Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Attachment


__ADS_3

Perut Sinta yang semakin membuncit. Membuatnya seringkali merasa kelelahan. Nafasnya kerap tersengal.


“Sebaiknya kau beristirahat.”


“Tidak bisa aku ada rapat penting. Rencana pembukaan flea market, pusat jajanan kuliner serta pasar traditional bersih semakin dekat.”


“Lihat kondisimu. Jangan keras kepala. Aku tidak ingin terjadi apa pun padamu.”


“Aku tidak bisa. Walaupun sangat ingin. Belum lagi dana sumbangan hibah forestisasi harus diawasi. Deforestisasi sangat mengkhawatirkan dan harus segera diambil tindakan.”


“Apakah pekerjaanmu tidak bisa digantikan asistenmu?”


“Aku tidak merasa dalam kondisi darurat.”


“Tidak darurat bagaimana? Lihat keadaanmu. Kau seperti bus yang kepenuhan, miring nyaris terbalik.”


“Belum proyek kawasan industri ramah lingkungan, apartement dan perkantoran.”


“Aku tidak butuh mengetahui agenda kerjamu. Membuatku semakin stress. Kapan kau mulai cuti?”


“Sama seperti yang lain setelah melahirkan. Tiga bulan.”


“Apa?”


“Mengapa kau hanya bisa menuntut dan tidak pernah mau mengetahui konsekuensinya?”


“Aku tidak mungkin memintamu berhenti. Bagaimana dengan kelangsungan bisnis keluargaku.”


“Aku tidak harus mendengarkan ini.” Sinta memijat keningnya.


“Aku hanya memintamu jangan terlalu lelah dan delegasikan tugasmu pada asistenmu.”


“Kau ingin aku masuk penjara lagi?”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak tahu siapa saja yang akan berusaha membuat kekacauan.”


“Tapi untuk apa?”


“Kita tidak pernah tahu isi pikiran setiap orang. Bagaimana kau bisa menyenangkan setiap orang? Akan selalu ada yang tidak puas atau merasa dirugikan.”


“Aku tidak melihat ada yang salah dengan program kerjamu. Kau memajukan masyarakatmu. Mengembangkan usaha, akomodasi, lingkungan juga income mereka.Menangani dan mengatur masalah kesehatan serta pendidikan mereka dengan baik. Program pemgentasan kemiskinanmu berjalan dengan efektif. Taraf perekonomian mereka baik.  Menjadikan mereka tuan rumah di daerah dan negara mereka sendiri. Mengembalikan harga diri mereka. Program-programmu saling berkesinambungan serta  mendukung. Kau bahkan tidak mempermasalahkan mereka yang tidak mampu membayar sewa atau tidak memiliki modal selama mereka mau berusaha. Preferensimu jelas dan tidak saling bertabrakan.”


“Kau tidak mengerti politik.”


“Memang.”


“Selalu ada yang merasa dirugikan tidak peduli seberapa baiknya program kerja yang kau buat. Akan selalu ada yang keberatan apalagi kalau kepentingan mereka terganggu. Dan selalu ada yang ingin mengambil kesempatan di air keruh.”

__ADS_1


“Kau tidak mempercayai asistenmu sendiri.”


“Kau tidak memahami politik. Kau tidak pernah tahu siapa yang akan menikammu. Bisa jadi orang yang sangat kau percaya. Adalah orang yang setiap saat bisa mengkhianatimu.”


“Lalu buat apa kau memiliki asisten jika kau tidak mempercayainya?”


“Aku hanya percaya dua hal. Tuhan dan bayanganku sendiri. Aku tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Sehingga mau tidak mau aku membutuhkan asistent.”


Dean memeluk Sinta dengan erat.


“Maafkan aku. Kau harus berada dalam keadaan yang sangat berat serta penuh tekanan.”


“Kau mau memaafkan aku dan Dylan. Aku sudah sangat bersyukur.”


“Aku memaafkan kalian berdua. Apalagi Dylan mengakui bahwa dia mencintai Nurmala. Membuatku semakin mempercayainya.”


“Aku mencintai Dylan. Karena hanya dia yang mempercayaimu dan membelaku tanpa ragu.”


“Aku tidak mengerti hukum Dan politik. Aku bukan membiarkanmu sendiri. Kupikir, semua masih bisa dikendalikan. Aku memang brengsek. Mengkhianatimu dan tidak bisa melindungimu. Aku akan membuat kau berhenti mencintai Dylan dan kembali sepenuhnya padaku. Tanpa jeda dan ragu.”


“Kau bisa mengerti saja. Aku sudah sangat bersyukur.”


“Aku tidak ingin bermain menjadi orang suci. Aku mengkhianatimu. Kau tetap menerimaku kembali. Lalu mengapa aku harus berlaku seperti orang yang tidak pernah bersalah serta menorehkan luka padamu? We’re get even.”


Sinta mengaduh kesakitan. Dengan wajah panik dan cemas Dean memegangi Sinta, “Kau tidak apa-apa kan? Jangan membuatku takut.”


“Mereka menendangiku. Mereka pikir mereka sedang di lapangan bola bermain sepak bola.”


“Stadion sepertinya. Mereka seperti sedang ditengahi wasit dan salah mendapatkan kartu merah atau kuning.”


“Mungkin baby blue buat yang lelaki dan soft pink buat yang perempuan.”


“Ya kau benar.”


“Mungkin bukan lapangan atau stadion tapi mereka merias perutku seperti ruang main. Mereka sedang bertengkar hebat karena tidak bisa bersepakat apakah mereka akan memilih baby blue atau soft pink. Dan kau bisa bayangkan seperti apa?”


“Mungkin mereka sedang baku hantam di perutmu.”


“Yeah.” Sahut Sinta tertawa kemudian meringis lagi.


“Mereka semakin besar dan aktif.”


“Yeah.”


Di tengah kehamilannya yang semakin membesar. Sinta semakin sibuk. Tidak hanya mengurusi pekerjaannya tetapi juga yayasannya.


Bergerak di bidang pendidikan, day care  dan kesehatan. Memberikan layanan gratis dan berbayar.


Mereka yang mendapatkan dukungan pembiayaan dari  yayasan, orang tua asuh atau donatur atau bantuan dari pemerintah. Akan mendapatkan layanan gratis.

__ADS_1


Belum memback up usaha dan bisnis keluarga Dean.


“Kupikir kau overload.”


“Memang apa pilihanku?”


“Slow down.”


“Kau tahu kalau kita melintasi jalan. Seringkali kau tidak bisa memilih. Ketika menanjak kau harus mendaki. Jika menurun kau bisa berlari.”


“Aku mengkhawatirkan keadaanmu?”


“Semua bisa kuatur dengan baik. Terpenting tidak ada komplen justru dukungan berdatangan.”


“Kau bisa mengelola semua dana yang dipercayakan padamu dengan baik.”


“Walaupun memang aku harus menyeleksi orang-orang yang bisa bekerja sama denganku.”


“Yeah, kau belajar dari pengalaman pahitmu.”


“Yeah. Kau tahu bagaimana carut marut serta kacaunya keadaan saat itu.”


“Aku tidak tahu apa-apa. Kuserahkan semua pada Dylan. Aku sangat mempercayai kalian berdua. Dia sudah seperti saudaraku sendiri. Aku sangat mempercayai kompetensinya. Kupikir dia bisa menyelamatkanmu.”


“Memang bisa tapi kau kan tahu politikus dan pengusaha yang bersebrangan denganku mengacaukan semuanya. Keadaan berbalik. Pada saat itu Dylan memutuskan melarikan aku yang nyaris gila berada dalam tekanan berat.”


“Tidak usah kau lanjutkan lagi. Hanya membuatku menjadi sakit hati. Kau tidak tahu bagaimana aku meratapi makammu. Menangisi kematianmu. Dylan tidak berkata sepatah kata pun. Bersikap seolah tidak tahu kau masih hidup. Bahkan menikahimu.”


“Aku dan Dylan tidak bermaksud kembali ke Indonesia. Kau tahu kehidupan di Swiss sangat tenang. Menyembuhkan aku dari segalanya. Seandainya, kita tidak sengaja bertemu. Mungkin kita tidak akan bertemu selamanya.”


“Apakah kalian sebahagia itu?” Ujar Dean dengan wajah sendu.


“Dylan suami ayah yang baik juga sangat romantis dan pengertian.”


“Dia juga sangat melindungimu dan anak-anak kalian.”


“Tapi sekarang dia menyukai Haliza. Aku ikut berbahagia untuknya.” Sahut Sinta berbohong.


“Benarkah?”


“Apakah adil dia membesarkan anak-anak sendiri tanpa pendamping. Sedangkan aku sudah berbahagia bersamamu. Memiliki Emier si kembar yang sedang berada di dalam kandunganku.”


Dean membelai rambut Sinta dengan mesra.


“Ya, kau benar. Tidak adil melihat dia sendiri mengurus anak-anaknya. Dia juga membutuhkan pendamping. Kita akan membantunya mendapatkan Haliza. Bagaimana?”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2