Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Recovery


__ADS_3

Callista memiliki kebiasaan baru. Merajuk pada ayahnya. Membujuk ayahnya tanpa henti.


“Berhentilah merajuk. Kau meminta ibu seperti meminta mainan.” Tukas ayahnya.


“Mama sudah menikah lagi dan memiliki keluarga. Aku sangat membenci mereka semua. Mengapa papa tidak menikah lagi setelah mama pergi? Sehingga kita juga bisa berbahagia seperti mereka semua?”


“Aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu. Kau belum dewasa. Satu saat aku akan menjelaskan semuanya. Tetapi tidak sekarang. Akan sangat membebanimu jika kukatakan sekarang.”


“Aku sudah dewasa.”


“Belum cukup dewasa untuk memproses semua. Kau hanya bisa membenci atau menyukai. Belum bisa menempatkan segala sesuatunya secara proposional. Aku khawatir kalau kukatakan sekarang. Daftar kebencianmu bertambah.”


“Tidak, aku berjanji!”


“Ini saja sudah menunjukkan ketidakdewasaanmu. Tidak serta merta dengan berjanji. Semua jadi seperti yang kau inginkan. Ada waktunya kau bisa berpikir dan bersikap bijak. Tetapi tidak sekarang. Kalau kukatakan cerita yang sesungguhnya. Kau tidak akan seperti itu kepada ibumu. Kau membenci dan marah padanya. Untuk sesuatu yang tidak dilakukannya. Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Kau harus bersabar sampai saat kau dewasa.”


“Kapan itu?”


“Mungkin saat kau sudah bisa menerima ibumu dan tidak berpikir negatif tentangnya. Saat kau menjadi seorang ibu. Saat kau sudah bisa memahami kehidupan.”


“Dia meninggalkan kita. Hidup mewah. Menjadi gubernur. Memiliki keluarga yang didambakan semua orang. Aku harus mengertinya?”


“Semua tidak seperti yang kau lihat. Kau tidak mengerti sama sekali. Aku tidak bisa mengatakan padamu. Jika kau menilai ibumu sekulit ari. Maka kau akan menilai apa pun seperti itu. Semua akan berbalik pada dirimu sendiri.”


“Aku tidak mengerti!”


“Aku sudah katakan padamu. Belum waktunya kau mengerti dan memahami.Ada saatnya. Bersabarlah. Aku akan menceritakan semuanya jika memang sudah tiba saatnya.”


“Jangan egois, pa! Aku dan adik-adikku membutuhkan seorang ibu. Saat mama pergi meninggalkan kita semua. Kita semua menderita. Keanu nyaris tewas. Aku sangat membencinya karena hal itu. Disamping keputusannya meninggalkan kita semua. Aku tidak akan memaafkannya sampai kapan pun.”


“Apa yang kau inginkan?”


“Aku ingin kau menikahi ibunya Syarifah. Aku membutuhkannya. Kita semua membutuhkannya.”


“Kau tidak bisa memaksa seperti itu.”


“Mama meninggalkan kita semua. Kau sebut apa?”


“Jika aku menikahi ibunya Syarifah. Apakah kau akan memaafkan ibumu? Tidak berpikir jelek lagi tentangnya sampai kau mengetahui kebenarannya?”


“Yeah!”


“Apakah kau bisa memegang kata-katamu?”


Callista menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Baiklah, akan kupikirkan. Aku juga akan bertanya pada Sapphire dan Keanu.”


“Pa!”


“Yeah?”


“I love you!” Callista memeluk papanya dengan erat.


Air mata Dylan menetes. Aku tidak tahu apakah kau masih mencintaiku. Seandainya kau mengetahui apa yang terjadi? Aku dan ibumu tidak dapat mengatakan yang sesungguhnya terjadi. Tidak ingin kau terguncang. Menambah daftar kebencianmu dan tidak tahu bagaimana mengatasinya? Orang yang paling kau cintai. Sekaligus membuat semua luka di atas luka yang ada. Seandainya, kau tahu apa yang dirasakan ibumu. Kau tidak akan membencinya.


“Me too, honey....” Bisik Dylan lirih.


Dylan mengusap rambut Callista dan membelai punggungnya. Berusaha menyamankan perasaan putri sulungnya.


“Aku hanya mau ibunya Syarifah yang menjadi ibuku.”


“Yeah! I know, honey....”


Dylan mulai memikirkan permintaan Callista. Apalagi Dean juga melarang Sinta menemui anak-anaknya. Alasannya sangat tidak masuk akal.


“Aku tidak ingin kau melarikan istriku untuk kedua kalinya.”


“Apa? Kau sudah gila?”


“Aku sudah berulang kali menjelaskan padamu.”


“Aku juga sudah mengatakan beribu kali. Aku tidak ingin kalian bertemu kembali. Begitu juga dengan anak-anak kalian.”


“Tapi mengapa?”


“Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak akan dipercaya. Apalagi sampai hari ini. Sepertinya kau tidak dapat melupakan istriku.”


“Bagaimana jika aku menikah lagi?”


“Apa maksudmu menikah lagi?”


“Aku sudah melupakan istrimu.” Ujar Dylan berbohong. Sampai kapan pun dia tidak akan melupakan atau berhenti mencintai Sinta.


“Kau tidak berbohong padaku kan?”


“Untuk apa aku berbohong padamu?”


“Seharusnya untuk apa aku mempercayaimu. Karena setiap kali aku mempercayaimu. Kau selalu berhasil memperdayaiku.”


“Aku sudah mengatakan mengapa aku menikahi istrimu. Aku merasa saat itu tidak ada jalan lain.”

__ADS_1


“Jika kau memang benar bisa melupakan istriku dan menikah lagi. Berbahagia memiliki keluargamu sendiri. Mungkin aku akan mempertimbangkannya.”


“Jika masing-masing kita sudah memiliki rumah tangga dan keluarga. Tidak perlu diteruskan ketegangan ini. Selayaknya kita bersilaturahim layaknya keluarga.”


“Aku pernah mempercayaimu dan kau mengkhianatiku. Jika aku memberikan kesempatan lagi padamu. Sama aja aku mempertaruhkan keluargaku. Apalagi sekarang, aku memiliki Emier. Aku tidak ingin dia terluka.”


“Kau tidak ingin anakmu mengalami apa yang anak-anakku alami? Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membalas dendam padamu dan anakmu. Aku hanya ingin hubungan silaturahim antara Sinta dengan anak-anaknya tidak terputus.”


“Semua tergantung bagaimana kau bisa mendapatkan kepercayaanku kembali.” Dean menatap tajam ke arah Dylan, “Yang paling penting, bagaimana kau menjaganya.”


“Aku akan memegang kata-kataku!” Jawab Dylan tegas.


“Just prove it!”


Dylan berpikir keras. Mengatasi kemelut di dalam rumah tangganya. Melihat betapa terlukanya Callista. Sangat membutuhkan Haliza.


Dean juga tidak akan mempercayakan anak-anaknya bertemu dengan Sinta. Jika dia tidak bisa melanjutkan hidupnya. Memiliki keluarga yang bahagia.


Pikirannya melayang pada sosok Haliza. Wanita yang sederhana dan jujur. Tidak ragu mengungkapkan perasaannya. Selalu ada untuknya dan anak-anaknya.


Ah! Haliza memang sudah menggantikan posisi Sinta di dalam hati semua anak-anakku. Tinggal aku yang masih menutup rapat hatiku untuknya. Karena aku masih dan tidak ingin melupakan Sinta.


Dylan berusaha memperhatikan Haliza. Bagaimana dia mengantar jemput Syarifah dan Syarif. Dan anak-anaknya. Semenjak Callista terganggu emosi dan perasaannya. Mengetahui ibunya memiliki keluarga lain. Haliza meluangkan dan memperhatikan Callista lebih banyak dari sebelumnya.


Dylan merasakan ketulusan Haliza untuknya dan anak-anaknya. Dia tidak memberikan harapan apa pun pada Haliza. Tetapi dengan tulus, wanita tersebut memperhatikannya dan anak-anaknya. Tanpa mengharapkan apa pun.


Kesibukannya mengurus usaha yang dibagi dua dengan mantan suaminya. Syarifah dan Syarif. Masih menyempatkan diri mengurusnya dengan anak-anaknya.


Aku sudah mengacaukan semuanya. Melarikan Sinta dari Dean dan menikahinya. Membangun keluarga. Sampai Dean membatalkan pernikahan kami. Seandainya, Callista tahu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya? Berbalik membenciku? Bagaimana kalau dia menjadi kacau dan tidak terkendali?


Mungkin sudah saatnya aku berpikir untuk mengembalikan semuanya. Aku tidak boleh egois. Aku yang menyebabkan semua kekacauan ini. Aku juga yang akan membereskannya.


 


 


... ...


 


 


 


... ...

__ADS_1


__ADS_2