
Aku melaporkan pada Arka apa yang ku dengar. Arka malah tertawa mendengar penuturan ku tentang Mbok Welas. Baru aku tahu kalau Mbok Welas ternyata sangat berjasa dalam keluarga ini. Saat masih muda dan berkelana serta belum memiliki apa-apa, Mbok Welas yang merawat dan mengurus Pak Surya dengan memberi makanan, pakaian dan tempat tinggal gratis. Sebenarnya Mbok Welas melakukan semua itu tanpa pamrih. Dia hanya berempati karena anak sulungnya juga merantau dan berharap ada orang baik yang akan melakukan hal yang sama pada anaknya. Sebenarnya Mbok Welas bukanlah pembantu, lebih tepatnya dia memilih menjadi ibu rumah tangga di keluarga Pak Surya. Saat Pak Surya sudah sukses dan mengajaknya tinggal di rumahnya, Mbok Welas menolak untuk menikmati semua dengan cuma-cuma dan Mbok Welas memilih untuk mengasuh Aditya, kakaknya Arka dan juga Arka. Itulah kenapa Arka sangat manja pada Mbok Welas karena Mbok Welas sudah seperti neneknya sendiri. Mbok Welas yang luar biasa berhati mulia itu tiba-tiba muncul di depan pintu sambil celingukan seperti biasa dan dengan cepat melangkah mendekati kami.
"Si Lopi mau tinggal di sini terus, katanya mau bantuin kerjaan Dik Arka dari rumah" kata Mbok Welas setengah berbisik.
"Bukannya dia harus magang di kantor ya Mbok?" balasku juga ikut berbisik.
"Pasti dia ke sini mau gangguin Dik Arka. Kalian buruan aja sekarang pindah ke Patemen, tapi jangan sampai Lopi tau," saran Mbok Welas yang langsung diiyakan oleh Arka.
"Mbok, masak kami ninggalin mama papa?" tolakku merasa tidak enak dengan mertuaku.
"Udah serahkan itu sama Mbok Welas. Kalian langsung aja ngojek terus nyepur, ada kereta malam jalan setengah jam lagi," kata Mbok Welas.
Seperti maling di rumah sendiri, aku dan Arka lalu mengendap-endap lewat pintu belakang supaya tidak ketahuan siapapun. Mbok Welas yang memastikan bahwa kami aman. Mbok Welas juga berjanji akan mengabari kami kalau Lovely menyusul le kota sehingga kami bisa kembali pulang. Aku merasa lega karena ada Mbok Welas yang sangat membantuku menjauhkan seorang Lovely dari rumah tanggaku. Hatiku tertawa puas, Mbok Welas memang luar biasa. Lucu memang membayangkan betapa kecewanya Lovely saat rencananya berantakan. Dia nggak tahu sih siapa backingan ku, jangan harap Lovely bisa begitu saja mengambil Arka dariku. Perlu juga dia ketahui kalau aku menikah dengan Arka karena keinginan keluarga Arka, jadi nggak mungkin mereka akan membiarkan rumah tangga kami berantakan. Ada banyak yang siap berjuang untuk kami.
"Mas, tapi aku kan nggak punya baju ganti di apartemen, terus skincare ku gimana?" keluhku pada Arka saat kami sudah duduk di kereta.
"Nanti kita beli. Lagian sejak kapan sih kamu gelisah karena skincare," tanya Arka karena aku memang cenderung malas merawat kulit wajah.
"Sejak lihat si Lovely yang glowing, aku harus bisa glowing, shining, shimmering, splendid," kataku menggebu-gebu.
__ADS_1
"Kamu iri sama Lovely?" tanya Arka sambil mencolek hidungku.
"Nggak, jaga-jaga aja. Biar Lovely tau siapa yang dia ajak bersaing," kataku bangga.
"Ya bolehlah, apapun itu dan bagaimanapun bagiku kamu tetap jadi pemenang," kata Arka dan itu sangat menghibur serta menyemangati ku.
Kami mampir ke kantor sebentar untuk mengambil mobil supaya mudah bagi kami untuk bepergian. Arka mengajakku ke mall mewah untuk membeli pakaian tapi aku menolak, aku lebih suka membeli di toko langgananku, harga murah meriah tapi modelnya nggak norak. Pakaian itu tidak tergantung harga, tapi tergantung siapa yang memakainya. Pakaian itu seperti jodoh, akan terlihat cocok jika memang pas dengan tubuh kita. Ponselku berdering dan ternyata itu dari Mbok Welas.
"Sudah sampai nduk? " tanya Mbok Welas sambil berbisik.
"Sudah, ini baru belanja. Aku nggak bawa baju ganti," jawabku santai
"Mbok Welas bilang apa yank?" tanya Arka sambil membolak balik bra di depannya.
"Ya bilang aja kalau Lovely nungguin mas pulang, terus ditutup," kataku dan mulai risih melihat Arka berada di bagian pakaian dalam wanita
"Masak begitu saja?" tanya Arka dan kali ini dia mulai gila karena mencoba bra yang tadi dipegangnya.
"Mas kamu ngapain sih?" kataku sambil menepis tangan Arka.
__ADS_1
"Nyoba aja, kalau nyaman aku mau beli," kata Arka sambil cengengesan.
Ku tinggalkan saja Arka sendiri di sana. Malu aku sama kelakuannya yang menurutku masuk kategori cabul. Tapi dalam hati aku tertawa juga dengan keisengannya. Segera saja kami selesaikan acara berbelanja karena toko sudah akan tutup. Dengan badan lelah, kami akhirnya sampai di Apartemen. Rasanya lega banget bertemu kasur karena badanku rasanya seperti digebukin.
"Mandi dulu yank biar tidurnya nyaman," kata Arka dan dengan berat hati aku menurutinya.
Selesai mandi aku mendengar Arka berbicara. Aku berusaha menguping dan mengintip karena ternyata Arka sedang berbicara di telepon. Hanya terdengar kata 'iya' dan 'OK' dengan siapa Arka bertelepon ya. Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Arka.
"Papa," jawab Arka dengan muka tegang.
"Kenapa mas? Papa marah ya?" tanyaku dengan muka yang ikutan tegang
"Ya, nggak marah cuma kecewa kita ninggalin Lovely begitu saja," kata Arka kemudian duduk di sisi tempat tidur.
"Terus? Kita pulang?" kataku berhati-hati karena khawatir Arka tersinggung.
"Nggak, aku juga nggak bilang ke papa kita di sini. Aku cuma bilang kalau nggak nyaman serumah dengan Lovely, itu aja," kata Arka.
Arka lalu mengajakku tidur karena akhir-akhir ini dia memang sulit tidur kalau tidak memelukku. Entah itu benar atau hanya akal-akalan Arka saja. Lampu tidur dinyalakan dan sudah terdengar dengkuran halus dari Arka. Irama penghantar tidur yang sangat familiar di telingaku. Aku mencoba memejamkan mata tapi kantuk tak juga menghampiriku. Sejuta tanya bermunculan di otakku. Kenapa Pak Surya terkesan lebih membela Lovely? Lalu kenapa dulu Pak Surya menjodohkan ku dengan Arka kalau akhirnya keberadaan Lovely dibiarkan saja mengganggu rumah tangga kami? Kalau memang Pak Surya lebih membela Lovely, kenapa dulu Arka tidak dijodohkan saja dengan Lovely? Harusnya keluarga mereka sudah lama mengenal Lovely karena bahkan Mbok Welas sekalipun mengenali Lovely. Lalu apakah Pak Surya dan Arka akan bertengkar karena aku dan Arka justru seperti bermain petak umpet dengan Lovely? Ahh. bahkan aku baru berbicara dengannya beberapa kata tapi kenapa rasanya dia sudah meracuni hidupku?
__ADS_1