
Brian tertidur pulas. Helena menservisnya habis-habisan. Mulai dengan pijatannya yang sangat lembut dan nyaman. Mereka juga bercinta.
Sambil menunggu Brian bangun. Helena memutar otaknya. Merencanakan untuk mengorek cerita Brian lebih banyak dan lengkap lagi.
Dia tidak boleh mengerjakan semuanya dengan tanggung kalau tidak ingin berbalik dirinya yang mendekam di penjara karena perlawanan Brian dan Sean.
Helena mengangkat telepon menghubungi room service.
"Selamat pagi, room service. Ada yang bisa dibantu?"
"Dari kamar 310, ingin memesan room service untuk breakfast bisa?"
"Silahkan, bu."
"Closed bill. Dua nasi goreng, kopi, fresh garden salad dan fresh fruits."
"Baik."
Sambil menunggu pesanannya. Helena memutar otaknya mencari cara agar bisa mengorek keterangan yang lebih rinci lagi. Dia tidak ingin kondisi menjadi terbalik.
Room service tiba tidak sampai setengah jam.
Helena menyesap kopinya. Menikmati fresh garden saladnya.
"Kau sudah bangun?"
Brian menggeliat dan melirik jam yang ada di handphonenya.
"Baru jam tujuh pagi. Kau sudah pesan sarapan?"
"Aku lapar. Tidurmu nyenyak sekali."
"Pijatanmu sangat enak. Kau juga sangat hebat."
"Terima kasih. Kau mengatakan semalam sangat berambisi menjadi kepala daerah. Tetapi mengapa? Aku masih belum mengerti."
"Kehidupan sangat keras. Kau tidak tahu bagaimana sulitnya hidup jika kau bukan siapa-siapa."
Brian bangun. Mengenakan kamar jasnya. Mengambil kopinya dan menyesapnya.
Menikmati fresh garden saladnya.
"Enak juga sarapan pagi-pagi."
"Tidak enak kalau makan dalam keadaan kenyang apalagi kekenyangan tapi kalau memang lapar atau jamnya makan?"
"Yeah."
Mereka sarapan pagi sambil mengobrol.
"Seberapa penting menjadi kepala daerah untukmu?"
__ADS_1
"Aku tidak hanya ingin menjadi kepala daerah tetapi juga presiden."
"Kau ingin jadi presiden?"
"Aku akan membalas orang-orang yang menyakitiku dan keluargaku."
"Kau terdengar seperti Hitler. Sangat membenci Yahudi dan ketika dia berkuasa. Kau lihat sendiri apa yang dilakukannya terhadap mereka."
"Entahlah! Mungkin semua penderitaan yang dilaluinya dan keluarganya sangat menyakitkan? Kau tahu bagaimana kejamnya Yahudi. Mereka sangat suka membungakan uang. Hitler dan keluarganya pasti sangat menderita ketika itu."
"Tapi tetap saja, menurutku hal itu tidak bisa menjadi alasan untuk berkuasa. Kau harus memiliki sifat kasih sayang, adil dan bijaksana. Jangan bersikap kejam apalagi balas dendam."
"Lalu untuk apa berkuasa kalau keadaanmu sama saja? Bahkan mungkin lebih menderita."
"Apakah kau pernah mendengar bahwa kekuasaan adalah penderitaan? Memang demikian pemimpin yang baik dan welas asih."
"Kau tidak usah terlalu banyak teori. Kau pikir aku bisa memberikanmu banyak materi kalau aku bukan siapa-siapa. Mungkin tidak ada wanita yang mau tidur denganku."
"Kau kan memiliki isteri?"
"Isteri sangat berbeda dengan selingkuhan. Sama saja kau membandingkan beras dengan steak."
Brian tertawa garing.
"Selingkuhan tidak harus ada tapi kalau isteri itu sangat penting. Tetapi isteri juga terasa tawar dan hambar. Berbeda dengan selingkuhan."
"Mengapa kau dan Sean sangat terobsesi dengan Sinta dan mertuanya?"
"Apa saja yang kau lakukan terhadap Sinta dan mertuanya?"
"Mengapa kau seperti reporter? Ingin tahu urusanku? Kau terlihat sangat seksi kalau kepo begitu."
Brian menaruh makanannya dan mendekati Helena dan merayunya. Helena selalu terjatuh pada rayuan Brian.
"Apakah kau tidak menghabiskan sarapanmu dulu?" Helena berusaha menolak ajakan Brian
Pikirannya mendadak terbang dan tidak berkonsentrasi dengan apa yang akan dilakukannya.
Dia ingin mengorek keterangan bukannya selalu dikorek seperti ini. Bisa kacau urusan penyadapannya.
Menyadap tidak semudah dibayangkannya. Mencari bukti yang lebih rinci apalagi. Tetapi semua bukan tidak mungkin.
"Kita sarapan yang lain dulu, bagaimana?"
Brian semakin agresif dan bernafsu. Dia melepas kamar jasnya dan juga milik Helena.
Mereka berdua sudah berada dalam keadaan polos.
"Tapi aku masih ingin mengobrol denganmu."
"Nanti saja. Apalagi yang kau obrolkan hanya Sinta dan mertuanya yang membuat emosi dan tensiku naik."
__ADS_1
Brian semakin merangsek maju. Menindih Sinta. Mulai mengecapi leher, dada, perut dan bagian intinya dengan indera penciuman dan pengecapnya.
Brian dan Sean pernah menyinggung tentang Sinta dan mertuanya dalam pillow talk mereka. Tetapi rekamannya tentu tidak ada karena baru saat ini penyadapan secara resmi dilakukan.
Saat itu Helena belum mengenal pengacara Sinta dan Dean. Tidak mengenal Sinta juga.
Helena mengenal Sinta dan Dean ketika kasus pelecehan antara dirinya dengan Dean. Kasus Sinta yang membuat pengacaranya menginginkan kesaksiannya. Mengumpulkan bukti dengan melakukan penyadapan.
Helena memutar otak bagaimana bisa memancing mereka berdua untuk berbicara dan mendapatkan informasi yang relevan.
Tentu saja, dia harus berhati-hati kalau tidak mau kehilangan nyawanya karena Sean dan Brian tidak akan segan-segan untuk menghabisinya.
Helena teringat perkataan pengacara Sinta dan Dean. Posisinya tidak akan aman. Selalu menjadi ancaman bagi Sean dan Brian. Setiap saat mereka dapat membunuhnya.
Helena bermanfaat untuk mereka tetapi sekaligus juga merupakan ancaman bagi mereka berdua.
Helena menyesap teh manis hangatnya. Melihat kepada Brian yang tertidur pulas seperti bayi. Raut wajah yang bisa berubah dalam seketika ketika sesuatu mengganggu dan mengacaukan kehidupannya
Memakai kamar jasnya. Menggelung rambutnya sepunggung dan berombak.
Brian sendiri tidak mengetahui hubungan gelapnya dengan anak kandungnya. Mengancam akan membocorkan hubungannya dengan ayahnya kepada ibunya.
Sean mengetahui hubungannya dengan Brian karena Sean yang mengumpannya pada Brian. Tetapi tidak mengetahui hubungannya dengan Bram, anak Brian.
Sedangkan Brian tidak tahu hubungannya dengan Sean dan anaknya.
Brian juga tidak mengetahui kehamilannya. Penyidikan yang dilakukan sepengetahuan dan dengan ijin pengadilan. Untuk kepentingan mengumpulkan bukti dalam persidangan.
Hasil test dna menunjukkan bayi yang dikandungnya adalah milik Brian.
Menyembunyikan kandungannya dari Brian karena tidak yakin. Brian akan merasa bahagia apalagi senang sepertinya yang menginginkan bayinya lahir dengan selama.
Bagaimana kalau Brian meminta menggugurkan kandungan?
Helena tidak yakin Brian akan senang dengan berita kehamilannya.
Apa yang Brian lakukan kepada Sinta membuat Helena berpikir dua kali mengenai segala hal yang bisa membuat Brian merasa terintimidasi.
Dia sendiri enggan berpikir bagaimana seandainya Brian dan Sean mengetahui hubungannya dengan Bram, anak Brian?
Helena hanya berpikir praktis. Apa yang membuat masalahnya bisa teratasi dengan baik. Maka hal tersebut akan menjadi pilihannya untuk mengatasi masalahnya.
Dia tidak ingin hubungannya dengan Brian diketahui oleh isteri Brian yang akan membawa masalah baru padanya.
Semua akan baik-baik saja selama dia tidak memicu hal-hal yang dapat membuat masalah melebar serta menjadi tidak terkendali.
Dia sendiri tidak bermaksud untuk memberitahukan kepada Bram bahwa dia mengandung adiknya yang berasal dari benih ayahnya.
Untuk apa dia memberitahukan kehamilannya pada Bram dan Sean?
Hanya menambah rumitnya masalah. Menambah masalah baru bukan sebaliknya.
__ADS_1