
Unhappy mother is like a sad song. Wrong tone or stormy sky.
Pikirannya yang kerap melayang pada Dylan dan ketiga buah hati mereka. Rasa bersalah dan rindu semua berkecamuk menjadi satu.
Dean dan Emier yang ada di hadapannya menjadi pelampiasan emosi, kemarahan ,kesedihan serta rasa frustasinya.
Dean tidak menanggapi perubahan mood dan emosi Sinta. Memilih diam dan menjauhkan diri jika merasa tidak tahan dengan sikap serta polah Sinta.
"Mengapa kau selalu meninggalkanku. Pada saat aku berbicara padamu?" Teriak Sinta.
"Kau tidak berbicara padaku. Kau melampiaskan kemarahanmu padaku!" Tukas Dean bergegas pergi meninggalkan Sinta. Dia tidak ingin emosinya terpancing keluar.
Dia tidak ingin bersikap kasar kepada Sinta. Walaupun seringkali sikap kasarnya karena perbuatan Sinta sendiri. Dirinya bukanlah malaikat. Yang bisa semua perlakuan Sinta begitu saja. Tanpa menimbulkan emosi dan amarah.
Kehadiran Emier di tengah mereka. Membuatnya menahan diri dari hal-hal yang bisa membuat keadaan semakin memburuk. Mungkin tidak terselamatkan.
Melihat sikap dan sifat putera semata wayangnya. Begitu mencintai mereka berdua. Dirinya tidak tega membayangkan putranya terluka. Karena pecahnya mahligai pernikahan mereka.
Dean menjauhi Sinta. Mendatangi putranya. Mengajaknya berjalan-jalan di sekitar kediaman mereka. Mengobati rasa sedih, kecewa dan marah yang bercampur menjadi satu.
"Kau sedang apa?" Tanya Dean melihat putranya yang sedang asyik bermain. Sebuah mobil kesayangannya ditaruh berjejer dengan mobil-mobil mainannya yang lain.
"Main yuk, Ba!"
"Mau gak jalan-jalan sama Baba?"
Emier menatap wajah ayahnya. Menganggukkan kepalanya.
"Anak manis." Sahut Dean sambil mengusap kepala putra semata wayangnya.
"Kita mau kemana?"
"Jalan-jalan sekitar sini aja. Kamu mau jajan gak?"
Mata Emier berbinar senang.
Dean tertawa melihat binar wajah putranya. Emier sangat sederhana walaupun terlahir dari sendok emas. Membuatnya merasa senang juga sangat mudah. Seringkali Dean berpikir apakah hal itu sebagai obat dari kepahitan yang dialaminya.
Ibunya kerap memarahi dan membencinya. Seperti halnya anak tiri. Banyak yang mengira bahwa Emier diadopsi atau bukan anak kandung Sinta jika melihat perlakuan Sinta kepadanya.
Tidak seperti anak-anak orang kaya lainnya. Dimanjakan dengan barang-barang bermerk. Emier hanya menggunakan barang-barang biasa. Apakah itu baju, mainan bahkan makanannya pun juga sangat sederhana.
Ibunya akan memarahinya. Jika dia menginginkan sesuatu yang dianggap berlebihan. Walaupun orang tuanya mampu mengusahakannya.
Sebagai anak kecil. Dia hanya mengetahui sesuatu itu bagus atau tidak. Belum mengerti harga apalagi nilai barang.
__ADS_1
Tangannya hendak meraih sebuah mainan yang menarik hatinya di sebuah toko mainan. Ketika teriakan ibunya menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan?!" Ibunya menatap tajam kepadanya. Membuat tubuhnya mengigil.
"Kau kenapa suka sekali memarahinya?" Tegur Dean pada Sinta yang juga bersama mereka.
Mereka ke toko mainan yang terkenal. Menjual berbagai mainan mahal. Sinta bermaksud membeli mainan untuk Keanu sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Kau jangan memanjakan anakmu!" Tukas Sinta ketus.
"Kau membeli mainan paling mahal di toko ini. Untuk anakmu dengan Dylan? Anakku tidak boleh membeli mainan yang sama mahalnya? Atau lebih mahal lagi? Jangankan mainan. Toko mainan ini akan kubeli untuknya! Kau jangan keterlaluan!" Ujar Dean marah. Wajahnya merah padam. Aliran darahnya mendadak melawan gravitasi. Mengalir ke atas bukan ke bawah.
"Kalau kau ingin memanjakannya silahkan! Tapi biarkan aku bersama anak-anakku. Karena aku merasa Emier mendapatkan segalanya. Sedangkan mereka sebaliknya."
"Kau jangan berlebihan. Dylan bukan orang miskin. Dia mampu membiayai anak-anaknya. Walaupun mungkin tidak seperti dulu keadaannya. Tapi dia tidak akan menelantarkan anak-anaknya. Tetap memberikan yang terbaik untuk mereka."
"Kau jangan seenaknya! Aku tidak ingin salah seorang anakku hidup dalam kesempurnaan. Bersenang-senang di atas penderitaan saudara-saudaranya yang lain."
"Kau yang seenaknya! Emier tidak ada kaitannya dengan apa yang menimpa mereka!"
Giliran wajah Sinta yang berubah merah padam. Berkata dengan wajah yang sangat culas," Maksudmu kau menahanku di sisiku bukan karena anak ini?" Mata Sinta nyaris keluar membuat Emier kembali mengigil ketakutan. Dia paling tidak suka melihat kedua orang tuanya bersitegang.
Di usianya yang sangat muda dia sudah tahu mengatasi keadaan yang kerap mengintimidasinya.
"Bun! Aku tidak mau mainan ini! Aku hanya memegang dan melihatnya. Apa memegang dan melihatnya juga tidak boleh?"
"Baba! Aku tidak mau ini. Aku hanya melihat dan memegangnya saja."
"Kalau kau mau beli semua mainan di toko ini juga boleh apalagi cuma satu. Ambillah mainan yang kau sukai. Tidak usah kau hiraukan bundamu."
Emier menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau Baba!" Emier berjalan megembalikan mainan yang dipegangnya ke tempatnya semula. Dielusnya dan diciumnya mainan tersebut.
Dean mengambil mainan tersebut dan bermaksud untuk membayarnya.
"Baba!" Panggil Emier,"Aku tidak mau mainan itu. Kembalikan ke tempatnya."
"Kau sangat menyukai mainan ini. Ini cuma mainan. Kita juga sangat mampu membelinya. Kau tidak usah khawatir. Jangan pedulikan bundamu."
"Aku tidak mau Baba! Tolong kembalikan."
"Aku akan membayar mainan ini untukmu."
"Baba! Aku akan mogok makan. Kalau Baba membayar mainan itu untukku!"
Dean menatap Emier dengan wajah putus asa. Sifat Emier mirip ibunya. Tidak bisa dibantah.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau kau menginginkan mainan. Apa pun itu katakan saja?"
Emier menganggukkan kepalanya.
Dean memeluk dan mencium putranya. Berkata dengan lirih, "Maafkan Baba!"
"Gak usah lebay!" Tukas Sinta sewot.
"Kau yang lebay!"Ujar Dean ketus.
"Tukar saja posisi Keanu dan Dean kan beres."
"Diam!" Bentak Dean dengan wajah kesal.
"Baba! Jangan marah pada bunda. Aku tidak suka."
Dean menelan kemarahannya.
Emier sendiri memilih tidak melawan ibunya. Menerima semua kemarahan ibunya. Terlahir sebagai anak lelaki memudahkan hidupnya. Terutama dalam menghadapi ibunya.
Dia tidak memasukkan ke hati yang dilakukan ibunya padanya. Meminta maaf serta berusaha meluluhkan kemarahan ibunya.
Sinta sendiri merasa seperti buah simalakama terhadap Emier. Jika menyayangi, rasa bersalah menyusup pada hatinya kepada tuga buah hati yang lain. Membenci, sebagai seorang ibu, hatinya nyaris tidak sanggup melakukannya. Karena bagaimana pun, Emier adalah anak kandungnya. Lahir dari rahimnya.
Ambiguitas yang melanda Sinta. Membuatnya kerap merasa frustasi dan marah kepada Emier.
Emier sendiri, seorang anak yang tabah. Tidak menaruh dendam sedikit pun dengan sikap ibunya.
"Kita jalan-jalan sekarang?" Dean membuyarkan lamunan Emier.
"Ayo Baba!"
Mereka berdua berjalan keluar dari kediaman mereka. Berjalan sekitar dua kilo meter menuju taman kota terdekat.
Beragam makanan, minuman dan juga mainan anak-anak di jual di taman tersebut.
Mata Emier langsung berbinar melihat es krim dong dong kesukaannya. Es krim yang terbuat dari santan. Dengan campuran nangka dan alpukat sangat menggugah selera.
"Aku mau es dong dong nangka dan alpukat."
"Ayo, kita beli." Dean membeli dua buah es dong dong dengan roti. Emier sangat menyukai es dong dong yang dimakan dengan tangkupan roti.
Selang beberapa meter. Emier melihat penjual es durian. Rasa durian yang pekat. Dicampur campuran susu dan santan juga gula membuat es tersebut terasa sangat nikmat.
"Baba! Aku mau es durian." Babanya menganggukkan kepalanya. Membeli dua buah es durian di dalam cup.
__ADS_1
Mereka juga membeli crepes, kue balok, aneka kue basah. Pilihan Emier lupis, lemper, kue ****, onde2, serabi, putri mayang dan getuk.
Emier sangat menikmati waktu dengan ayahnya. Karena ayahnya sangat berbeda dengan ibunya. Membebaskan apa pun yang dia suka dan mau. Dengan semua perbedaan antara keduanya. Dirinya sangat mencintai kedua orang tuanya. Tidak ingin digantikan oleh siapa pun.