MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 10


__ADS_3

Ku biarkan saja ponsel yang berdering, namun Rayi tetap tidak sabar dan ingin menjawab. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi Rayi yang terus mencoba merebut ponselku. Akhirnya aku putuskan untuk menonaktifkan ponselku daripada aku mendapat panggilan dari penelpon gelap yang entah apa maksud dan tujuannya.


"Suarane empuk lho, Kas." kata Rayi sambil mencolek daguku.


"Suara bisa menipu, Ra." kataku mencoba mengelak.


Rayi terus merayuku untuk mengaktifkan ponsel kembali. Terang saja aku menolak permintaannya. Untuk apa berbicara dengan orang yang tidak kita kenal.


"Tapi dia kenal kamu Kas, buktinya dia tahu tadi yang angkat telpon bukan kamu, berarti dia hafal suaramu," kata Rayi terus berusaha karena dia sangat penasaran.


"Tapi aku nggak kenal dia," kataku tegas sambil melotot ke arah Rayi.


"Ya kamu kan belum tahu, siapa tahu kamu sebenarnya kenal tapi dia menghubungi kamu pakai nomer baru, iyo ora?" kata Rayi terus ngotot.


"Udah ah, aku mau tidur. Kamu mau pulang atau nginep sini?" kataku sambil berdiri dan berjalan menuju kamar.


"Piye toh Kasino ki," kata Rayi dengan muka masam.


Aku tertawa di dalam kamar. Memang Rayi selalu memanggilku Kasino saat dia sebal padaku. Walaupun aku terlihat acuh, namun aku tetap memikirkan kata-kata Rayi. Apa mungkin seperti yang dikatakan Rayi, mungkin saja di kenalan lama yang mengganti nomernya atau mungkin nomernya hilang saat aku mengganti ponsel.


Dengan hati yang deg-degan kunyalakan ponselku. Lama tidak ada reaksi apapun. Ku letakkan di atas nakas dan ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Ku coba memejamkan mata tapi otakku terus memikirkan penelpon gelap itu. Sampai saat ponselku berdering dan aku bergegas duduk lalu mengambilnya. Dia menelpon lagi. Ku atur napasku supaya aku terkesan santai.


"Halo," kataku pelan namun hatiku berteriak.


"Kas? Kamu baik-baik aja?" katanya dengan suaranya yang menggetarkan jiwa.


"Iya," jawabku singkat.


"Kamu bahagia hari ini?" tanyanya lagi.


"Iya," jawabku lagi hanya dengan satu kata.

__ADS_1


"OK, selamat malam Kasih, selamat tidur," katanya lalu mengakhiri panggilan telepon.


Aku mencoba menghubunginya kembali namun ternyata ponselnya sudah tidak aktif. Aku hanya ingin menanyakan siapa dirinya dan dari mana di mendapatkan nomerku, namun hasilnya nihil. Sial, siapa dia sebenarnya? Tiba-tiba datang memberi perhatian di saat aku sudah punya kekasih. Astaga, jangan sampai Awan tahu mengenai hal ini, segera ku hapus nomernya dan data panggilan.


[Selamat malam, Awan. Selamat tidur] langsung ku kirim chat ke Awan.


Tapi, kenapa aku menggunakan kata-kata yang sama dengan lelaki tadi? Ku acak-acak rambutku dan ku tepuk dahiku berulang kali. Serumit ini dunia kalau punya pacar, ku kira semua akan indah seperti di novel cinta. Hampir beberapa malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak hanya karena memikirkan kekasihku, padahal hubungan masih bisa menghitung hari.


...****************...


Terdengar cempreng suara Rayi sambil menggedor pintu kamarku. Ku lirik jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas siang. Entah jam berapa semalam aku bisa tertidur pulas. Dengan langkah malas kuseret kakiku ke arah pintu dan membuka sedikit agar bisa mengintip. Suara Rayi makin jelas terdengar.


"Rayi! Inikan hari Minggu," kataku berteriak kepadanya.


"Itu bukan alasan jam segini masih molor. Anak gadis kok kayak gitu," protes Rayi sambil mendorong paksa pintu kamarku.


Aku kembali berbaring di tempat tidur namun Rayi dengan sigap menarikku dan mendudukkan ku. Mataku rasanya masih lengket, sangat sulit untuk ku buka. Namun, tiba-tiba ponselku berdering dan dengan cepat ku ambil dari atas nakas. Penelpon gelap itu lagi. Cepat-cepat ku blokir nomernya supaya dia tidak menghubungi dan menerorku lagi.


"Nggak penting, ganggu!" jawabku sambil merebahkan badan lagi di atas tempat tidur.


"Temani jalan-jalan yuk," ajak Rayi sambil menarik-narik tanganku.


"Ke mana?" tanyaku dengan nada malas.


"Kamu ikut aja," katanya.


"Ya deh, aku mandi dulu siap-siap lumayan lama," jawabku sambil menggaruk-garuk tengkukku.


"Aku juga mau siap-siap, nanti kamu ke rumahku ya," kata Rayi penuh semangat dan berlalu pergi.


...****************...

__ADS_1


Siang ini sangat panas, kami mampir sebentar ke rumah makan Padang favorite Rayi. Dia sudah kelaparan, apalagi yang makan terakhirku hanya semangkuk mie instan bahkan skip sarapan padahal sekarang sudah hampir pukul dua sore. Ku nikmati setiap suap makanan yang masuk ke mulutku, sampai saat seseorang mengelus lembut rambutku. Spontan aku menepis tangan itu sambil menoleh.


"Awan?! Kok tahu kami di sini?" sapaku senang.


"Tadi lewat, terus lihat motornya Rayi," katanya sambil duduk di sampingku


"Jadi, Kasih nya mau dibawa ni?" tanya Rayi yang sudah selesai makan.


"Kamu izinin nggak?" tanyanya kepada Rayi.


Sangat mengejutkan saat Rayi protes ke Awan dan mengatakan pada Awan bahwa kemarin aku kelaparan karena seharian menemani Awan. Astaga, pahitnya lidah si Rayi. Awan lalu meminta maaf padaku, dan aku hanya mampu tertunduk. Ingin ku kucir bibirnya Rayi biar dia tidak asal bicara. Aku berusaha menyelesaikan makanku dan berharap Rayi tidak membicarakan mengenai penelpon gelap bisa-bisa jadi panjang ceritanya. Aku lalu mengajak Rayi melanjutkan perjalanan dan leganya karena Awan ada urusan yang harus diselesaikan sehingga dia tidak bisa ikut.


"Stress kamu ya bilang ke Awan kalau aku kelaparan," kataku sambil menoyor kepala Rayi saat kami sudah melaju di atas sepeda motor.


"Ya, biar dia tahu kalau kamu butuh makan," katanya santai tanpa rasa bersalah.


Rayi memarkirkan motor di basement sebuah mall yang menurutku sedikit sepi karena kalah megah dengan mall-mall yang baru. Ku ikuti saja ke mana Rayi melangkah tanpa banyak protes. Aku terlanjur badmood dengan mulut lancangnya dan sikapnya yang acuh tanpa mempedulikan kekhawatiranku.


"Kalau dia memang cinta dan peduli, harusnya bisa menerima kritik dan saran," katanya dengan lantang


Aku memilih diam, ocehan Rayi kadang menyebalkan namun jika dipikir lebih lanjut semuanya masuk akal. Sebenarnya tidak betah juga mogok bicara dengannya, tapi aku harus menahan diri supaya dia belajar menyaring kata-katanya. Sampai saat Rayi berlari menarikku dan menunjuk ke bawah ke arah lift. Tampak seorang pria memakai kaos putih, dengan celana taktikal pendek. Rambutnya dikucir namun yang tampak hanya punggungnya dan kami hanya dari kejauhan.


"Apaan sih?" tanyaku sambil berusaha melepaskan tanganku


"Genji Takiya, anaknya Pak Surya," katanya penuh semangat dan setengah histeris.


"Nggak kelihatan jelas," kataku sambil memincingkan mata berusaha fokus pada titik yang ditunjuk oleh Rayi.


"Yah...udah masuk lift," kata Rayi dengan nada kecewa.


Walaupun hanya tampak punggung tapi sepertinya aku pernah melihatnya tapi mungkin juga aku salah, mana mungkin aku bisa mengenali seseorang dari jarak jauh.

__ADS_1


__ADS_2