
Bram mengamuk tidak menemukan Hapsari di hotel Wajahnya merah padam menggambarkan kemarahannya.
Tidak ada yang bisa memberikannya informasi mengenai Hapsari. Bahkan pihak hotel menolak memberikan rekaman cctv. Dengan terang-terangan mereka mengatakan sudah menghapus cctv yang dimaksud.
Bram meluapkan kemarahannya pada manager hotel. Dengan sabar dan sopan, manager hotel menanggapi kemarahannya.
“Maaf, pak tapi rekaman cctv terpaksa kami hapus atas permintaan salah seorang tamu yang tidak bisa kami sebutkan namanya.”
“Kalian ceroboh sekali!” Ujar Bram mengamuk tetapi tidak ditanggapi oleh pihak hotel.
“Kami akan memberikan kompensasi.”
“Aku tidak ingin kompensasi apa pun. Aku ingin rekaman cctv tersebut!”
Pihak hotel menolak keinginan Bram dengan tegas. Bram tidak bisa berbuat apa pun saat pihak hotel mengancam akan melaporkannya ke pihak berwajib jika dia tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
Bram memutuskan keluar dari hotel. Berusaha mencari keberadaan Hapsari tetapi nihil. Dia kehilangan jejaknya. Tidak menemukan Hapsari dimana pun.
Terpaksa membatalkan rencana keberangkatannya keluar negeri. Sambil berupaya mencari keberadaan Hapsari yang seperti hilang ditelan bumi.
Sementara itu Hapsari yang sedang berada di rumah Sinta merasa lebih rileks.
Bersama Sinta, Dean serta Emier membuatnya merasa sangat nyaman.
Pada satu Minggu sore saat mereka sedang bercengkerama di ruang keluarga. Hapsari bermaksud menceritakan apa yang dialaminya.
“Kupikir, ini saatnya aku menceritakan pada kalian apa yang terjadi.”
“Apa maksudmu?” Tanya Sinta sambil mengelus perutnya yang membuncit. Bayi kembarnya membuat perutnya menjadi lebih besar daripada kehamilan yang biasa.
Di meja ruang keluarga terdapat buah-buahan. Yang menjadi cemilan Sinta. Menjelang persalinannya dia harus mulai mengurangi makan beratnya walaupun terasa sangat sulit. Karena perutnya yang selalu lapar. Membuatnya ingin selalu makan.
Sebagai gantinya, di luar makanan wajibnya tiga kali sehari. Dia menambal rasa laparnya dengan buah-buahan serta makanan sehat seperti salad. Roti gandum dengan cream soup jamur. Serta cemilan sehat lainnya.
“Sepertinya aku sudah siap menceritakan.” Ujar Hapsari.
“Baiklah, kami mendengarkan.” Ujar Dean.
“Setelah kematian Tante Helena. Aku mengenal Bram. Walaupun aku tidak benar-benar tahu siapa dia hingga hari ini.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.” Ujar Emier. Menuangkan susu serta mencelupkan Oreo ke dalamnya.
“Bram bukan siapa-siapaku. Bukan kerabat atau seseorang yang kukenal. Tapi semenjak kematian Tante Helena aku mengenalnya. Sejak usiaku lima tahun sampai dengan saat ini.”
“Lalu mengapa kau tidak melaporkan pada orang tuamu?”
“Dia tidak pernah berbuat jahat atau sesuatu yang buruk padaku. Bagaimana aku melaporkannya? Bahkan dia sangat baik padaku. Hanya saja aku mulai mencurigainya saat dia memesan kamar untuk kami berdua. Aku tidak tahu apa rencananya padaku. Sepertinya kami akan pergi suatu tempat.”
Sinta berpikir keras. Dean termangu mendengar cerita Hapsari.
“Bagaimana menurutmu?” Tanya Dean pada Sinta.
“Aku akan berusaha mencari tahu siapa Bram. Tetapi bagaimana mengetahui motifnya terhadap Hapsari? Kalau dia tidak mengakui apa pun. Dan kurasa dia tidak akan mengakui apa pun.”
__ADS_1
“Yeah.” Ujar Dean menyetujui, “bisa jadi dia akan menyerang balik.”
“Yeah. Aku akan mencari tahu siapa Bram. Mungkin kita tidak bisa mengetahui motifnya tapi mungkin bisa diraba. Untuk sementara kau tinggal disini dulu.” Sahut Sinta pada Hapsari yang diikuti anggukan kepala Hapsari.
Sinta mencari informasi tentang Bram. Mengumpulkan keterangan seputar Bram. Menyampaikannya pada Dean.
“Kau masih ingat Brian?” Sahutnya pada Dean di telepon. Saat sedang meneliti semua laporan mengenai Bram di meja kerjanya. Di kantor tempatnya bekerja.
“Politikus yang bekerja sama dengan pengusaha untuk menyingkirkanmu?” Jawab Dean di seberang telepon.
“Bram adalah anak Brian.”
“Astaga! Apa hubungannya dengan Hapsari?”
“Brian memiliki hubungan dengan Tante Hapsari. Helena. Meninggal dalam keadaan hamil.”
“Aku tidak mengerti.”
“Mungkinkah dia membalas dendam pada Helena?”
“Apa maksudmu?”
“Hapsari, keponakan Helena? Helena yang saat itu dengan kesaksiannya berhasil memasukkan Brian dan Sean ke dalam penjara.”
“Sebelum mereka mengacaukan semuanya serta melenyapkan semua barang bukti.”
“Apa pun itu. Apakah kau melihat relevansinya? Menurutmu apa alasan Bram berada di sekitar Hapsari sejak kematian Helena? Menyekapnya di hotel?”
“Kau ingin mengatakan Bram seorang pedofil? Menyukai Hapsari sejak usia lima tahun? Mengapa baru menyekapnya setelah dewasa?”
Dean berpikir sejenak,” yeah...Harus kuakui, tidak cocok jika alasannya Pedofil. Jika Bram seorang pedofili mengapa harus menunggu Hapsari hingga dewasa untuk kemudian menyekapnya?”
“Jadi?”
“Aku setuju teorimu bahwa Bram ingin membalas dendam kepada Helena melalui Hapsari.”
“Aku tidak bisa memiliki bukti langsung. Aku tidak yakin Bram akan mengakuinya.”
“Kemungkinan dia akan mengatasnamakan cinta untuk perbuatannya.”
“Mungkin saja jika dia jatuh cinta pada Hapsari tapi bukan itu motif awal dia mendekati Hapsari.”
“Yeah. Dendam. Lama-lama berubah menjadi rasa cinta.”
“Dendam yang menumbuhkan cinta. Serta cinta yang dibalut kebencian.” Ujar Sinta menegaskan.
“Apakah dia akan mencelakai Hapsari?”
“Aku tidak tahu. Kita menjauhkan Hapsari sebelum Bram melakukan apa pun kepadanya. Apa kita akan menjebaknya?”
“Apa maksudmu menjebaknya?”
“Tetapi beresiko pada keselamatan Hapsari terutama jika Bram gelap mata.”
__ADS_1
“Apa maksudmu? Jelaskan?”
“Kita akan mengembalikan Hapsari padanya. Mengawasi Hapsari dari jauh. Jika kita sudah mengetahui dengan jelas motif serta pembuktiannya. Kita tangkap serta ajukan ke pengadilan berdasarkan bukti-bukti yang sudah kita kumpulkan. Ditambah fakta dia tertangkap basah.”
“Sebaiknya, kita menanyakan pada Hapsari.”
“Yeah, kau benar. Kita harus menanyakan pada Hapsari.”
Wajah Hapsari menunjukkan raut ketakutan. Saat Sinta menjelaskan siapa Bram sebenarnya.
“Tante Helena menyebabkan ayah Bram dipenjara?”
“Yeah. Helena juga meninggal dalam keadaan hamil. Dikesankan bunuh diri.”
“Jika tanteku dibunuh. Siapa pembunuhnya?”
“Brian dan Sean adalah satu komplotan. Aku tidak tahu siapa dari antara mereka yang melakukannya?”
“Bagaimana mereka melakukannya?” Tanya Hapsari.
“Pertanyaan yang bagus. Mereka berada di penjara saat kematian Helena. Kemungkinannya, mereka menyewa pembunuh bayaran atau ...”
“Atau apa?” Tanya Hapsari dengan bergidik.
“Bram yang membunuhnya.”
“Apa?”
“Ini asumsiku. Aku tidak dapat mengakses lebih jauh mengenai kematian Helena. Semua data mengenai kematiannya. Confidential. Aku tidak diberikan kompetensi untuk mengakses meneliti sebab kematiannya.” Ujar Sinta, “ kematian Helena bunuh diri. Tidak selain itu.”
“Bagaimana? Apakah kau ingin menjebaknya atau membiarkannya pergi?”
“Apakah aku akan aman jika aku membiarkannya pergi?”
“Menurutmu jika kau bertemu lagi dengannya. Apa yang akan dia lakukan?”
“Menyekapku kembali dan meneruskan rencananya melarikanku keluar negeri.”
“Jadi apa keputusanmu?”
“Aku akan mengumpulkan bukti kejahatannya. Keinginannya untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.”
“Apakah kau siap dengan resikonya?”
“Apa resikonya?”
“Jika dia mencium rencana kita. Maka dia tidak akan segan mencelakai atau membunuhmu. Nasibmu bisa sama seperti tantemu, Helena.”
“Aku akan selama berada di dalam cengkeramannya. Jika aku tidak berusaha membebaskan diri dari cengkeramannya. Dia bisa membunuhku kapan saja. Saat dia tahu bahwa aku sudah mengetahui segalanya yang berkaitan dengan almarhum ayah juga tanteku.”
“Baiklah. Jika kau sudah memutuskan dan berketetapan. Kita akan membuka kedoknya.”
“Terima kasih.” Sahut Hapsari dengan suara bergetar.
__ADS_1