MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 19


__ADS_3

Aku dan Rayi merasa hari ini sia-sia, aku sudah mulai putus asa namun Rayi masih sangat bersemangat. Namun di mataku terekam baik model motor yang dipakai dan plat nomornya. Terasa sangat lelah aku dan Rayi berusaha mengatur strategi selanjutnya. Namun kami sudah kehabisan ide. Mungkin akan melibatkan Pakde Marto lagi. Tapi entahlah. Kedatangan Awan yang tiba-tiba membuatkan aku dan Rayi sedikit panik. Awan tidak boleh tahu apa yang sedang kami lakukan.


"Kalian tadi nggak kerja?" tanya Awan lalu duduk di sampingku.


"Nggak, Kasih nggak bisa fokus banyak pikiran jadi kami healing tapi tetap pening," jawab Rayi yang disambut Awan dengan tawa.


"Memangnya ke mana?" tanya menyisakan tawa.


"Ke pasar,"


"Hah? ngapain ke pasar?" tanya Awan keheranan.


"Survei harga cabe," kataku asal. Jika dibiarkan Rayi bicara tersebut, bisa saja dia keceplosan.


Untung saja Awan menganggap semua hanya candaan. Jika tidak bisa panjang ceritanya. Awan mengajak kami untuk pergi makan malam namun Rayi menolaknya. Katanya dia lebih memilih pulang dan jajan sate Madura daripada mengganggu orang pacaran. Aku setuju saja asalkan kami makan di tempat yang tidak terlalu mewah. Akhirnya Awan mengajakku makan di food court mall dan tentu saja aku sudah membayangkan nasi goreng seafood kesukaanku.


Kami parkir di basement dan harus melewati parkiran sepeda motor untuk masuk ke dalam mall. Spontan aku berhenti di salah satu motor sport yang plat nomornya sudah aku hafalkan. Ini milik lelaki itu, dan helm fullface yang menyembunyikan wajahnya tentu saja aku sangat mengingatnya.


"Ada apa sayang?" tanya Awan sambil menggandeng tanganku.


"Ehm, motornya bagus." kataku berbohong.


Kami lalu melanjutkan perjalanan kami. Foodcourt tidak terlalu ramai, mungkin karena hari biasa jadi aku bisa santai menikmati makan malam. Sesuai impianku, aku memesan nasi goreng seafood dan segelas es teh manis sedangkan Awan memesan chicken teriyaki.


"Sayang, are you OK?" tanya Awan saat kami sedang makan


"Iya, kenapa?" tanyaku sambil melihat diriku sendiri kalau-kalau ada yang aneh dariku.

__ADS_1


"Aku perhatiin dari tadi kamu sering bengong, lagi mikirin apa?" tanya Awan dengan tatapan teduhnya.


"Ya, kalau boleh jujur, aku butuh bahu untuk bersandar dan telinga yang mau mendengarkan. Banyak keluh kesah yang aku tumpuk dan rasanya sudah terlalu penuh," kataku mencoba jujur.


"Kan ada aku," kata Awan menawarkan diri.


Aku bersyukur punya kekasih yang baik seperti Awan, namun kenapa jalan cinta kami tidak semulus kisah dongeng, saat pangeran menemukan tuan putrinya, menikah and they live happily ever after.


"Aku rindu bapak," kataku dari hati yang terdalam.


"Ya kamu pulang dong," saran Awan.


"Aku takut bapak marah," kataku dengan mata yang mulai berembun.


"Nanti aku anterin," kata Awan.


"Aku takut ayah semakin marah dan membencimu," balasku dan setetes air mulai turun dari ujung mataku.


"Kalau kamu sudah siap pulang ke desa, bilang ke aku, kita hadapi semua bersama," kata Awan yang menenangkanku.


Selesai makan kami langsung pulang, awalnya Awan menawariku untuk jalan-jalan namun aku menolak dengan alasan aku ingin pulang dan istirahat. Saat berjalan melewati parkiran, sepeda motor milik lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, jika aku berhasil mengungkap identitas lelaki itu, lalu apa yang akan aku lakukan selanjutnya?


...****************...


Aku sudah memakai kostum favoritku, daster! Pakaian ternyaman untuk tidur dan bersantai. Ngantuk belum terlalu aku rasakan. Aku mengambil ponselku, ingin rasanya menghubungi bapak dan menjelaskan semuanya. Tapi, apa bapak mau mendengarkanku? Penasaran mengenai lelaki itu masih menyelimutiku. Apa yang dia lakukan di mall tadi? Apa dia di sana untuk memata-mataiku? Lalu kenapa saat aku bersama Pakde Marto, dia malah menghindari kami dan hanya melambaikan tangannya? Apa dia bersedia menikahiku demi orangtuanya? Atau mungkin perjodohan ini memanglah keinginannya sendiri? Pertanyaan demi pertanyaan melintas di benakku tentang dia yang tidak pernah ku bayangkan kehadirannya yang bahkan saat ini bayangannya pun tidak aku ketahui.


Ponselku berdering dan itu adalah panggilan dari lelaki itu. Aku sudah pasrah dan lelah berlari dan kucing-kucingan, segera saja ku jawab teleponnya. 

__ADS_1


"Kamu nggak perlu mencariku, jika ternyata memang aku masa depanmu, kita pasti akan bertemu. Namun, jika takdir membawamu pada kekasihmu, aku pasti ikut bahagia," katanya saat aku menjawab telpon tapi tidak berniat bicara apapun.


"Iya, aku hanya, entahlah mengapa aku ingin menemuimu," kataku membuka mulutku.


"Kita sama-sama terjebak dalam perjodohan ini, tapi semua tetap aku serahkan padamu. Aku tidak akan memaksamu menikahiku. Berjuanglah bersama kekasihmu untuk mendapatkan restu dari bapakmu," katanya lagi.


"Kenapa bisa begitu? Apa kamu juga sebenarnya tidak menyetujui perjodohan ini?" tanyaku seperti menemukan setitik pencerahan.


"Aku hanya ingin kamu hidup baik-baik dan selalu bahagia," kata-kata yang selalu diutarakannya dilontarkan lagi.


Begitu banyak yang ingin ku katakan padanya namun dia malah mengakhiri panggilannya dan kemudian menghilang lagi. Pembicaraan kami membuat aku semakin penasaran dengannya.


Apa yang itu maksudnya semua terserah padaku? Apa itu berarti jika aku menolak perjodohan ini, dia tidak akan mempermasalahkannya?


Aku harus bilang Awan dan menyampaikan keinginanku untuk pulang ke desa. Aku akan bicara ke bapak untuk mempertemukan ku dengan keluarga Mas Sur itu dan aku akan menyampaikan terus terang kepada Meraka bahwa aku menolak perjodohan ini. Aku punya Awan, dan saat ini hatiku telah siap untuk menikahinya. Aku tidak mungkin menikah denga orang asing yang memasrahkan semua keputusan padaku. Ini adalah keputusan final ku.


...****************...


Pagi ini aku izin lagi, saat ini aku sudah tidak peduli lagi dengan semua aturan tempat kerjaku. Pekerjaan bisa ku cari tapi ini menyangkut masa depanku yang harus aku perjuangkan. Aku sudah lelah menghindar dari masalah ini, saatnya aku menghadapi dan menyelesaikannya sampai tuntas.


Sesuai janjinya, Awan mengantarku pulang ke desa. Tentu saja dia juga ingin memperjuangkan masa depan kami. Dia juga ingin membuktikan kepada bapak kalau dia juga pantas untuk menjadi menantu bapak. Tidak pernah aku sesemangat ini sejak terakhir saya ak kembali dari desa. Benar kata Pakde Marto, menanyakan langsung ke bapak adalah jalan terbaik.


Akhirnya aku sampai juga di halaman rumah, namun rumah terlihat sangat ramai dan agak riuh. Segera aku turun dari mobil dan menerobos masuk. Ibu tampak menangis sambil memanggil-manggil bapak sedangkan Bude Rini berusaha menenangkan ibu dan Pakde Marto sibuk wira wiri dan terlihat panik.


"Ada apa Pakde?" tanyaku saat Pakde Marto lewat di depanku.


"Syukurlah nduk, kamu pulang. Bapakmu pingsan ini mau nyari kendaraan untuk bawa bapakmu ke puskesmas," ucap Pakde Marto dengan wajah tegang.

__ADS_1


"Biar saya yang anterin, Pak" Awan menawarkan bantuan.


Beberapa orang membopong bapak dan membawanya masuk ke dalam mobil. Aku pulang tepat waktu karena bisa menyelamatkan dan merawat bapak, namun aku harus menunda semua rencana yang sudah aku susun rapi. Aku tidak tahu lagi harus apa. Seolah takdir tak berpihak padaku.


__ADS_2