Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Love Hurt


__ADS_3

Dean memandang resah pada Sinta yang tampak uring-uringan. Pekerjaannya yang sangat menuntut konsentrasi. Membuatnya kerap berada di bawah tekanan.


Belum lagi kondisi emosionalnya yang rapuh. Membuat mood swing yang sangat menguras kesabaran.


Dean memilih menghindarinya. Karena tidak ingin emosinya terpancing.


Kalimat dan sikap Sinta sangat menguji kesabarannya. Jika sedang berada dalam keadaan seperti itu.


"Kau mau kemana?" Teriak Sinta.


"Cari angin segar!"


"Kau selalu mengabaikanku!" Seru Sinta marah.


"Aku tidak ingin amarahku meluap. Aku bukan malaikat." Dean segera berlalu dari hadapan Sinta. 


Sinta menatap kepergian Dean dengan wajah kesal. Dalam keadaan tersebut. Dirinya seperti angin ****** beliung. Yang bisa menyambar dan memporak-porandakan apa pun.


Dia merasa yang membuatnya dalam keadaan tersebut adalah Dean.


Seandainya, Dean tidak memisahkannya dari Dylan dan anak-anaknya. Membiarkan dirinya dengan kehidupan damainya. Tentu kondisi emosionalnya tidak akan seperti saat ini. 


Selalu berada di bawah tekanan dan juga kebencian. Dirinya seperti layang-layang yang diterbangkan dan digulung angin ****** beliung.


Kondisi mentalnya sangat buruk. Dia terpaksa menemui psikiaternya kembali. Agar tetap bisa bertahan. Menjalani semua fungsi dengan segala kurang lebihnya.


Sinta berjalan menuju kotak obatnya. Mengambil obat-obatan yang diresepkan psikiaternya. Meminumnya.


Selang beberapa lama. Rasa kantuk menyerangnya. Dia juga merasa pikirannya lebih tenang.


Dia tidak tahu apa yang diresepkan oleh psikiaternya. Tetapi semua obat-obatan itu membuatnya bisa meredam emosinya. Membuat pikirannya beristirahat. Emosinya lebih tenang dan terkontrol. 


Aku akan menyerupai badai tanpa obat-obatan ini. Kesedihan dan kemarahan akan menyerupai air bah yang tidak ada habisnya. Tidak akan mampu mengendalikan pikiran dan emosiku.


Sinta berjalan menuju tempat tidurnya. Merebahkan dirinya dan tidak butuh waktu lama untuk tertidur pulas.


Suasana rumah tampak hening. Tidak ada satu suara pun terdengar. Suara langkah kaki mendekat. Menuju pintu kamar dan membukanya.


Sesosok tubuh memandang dengan wajah sedih. Ke arah tempat tidur dimana Sinta tertidur pulas.

__ADS_1


Mengapa kau selalu memancing amarahku? Aku tidak ingin menjadi pelampiasan amarah juga kebencianmu. Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku. Kau selalu menganggap, aku mengacaukan hidupmu tetapi kenyataannya sebaliknya.


Kau yang mengacaukan kehidupanku dan juga Emier. Seandainya kau setia. Semua ini tidak akan terjadi. Badai dan kubangan emosimu. Kau sendiri yang membuat dan menciptakannya.


Kau tidak tahu sakitnya hatiku. Mengetahui kau memalsukan kematianmu. Betapa bodohnya, mengunjungi makammu. Meratapi dan menyesali kematianmu. 


Tidak sampai disitu, kau juga  menikahi Dylan. Orang yang paling ku percaya dan anggap sebagai saudaraku sendiri.


Aku tidak tahu mengapa aku memungutmu kembali. Bahkan berusaha merebutmu dari Dylan? Apakah aku menggunakan mata kaki dari pada mata hati? Aku tidak bisa melihat dengan benar. Buta!


Terkadang cinta terasa sangat menyakitkan. Apalagi jika keadaannya tidak seperti yang diharapkan.


Emier yang menjadi sasaran kemarahan serta kebencian juga rasa frustasimu!


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa mengatasi kebodohan dengan membuat kebodohan lainnya.


Dean berjalan mendekati tempat tidur Sinta. Wajahnya terasa lebih damai dalam keadaan tertidur.


Beristirahat dari segala hal yang kerap membuat emosi, perasaan dan moodnya kacau.


Dean membelai rambut dan wajah istrinya. Raut wajah yang lembut dan kekanak-kanakkan. Bisa berubah sangat menyebalkan dan juga kasar.


Kapan kau akan melupakan Dylan dan anak-anak kalian? Mereka semua adalah masa lalumu. Aku dan Emier saat ini dan masa depanmu.


Aku tidak dapat melepaskanmu. Entah karena Emier atau memang aku mencintaimu?


Cinta ini sangat menyakitkan. Melepaskan terasa lebih menyakitkan. Pilihannya hanya sakit atau lebih sakit.


Pintu kamar terbuka. Emier berjalan memasuki kamar kedua orang tuanya.


"Bunda tidur?" Tanyanya dengan sorot mata kekanak-kanakkannya.


"Iya."


Emier merangsek maju mendekati bundanya yang sedang tertidur pulas. Menyelipkan kepalanya di dada bundanya. Dia melingkarkan tangan bundanya. Di sekeliling tubuh kecilnya.


Meleleh air mata Dean melihat polah Emier. Anaknya sering memeluk istrinya ketika sedang tertidur pulas. Hal mana tak mungkin bisa dilakukan jika tidak ingin mendengar amarah dan omelan istrinya kepadanya.


Emier, anak kandung rasa anak tiri. Dean memeluk dan menciumi keduanya.

__ADS_1


Dua orang yang paling dia cintai di muka bumi. Dia akan melakukan apa pun untuk melindungi keduanya.


Pengkhianatan istrinya dianggap sama dengan pengkhianatannya dengan Helena. Get even.


Hanya saja, semuanya lebih mudah baginya. Mereka tidak memiliki buah hati. Sedangkan Sinta dan Dylan memiliki tiga buah hati. Hal itu yang membuat semuanya menjadi sangat berat dan berlarut-larut.


Mereka menjalin hubungan keluarga yang hangat juga manis.


Bagi seorang ibu, anak adalah segalanya. Sangat berat bagi seorang ibu berpisah dari anak (anak)nya.


Dia tidak bermaksud bersikap kejam pada Sinta dan Dylan. Dia tidak ingin Sinta dan Dylan mengkhianatinya lagi.


Apalagi mereka saling jatuh cinta ketika mereka menikah. Memiliki tiga buah hati. Rumah tangga mereka juga harmonis.


Dia pernah sangat mempercayai mereka berdua. Tapi keduanya mengkhianatinya. Sekali lancung ke ujian. Seumur hidup orang tidak akan percaya.


Emier adalah darah dagingnya. Satu-satunya pewaris dalam keluarganya. Emier akan menuruni kekayaannya. Juga kekayaan dan kekuasaan ibunya. Penerus dan pelindung perusahaan keluarga.


Walaupun untuk mewarisi kekayaan ibunya. Dia harus berbagi dengan saudara-saudara seibunya sebagaimana wasiat yang ditulis Sinta untuk Emier.


Pernikahan Sinta dan Dylan dibatalkan. Sehingga semua anaknya dianggap sebagai anak luar nikah. Anak zina di mata hukum dan agama. Karena pernikahan kedua orang tuanya tidak sah dan dibatalkan.


Sebagai konsekuensi hukum anak luar nikah. Mereka semua memiliki hubungan perdata dengan ibu mereka. Dan tidak memiliki hubungan perdata dengan ayah mereka. 


Walaupun untuk kasus Sinta dan Dylan. Dylan tetap bertanggung jawab penuh dengan anak-anaknya. Dia juga menghibahkan harta kekayaannya untuk ketiga buah hatinya. Ketiganya tidak berhak atas warisan kekayaannya. Selain menghibahkan kekayaan yang dimilikinya pada ketiga anaknya. Dia juga membuat hibah wasiat sepertiga dari harta kekayaannya. Sisanya jatuh kepada keluarganya.


Secara hukum, Emier mewarisi kekayaan ibunya bersama saudara-saudara seibunya. Emier juga diberikan kewajiban untuk memperhatikan dan mengurus saudara-saudara seibunya.


Dean sempat memprotes keras keinginan Sinta.


"Mereka sudah mendapatkan harta kekayaanmu dengan hak waris yang melekat pada mereka. Akan mewarisi harta kekayaanmu bersama Emier. Anak kita. Kurang apa lagi? Dylan juga tidak akan menelantarkan mereka. Aku yakin setiap sen yang dimilikinya akan diberikan pada semua anak-anaknya tanpa terkecuali."


"Semua ada kompensasinya. Emier bersamaku sepanjang hidupnya sedangkan saudara-saudaranya yang lain tidak. "


"Kau bersikap kejam padanya. Walaupun kau selalu ada di dalam hidupnya. Kau memperlakukannya seperti anak tiri."


"Anak itu sudah membuat kekacauan dalam hidupku. Kelahirannya membuat aku tidak dapat kembali kepada Dylan dan anak-anakku. Dia juga membuatmu tidak memiliki pilihan selain menahanku bersama kalian berdua."


"Kau?!" Seru Dean dengan suara tertahan. Menahan amarahnya.

__ADS_1


Dean menatap wajah Sinta yang terlihat lelah dan keruh. Hatinya sekuat baja menghadapi semua ujian dan cobaan yang menimpanya. Melihat Sinta tertidur. Dean membatin,  tertidur membuatmu beristirahat dari semuanya. Aku juga tidak harus mendengar semua perkataanmu yang sangat menyakitkan hati. Aku tahu kau merasakan sakit melebihi apa yang bisa kau ungkapkan dan katakan. Jika aku yang mendengarnya saja sudah sangat hati seperti ini. Bagaimana denganmu yang menjalaninya setiap hari?


__ADS_2