
Pagi-pagi Arka sudah rapi karena harus berangkat ke kantor. Mungkin karena telepon dari Pak Surya semalam dan sepertinya itu sangat penting. Tapi Arka tidak mengatakan apapun padaku karena menurutnya dia sendiri belum jelas apa yang ingin dibahas Pak Surya. Arka mengajakku untuk ikut namun aku menolak, aku sudah ada janji dengan Keysha siang ini dan aku juga masih ingin mengurus Rayi yang masih penuh luka dan agak sulit berjalan. Hari ini seperti kemarin kami akan menjalankan aktivitas kami masing-masing.
Matahari sudah lumayan tinggi saat aku dan Rayi sampai di rumah sakit untuk sekedar check up. Seharusnya tinggal pemulihan saja tapi Rayi saja yang menurutku terlalu berlebihan. Dan benar saja, dokter mengatakan kalau Rayi baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya tinggal menunggu masa pemulihan saja. Saat keluar dari ruang poliklinik, dari kejauhan aku bisa melihat Arka berada di rumah sakit dan baru masuk ke dalam lift. Aku tidak sempat mengikutinya karena pintu lift sudah tertutup.
"telponen to Kasino," kata Rayi gemes melihat tingkahku yang kebingungan.
Arka akhirnya menjawab panggilanku dan dia mengaku kalau dia berada di rumah sakit ini. Karena ingin menemui temannya yang kebetulan seorang dokter di sini sekaligus cek up kesehatan. Arka berjanji jika ada kesempatan dia akan memperkenalkanku dengan dokter itu.
"Nggak harus nunggu sakit untuk ke dokter, kadang kita merasa baik-baik aja tapi nyatanya kita perlu pertolongan medis walau ringan," kata Dokter Raphael saat kami berkenalan.
"Gitu ya dok? Contohnya?" tanyaku mencoba menyelidiki.
"Contohnya kamu, harus ke dokter SPOG, untuk cek kandungan, kalau kamu sehat dan subur, berarti gantian Arka yang cek kesuburan. Katanya baru promil?" kata dokter Raphael sambil tersenyum.
Aku lalu memandangi Arka sambil tersenyum. Tapi kenapa dia tidak membicarakan hal itu padaku?Setidaknya kami bisa pergi bersama-sama. Dokter Raphael kemudian merekomendasikan dokter kandungan yang menurutnya terbaik namun bekerja di rumah sakit ibu dan anak. Karena sudah ada pasien yang menunggu. Arka kemudian pamit untuk kembali ke kantor dan berjanji akan mendiskusikannya dengan ku malam ini.
__ADS_1
"Titip Kasih ya Ra, jangan dinakali," kata Arka sambil mengecup keningku.
"Arka adalah suami impian semua wanita, baik, pengertian, tidak menuntut, menghargai, mengayomi ,mencintai dan sangat menjujung tinggi harkat martabat istrinya ,kamu wanita paling beruntung Kas," kata Rayi sambil terus menatap punggung Arka yang semakin hilang dari pandangan
...****************...
"Kamu ngapain di sini? Oh jadi pelayan yah?" congkak suara Chloe mampir di telingaku saat aku dan Keysha merayakan dealnya order pertamaku di butik Keysha.
"Hai, Chloe. Kamu kenapa Kasih?" sambut Keysha dan aku tahu dia berpura-pura ramah.
"Oh, jadi kamu tunangan sama Awan? syukurlah, jadi nggak ada yang ganggu-ganggu rumah tanggaku," kataku merasa di atas angin.
Tapi entah mengapa rasanya tidak terima saat tahu Awan akan bertunangan dengan perempuan lain. Hatiku berteriak emosiku bergejolak namun nalarku menenangkanku supaya aku bisa menerima kenyataan. Bukankan saat ini hidupku sudah bahagia dan aku baik-baik saja bersama Arka? Jangan sampai masa lalu kembali untuk merusak masa depan yang harusnya lebih indah. Aku pasti bisa melupakan Awan dan lebih fokus pada Arka. Jangan sampai hatiku goyah karena kabar ini. Karena melihat reaksiku yang tidak nyaman, Keysha bergegas mengajak Chloe untuk melihat model yang menarik untuknya.
Di saat bersamaan, Lovely mengirimiku foto baju princess untuk pementasannya. Lovely terlihat anggun sekaligus manis memakai baju yang berwarna Salem dengan kombinasi pink muda itu. Aku sendiri tidak menyangka, desainku bisa sebagus itu saat dikerjakan oleh Mbak Maura dan Lovely. Keysha mendekatiku dan penasaran lalu aku menunjukkan itu padanya.
__ADS_1
"Wow, ini bagus banget Kas, kenapa baru kamu tunjukkan ke aku sekarang?" raut kagum tampak di wajah Keysha.
"Aku hanya iseng bikinin untuk Lovely buat pentas teater gitu," aku menjelaskan pada Keysha.
"Iseng? Bagus begini hanya iseng?" kata Keysha terheran-heran.
Chloe kemudian mendekati kami dan sangat menginginkan model baju seperti itu untuk wedding dress nya namun dengan warna putih tulang. Aku menyarankan untuk mengganti model payetnya supaya terlihat berbeda. Tapi Chloe bersikeras untuk membuat yang sama persis seperti itu hanya berbeda warna meski aku sangat keberatan. Chloe merayu Keysha agar membantunya.
"Desain ini punya Kasih, jadi terserah dia," kata Keysha sambil tersenyum
"Ya kan tapi ini di butikmu," Chloe tetap berusaha supaya kami memenuhi permintaannya.
"Tapi mungkin ada baiknya dibuat berbeda jadi kamu terlihat unik, tidak dikatai plagiat," Keysha tetap merayu.
Akhirnya Chloe setuju juga untuk memodifikasi di beberapa bagian supaya terlihat berbeda. Dan yang membuat aku dan Keysha saling pandang dan menahan tawa adalah karena setelah perdebatan panjang, Chloe belum pasti kapan dia akan menikah, bahkan pertunangannya pun belum ditentukan tanggalnya. Lalu untuk apa dia ngotot seperti itu? Tapi ya, demi menghargai dia sebagai calon customer, kamu berusaha bersikap baik padanya. Tidak lama kemudian, Sophie masuk dengan muka tegang. Tiba-tiba penasaran muncul di kepalaku, kenapa Awan tidak memilih bertunangan dengan Sophie saja yang jelas lebih baik daripada Chloe, walaupun secara penampilan Chloe lebih unggul tapi Sophie juga cantik kok. Mungkin karena penampilannya lebih sederhana, tidak dandan maksimal seperti Chloe.
__ADS_1
Namun yang membuat hatiku berdetak kencang adalah tidak lama setelah Sophie masuk, Awan menyusul di belakangnya. Kenapa aku begini? Harusnya semua rasa untuk Awan sudah hilang. Bagaimana aku harus bersikap untuk menghadapinya? Kenapa dia datang lagi.