MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 44


__ADS_3

"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Awan saat aku menjawab telepon.


"Baru mau istirahat, ada apa Wan?" tanyaku berusaha menutupi rasa panik saat mendengar Awan masih memanggilku Sayang.


"Tadi Chloe minta nomor HP sama alamatmu aku kasih nggak apa-apa kan? Katanya mau ada yang penting," kata Awan santai.


Mungkin Awan tidak tahu, akibat perbuatannya itu dia sudah membuat kekacauan di kompleks perumahan ini. Dulu aku harus berhadapan dengan Pak RT dan warga karena Awan ribut dengan Arka, sekarang gara-gara Awan membawa Chloe ke sini, lagi-lagi aku harus berurusan dengan Pak RT dan warga dan dengan santainya di telepon dan memberitahu kabar itu.


"Lain kali kalau mau ngasih nomer ponsel atau alamat ke siapapun izin dulu ya," kataku tegas.


"Lho kenapa, Sayang?" tanyanya dengan sangat lembut.


"Kamu tanya aja sama Chloe. itupun kalau dia mau jujur," kataku kesal.


Harusnya aku segera menutup telepon ini, tapi entah mengapa hatiku terasa berat. Sampai seolah aku lupa kalau kisah cintaku dan Awan sudah selesai.


"Sayang, aku kangen," kata Awan setelah diam sejenak.


"Iya," hanya itu yang bisa ku katakan.


Dalam hatiku berbisik lirih, sebenarnya aku juga kangen pada Awan. Kangen perlakuannya yang manis padaku, kangen candaannya, kangen senyumnya, tapi semua ini harus ku kubur dan terpendam di dasar hati yang terdalam. Seperti tersadar segera ku tutup telepon dari Awan. Aku harus bisa ikhlas meninggalkannya dan menjalani jalan hidup yang ku pilih.


Ponselku berdering lagi dan ternyata itu dari Arka. Arka yang baik, namun entah mengapa rasanya cintaku sulit untuk jatuh padanya. Sampai saat ini aku masih belum bisa membayangkan pernikahan seperti apa yang akan aku jalani dengan Arka.


"Iya," jawabku


"Lumayan lama ya jawabnya, kamu sedang apa?" tanya Arka.


"Aku baru mau istirahat, ada apa Ka?" jawabku template seperti menjawab Awan tadi.


"Ya udah, selamat malam aja. Baik-baik ya Kas, kamu harus bahagia," kata Arka kemudian mengakhiri panggilan.


Aku malah menjadi penasaran, untuk apa dia menghubungiku. Apa iya hanya untuk mengucapkan pesan manis sebelum tidur? Ponselku malah bergetar.


[Maaf ya, sayang aku nggak tahu kalau Chloe akan bertindak seperti itu,] pesan yang masuk dari Awan.


[Wan, kamu lupa aku sebentar lagi menikah?] aku berusaha menekankan

__ADS_1


[Kamu keberatan dipanggil sayang?]balasnya paham arah pembicaraanku.


[Walau bagaimanapun aku harus menghargai Arka] balasku cepat.


[Apa hebatnya Arka, Kas?] pertanyaan selanjutnya.


Ku letakkan ponselku, aku memutuskan untuk tidak membalasnya. Tidak pantas mereka dibandingkan. Memang sulit melupakan Awan, namun Arka juga bukan orang yang membawa pengaruh buruk dalam hidupku. Selama ini dia sangat baik padaku, bahkan selalu mengerti aku.


...****************...


Pagi ini seperti biasa Arka mengantarku berangkat kerja. Rayi tidak ikut karena dia harus berangkat lebih awal untuk menyelesaikan proposal yang sempat tertunda.


"Nyari kepastian tentang Awan kali?" kata Arka saat aku bilang kalau semalam Chloe datang serta bikin keributan dan naksir sama dia.


"Apa perlu kita konferensi pers dengan mengumpulkan warga perum? Pak RT aja yang jadi moderator," kataku lumayan sebel saat Arka meragukan ceritaku.


"Kamu sama Chloe seleranya sama, makanya bentrok terus, Kas," kata Arka sambil tersenyum.


"Kamu tuh pasti jadi cowok kecentilan, tiap ketemu cewek semua ngakunya suka sama kamu," kataku masih dengan nada datar dan sebel.


Tidak ku jawab pertanyaannya karena harusnya di tahu jawabannya. Aku bersikap baik bukan karena aku suka padanya, lebih karena sikapnya yang sangat bersahabat. Selama bersama Arka, aku juga tidak punya masalah apapun dengannya. Tapi kalau dipikir-pikir, berat juga jadi ceweknya Arka, harus kuat dan tidak cemburuan. Arka juga menanggapi mereka dengan santai namun entah bagaimana caranya membuat para perempuan legowo untuk menerima kenyataan kalau Arka hanya menawarkan persahabatan, tidak lebih. Kecuali Chloe tentunya.


"Semalam Awan telepon," kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, lalu?" tanya Arka sangat santai.


"Dia bilang kangen," kataku sambil tertunduk


"Kamu pasti lebih kangen lagi sama dia," kata Arka seolah mengerti perasaanku.


"Kamu nggak papa aku masih berhubungan dengan Awan?" tanyaku ragu.


"Nggak lah, kalau kamu nyaman ya diterusin, kalau kamu merasa terganggu ya blokir aja nomornya," kata Arka lagi-lagi membuat semua keputusan ada di tanganku. Sama seperti saat memutuskan untuk menerima perjodohan ini.


"Sudah sampai ni, kamu mau dicium keningnya nggak?" tanya Arka yang lagi-lagi membuatku merasa aneh.


"Apaan sih, Ka?" kataku sambil melepas seatbelt dan membuka pintu.

__ADS_1


"Kali aja kamu pingin terlihat romantis," kata Arka sambil tersenyum menggodaku


"Baik-baik ya Kasih, kamu harus bahagia," kataku mendahului Arka dan dia tertawa sangat lepas.


Aku bertemu Bara dan kami berjalan berdampingan menuju gedung kami masing-masing. Ternyata kabar aku akan menikah sudah tersebar luas, cepat dan terpercaya. Ini pasti ulah Rayi. Bara lalu menyarankan ku untuk meminta izin ke HRD dan memberikan kepastian tentang cuti menikah. Bara juga memintaku untuk memutuskan apakah setelah menikah aku akan tetap bekerja atau resign. Hal yang belum pernah terpikirkan olehku, Dan untuk itu aku harus bertanya pada Arka. Walaupun aku tahu, dia pasti akan mengembalikan semua keputusan di tanganku seperti yang sudah-sudah. Mungkin setelah berbincang dengan Arka barulah aku menghadap HRD untuk ke keputusan depannya.


...****************...


Rayi harus lembur sehingga aku pulang sendirian di jemput Arka. Mungkin ini saat yang tepat untuk membahas rencana setelah menikah. Kebetulan Arka mengajakku ke rumahnya di pinggiran kota. Katanya dia ingin mengajakku masak bersama kemudian makan malam ala rumahan.


"Aku nggak bisa masak, menu andalanku hanya oseng kangkung," jawabku mencoba jujur.


"Nggak apa-apa, aku yang jadi master chefnya," kata Arka percaya diri.


Kami mampir sebentar ke swalayan untuk membeli bahan masakan. Arka memutuskan untuk memasak gurame asam manis. Masakan yang sebenarnya sederhana tapi selalu gagal untuk aku eksekusi.


Rumah Arka berada lumayan jauh di pinggiran kota dan sangat rapi untuk ukuran rumah seorang bujang. Ada dua kamar tidur di sini dan dapurnya juga minimalis. Hampir sama seperti rumah yang aku tempati.


"Mau mandi dulu nggak?" tanya Arka sambil menyiapkan peralatan untuk memasak.


"Boleh?" tanyaku.


Arka lalu membuka pintu kamar dan mempersilahkan aku masuk. Dia sudah menyiapkan baju ganti untukku yang sepertinya baru dibeli termasuk pakaian dalam. Apa dia tidak malu membeli pakaian dalam untukku? Ajaibnya ukurannya semua pas di badanku.


"Nanti kalau selesai mandi, terserah kamu mau ikut masak atau istirahat saja di kamar. Itu kamar kamu sekarang, kalau aku kamar sebelahnya," kata Arka.


Aku akhirnya memutuskan untuk di dapur walaupun akhirnya aku tidak berbuat apa-apa selain melihat Arka yang sangat cekatan di dapur. Ku akui aku malu pada diriku sendiri.


"Nggak masalah, cuplikan yang beredar di medsos mengatakan kalau wanita itu kodratnya menstruasi, melahirkan dan menyusui. Kalau pekerjaan IRT itu masalah skill dan pilihan," kata Arka membesarkan hatiku.


Aku lalu membantu Arka menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Sumpah, masakan Arka enak banget. Posisi masakan ibu dan Rayi bergeser di bawah Arka. Aku mengambil kesempatan ini untuk membahas rencana kami setelah menikah.


"Ka, setelah menikah kita tinggal di sini?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Maaf ya Kas, aku punya rencana lain. Untuk kali ini kamu ikuti keputusanku ya?" kata Arka setelah minum segelas air putih.


Semua meleset dari perkiraanku. Tapi apa rencana Arka? Kenapa dia tidak pernah membicarakannya sebelum aku memulai pembicaraan?

__ADS_1


__ADS_2