Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
The Memories


__ADS_3

Sepulang sekolah, Callista menemukan sebuah cake coklat di dalam kulkas.


Ayahnya mengeluarkannya dan meletakkannya di meja makan untuk mereka nikmati bersama.


Callista tiba-tiba menangis. Air matanya mengalir dengan deras.


Ayahnya memeluk tubuhnya erat, "Mengapa kakak menangis? Hari ini kan hari ulang tahun kakak yang ke enam belas? Kakak kan sudah besar. Tidak boleh cengeng!" Usap ayahnya mengelus rambut putrinya dengan lembut.


"Kuenya mirip buatan mama." Tangis Callista kembali pecah.


"Kak, banyak yang bisa membuat cake coklat seperti ini."


"Tapi ini mirip banget, pa! Aku sangat merindukan mama. Kapan mama bersama kita lagi? Apakah nenek belum sembuh. juga? Kenapa nenek tidak tinggal bersama kita dan dirawat bersama? Atau pindahkan rumah sakitnya di dekat kita sehingga mama bisa bolak balik ke rumah sakit. Tidak harus meninggalkan kita seperti ini."


Mata Dylan memanas. Dia juga sangat merindukan Sinta seperti anak-anaknya. Mungkin melebihi mereka semua. Tetapi dia tidak bisa apa-apa. Dean meminta Sinta kembali bersamanya. Mereka juga sudah memiliki seorang anak lelaki.


Tidak mungkin Sinta bisa kembali padanya dan anak-anaknya. Tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Sesekali Dylan ke Indonesia melihat Sinta dari jauh. Melepaskan kerinduannya dan juga memantau kehidupannya saat ini.


Yang membuat Dylan terhibur. Dean mengurus Sinta dengan baik tetapi wajah Sinta tidak memancarkan kebahagiaan.


Apakah Sinta masih memikirkannya dan anak-anak mereka?


Sinta wanita yang baik, lembut dan penyayang. Dylan jatuh cinta begitu saja tanpa disadarinya. Perasaan yang kuat ingin melindunginya dari apa pun melahirkan perasaan cinta yang begitu kuat.


Dia tidak bermaksud merebutnya dari Dean. Keadaannya sangat sulit dan hanya itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan.


Siapa yang mengira Dean bisa menemukan mereka tanpa sengaja?


"Kakak, jangan sedih. Papa jadi ikut sedih. Kita tidak bisa memindahkan rumah sakit nenek begitu saja. Kalau tidak cocok bagaimana? Bisa fatal akibatnya untuk nenek. Kakak sabar ya?"


Callista menganggukkan kepalanya. Air matanya kembali tumpah. Dia menangis di dalam pelukan ayahnya.


"Kakak kangen mama."


"Kita semua kangen sama mama. Tapi kita harus sabar. Mama sedang merawat nenek."


Callista menganggukkan kepalanya.


"Kakak mau makan kuenya." Sahut Callista.


"Kita berdoa bersama dulu ya kak?"


Callista menganggukkan kepalanya.


Callista merayakan ulang tahunnya secara sederhana dengan keluarganya. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun, meniup lilin dan berdoa.


Ayahnya dan adik-adiknya akan memberikan kado. Semenjak ibunya pergi. Dia tidak pernah lagi menerima kado dari ibunya. Semua kado ulang tahun dari ibunya disimpannya rapi sebagai kenang-kenangan.


Shappire memberikannya sebuah kertas surat,"Aku tahu kau akan menyukainya. Warna favoritemu dan gambarnya sangat indah."


"Yeah!" Callista memeluk dan mencium pipi Sapphire, "Thanks!"

__ADS_1


Keanu menyodorkan sebuah kado. Callista membukanya. Foto Callista yang dibingkai.


"Thanks, Kean. Bagus banget."


Keanu tertawa, " Aku senang kau menyukainya."


"Yeah! A lot!"


Giliran ayahnya memberikannya sebuah kado berupa kotak kecil.


"Apa ini pa?"


"Buka saja."


Callista membukanya dan wajahnya terbelak.


"Thanks, pa! Kunci motor?"


"Sebentar lagi kau bisa memiliki sim. Kupikir membelikanmu dari sekarang. Kau bis berlatih menggunakannya."


Callista memeluk ayahnya. 


Sebuah hadiah lain diberikan pada Callista. Setiap mereka berulang tahun mereka selalu mendapatkan tambahan hadiah.


"Tambahan hadiah?"


"Yeah! Karena kau anak baik, rajin belajar serta selalu menurut pada orang tua dan guru."


Callista tersenyum bahagia. Membuka kado yang dibungkus di kotak yang sangat besar. Isinya sebuah gaun yang indah.


"Kau sudah dewasa. Memang sudah waktunya memakai pakaian yang modis dan girly. Kau bisa pakai kalau mendapat undangan pesta ulang tahun dari temanmu. Atau pada saat ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Aku bermaksud merayakannya untukmu."


Callista menghambur dalam pelukan ayahnya. Perhatian ayahnya yang full kepada mereka semua membuatnya terharu.


Ayahnya juga mendedikasikan hidupnya padanya, adik-adiknya dan usaha makanannya.


Banyak yang mengincar ayahnya tetapi ayahnya tidak mempedulikannya. Bahkan salah satu ibu dari teman sekolahnya yang sudah janda bercerai dengan ayah temannya. Terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada ayahnya tetapi ditepis.


Mulai menitip salam. Memberikan makanan. Mengajak ayahnya menghabiskan waktu bersama.


Callista sendiri tentu tidak ingin memiliki ibu lagi tetapi melihat ayahnya seorang diri mengurus mereka semua. Hatinya seringkali tidak tega dan tidak akan menyalahkan jika ayahnya menikah lagi. 


Dia merasa ibunya akan bisa mengerti dan tidak akan menyalahkan ayahnya jika menikah lagi. Di dalam bayangannya, ibunya seorang wanita yang sangat pengertian. Memorinya tentang ibunya sangat baik.  Tidak hanya sangat perhatian tetapi juga pengertian.


Hari-hari mereka dipenuhi dengan kebahagiaan. Mereka merindukan saat-saat tersebut.


"Pa, ibunya Syarifah menanyakanmu. Aku dan Syarifah bersahabat baik. Dia temen baikku. Ibunya juga sangat baik. Orang tuanya bercerai karena ayahnya ingin berpoligami dan ibunya menolaknya."


"Lalu apa hubungannya denganku?" Sahut ayahnya acuh.


"Kalau kau menikah lagi. Aku yakin mama tidak akan keberatan. Kau bisa memiliki dua istri."

__ADS_1


"Ibu temanmu menolak dipoligami tetapi bisa menerima jika aku yang mempoligami?" Sahut ayahnya tertawa.


"Poligaminya kan beda, pa.".


"Beda gimana?"


"Mama kan harus mengurus nenek."


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Menurutku berbeda keadaannya dan kau bisa mengatakan terlebih dahulu pada ibunya Syarifah, jika mama kembali. Mama tetap jadi istri papa. Bagaimana?"


"Pikiranku sudah tersita habis mengurusmu dan adik-adikmu. Belum usahaku."


"Mamanya Syarifah mengundang kita ke acara keluarga mereka. Bertemu dengan kakek nenek serta saudara-saudara sepupu serta paman dan bibinya."


"Aku belum berpikir untuk menikah lagi. Apalagi ibu temanmu bercerai karena menolak dipoligami."


"Seandainya, tidak keberatan bagaimana?"


"Aku tidak ingin menambah beban pikiranku. Aku sudah merasa nyaman dan bahagia seperti ini."


"Aku merasa kasihan melihatmu seorang diri."


"Aku tidak sendirian. Ada kau, adik-adikmu dan pegawai-pegawaiku."


"Terserah papa. Tapi kalau papa ingin menikah lagi. Aku tidak keberatan."


"Baiklah! Anak manis. Pikiranku masih dipenuhi kenangan tentang ibumu. Kupikir tidak akan adil jika aku menikah lagi."


"Kupikir tidak satu pun bisa melupakan masa-masa indah saat bersama mama."


"Yeah!"


"Bisakah aku dan adik-adik bertemu mama dan nenek?"


"Sayang sekali, tidak bisa. Maafkan aku!"


"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya."


"Aku tahu kau sangat merindukan ibumu. Tetapi ibumu benar-benar tidak bisa diganggu sama sekali."


"Apakah mama merindukan kita semua?"


"Tentu saja. Dia tidak akan pernah melupakan kita sedetik pun."


Callista memeluk ayahnya dan menangis di dalam pelukan ayahnya.


Kehidupan keluarga mereka yang sangat indah. Penuh kasih sayang dan kenyamanan. 


Saat-saat mereka menghabiskan waktu bersama. Belajar dan mengerjakan pe er bersama ibu dan ayah mereka, secara bergantian.

__ADS_1


Kesibukan ibunya di dapur memasak makanan untuk mereka semua. Berkebun bahkan toko florist dan hasil kebun serta ternak yang mereka miliki.


Wajah serta suara ibunya masih sangat melekat di dalam pikirannya. 


__ADS_2