Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Stay


__ADS_3

Emier merasa sangat berbahagia. Dirinya merasa dilimpahi kebahagiaan dalam hidupnya.


Semenjak bertemu dengan saudara-saudaranya. Ibunya banyak berubah. Menjadi hangat dan penyayang. Mengenali sosok lain dari ibunya. Sosok yang membuatnya semakin mencintai dan menyayangi ibunya.


Dia juga akan mendapatkan adik kembar. Satu lelaki dan perempuan. Kehamilan ibunya merupakan kebahagiaan bagi mereka sekeluarga.


Babanya semakin memperhatikan dan menyayangi ibunya karena kehamilannya.  Bertahun lamanya melihat sikap ibunya yang selalu dingin. Emier seringkali merasa tidak percaya melihat sikap ibunya yang berubah drastis. Dia sangat menyukai perubahan sikap ibunya. Menyukai sosok ibunya yang baru. Sisi lain ibunya yang baru diketahuinya.


“Kau sudah meminum susumu?” Tanya Dean kepada Sinta. Mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra.


Sinta menganggukkan kepalanya.


“Kau harus banyak makan makanan bergizi dan nutrisi. Minum jus buah serta minuman yang bisa membuat tubuhmu sehat dan terhindar dari dehidrasi. Jangan lupa vitamin mu. Kalian bertiga sekarang.” Sahut Dean membelai perut istrinya yang terlihat sedikit berisi. Kandungan istrinya baru dua bulan sehingga perutnya masih terlihat rata.


“Kau akan menjadi kakak.” Ujar Dean pada Emier. Mengecup pipinya. Memeluknya erat.


“Yeah.” Emier mengembangkan senyumnya.


“Kau akan memiliki dua orang adik. Lelaki dan perempuan. Apakah kau senang?”


Emier menganggukkan kepalanya.


“Aku tidak akan sendirian lagi.” Ujar Emier.


“Kau akan menjadi contoh bagi adik-adikmu. Kau juga akan menjaga mereka. Selain menjaga ibumu. Sebagai anak tertua, kau juga akan menjaga saudara-saudaramu.”


“Yeah, aku akan menjaga mereka semua. Jangan khawatir, Baba!”


Dean mengelus kepala putranya dengan lembut. Mengecup pucuk kepalanya.


“Anak baik dan manis.”


“Ba, apakah kau akan ikut menginap di rumah Bunda akhir pekan ini?”


“Tanya bundamu. Apakah dia ingin aku bergabung atau tidak?” Sahut Dean mengerling pada istrinya.


“Terserah Babamu.” Sahut ibunya singkat.


“Aku tidak mau jadi kambing congek.” Ujar Dean sambil tertawa.


“Childish!” Ujar istrinya sebal.


“Menjaga hati aja. Tidak sanggup melihat kalian berdua saling curi pandang dan melepas rindu.” Sambung Dean kembali dengan nada konyol.


“Kau mau ikut atau tidak? Tidak usah membuat narasi yang mengintimidasi.” Sahut istrinya jutek.


Dean kembali tergelak.


“Bukannya kau senang dimengerti?” Godanya lagi.


“Kau sangat menyebalkan! Aku dan Dylan tidak ada apa-apa. Semua sudah berlalu. Dia sudah seperti saudara bagiku.”


“Dulu kalian juga berkata seperti itu. Aku mempercayai Dylan yang menganggap mu sebagai saudara perempuannya sebelum dia melakukan “incest” denganmu.” Sahut Dean tergelak.


“Tidak lucu.”


“Bagiku sangat lucu. Mengenang keluguan dan kebodohanku.”


“Prioritasku adalah anak-anakku. Rutinitas ku. Tidak ada yang lain.”


“Benarkah?”


Sinta menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, aku akan bergabung dengan kalian akhir minggu ini. Kebetulan waktuku kosong.”

__ADS_1


Emier memeluk tubuh ayahnya. Dirinya sangat senang ayahnya mau bergabung bersama mereka semua.


“Benar aku tidak mengganggu kalian berdua?” Tanyanya dengan nada konyol.


“Aku dan Dylan memang ingin berduaan. Kau tidak usah ikut. Karena konon yang ketiga setan.” Ujar Sinta dengan mimik serius.


Kontan wajah Dean menjadi bete. Gantian Sinta yang tertawa melihatnya.


“Gak lucu!”


“Lucu dong!”


“Gak dong!”


“Lucu!”


Tiba-tiba perut Sinta naik. Morning sickness menyerangnya.


“Kualat!” Ujar Dean.


Sinta bangkit dari kursi makannya. Menuju toilet dan memuntahkan isi perutnya.


“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Dean cemas.


“Kupikir aku memuntahkan semua makananku.” Sahut Sinta lemas.


Dean menuangkan air ke gelas. Menyodorkannya pada Sinta.


Sinta meminum air hingga setengah gelas.


“Terima kasih.”


Dean mengurut leher istrinya.


“Apa sebaiknya kau di rumah saja? Istirahat?”


“Kau harus membawa cemilan sehatmu. Aku tidak ingin kau lemas dan dibawa ke rumah sakit.”


“Kau tidak usah khawatir. Aku sudah mengisi kulkas di ruang kerjaku di kantor dengan susu pasteurisasi, cold press juice dan cake. Ada cemilan sehat di tasku, kantor dan rumah.”


“Yeah. Kau minum lagi cold press juice mu untuk menggantikan cairan yang keluar. Supaya tidak dehidrasi.”


“Aku ingin membuat jus segar mumpung di rumah.” Sahut Sinta membuka kulkas. Mengambil potongan buah semangka yang sudah dipotong-potong di kulkas oleh pengurus rumahnya.


Memasukkan potongan pear dan mengupas sebuah apel dan memotong-motongnya. Memasukkan sedikit lemon yang diperas. Menambahkan sedikit madu.


“Terserah. Yang penting jaga kesehatanmu. Jangan sampai kau dehidrasi.”


“Yeah.” Sahut Sinta menuangkan jus ke dalam gelas. Meminumnya lamat-lamat.


Akhir minggu, Sinta, Dean dan Emier terbang ke Malaysia. Menempati rumah yang Sinta beli.


Sesampainya di rumah. Pengurus rumah sudah menyiapkan makanan buat mereka.


Di meja makan sudah disediakan sepinggan rendang, gulai sayur, ayam goreng, telur balado dan perkedel. Nasi di magic jar.


Sinta merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Perjalanannya menggunakan pesawat terbang membuatnya pusing.


Beberapa saat kemudian. Mobil Dylan dan Haliza memenuhi halaman rumah mereka.


Mereka semua turun dan memasuki rumah Sinta. Anak-anak langsung berhamburan ke kolam renang setelah menaruh barang-barang mereka di kamar mereka masing-masing. Syarifah nebeng pada kamar Calista. Sedangkan Syarif dengan Keanu.


“Kau tidak apa-apa kan, Sin?” Tanya Dylan cemas. Melihat Sinta terbaring di sofa ruang tamu.


Dean berdehem keras.

__ADS_1


“Maafkan aku tapi sepertinya Sinta sedang kurang sehat.” Sahut Dylan.


“Dia morning sickness. Tengah hamil muda. Memang di Swiss dia tidak pernah begitu?”


“Mungkin udaranya. Dan Sinta sangat suka berada di sana. Dia tidak terlihat seperti ini. Mual. Sesekali muntah tapi tidak sampai lemas.”


“Apa maksudnya Sinta sangat suka di sana. Dia tidak suka di sini?”


“Bukan begitu maksudku. Sinta suka daerah pegunungan dengan udara yang segar. Kupikir itu mengurangi gejala morning sickness nya.”


Dean terdiam.


“Sebaiknya aku bergabung dengan anak-anak, berenang.” Ujar Dylan.


“Aku juga ikut.” Sahut Haliza. Mengekori Dylan menuju kolam renang.


“Sebaiknya kau beristirahat di kamar.” Sahut Dean, “Aku akan menemanimu. Bagaimana?”


Sinta menganggukkan kepalanya. Berjalan menuju kamar utama. Merebahkan dirinya di tempat tidur.


Dean menyalakan televisi. Memilih channel tentang parenting anak.


Dean membuka jendela kamar mereka. Berjalan menuju tempat tidur. Memeluk istrinya sambil menonton televisi. Mengelus perut istrinya sesekali.


Semenjak kehamilan istrinya. Dia memang sangat tertarik menyimak informasi tentang parenting.


Apalagi parenting berkembang terus. Ketika Emier lahir sudah berbeda dengan sekarang.


Dean menyimak tentang penjelasan metode Baby Led Weaning. Memicu kontroversi antara dokter anak dengan para orang tua baru saat ini bahwa metoda ini sangat baik untuk menstimulasi kemandirian anak.


Menonton seorang batita sedang berusaha untuk memasukkan makanannya ke mulutnya dan mengunyahnya.


“Astaga, batita itu memakan potongan wortel direbus hingga lunak yang dipotong panjang-panjang. Apakah tidak tersedak.”


Seperti membaca pikirannya, tutor yang ada di dalam televisi berkata.


“Bayi tidak mengalami tersedak ketika mereka berusaha mencerna makanan mereka. Yang sering terjadi adalah gagging. Yaitu memuntahkan makanan atau batuk ketika makanan mendekati saluran nafas mereka. Jika terjadi gagging jangan memasukkan jari karena akan berbahaya. Menyebabkan tenggorokan menjadi luka.”


Dean berusaha mencerna informasi yang didapatkannya.


“Choking juga bisa terjadi pada saat makanan memblok saluran nafas sebagian atau seluruhnya dan bisa menyebabkan bayi menjadi biru atau batuk lemah. Jika terjadi choking. Masukkan jari tapi jangan terlalu dalam. Justru menyebabkan makanan semakin dalam masuk. Minta anak batuk. Menepuk punggung dan jika tidak berhasil juga larikan ke rumah sakit.”


Dean menyimak semua informasi terutama pendapat dokter anak yang tidak merekomendasikan BLW pada batita. Disamping mereka belum siap untuk mengunyah. Bisa jadi pemilihan makanan mereka tidak mencukupi kebutuhan nutrisi mereka. Hanya sedikit yang bisa tertelan. Pencernaan mereka belum siap.”


Dean terus menyimak penjelasan yang ada.


Kemungkinan untuk batita yang mandiri yang tidak suka disuapi. Metode ini bisa lebih sesuai. Tetapi mungkin tetap harus dihaluskan seperti saran dokter anak. Usia enam sampai dua bulan rekomendasi dari WHO anak memakan makanan yang dihaluskan. Jika ingin lebih padat setelah usia dua belas. Setelah tumbuh gigi dan batita bisa mengunyah serta menelan makanan dengan lebih baik.


Apa pun metode makanannya tetap harus mengacu pada grafik pertumbuhan batita sehingga bisa diketahui tumbuh kembang batita kurang, normal atau over weight.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2