
Usianya tidak lebih dari dua puluh tahun. Mahasiswa jurusan politik dan akan menggantikan ayahnya kelak dalam kancah perpolitikan.
Karakter kejam dan liciknya menurun dari sang ayah.
Tanpa sengaja memergoki ayahnya bersama kekasih gelapnya. Kemudian diketahui bernama Helena.
Dia memotret keduanya dari jauh. Bahkan membayar cleaning service agar berpura-pura mengambil barang yang tertinggal di kamar ayah dan kekasih gelapnya untuk merekam aksi perselingkuhan dan perzinahan mereka berdua.
Helena tidak bisa berkutik ketika semua bukti diperlihatkan kepadanya.
"Kau masih mau mangkir?" Bram tersenyum licik kepadanya.
"Kau mau apa?"
"Bernegosiasi tentu!"
"Apa yang kau inginkan? Dan siapa kau?"
"Ini ayahku!" Bram melempar foto yang diambilnya. Menyalakan video dalam hapenya hasil perekaman kamera yang ditaruh petugas cleaning service ketika meminta ijin untuk masuk dan mengambil barang yang ada di dalam kamar.
"Oh Briannnn…yesss…."
Terdengar suara desah milik Helena.
"Kau tidur dengan ayahku."
"Apa maksudmu dengan ini semua?"
"Bagaimana pendapat ibuku. Kalau mengetahui ini semua?"
"Kau mengancamku? Kau tidak takut ibumu terkena serangan jantung?"
"Aku bertanya padamu! Seandainya ibuku menerima semua kiriman ini bagaimana?"
"Apa maumu? Katakan saja terus terang! Tak usah bertele-tele!"
"Aku ingin ikut menikmati tubuhmu. Bagaimana?"
"Apa? Kau jangan gila!"
"Berarti kau setuju ibuku mengetahui perselingkuhanmu dengan ayahku?"
"Kau?"
Sejak saat itu, Helena memiliki pekerjaan tambahan melayani anak Brian.
Usianya yang muda membuatnya sangat menggebu dalam hal seksual. Helena kerap kewalahan.
"Seharusnya kau menjalin hubungan dengan perempuan seusiamu."
"Kita tidak menjalin hubungan."
"Maksudku, seharusnya kau mencari wanita yang lebih sesuai."
"Kau tidak usah mengaturku. Apa yang harus aku lakukan atau tidak."
"Sejak kapan kau kehilangan keperjakaanmu?"
"SMP."
"Apakah orang tuamu mengetahuinya?"
"Tentu tidak."
__ADS_1
Helena tidak mau ambil pusing. Selama Bram menepati janjinya maka sisanya dia anggap memang semua harus berjalan seperti apa adanya.
Helena tidak tahu bagaimana pendapat Brian kalau tahu Helena tidur dengan anaknya, Bram?
Dia tidak ingin memikirkannya sama sekali.
Bram kerap mendatanginya jika membutuhkan pelampiasan.
"Apakah kau memiliki pacar?" Helena bertanya kepada Bram setelah mereka bercinta.
"Tentu."
"Apakah kau bercinta dengan pacarmu?"
"Tentu tidak. Orang tuanya akan membunuhku kalau aku berani menyentuhnya."
"Apakah pacarmu tahu kau sudah tidak perjaka dan kerap melampiaskan hasratmu?"
"Tentu tidak! Kalau kau sampai membocorkannya, aku akan membunuhmu!"
"Aku tidak tahu yang mana pacarmu!"
"Benar juga. Aku sangat mencintainya. Aku tidak akan menyentuhnya kecuali sudah saatnya."
"Kau berniat memperistrinya?"
"Yeah. Kalau aku sudah lulus dan bekerja. Akan kulamar."
"Apakah kau akan setia setelah menikah?"
"Aku tidak tahu. Terkadang cinta dan kebutuhan seksual itu sangat berbeda. Cinta itu perasaan. Menyayangi dan melindungi sedangkan kebutuhan seksual itu kebutuhan untuk menyalurkan hasrat biologis. Dengan atau tanpa cinta tetap harus disalurkan, bukan?"
"Aku ingin tahu, apa pendapat pacarmu kalau tahu tentang hal ini?"
"Kalau itu terjadi, kau harus mencari wanita lain."
"Jangan membicarakan hal itu. Banyak pria yang tidak setia kepada pasangannya tetapi mereka bisa menjaga dan melindungi pasangan mereka dengan baik. Kuharap pacarku akan bersikap bijak dalam menyikapi kekuranganku."
"Aku kasihan pada pacarmu. Sebagai sesama perempuan."
"Kau tidur denganku. Bagaimana menurutmu pendapat pacarku tentang hal ini?"
"Tidak semua perempuan bisa menerima ketidaksetiaan lelaki. Kalau pacarmu tahu bisa saja minta putus. Jika mengetahuinya setelah kalian menikah. Bisa saja minta cerai."
"Kau benar!" Bram menarik selimut yang menutupi dada dan tubuh Helena, "Sayangnya, aku tidak ingin membahasnya sekarang. Ada hal yang lebih penting dan tidak bisa ditunda!"
Bram sangat menyukai gadis lugu dan penurut. Citra sosok pacar Bram adalah wanita yang sangat lugu dan penurut. Citra adalah gadis baik-baik serta sangat menjaga pergaulan.
Bram sangat mencintai Citra. Tidak mudah memperjuangkan Citra yang dijaga ketat oleh kedua orang tuanya.
Untuk bisa menjadi pacar Citra. Bram harus mendapatkan ancaman dari ayahnya terlebih dahulu. Bahwa ayahnya tidak akan segan memotong leher Bram jika berani menyentuh putrinya.
"Kalau kau ingin pacaran dengan anakku ada syaratnya. Kalau kau tidak memenuhinya, ucapkan selamat tinggal pada lehermu!"
"Apa syaratnya om?"
"Jangan coba-coba menyentuhnya walaupun hanya sehelai rambutnya."
"Baik om!"
"Tidak boleh menciumnya!"
"Baik om!"
__ADS_1
"Tidak ada kontak fisik!"
"Tapi om, namanya pacaran minimal saling berpegangan tangan, memeluk bahkan mencium merupakan hal yang…."
"Kau mau menerima syaratku atau tidak?"
"Baik, om, saya terima."
Bram menjaga Citra dengan baik karena telah berjanji kepada ayah Citra bahwa dia akan menjaga Citra dengan baik.
Mereka jalan berdua. Mengobrol. Bercanda. Makan bareng. Jalan bareng. Nonton bareng.
Bram memperlakukan Citra dengan sangat manis dan romantis.
Membelikannya setangkai bunga. Sebatang coklat. Membelikannya cemilan kesukaannya.
Tidak pernah melupakan hari ulang tahun Citra. Hari jadian mereka. Bahkan mereka juga kerap merayakan Valentine tentu tanpa melakukan hubungan **** bebas.
Mereka merayakannya dengan makan malam romantis. Bram menghadiahkan sekotak coklat dan sebuket bunga kepada Citra.
Citra sendiri akan memberikan hadiah yang disukai atau dibutuhkan Bram. Apakah dompet atau ikat pinggang atau sepatu atau topi atau kaus atau kemeja."
Mereka kerap saling bertukar hadiah.
Bram sendiri awalnya sama seperti anak lainnya. Lugu dan polos.
Menginjak SMP bergaul dengan teman-teman prianya. Mereka menonton blue film. Merasa terangsang dan penasaran.
Salah seorang temannya mengajak teman-temannya untuk menyewa pelacur secara berpatungan.
"Menyewa pelacur berpatungan?"
"Memang kalian tidak ingin tahu bagaimana rasanya adegan panas yang ada di dalam film yang kita tonton?"
"Pelacur?"
"Itu yang paling aman. Kita berpatungan saja supaya lebih murah."
"Jangan lupa membeli ******?"
"Untuk apa?"
"Itu syarat yang mereka ajukan kalau ingin berhubungan seksual dengan mereka."
Mereka sepakat untuk menyewa seorang pelacur untuk melayani tiga orang.
Satu pelacur menarik bayaran 500 ribu. Mereka sudah mendapat harga diskon.
Dengan kondisi ekonomi keluarga mereka yang berada tidak sulit membayar sejumlah uang tersebut.
Masing-masing membayar seratus enam puluh lima ribu rupiah.
Bram melepaskan keperjakaannya saat berpatungan pertama kali dengan teman-temannya menyewa pelacur.
Setelahnya hal itu sudah menjadi kebutuhannya. Sampai dia bertemu Helena dan menemukan ide untuk mendapatkan **** gratis dan sepuas hatinya tanpa harus merasa takut hal itu diketahui orang lain.
Semenjak dia bisa memanfaatkan tubuh Helena untuk kepuasan seksualnya. Dia sudah tidak pernah lagi mendatangi pelacur.
Dia menabung uangnya dan memanfaatkannya untuk hal lain yang lebih penting.
Bram merasa sangat beruntung menemukan perselingkuhan Helena dengan ayahnya.
Helena sendiri adalah wanita yang sangat hebat. Usia mereka terpaut sepuluh tahun tetapi kehebatannya diranjang ditunjang dengan kecantikan serta keseksian tubuhnya. Membuat semuanya menjadi sempurna.
__ADS_1