Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
The Twins


__ADS_3

Perut Sinta semakin membuncit. Seperti mau meledak keluar. Bayi kembarnya membuat perutnya tampak sangat besar. Tumpah ruah.


“Sebaiknya, kau ambil cuti. Aku mengkhawatirkan keadaanmu. Kelahiran bayi kita semakin dekat.” Ujar Dean mengelus perut istrinya dengan lembut.


“Aku tidak apa-apa. Kau tenang saja. Everything is undercontrol. Setelah melahirkan. Aku akan mendapatkan cuti selama tiga bulan. Dokter juga tidak mengatakan apa pun tentang ini?”


“Dokter tidak melihatmu setiap hari kepayahan berjalan juga bernafas.”


“Jangan membesarkan sesuatu. Semua orang hamil tua seperti itu. Mulai kesulitan berjalan dan juga nafas mereka menjadi pendek.”


“Terserahlah. Jaga kondisimu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu juga bayi kembar kita.”


Sinta menganggukkan kepalanya. Tubuhnya memang semakin besar menjelang persalinannya. Nafasnya memang menjadi pendek karena kandungannya yang sangat besar.


Kandungannya memang berbeda dengan sebelumnya. Mengandung anak kembar tentu tidak sama dengan mengandung satu bayi.


Bayi lelakinya diperkirakan memiliki berat badan mencapai 3 kg sedangkan bayi perempuannya sebesar 2,5 kg. Wajar saja jika tubuhnya membengkak dan nafasnya menjadi berat dan pendek.


Saat hendak memimpin rapat tiba-tiba perutnya mengeras dan mengejang. Sinta mengaduh kesakitan.


Agenda berubah menjadi membawa Sinta ke rumah sakit. Sementara rapat diserahkan pada asistennya untuk diteruskan.


Peluh membanjiri wajah Sinta. Raut kesakitan tergambar di wajahnya. Sinta mengusap perutnya yang tampak menegang dan kencang.


Tanda lahir merembes keluar begitu saja. Sesuatu yang terasa basah sekaligus hangat juga lembut.


Sesampainya di rumah sakit. Sinta dipindahkan ke tempat tidur dorong. Air ketubannya pecah membuatnya tidak dapat berjalan apalagi berdiri. Akan membuat rembesannya semakin deras. Serta menyulitkannya saat melahirkan karena kekurangan cairan ketuban untuk mendorong si jabang bayi. Apalagi kembar.


Petugas rumah sakit langsung membawanya ke tempat bersalin. Memanggil dokter kandungannya lewat telepon. Bidan menemani persalinannya sambil menyiapkan semuanya.


Bidan mengecek pembukaannya. Kontraksinya sempat tertahan di pembukaan satu. Persalinan berjalan kurang lebih dengan lancar walaupun sempat membuat khawatir. Dokter kandungan berinisiatif untuk memberikan induksi karena air ketuban Sinta pecah. Agar kontraksi bisa berjalan lancar. Semua seperti yang diharapkan. Kontraksi bisa berjalan maju.


Kalau induksi tidak membantu. Kontraksi tetap stuck. Terpaksa dikeluarkan melalui caesar.


Wajah Sinta terlihat pucat juga lelah. Setelah melahirkan. Sehabis menginisiasi bayi kembarnya. Memberikan keduanya colostrum. Dean mengazankan bayi kembarnya.


Sinta dibawa ke kamar perawatan yang sudah dipesan Dean. Kamar VVIP yang memiliki meja kerja selain tempat tidur ekstra. Berencana menunggui istrinya sambil tetap bekerja.


Sinta meminum air mineral yang sudah disediakan di kamarnya. Memakan makanannya. Nasi, udang goreng tepung, tahu jamur asam manis, sayur daun katuk dan bola daging kecap. Perutnya sangat lapar setelah melahirkan. Sebagai penutup, menghabiskan jus buahnya.

__ADS_1


Tertidur nyenyak setelah perutnya terisi penuh. Rasa lelah bercampur kenyang membuat matanya diserang kantuk yang sulit ditahan. Dirinya tertidur pulas seperti bayi.


Sinta terbangun dari tidurnya. Setelah melahirkan dia tidak boleh turun dari tempat tidur sebelum enam jam.


“Jam berapa sekarang?” Tanya Sinta.


“Kau sudah bangun?” Tanya Dean. Menutup lap topnya.


Berjalan mendekati istrinya. Membuka kulkas dan mengambil jus buah. Menyodorkan pada istrinya.


Sinta meminum jus buahnya. Dean mengeluarkan beberapa bungkus cemilan dan juga coklat dari laci meja nakas di sebelah Sinta.


“Kau bisa mengganjal perutmu sambil menunggu waktu makan tiba. Kau tertidur seperti orang pingsan. Dua jam lagi kau baru boleh turun dari tempat tidur.”


“Aku sangat lelah. Mataku terasa sangat berat setelah makan dan minum. Dimana Emier?”


“Aku meminta tolong Hapsari untuk menemaninya di rumah. Setelah pulang sekolah, Hapsari akan membawanya kemari.”


“Yeah, Emier sangat menyukai Hapsari. Bagaimana kalau kita mengadopsinya?”


“Hapsari sudah dewasa. Usianya sudah mencapai dua puluh satu tahun.”


“Yeah. Pintu rumah terbuka untuknya. Kita juga berutang budi pada tantenya, Helena.”


“Yeah. Dia sangat mirip dengan Helena. Apakah kau bernostalgia setiap kali melihat wajah Hapsari?”


“Are you playing jelous?”


“Just asking.”


“Aku dan Helena, sudah beribu kali kukatakan. Accidently. Bahkan saat dia tewas kami sudah tidak berhubungan lagi."


“Kau mengkhianati kepercayaan ku “


“Kau sendiri menikahi Dylan.”


“Aku juga sudah mengatakan jutaan kali...”


“Mengapa kita harus membahas yang sudah berlalu?”

__ADS_1


“Hapsari sangat mirip dengan Helena.”


“Hubunganku dengan Helena sudah berakhir saat dia tewas. Walaupun Hapsari menyerupai Helena. Sudah tidak relevan.”


“Kuharap kau berkata yang sejujurnya.”


“Jika kau terus mencurigai ku. Kurasa akan membuat hubungan kita menjadi tegang. Aku merasa tidak nyaman kau curigai terus. Apalagi aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan.”


“Bagaimana jika kukatakan, kemungkinan aku dipengaruhi hormon?”


“Yeah, sepertinya aku memang harus lebih bersabar serta pengertian. Kau baru saja melahirkan. Bisa jadi hormonmu sedang kacau.”


“Terima kasih atas pengertianmu.”


Perawat membawa bayi kembar Sinta ke dalam kamar.


“Apakah mereka sudah diberi susu?” Tanya Sinta.


“Sehabis melahirkan. Kau sangat lelah dan butuh istirahat. Bayimu juga kelaparan. Tentu saja kami memberikan mereka susu formula yang cocok serta mereka sukai. Kami memilihkan susu formula hypoalergic yang aman bagi setiap bayi. Mengantisipasi jika mereka memiliki intolerance lactose.”


“Baiklah. Berikan bayiku padaku.” Pinta Sinta. Suster memberikan bayi lelakinya terlebih dahulu.


“Kami menyediakan susu lactose, low lactoce, hypoalergic dan soy milk. Tinggal disesuaikan dengan kondisi si bayi saja.”Terang suster.


“Bayiku tidak menjadi percobaan iklan susu bukan?” Ujar Sinta.


“Prosedur rumah sakit kami. Begitu bayi lahir. Diperiksa kondisinya oleh dokter anak. Mereka akan merekomendasikan susu formula apa yang akan diberikan pada bayi tersebut. Diresepkan. Jika memang bayi tersebut full asi karena tidak mau mengkonsumsi susu formula sama sekali. Kemungkinan memang harus disusui oleh sang ibu sendiri. Semua disesuaikan dengan sikon sang bayi. Kepentingan bayi itu sendiri."


“Apakah jika diberikan susu formula. Bayiku masih mau menyusu asiku?”


“Bayi itu sama seperti manusia lainnya. Mereka memiliki selera dan juga pilihan. Ada bayi yang hanya menyukai asi dan menolak formula. Ada yang menolak asi dan hanya menyukai formula. Ada yang menyukai keduanya. Kondisi mereka juga berbeda-beda. Ada yang alergi susu yang mengandung high lactose. Susu high lactose rasanya gurih dan manis. Berbeda dengan low lactose, tidak semanis serta segurih susu yang high lactose. Untuk bayi yang intolerance lactose. Mereka direkomendasikan mengkonsumsi susu untuk hypoalergic atau soy milk. Semua tergantung kondisi dan penerimaan bayi.”


Sinta memberikan asinya pada bayinya.


“Aku terbiasa memberikan asi eksklusif pada bayiku selama enam bulan. Memberikan mereka MPASI pada saat enam bulan. Menyusui mereka dua tahun penuh.” Ujar Sinta.


“Kau bisa menghentikan susu formulanya jika ingin memberikan bayimu asi eksklusif selama enam bulan penuh."


“Yeah, akan kupertimbangkan. Mereka kembar kemungkinan aku membutuhkan bantuan susu formula jika keduanya haus dan lapar dalam waktu yang bersamaan.”

__ADS_1


__ADS_2