Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
The Plan


__ADS_3

Bukti-bukti yang ada kalau untuk sekedar melepaskan Sinta dari tuntutan hukum sudah cukup. Tapi Dylan ingin menyeret lawan politik dan bisnis Sinta juga mertuanya ke penjara.


"Bagaimana perkembangan kasusku?"


"Kalau hanya untuk membebaskanmu dari tuntutan hukum sudah bisa. Tetapi, aku ingin menyeret lawan bisnis mertuamu dan politikmu ke penjara. Agar mereka tidak bisa mengganggumu lagi. Menuntut ganti rugi sehingga kau bisa memulihkan tanggung jawabmu."


"Maksudmu, aku harus menunggumu mengumpulkan bukti yang lebih kuat lagi?"


"Aku berencana menggunakan Helena."


"Siapa Helena?"


"Wanita yang menuntut suamimu dengan tuduhan pelecehan seksual."


"Mengapa kau bekerja sama dengan wanita itu?" Raut wajah Sinta menunjukkan perasaan tidak suka.


"Karena dia bisa menjadi saksi kunci dalam kasusmu."


"Aku tidak mengerti apa hubungannya dengan kasusku?"


"Dia menjalin hubungan dengan tiga pria, pengusaha, politikus dan mahasiswa."


"Lalu?" 


"Politikus yang menjadi pacar Helena adalah lawan politikmu. Pengusaha yang menjadi pacarnya adalah saingan bisnis mertuamu dan mahasiswa yang menjadi pacarnya adalah anak politikus yang juga kekasihnya."


"Astaga!"


"Bagaimana menurutmu?"


"Bagaimana rencanamu?"


"Aku akan melakukan penyadapan melalui Helena. Tentu dengan ijin pengadilan sehingga langsung bisa jadi bukti persidangan."


"Baiklah. Aku akan menunggu sampai semua bukti terkumpul hingga bisa memasukkan mereka ke penjara."


"Mereka harus bertanggung jawab dengan perbuatan mereka. Kalau mereka tidak melakukan sabotase itu. Tidak ada masalah dengan proyekmu dan mertuamu. Semua berjalan dengan baik seperti biasa."


"Hmm, ya… Aku sendiri dalam posisi yang sulit saat itu. Uang yang ada di mertuaku. Digunakan untuk membiayai operasional, tagihan,  pinjaman serta tunggakan  bank dan keperluan lainnya yang tidak bisa ditunda. Kalau aku tidak selesaikan, semua terhenti.  Mertuaku juga tidak bisa mengusahakan pinjaman yang baru dengan beban tunggakan yang ada. Jika  semua terhenti sedangkan bukan proyek mubazir? Melainkan strategis dan memang dibutuhkan kelangsungannya. Akan menyebabkan kerugian yang lebih besar kalau tidak aku selesaikan."


"Keputusanmu tidak salah. Karena kalau terhenti memang  akan lebih banyak kerugiannya. Aku senang kau juga berpikir sama. Menyeret para pelakunya ke penjara. Apalagi politikus tersebut kalau sampai menjabat. Kau bisa bayangkan apa yang akan dia lakukan? Begitu juga dengan pengusaha itu? Mereka berdua akan membuat kekacauan juga kerugian pada orang lain demi ambisi pribadi mereka. Proyek-proyek mubazir yang kau hentikan. Dijadikan sebagai ajang mencari uang. Untuk mencapai ambisi mereka  mencapai kekuasaan juga kekayaan. Yang penting uang cair, masalah proyek tersebut relevan atau tidak? Bukan urusan mereka. Fokus mereka bukan mengatasi kompleksitas masalah kepentingan umum. Bagaimana bisa mengambil uang yang bisa mereka gunakan untuk kepentingan dan ambisi mereka? Pengusaha tersebut juga akan menyandera kepentingan umum untuk mencapai tujuannya. Masalah proyek selesai atau tidak. Selama itu tidak melanggar hukum walaupun merugikan orang banyak karena terbengkalai.  Mereka tidak peduli. Penalty sudah mereka hitung dari nilai proyek yang akan mereka tembus. Secara hukum mungkin mereka bebas tapi secara moral dan tanggung jawab?"


"Hukum itu dibuat untuk melindungi tetapi sebagian orang menyalahgunakan untuk kepentingan mereka sendiri."


"Itu maksudku. Ketika kita hanya mengejar kebenaran formil mengabaikan substansial. Ibarat tubuh tanpa jiwa. Penipuan, penyesatan, pemanfaatan, pencurian, perampasan dan manipulasi. Semua bisa terjadi. Tidak ada itikad baik."


"Bagaimana pendapat suamiku?"


"Dean hanya memikirkan apa yang terbaik menurutmu. Dia sangat memikirkan kondisi kejiwaanmu."


"Dia banyak berubah."


Dylan tertawa,"Menurutku juga begitu. Apa kau masih bisa bertahan di sini?"


Sinta menganggukkan kepalanya.


"Aku masih membutuhkan waktu untuk mengumpulkan bukti."


"Baiklah. Tidak apa-apa. Disini juga banyak yang kulakukan. Terpenting jangan ada lagi pembunuhan-pembunuhan seperti kemarin."


"Kau tenang saja. Tidak ada lagi pembunuhan-pembunuhan itu. Aku jamin."


"Apakah benar ada yang terbunuh ketika aku sedang menjalani perawatan klinis di klinik psikiatri?"


"Itu kan tahanan yang akan melarikan diri. Wajar aja kalau ditembak di tempat oleh petugas."


"Kau bilang ada lima orang yang akan membunuhku. Semua kan jadi lima?"

__ADS_1


"Kau dengar berita itu dari siapa sih?"


"Hampir semua penghuni rutan mengetahuinya."


"Jangan banyak berpikir. Nanti kau sakit lagi."


"Mereka menghantuiku."


"Kau dihantui pikiranmu sendiri."


"Terserahlah. Aku merasa sangat tegang dengan semua pembunuhan itu."


"Jangan lupa minum obatmu. Kau sepertinya belum bisa melepaskan obatmu."


"Aku memang harus minum obat setiap aku gagal mengatasi kecemasanku. Ketakutan juga ketidakstabilan emosiku."


"Aku membawakan kau ini."


Dylan mengangsurkan bubur ayam dan es teh leci.


"Kau bikin sendiri?"


"Aku tidak sempat dan membuat bubur juga tidak sebentar. Aku juga tidak yakin apakah rasanya bisa seenak yang dijual abang-abang."


"Yeah. Bubur ayam paling enak yang dijual abang-abang."


"Aku senang kau  menyukainya."


"Bubur ini sangat lezat. Es teh lecinya sangat nikmat."


Dylan tertawa melihat mimik wajah Sinta.


"Terkadang kau seperti bocah SD."


"Benarkah? Mengapa begitu?"


"Aku juga tidak tahu. Kalau bukan karena masa kecilmu terlalu bahagia atau sebaliknya?"


"I am agree with you."


"Apakah Dean menanyakan keadaanku?"


Dylan memandang Sinta dengan takjub.


"Kau kenapa sih?" Sahut Sinta dengan wajah memerah.


"Kau lihat saja sendiri wajahmu. Seperti kepiting rebus? Kau sendiri sepertinya juga mulai berubah."


"Masak?"


"Entahlah! Menurutku seperti itu. Kau seperti abg!"


Wajah Sinta merah padam dan Dylan kembali tergelak.


"Not funny!"


"Yes, it is!"


"No, it isn't."


"Yes, it is!"


"No, it isn't."


"Yes, it is!"


"No…."

__ADS_1


"Kalian berdua kenapa sih?" 


Dean muncul tiba-tiba.


"Kau darimana?" Tanya Sinta.


"Dari mata turun ke hati!"


"Gak lucu!"


"Lucu dong!"


"Ih! Maksa!"


"Bodo amat!"


Dean memberikan sekotak coklat kesukaan Sinta. Sebuket bunga yang sangat indah. Dia juga membawakan kue dan juga makanan.


"Aku tidak bisa memakan ini semua. Ini saja belum habis." Sinta menyendok bubur ayamnya.


"Simpan saja buat makan siang atau sore."


"Aku memang agak bosan makanan di penjara."


"Wajar!"


"Terima kasih, kalian sudah repot membawakan makanan untukku."


"Apakah Dylan sudah mengatakan rencananya padamu?"


"Helena?"


"Iya."


"Kupikir rencananya bagus."


"Tapi itu artinya kau belum bisa keluar dari sini. Apakah kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa."


"Bagaimana keadaanmu?"


"Aku masih melakukan terapi psikiatri."


"Kau masih mengalami gangguan kecemasan, tidur dan makan?"


"Aku tidak tahu bisa menanggung ini semua atau tidak."


"Kalau semuanya selesai. Tinggalkan karirmu."


"Bagaimana dengan orang tuamu? Perusahaan-perusahaan orang tuamu?"


"Aku anak lelaki mereka dan tidak ada hubungannya denganmu."


"Siapa yang akan melindungi perusahaan ayahmu? Kau ingin merangkap menjadi pejabat dan pengusaha sekaligus?"


"Kau tahu tidak bisa merangkap menjadi pejabat dan pengusaha. Aku akan berkosentrasi pada perusahaan. Kau tidak usah memikirkan semuanya."


"Kita lihat saja nanti. Karena semua berada di bawah kendali ayahmu."


"Apa maksudmu? Aku tidak bisa melindungi isteriku sendiri?" 


Dean memandang wajah Sinta dengan gundah.


"Ayahmu yang mengatur semuanya. Kau menikah denganku juga karena ayahmu. Kau tidak bisa berbuat apapun. Apalagi sekarang ini? Dengan pelindung aja, perusahaan ayahmu masih guncang apalagi jika tidak ada pelindung?"


Mata Dean menyorotkan sinar putus asa. Dylan menepuk bahu Dean.

__ADS_1


"Tenang, bro! Jangan banyak berpikir. Sekarang ini kita fokus memenangkan kasus ini dan memenjarakan mereka yang memang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini!"


"Ya, kau benar!"


__ADS_2