MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 55


__ADS_3

"Awan mau bicara sama kamu," kata Arka sambil menyerahkan ponselnya kepadaku dan aku menggelengkan kepala tanda menolak.


"Ayo, nggak apa-apa," kata Arka sambil terus menyodorkan ponselnya padaku.


Dengan berat hati ku terima ponsel dari tangan Arka dan menempelkannya di telingaku. Dengan menelan air liur terlebih dahulu aku berusaha membuka mulut padahal lidahku terasa kaku untuk berbicara.


"Iya?" kata yang mampu keluar dari mulutku.


"Nomorku kamu blokir?" tanya Awan pelan.


"Ya" jawabku singkat


"Kenapa?" tanya Awan menyelidiki.


"Ya jelas supaya kamu nggak bisa menghubungiku. Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku anggap urusan kita sudah selesai," kataku setelah berhasil mengumpulkan segenap keberanian.


Segera ku tutup akhiri panggilannya dan mengembalikan ponsel itu pada Arka. Hatiku rasanya luluh lantak. Aku duduk di ujung kasur lama termenung. Arka lalu membuka jendela dan membiarkan sinar matahari menyentuh wajahku.


"Ka, kita sudah sepakat untuk menjauhi Awan, lalu kenapa kamu membiarkan dia masih bisa menghubungi kita?" kataku menyalahkan Arka.


"Kas, aku sangat berharap aku masih bisa memperbaiki hubunganku dengannya." kata Arka yang kemudian berjongkok di depanku.


"Aku ingin sungguh-sungguh menjalani rumah tangga ini hanya denganmu walaupun mungkin aku akan butuh waktu. Jangan biarkan ada orang lain masuk dan menghancurkannya," kataku dengan mata yang pasti berkaca-kaca.


"Apapun itu yang bisa menenangkan hatimu, pasti akan aku usahakan," kata Arka.


Iya, inilah yang harus aku lakukan. Bapak pasti bangga kalau aku punya rumah tangga yang baik dan bahagia.


...****************...


Setelah lelah berkeliling, mencari pakan ternak, jalan-jalan di sawah, dan berbagai aktivitas yang melelahkan, aku dan Arka lalu memutuskan pulang ke rumahku, walaupun kami sudah sepakat untuk menginap di rumah Arka karena lebih nyaman dan kami bisa tidur terpisah. Dari kejauhan tampak mobil yang sangat asing di halaman rumah. Mungkin tamu atau kerabat dari jauh yang datang hanya untuk mengucapkan selamat untuk pernikahan kami.

__ADS_1


Betapa kagetnya aku saat memasuki ruang tamu. Ternyata tamu yang datang adalah Awan dan Chloe. Mengapa mereka masih saja mengusik kehidupanku yang sedang susah payah aku tata. Aku tidak peduli, ku biarkan Arka menemui mereka dan aku masuk ke dalam rumah. Memang terkesan tidak sopan tapi aku harus menunjukkan sikap bahwa kehadiran mereka tidak aku inginkan.


"Kasih, ada apa lagi ini nduk ? Kenapa Awan masih ke sini? Dan perempuan itu katanya punya hubungan sama Arka," kata ibu sambil menarik tanganku masuk ke kamar dan menginterogasi ku.


"Bu, Awan itu sahabatnya Arka, dan perempuan itu temannya Awan dan hanya rekan bisnis," kataku berusaha menjelaskan ke ibu yang sudah terlihat marah.


Lama aku menunggu di dalam kamar, berharap-harap cemas menunggu Arka segera masuk menemuiku. Gelisah terus menggangguku, sampai saat ponselku berdering dan tertera nama Arka di sana. Aneh-aneh aja dia, masak di lokasi yang sama harus menelpon.


"Kenapa telepon? Kamu ke sini dong," kataku saat menjawab telepon.


"Awan mau ketemu, kamu mau nemuin dia nggak?" tanya Arka.


"Ka, kita sudah bicara tentang ini kan?" jawabku tegas.


"Kamu udah dengar sendiri kan, ndan?" kata Arka dan ternyata ponselnya diloudspeaker sehingga semua bisa mendengarkan pembicaraan kami.


"Kas, aku mohon, aku yakin kita bisa bersama lagi," kata Awan dan ku putuskan untuk mengakhiri panggilan.


Agak lama barulah Arka menyusulku ke kamar. Kata Arka ibu sudah menjelaskan semua pada Awan dan memintanya untuk pulang dan tidak perlu lagi mengganggu rumah tangga kami.


Aku memilih untuk diam dan tidak lagi menanggapi pembicaraan Arka yang seolah menyerahkan ku begitu saja pada Awan. Mana mungkin aku mau menemui Awan, aku khawatir saat bertemu dengannya, kerinduanku memecah dan aku akan luluh lagi padanya. Cintaku padanya yang berusaha ku kubur akan bangkit lagi. Jangan sampai ini terjadi karena saat ini aku adalah istri dan dari Arka.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi untuk menemui Awan. Mulai hari ini akulah satu-satunya lelaki yang berhak mencintai dan memilikimu," kata Arka terdengar sangat bersungguh-sungguh dan sangat dari hati. Aku juga akan berusaha untuk menghormati dan membuka hati untuknya. Aku berusaha komitmen dengan diriku sendiri. Semua ini keputusanku untuk menikahinya dan akulah yang harus bertanggungjawab atas kelangsungan rumah tangga ini


...****************...


Baru dua minggu usia pernikahanku, kami memutuskan tinggal di rumah Arka dan masih tidur di kamar terpisah. Sampai kapan? Arka membebaskanku sampai aku nyaman untuk tidur bersamanya. Kami masih di kota ini karena ada beberapa hal yang harus dibereskan sebelum kami pindah. Aku sudah tidak bekerja lagi sehingga aku bisa ikut kemanapun Arka pergi.


Arka mengajakku mampir ke sebuah apartemen


yang berada di tengah kota yang ternyata adalah miliknya. Di sini ada beberapa setelan jas dan pakaian yang dipakai oleh para eksekutif muda. Ternyata Arka ke sini hanya untuk berganti pakaian. Dia terlihat memakai setelan jas berwarna merah marun dan memintaku memakaikan dasi dengan warna senada. Ketampanannya semakin naik level, malah seperti mafia yang cool yang ada di film Hollywood dan kami segera menuju ke kantor.

__ADS_1


Arka ternyata sangat berbeda saat berada di kantor. Arka cenderung memiliki karakter dingin dan cuek serta cenderung acuh jika diajak berkomunikasi namun terlihat sangat berwibawa. Arka terus menggenggam tanganku dan berada sangat dekat denganku. Bahkan semua karyawan yang berada di dalam lift terlihat menunduk dan tidak ada satupun yang berani menyapanya. Namun bisa ku pastikan, semua mata melirik ke arahku. Pasti dalam hati kecil mereka mencemooh ku, bagaimana mungkin boss yang mereka sanjung menggandeng tangan seorang perempuan seperti gembel yang hanya memakai kaos oblong, rok denim selutut dan sandal jepit yang sudah tampak usang. Seketika nyaliku menciut.


"Ka, kayaknya aku saltum deh," kataku setelah semua keluar dari lift dan hanya ada kami berdua.


"Kenapa? kamu mau pakai seragam karyawan?" tanya Arka terkekeh sambil memencet hidungku dengan telunjuknya.


"Ya nggak, maksudku kamu rapi begitu, aku kayak gembel begini," kataku berusaha menjelaskan.


"Memangnya kamu gembel?" tanya Arka lagi.


"Nggak juga," jawabku namun belum sempat aku membeberkan isi kepalaku, pintu lift sudah terbuka.


Tangan Arka yang masih menggandengku dan kami masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar dengan sofa sudut dan sebuah meja yang sangat besar serta filling cabinet yang berisi banyak file.


"Kamu duduk di sini ya," dan akupun duduk di sofa.


Arka lalu duduk di kursinya yang besar dibalik meja yang juga besar. Sumpah, dia terlihat sangat gagah.


"Anterin kopi untuk istri saya," kata Arka menelpon seseorang dan tidak lama kemudian seorang OB berseragam biru muda masuk dan meletakkan secangkir kopi di depanku.


"Seragamnya itu aku yang desain lho," kataku dengan bangga dan di Arka hanya tersenyum karena dia tampak sangat serius dengan laptopnya.


Tidak lama kemudian telepon di meja Arka berdering lagi dan Arka seperti meminta tamunya untuk masuk dan terkejutnya aku karena ternyata yang datang adalah Awan dan ibunya.


"Maaf Kas, karena terkesan aku menjebakku. Tapi kalau nggak begini, masalah ini tidak ada bisa selesai," bisik Arka ketika dia sudah duduk sangat dekat denganku.


Awan dan ibunya lalu duduk di depanku. Dengan sangat antusias Awan menyampaikan keinginannya untuk memintaku kembali padanya, dia berharap aku dan Arka bisa berpisah tanpa memikirkan perasaan Arka.


"Aku yang menginginkan pernikahan ini jadi tidak bisa dipermainkan seperti itu, walaupun aku mencintaimu, tapi menjadi istri Arka adalah keputusanku. Jadi tolong, aku mohon kamu bisa menghargai dan menghormati itu," kataku sangat-sangat tegas dan dengan berani menatap ke mata Awan.


Awan seperti terpana mendengar kata-kataku tadi. Dia seperti kehabisan kata. Ibunya lalu membujuknya untuk bisa merelakan ku. Akhirnya Awan benar-benar pergi tanpa kata dan herannya aku sangat tegar, tidak ada setetes air mataku jatuh. Rasanya sangat lega dan tidak ada penyesalan. Arka kemudian mendekatiku, berjongkok di depanku sambil memegang kedua tanganku.

__ADS_1


"Semua urusan sudah selesai, kita udah bisa mulai siap-siap untuk pindah dan benar-benar memulai hidup baru," kata Arka dengan lembut.


Akan seperti apa hidup yang akan ku jalani, aku harus mempersiapkan segala sesuatu dan berharap semua akan baik-baik saja.


__ADS_2