
Kehamilan kedua berbeda dengan kehamilan pertama. Sinta merasa lebih nyaman karena mungkin sudah pernah merasakan sebelumnya.
Dirinya merasa lebih santai dan nyaman. Apalagi kehadiran Callista membuat semua terasa lebih nyaman dan membahagiakan.
"Kau tidak perlu menitipkan kuda-kuda ke peternakan. Aku berjanji tidak akan berkuda sementara waktu sampai aku melahirkan."
"Baiklah. Callista, jaga ibumu. Ingatkan dan laporkan padaku kalau tidak memenuhi janjinya." Pinta Dylan kepada putrinya.
Sinta tertawa melihatnya.
"Kau menggunakannya untuk memata-mataiku?"
"Kau tahu bagaimana handalnya dia menjalankan tugasnya."
Sinta semakin tertawa,"Cctv saja kalah. Yeah! Dia akan mengawasiku dengan sangat baik."
Callista memenuhi janjinya. Tidak ada drama saat ayahnya kembali ke Indonesia untuk bekerja.
"Anak baik dan manis. Kalau kau bersikap baik seperti ini. Kau bisa mengantarku sampai bandara dengan ibumu. Bagaimana?"
"Benarkah?"
Dylan mengangguk sambil tertawa.
"Tapi kau harus berjanji untuk tetap bersikap semanis ini."
"Aku akan menjadi seorang kakak!"
"Kau mau ikut ke bandara? Coba tanya ibumu."
"Mom, bolehkah aku mengantar papa ke bandara?"
"Tentu boleh! Asalkan kau bersikap manis dan baik."
Callista tampak sangat bersemangat mengantar ayahnya ke bandara.
"Kau yakin bisa menyetir sepulang mengantarku dari bandara?"
"Aku tidak apa-apa. Kau tidak usah khawatir."
"Kau sedang hamil. Aku takut terjadi sesuatu pada kehamilanmu."
"Kehamilanku sehat. Kau tidak perlu khawatir. Menyetir berbeda dengan berkuda."
"Bagaimana kalau kita menggunakan taksi?"
"Terserah padamu."
"Sebaiknya kita menggunakan taksi. Aku tidak ingin ada resiko."
"Terserah. Aku tidak ingin membuatmu khawatir dan membebani pikiranmu."
"Yeah! Kupikir aku akan memesan taksi."
Mereka mengantar Dylan dengan menggunakan taksi. Callista sangat bersemangat.
"Aku ingin ke Indonesia. Berlibur?"
Sinta dan Dylan terdiam. Mereka tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa mereka menghindari Indonesia.
Kalau sampai ada yang mengenali Sinta. Keadaan akan berbalik menjadi sangat kacau.
"Aku akan membawamu berlibur tetapi tidak ke Indonesia. Kau bisa memilih Appenzell, Swiss, Fairy Pool, Isle of Skye, Skotlandia, Torres del Paine National Park, Chili, Oia, Santorini, Yunani, Bora Bora, Polinesia, Prancis, Machu Picchu, Peru dan Zhangye Danxia Geopark, China."
"Aku ingin Indonesia."
"Kau mulai lagi." Sinta menatap bete ke arah putrinya. Sifat Callista yang mirip dirinya jika menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Mengapa kita tidak ke sana? Papa sering ke sana? Kita tidak pernah."
"Aku sudah bilang, udara di sana kurang bagus. Papa ke sana karena terpaksa harus bekerja. Seandainya, papa bisa pindah bekerja ke sini tentu papa akan pindah."
"Kau akan menjadi seorang kakak. Harus lebih menurut." Sahut Dylan pada putri kecilnya. Memangkunya dan mencium kedua pipinya yang sangat menggemaskan.
"Seperti apa Indonesia?" Tanya Callista lagi. Dia masih sangat penasaran dengan Indonesia.
"Aku akan membawakan foto-fotonya padamu. Bagaimana?"
Callista menganggukkan kepalanya.
Callista bergelayut manja pada ayahnya. Tangannya menggenggam erat tangan ayahnya.
"Kita akan bertemu lagi dua minggu lagi." Sahut ayahnya menggendong putrinya dan mendekapnya erat.
"Masih lama."
"Tidak lama. Kau tahu tidak lama."
Callista menangis. Mengusap matanya yang basah dan meneteskan air mata.
"Jangan menangis. Kau sudah berjanji akan bersikap baik."
"Aku sedih!"
"Ya, aku tahu tapi kau sudah berjanji akan bersikap baik."
Callista mengusap matanya berulang kali.
"Aku senang kau tidak menangis keras atau berteriak atau marah-marah."
"Aku akan menjadi kakak. Aku tidak boleh selalu marah-marah."
"Ya, kau benar."
Dylan nyaris tidak bisa menahan tawanya mendengar perkataan Callista.
"Kau sedih sebenarnya. Bukannya marah."
"Darimana papa tau?"
"Kau ingin ikut denganku tapi tidak bisa. Itu seperti kau ingin beli mainan yang kau sukai tapi tidak bisa."
"Hmm, ya…Ingin marah kan?"
"Iya. Tapi kau hebat bisa menahan rasa marahmu."
"Karena aku akan jadi seorang kakak."
Tiba saatnya, ayahnya ingin menaiki pesawat dan mereka tidak bisa lagi menemani ayahnya.
"Kupikir, aku dan Callista kembali sekarang."
"Yeah." Dylan mencium dan memeluk Sinta dan Callista bergantian.
Memeluk dan mencium putri kecilnya lebih lama. Mengusap air mata Callista yang berjatuhan.
"Aku titip mama dan adik. Kau bisa kan menjaga mereka untukku?"
Callista menganggukkan kepalanya. Sambil terus mengusap kedua matanya.
"Aku tidak ingin menangis. Tapi air mataku keluar terus!"
"Selama kau tidak teriak-teriak. Tidak apa-apa. Cobalah jangan terlalu sedih. Kalau kau merasa sedih akan sulit menghentikan air matamu."
Callista memeluk ayahnya dan kembali menangis. Ayahnya mengusap dan membelai rambutnya.
__ADS_1
"Kau harus pulang bersama ibumu, sekarang. Kau tidak apa-apa kan?"
Callista menganggukkan kepalanya.
"Anak manis."
Mereka saling melambaikan tangan dan membuat simbol kiss bye.
"Kau ingin membeli sesuatu?" Sinta berusaha menghibur putrinya yang terlihat sangat sedih melepaskan kepergian ayahnya.
"Ice cream?"
"Kita beli ice cream."
Mereka menuju toko yang menjual ice cream.
"Kau mau tart coklat?"
Callista menganggukkan kepalanya.
Callista menikmati ice creamnya dengan tart coklatnya. Wajahnya belepotan ice cream dan coklat.
Sesekali Sinta terbatuk karena tidak mampu menahan tawanya dan tidak ingin membuat putrinya marah.
"Kau batuk ma?" Tanya Callista.
"Tenggorokanku gatal." Sinta terbatuk menyembunyikan tawanya. Hidung dan mulut Callista penuh dengan noda ice cream dan coklat. Bahkan di dahi dan pipinya juga terlihat celemotan di sana sini.
Tubuh Sinta terguncang guncang. Dia selalu kesulitan menahan tawanya kalau melihat Callista seperti itu.
"Mom, aku mau tambah ice creamnya."
"Baiklah!"
Kesempatan itu digunakan Sinta untuk menjauh dan melepaskan tawanya.
Setelah membersihkan wajah Callista yang belepotan ice cream dan coklat. Mereka beranjak pergi dan memesan taksi untuk pulang.
Sesampai di rumah. Callista tertidur kelelahan. Wajahnya yang lugu dan polos seperti malaikat tertidur nyenyak dengan damai. Terlihat sisa air mata di kedua matanya yang agak sembab karena menangis.
Tanpa terasa kandungan Sinta semakin besar. Mereka bertiga sangat bersemangat menyambut kelahiran anggota baru di tengah keluarga mereka.
"Kau melahirkan dengan layanan home care."
"Itu kan mahal. Sebaiknya di rumah sakit saja."
"Kasihan Callista. Kalau kau melahirkan di rumah. Dia bisa selalu bersamamu. Aku akan menyewa perawat sampai kau bisa merawat bayi kita sendiri."
"Seminggu kupikir cukup. Setelahnya aku bisa melakukannya sendiri."
"Rumah setiap dua hari sekali dibersihkan oleh housemaid yang kusewa. Kau hanya tinggal mengurus bayi. Makanan kalau kau tidak sempat memasak tinggal pesan."
Dylan tidak dapat menemani kelahiran putri keduanya karena sedang berada di Indonesia.
Begitu mendengar berita kelahirannya. Segera memesan tiket ke Swiss.
Ketika sedang berada di taksi bersiap menuju bandara Soekarno Hatta. Whatsapp masuk dari isterinya.
[Tidak ada yang mengazankan putri kita. Tidak ada yang beragama islam. Apakah aku yang harus mengazankannya?"
[Azan itu bukan sunnah, sayang. Tidak harus dilakukan. Kalau tidak bisa diazankan tidak apa-apa. Aku ingin mengazankan agar bayi kita mendengar kalimat Allah pertama kali dia lahir. Azan juga bisa mengusir setan."
[Baiklah. Kau sudah menyiapkan nama?"
[Sudah.]
[Siapa namanya?]
__ADS_1
[Sapphire.]