan fitnah lainnya."
"Kita tidak mungkin hidup hanya mendengarkan apa pendapat orang tentang kita. Cepat atau lambat. Semua akan menghampiri kita."
"Kau sudah mempersiapkan diri?"
"Begitulah!"
"Aku akan mendampingimu."
"Untuk apa? Sejak awal, aku yang jadi kambing hitam bukan kau. Kau urus perusahaan keluargamu. Berhati-hatilah ketika berhubungan dengan orang."
"Bagaimana dengan pengacaramu?"
"Dia akan mendampingiku. Dia akan berusaha membuktikan keterlibatan perusahaan kompetitor yang mengincar proyek yang sama, yang diserahkan kepada orang tuamu."
"Bagaimana caranya?"
"Membuat mereka yang sengaja melakukan sabotase tersebut bersaksi, bahwa yang mereka lakukan kesengajaan dan atas perintah perusahaan kompetitor tersebut, tetapi itu semua baru rencana. Karena sangat tidak mudah membongkar konspirasi."
"Kalau tidak berhasil?"
"Dia akan mengajukan teori tidak langsung tetapi kami ragu karena sepertinya mereka juga sudah memegang hakim."
"Ada orang ingin menghancurkan usaha ayahku. Kau melindunginya dengan memberikan dana tambahan. Kau pasang badan untuk perusahaan ayahku. Sekarang kau yang akan menghadapi tuntutan hukum. Dan itu karena gugatan hukum yang diajukan padaku."
"Aku suamimu. Aku yang melindungimu bukan sebaliknya."
"Untuk apa kau membahas yang tidak penting. Tugasmu memberikan kesaksian yang jujur pada pengacaraku. Apapun itu dan jangan sampai terlewatkan."
"Bagaimana denganmu? Kau isteriku."
"Aku isterimu tapi aku juga seorang kepala daerah. Pekerjaanku tidak ada hubungannya denganmu. Aku dan pengacaraku akan berusaha mengatasinya."
"Kau menolak aku membantumu?"
"Kau ingin membantuku apa? Kau bisa membujuk hakim agar menolak konspirasi itu? Mencari bukti sabotase? Memaksa orang yang melakukan sabotase untuk bersaksi?"
"Kau ingin mengatakan, aku tidak becus sebagai suami? Akan kupukul semua orang yang membuatmu masuk penjara."
"Bukan begitu cara menyelesaikan masalah. Berkompromi, negosiasi, menjebloskan mereka yang bertanggung jawab ke penjara atau membongkar konspirasi. Kau memukul semua orang, bertambah gugatan hukum kepadamu. Melakukan penganiayaan."
"Aku tidak peduli!"
"Kau selalu menyelesaikan masalah dengan emosi. Tidak usah membantuku. Masalahku bertambah bukan sebaliknya. Pengacaraku mungkin akan meminta bantuan jurnalis untuk membongkar konspirasi tersebut."
"Kau dan pengacaramu sudah memikirkan berbagai cara?"
"Mengatasi masalah itu harus berfokus pada masalah itu, sendiri bukan selainnya."
__ADS_1
"Kau tidak main gila dengan pengacaramu kan?"
Wajah Sinta mendadak bete.
"Kau selalu bilang syarafku terjepit tapi sepertinya bukan aku tapi kau!"
"Kau tidak mau melayaniku! Wajar saja kalau aku berpikiran yang tidak-tidak."
"Kau bisa tidak jangan memaksa?"
"Aku bersabar sampai kapan?"
"Sampai kiamat!"
"Kau egois!"
"Kau selalu mendesakku!"
"Apa yang selalu membuat kau menolakku?"
"Aku ingin menghilangkan image pelacur di kepalamu!"
"Tapi kau kan memang …."
"Stop! Kau mulai lagi!"
"Aku memilihmu jadi isteriku karena kehebatanmu di ranjang dan kau memang pelacur sayang…."
Wajah Sinta merah padam.
"Bagaimana aku gak ilfeel denganmu?" Keluh Sinta jutek.
"Kau pikir, kalau kau wanita lugu dan tidak memiliki kehebatan di ranjang, aku mau denganmu?"
Sinta merasa aliran darahnya melawan gravitasi. Salah satu yang paling dibencinya dari transmigrasi ini adalah pikiran kotor Dean kepadanya yang kerap membuatnya naik darah tapi dia tidak bisa berbuat apapun.
Sinta memang pelacur bahkan di cerita aslinya. Dean selalu menjadikannya budak seksual.
Dean tidak bisa terlayani dan ke tempat hiburan dan mendapatkan gugatan pelecehan seksual sudah sangat menyimpang dari novel yang dia baca.
Dia bisa menjadi artis dan juga kepala daerah juga di luar cerita novel tersebut.
Di cerita itu, Sinta hanya bisa melayani Dean dan tidak bisa melakukan apapun selain menjadi pelacur bagi suaminya dan hanya dimanfaatkan untuk mencairkan warisan Dean.
Sinta juga tidak bisa bela diri. Selalu pasrah jika Dean memintanya untuk melayaninya secara estafet.
Kadang dia berpikir, novel yang dibacanya pornografi atau memang seperti itu novel dewasa?
Karena penuh dengan adegan vulgar dan panas. Dia terpaksa harus tegas menolak Dean kalau tidak ingin mengalami hal yang dialami Sinta di dalam buku itu.
Pathetic slut….
__ADS_1