
Tidak ada yang paling mengerikan selain menjalani kehidupan yang penuh dilema dan juga luka.
Pernikahannya dengan Dylan dibatalkan. Secara hukum mereka dianggap tidak pernah menikah.
Bagaimana dengan jejak kehidupan yang sudah mereka jalani bersama? Ketiga buah hati mereka yang mungkin saat ini bertanya-tanya dimana ibunya berada? Menghilang begitu saja?
Kesembuhannya merupakan suatu keniscayaan. Tetapi mengingat. Dia tidak akan bisa melihat anak-anaknya dari jauh. Memicu dirinya menembus keniscayaan.
Dia masih mengkonsumsi obatnya terutama saat dirinya merasa tegang. Tetapi perlahan dia mulai mengurangi ketergantungannya. Aku harus sembuh demi anak-anakku.
Dean sendiri kerap merasa kesal dengan Sinta yang tidak memperhatikan kehamilannya.
"Mengapa kau belum memakan makananmu? Tidak meminum vitaminmu?"
Dean memasuki ruang kerja Sinta. Melihat makanan dan vitamin juga jus buah yang masih utuh.
"Aku belum lapar." Sahut Sinta singkat.
"Habiskan makananmu! Setelah itu tidur. Besok saja kau lanjutkan pekerjaanmu."
"Aku bukan anak kecil yang harus kau atur-atur! Jangan katakan apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan!" Sinta menantang wajah Dean.
Dean mengangkat tubuh Sinta yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Kau memang senangnya dipaksa ya?"
Sinta berusaha melawan tapi sia-sia.
"Makan makananmu!"
Dengan berderai air mata. Sinta memakan makanannya yang disuapi Dean sampai habis. Meminum vitamin dan jusnya tanpa sisa.
"Sepertinya kau sengaja mencari perhatianku? Heh!"
Sinta tidak menjawab perkataan Dean. Dirinya sudah lelah dengan semua hal yang menimpa dan harus dijalaninya. Dia bermaksud meneruskan pekerjaannya. Dean mengambil pulpen dan kertas dari tangannya. Menutup lap topnya.
"Tidur!!!"
Sinta beringsut bangun. Berjalan keluar ruang kerjanya menuju kamar tidurnya. Dean berjalan di belakangnya.
Sinta menaiki tempat tidurnya bersiap untuk tidur. Dean menyelimutinya.
"Setidaknya biarkan aku bersama anak-anakku." Sinta menyuarakan pendapatnya.
Dean menatapnya tajam, " Aku tidak yakin bisa menerima anak-anakmu dan Dylan. Jangan memaksaku!"
"Kau jahat dan kejam!" Air mata Sinta menuruni kedua belah pipinya.
"Mereka bukan anak-anakku! Ayahnya melarikan isteriku! Apa yang kau harapkan dariku? Tidak kucekik hidup-hidup saja sudah bagus. Aku tidak memisahkan mereka dari ayahnya. Bisa saja kubunuh Dylan dan mengirim mereka semua ke panti asuhan!"
__ADS_1
Sinta terduduk, menyerang dan mendorong Dean hingga nyaris terjatuh dari tempat tidur mereka. Matanya menatap nyalang dengan penuh kebencian.
"Kau sudah tidak sabar rupanya?" Dean meraih Sinta mendekatkan tubuhnya pada dirinya. Membalikkan tubuh isterinya, merebahkan dan menindihnya.
Sinta berusaha menjauhkan Dean tetapi sia-sia, "Kau jangan kurang ajar!" Sinta berteriak histeris. Membuang mukanya.
"Siapa yang kurang ajar? Sebagai suami yang baik. Tidak mengabaikan kode dari isterinya, bukan?"
Sia-sia Sinta melawannya. Hatinya demikian sakit akan perlakuan Dean padanya. Sebelum dia menipu dan membohonginya. Dean selalu bersikap baik padanya. Menghormatinya. Tetapi sekarang?
Dean seperti tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Menuntaskan hasratnya tanpa mempedulikan sedikit pun emosi dan perasaan Sinta yang tercabik-cabik setiap kali dia menyentuhnya dengan paksa.
Sinta memungut pakaiannya. Mengenakannya. Menarik selimutnya. Tubuhnya gemetar dan menggigil. Hatinya sangat sakit menerima semua perlakuan Dean kepadanya. Sedangkan Dean tertidur pulas di sampingnya. Menutup tubuh telanjang Dean dengan selimut. Membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur.
Air mata mengalir dari kedua belah pipinya. Hatinya sangat merindukan Dylan dan ketiga buah hatinya.
Sinta meraih pil tidur dan penenangnya. Meminumnya. Tidak lama dirinya tertidur sangat pulas.
Matahari bersinar cerah. Sinta terbangun dari tidurnya. Dia belum mandi dan menunaikan sholat subuhnya.
Dean sudah terlihat rapi dan tercium bau wangi menguar dari tubuhnya.
"Kau sudah bangun? Aku tidak membangunkanmu karena kau tertidur sangat lelap." Dean berjalan menghampiri isterinya dan mengecup keningnya.
"Mandilah dan tunaikan sholat subuhmu. Aku akan membawakan makanan untukmu." Dean berjalan keluar kamar menuju dapur.
Pembantunya sudah menyiapkan makanan yang akan dibawanya ke kamar.
"Makananmu. Kau harus habiskan!" Dean meletakkan nampan di atas meja.
"Aku tidak lapar!"
"Mengapa kau senang diancam, diintimidasi dan dipaksa?"
Sinta membungkam mulutnya. Melipat mukenanya berjalan menuju meja diapit dua buah kursi di kanan kirinya.
Sinta mendorong piringnya. Dia merasa sudah kenyang. Meminum jusnya.
"Habiskan!"
"Sudah kenyang!"
"Buka mulutmu!" Dean menyuapi Sinta sisa makanan nya sampai tandas.
"Kau seperti anak balita. Harus dipaksa menghabiskan makanannya. Aku tidak ingin terjadi apa pun pada bayi kita. Kalau sampai kau gegabah dan terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan segan bersikap keras padamu."
Dean membuka kulkas dan mengambil botol minum berisi air mineral. Mengisinya kembali dari dispenser yang terletak di sebelah kulkas.
"Minum vitaminmu! Kau meminum obat tidur dan penenangmu lagi? Aku menghitungnya sudah berkurang masing-masing satu. Kau sedang hamil. Kurangi konsumsi obatmu. Aku tidak ingin anak kita menjadi cacat."
__ADS_1
"Dokter bilang, aman untuk wanita hamil. Kalau anak kita cacat. Kau periksa perbuatanmu!" Ujar Ratih ketus.
Dean diam seribu bahasa. Dia tidak ingin amarahnya terpancing keluar. Dia kerap menyesali diri setiap kelepasan berbuat kasar pada isterinya.
Dean berjalan ke arah Sinta. Memeluk bahunya, "Jangan marah terus! Tidak baik untuk bayi kita. Aku tidak ingin dia keluar dalam keadaan mengerutkan keningnya atau ada helaian uban tumbuh di bulu hidungnya." Dean berusaha mencairkan suasana. Mengecup puncak kepala isterinya.
Sinta mendorong suaminya kasar. Dean kembali berjalan ke arahnya dan memeluknya, "Jangan galak-galak, dong! Nanti kukira kau memberi kode baru tahu rasa!"
Tubuh Sinta membeku. Wajahnya masam. Dirinya begitu membenci Dean. Tidak ingin mencari masalah dengannya.
Dirinya kerap dilanda rindu kepada Dylan dan anak-anak mereka berdua. Bertekad menyewa detektive swasta untuk melacak keberadaan mereka saat ini.
Sinta menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Bermaksud menemui detektive swasta yang disewanya sebelum jadwal berkunjungnya ke dokter kandungan.
Mereka berjanji bertemu di sebuah tempat yang privat. Seorang pria mengenakan topi kupluk dan kaca mata hitam.
Sebuah restaurant Jepang dengan sekat ruangan sendiri-sendiri.
"Kau sudah lama?"
"Baru saja sampai."
"Waktuku tidak banyak. Ini alamat terakhir mereka. Aku ingin tahu apakah mereka masih disana atau tidak. Aku menginginkan detail kehidupan tentang mereka. Aku sangat merindukan mereka semua." Air mata Sinta meleleh dari kedua sudut matanya.
"Baiklah."
"Aku harus pergi sekarang. Kau pesan saja makanan. Nanti tagihannya akan dikirim kepadaku."
"Baik. Terima kasih."
"Aku harus pergi sekarang. Aku tidak ingin suamiku menjadi curiga. Semua bisa berantakan kalau dia tahu, aku mencari mereka semua."
"Baiklah!"
"Baik! Selamat sore!"
"Selamat sore!"
Sinta keluar dari ruangan mereka. Membuka dan menutup pintu yang terbuat dari kertas bergambar bunga sakura yang sangat indah. Bergegas menemui dokter kandungannya. Gadgetnya berbunyi ketika dia memasuki mobilnya. Supirnya menutup pintu mobilnya.
Tertera nama Dean. Mengangkat gadgetnya dengan enggan.
"Kau dimana?"
"Mampir sebentar. Aku ingin makan."
"Tumben! Begitu dong! Kalau sedang hamil memang harus banyak makan. Makan untuk dua orang. Sebentar lagi jadwal kontrol ke dokter kandunganmu."
"Ya, aku tahu. Aku dan pak Pri sedang menuju ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baiklah! Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu!"
Sinta tidak membalas perkataan Dean. Menutup gadgetnya begitu saja.