Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Revenge


__ADS_3

Seorang lelaki mengamati dari kejauhan. Sesosok gadis belia yang sedang tersenyum ceria dan tertawa bahagia.


Wajahnya yang cantik dan putih bersih. Menambah daya tarik parasnya


Paras yang mengingatkan pada bibi gadis itu. Peristiwa hampir lima belas tahun lebih  berlalu.


Aku menunggu saat ini. Kau semakin hari semakin cantik. Kau sudah tumbuh dewasa.


Tak sabar aku ingin memetik mu. Membalaskan semua dendam dan sakit hatiku pada bibimu.


Helena! Tiba saatnya aku membayar semua perbuatanmu pada keluargaku.


Bram menatap ke arah gadis muda di awal dua puluhan. Wajahnya mirip dengan tantenya. Tubuhnya lebih tinggi dan langsing. Kulitnya juga lebih putih.


Usia Bram di awal dua puluh tahunan saat menjalin hubungan dengan Helena. Keponakan Helena sendiri baru berusia lima tahun saat itu. Lima belas tahun lebih berlalu.


Usianya saat ini mencapai tiga puluh tujuh tahun sedangkan gadis yang dalam incarannya berusia tidak kurang dari dua puluh tiga tahun.


Aku bersabar menunggumu selama ini. Ingin menyempurnakan pembalasan dendamku kepada tantemu. Yang sudah menghancurkan keluargaku.


Tantemu yang menyebabkan ayahku masuk penjara dan meninggal. Sekaligus pelakor. Aku akan membalaskan dendam kedua orang tuaku.


Gadis tersebut sungguh sangat polos. Wajahnya sumringah. Senyum kerap menghiasi wajah baby face nya.


Bram mengawasinya dari jauh dari sejak gadis tersebut berusia lima tahun.


Melihatnya tumbuh. Beranjak dewasa. Menjadi wanita dewasa yang sangat menarik.


Bram hampir setiap hari mengawasi gadis kecil yang diketahui bernama Hapsari.


Kecantikannya menuruni paras wajah bibinya. Mereka terlihat sangat mirip satu sama lain. Postur serta kulit mereka membedakan. Sisanya mereka seperti pinang dibelah dua.


Sesekali Bram menghampiri gadis kecil tersebut. Memberikannya permen dan coklat.


Wajah beningnya berbinar. Senyumnya mengembang. Tangan mungilnya membuka bungkus permen dan coklat. Mengunyahnya dengan lahap. Wajahnya belepotan coklat dan gula.


Semakin dewasa, Bram mengganti hadiah kecilnya sesuai dengan kepentingan Hapsari.


“Ini boneka untukmu.” Bram menyodorkan sebuah boneka teddy bear berwarna putih besar dengan pita berwarna pink di lehernya.


Mata Teddy Bear tersebut berwarna coklat. Tubuhnya gempal, empuk dan squisy.


Kali lain, Bram memberikan sebuah boneka dengan rambut pirang dan bermata biru jernih. Pakaian boneka tersebut sangat indah.


Rambutnya bisa diurai dan dikepang. Usia Hapsari menjelang delapan tahun.


Wajah gembilnya menirus. Kecantikannya semakin membayangi.


Kau masih sangat belia tetapi kecantikanmu sudah membayangi. Aku bukan seorang pedofil. Aku akan menunggumu dewasa sebelum memetikmu.


Wajah Hapsari berbinar menatap Bram. Raut wajahnya berseri melihat boneka yang dibawa Bram untuknya.


Kali lain Bram membawakan pakaian, tas dan sepatu. Bergambar frozen dan barbie.


“Terima kasih.” Ucap Hapsari.

__ADS_1


“Sama-sama anak manis.”


Beranjak remaja, Bram membawakan Hapsari. Majalah, buku novel, dompet, saddle, hobo dan sling bag. Slip on dan dockside shoes.


“Mengapa anda membawakan barang-barang untukku?” Tanya Hapsari saat usianya menginjak tiga belas tahun. Menyadari ada orang asing yang selalu memberinya hadiah.


“Tidak ada alasan. Aku senang memberikan hadiah untukmu. Kau tidak keberatan kan?”


Hapsari menatap dengan wajah lugunya. Matanya yang bening seolah masih merasa penasaran dengan jawaban yang diterimanya. Tetapi memilih membungkam mulutnya. Karena segan untuk menanyakannya lagi.


Ada lagi satu kebiasaan Bram. Memberikan cake dan hadiah ulang tahun setiap Hapsari berulang tahun.


Semakin besar dan dewasa. Semua tingkah laku Bram menimbulkan tanda tanya pada Hapsari.


Tetapi semua tidak terjawab sampai saat usianya mencapai dua puluh satu tahun.


Bram tidak hanya memberikan stiletto, handbag, high heels, clutch bag, Sling bag dan handbag. Night dress. Cake dan hadiah ulang tahun.


Melainkan meminta Hapsari untuk merayakan ulang tahun bersamanya.


“Aku tidak mengenalmu.” Tolak Hapsari.


“Kau mengenalku sejak usiamu lima tahun.”


“Maksudku aku tidak mengenalmu secara pribadi.”


“Justru itu aku mengajakmu makan malam. Kita rayakan hari ulang tahunmu. Bagaimana?”


Hapsari diam. Menatap wajah orang di hadapannya dengan bingung. Hatinya bimbang.


“Aku bukan orang jahat.”


“Aku tidak mengenalmu.”


“Aku tidak tahu siapa namamu.”


“Bram. Aku tahu namamu. Hapsari. Nama yang indah. Seindah wajah dan tubuhmu.”


Wajah Hapsari memerah.


“Jangan malu seperti itu. Membuatmu semakin cantik.”


Aliran hangat mengaliri wajahnya. Wajahnya benar-benar semerah tomat.


“Kau benar-benar cantik.”


“Jangan memujiku terus.” Sahut Hapsari merasa jengah.


“Baiklah. Mau ya makan malam merayakan ulang tahunmu. Aku akan mengantar jemput mu. Tidak usah khawatir.”


Hapsari menganggukkan kepalanya. Tidak memiliki pilihan. Tidak ada salahnya juga mengenal orang yang sering memberikannya hadiah. Baik atau tidak. Nanti akan terbukti semakin dia mengenal orang yang ada di hadapannya.


Bram menjemput Hapsari. Merasa takjub dengan kecantikan Hapsari. Memakai night dress yang menjadi hadiah ulang tahunnya. Kulit Hapsari yang putih bersih sangat cocok dengan night dress sutera satin merah marun shoulder less. Dengan stiletto senada. Mantel bulu musang hitam digunakan sebagai outer cloth.


Penampilan Hapsari sangat memukau juga menyihir.

__ADS_1


Bram tidak mampu berucap satu patah kata pun.


“Kau benar-benar cantik. Speechless.”


Bram membukakan pintu untuk Hapsari. Menaiki sedan BMW mewah milik Bram membuatnya gugup.


“Tenanglah!”


Tangan Hapsari berubah menjadi sangat dingin.


Bagaimana jika orang tersebut jahat? Menculik, membunuh dan memperkosanya?


“Tenangkan pikiranmu. Jangan banyak berpikir. Nikmati malam ini sebaik mungkin. Ok?”


Hapsari menganggukkan kepalanya dengan gugup. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Keringat dingin bercucuran. Walaupun ac mobil sangat dingin.


“Don’t be nervous. Just relax. Ok?”


Hapsari menganggukkan kepalanya. Menelan ludahnya. Oh Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu apa pun.


Bram menyeringai dalam hati. Aku akan menjebak mu ke dalam perangkap, kelinciku. Sepertinya kau sangat mudah diperdaya dan percaya.


Waktu untuk membalaskan dendam orang tuaku sudah semakin dekat.


Aku akan membuatmu mempercayaiku. Memasrahkan seluruh diri dan hidupmu padaku.


Kau tidak akan bisa berlari dariku. Aku adalah harimau yang mengintai mu. Siap menerkam mu setiap saat.


Kita akan selalu terhubung dengan masa lalu. Bibimu sudah menghancurkan keluargaku. Membuat ayahku binasa. Menjebloskan ayahku ke penjara.


Bibimu tidak hanya berselingkuh dengan ayahku. Tetapi juga bekerja sama dengan pengacara keparat tersebut. Menjebloskan ayahku ke penjara.


Pengacara tersebut sudah mendapatkan hukumannya. Melarikan istri orang. Suaminya membuatnya membayar seluruh perbuatannya.


Aku tidak perlu memikirkan pengacara keparat tersebut yang sudah menerima hukumannya. Seandainya, kau bukan keponakan Helena. Tentu nasibmu tidak akan sesial ini.


Mobil meluncur membelah malam. Bram sudah menyiapkan candle light dinner untuk mereka berdua.


Cake ulang tahun sebagai pembukanya. Mereka akan merayakannya berdua. Berdansa. Makan malam sambil mendengarkan musik. Melalui gesekan busur yang indah pada dawai biola yang mengiringi makan malam mereka berdua.


Rencana yang perfect. Aku akan membiasakan mengajaknya keluar dan dining in di hotel. Sebelum aku memangsanya. Aku harus membuatnya lengah dan terlena terlebih dahulu.


Tunggu tanggal mainnya....


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2