MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 98


__ADS_3

"Ngomongin aku ya?" kata Arka sudah berada di depan pintu.


"Iya, terus kenapa? Nggak suka? Baru seru juga, mas sudah nongol," kataku sambil berusaha mendorong Arka keluar dari ruang jahit.


"Kalau kalian ngobrol terus kapan bajunya jadi?" kata Arka sambil melingkarkan tangannya di pinggangku dan mencium pipiku dengan gemas.


Aku sedikit malu bermesraan di depan Lovely tapi sepertinya Lovely terlihat senang melihat kami seperti ini. Ekspresinya sama seperti saat Mbok Welas menonton sinetron dan bintang andalannya sedang bahagia. Ternyata kehadiran Arka diantara kami membuat suasana semakin hidup.


"Love,nanti kalau kami udah punya anak tolong jagain ya, sepertinya Kasih akan sangat repot ni, banyak pesanan," kata Arka yang disambut anggukan semangat dari Lovely.


"Ya terus kamu ngapain?" tanyaku


"Aku kan sok sibuk," jawab Arka sambil tertawa cengengesan.


Mbok Welas kemudian memanggil kami untuk makan. Hari ini menu khas ala desa, sayur lodeh nangka muda dan lauk tahu tempe yang masih hangat. Tidak lupa sambal tomatnya pasti. Arka tampak makan dengan lahap sampai menambah nasi. Usai makan kami membahas rencana kami untuk pulang ke desa demi menghadiri acara pernikahan Rinto-Rayi. Mbok Welas ingin ikut dengan alasan dia rindu untuk melihat suasa pedesaan dan bisik jangkrik di malam hari dan merdunya nyanyian kodok di saat hujan. Lovely juga ingin ikut karena seumur hidup dia belum pernah merasakan nyamannya tinggal di desa. Kamu setuju saja karena rumah di desa juga lumayan besar dan terdiri dari beberapa kamar. Hanya saja Arka tidak bisa menemani mereka berkeliling karena kami pasti akan sibuk ikut terlibat dalam urusan pernikahan itu.


...****************...


"Mas sungguhan mau Lovely bantu jagain anak kita?" tanyaku sebelum kami tidur.


"Kamu keberatan?" tanya Arka yang sudah memejamkan mata.

__ADS_1


"Nggak juga, tapi ya.. .. ..," kalimatku menggantung karena aku tidak tahu apa yang ingin aku katakan.


Mungkin Arka bisa membaca pikiranku, dia kemudian membuka diri bercerita saat dia pertama kali bertemu Lovely kecil. Arka yang anak bungsu dan terpaut jarak sembilan tahun dengan kakaknya dan selalu dimanja oleh orangtuanya harus rela mengalah dan berbagi dengan Lovely. Dia yang anak bungsu bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang kakak. Dari situ Arka mulai belajar bagaimana rasanya menyayangi seseorang tanpa pamrih apapun.


"Kalau sama kamu aku kan masih pamrih yank, berharap kamu membalas cintaku." kata Arka dengan mata menerawang.


"Kalau aku tidak membalas cintamu," pancingku


"Aku akan berusaha ikhlas walaupun pasti kecewa, sama saja aku menyakiti perasaanku sendiri," kata Arka kali ini menatap ke dalam mataku.


"Kalau sama Lovely?" tanyaku lagi.


"Berarti mencintaiku itu beban?" kataku lagi dan aku sadar ini memancing masalah.


"Kenapa malah begitu kesimpulannya?" kata Arka sambil menghela napas kasar sekali.


Aku kemudian diam tidak berani berkata apapun. Ini candaan terbodoh yang pernah aku lakukan. Ku lihat Arka mulai tidur padahal aku tahu dia hanya berpura-pura. Marah Kah dia karena ucapanku tadi?


...****************...


Sepanjang hari Arka berada di ruang kerja dan aku berusaha menyelesaikan baju untuk kami berdua. Tidak sedikitpun dia mampir untuk sekedar menggangguku seperti biasa. Lama kelamaan aku penasaran juga dan mencari Arka di ruang kerja namun zonk, dia tidak ada di sana. Aku menanyakan pada Mbok Welas yang juga tidak tahu ke mana Arka pergi. Mampus, Arka benar-benar marah, bahkan pergi tanpa pamit tidak seperti biasanya. Penyesalan memenuhi benakku, aku mencoba meneleponnya namun namun dia tidak menjawab panggilanku. Kepanikan mulai melanda diriku. Aku meminta tolong Lovely untuk meneleponnya tapi hasilnya sama saja, Arka tidak merespon. Sampai jam makan siang tiba, Arka tidak kunjung pulang. Kalau harus menyusulnya, kemana aku harus mencarinya.

__ADS_1


Aku kemudian masuk ke kamar untuk menenangkan diri dan ternyata ponsel Arka tergeletak di atas nakas. Aku membukanya dan tidak ada chat ataupun telepon penting yang bisa memberiku petunjuk tentang keberadaan Arka. Air mataku mulai mengalir di sela kepanikanku. Semarah apa Arka sampai dia pergi tanpa pamit seperti itu. Aku mulai mengoreksi diri, semua ini salahku, bisa-bisanya aku melukai hati Arka yang tidak pernah sedetikpun menyakitiku. Dia bahkan memenuhi hampir semua impianku.


Baru kusadari betapa sebenarnya Arka sangat berarti dalam hidupku. Kenapa aku sangat bimbang antara Awan dan Arka. Kenapa setelah sekian kebaikan Arka yang sangat berarti aku masih saja belum mengerti Arka sampai dia semarah ini. Aku meminta maaf pada Arka dalam tangisku yang ku tahu sangat tidak berarti. Mungkin banyak yang akan menghujat ku karena sudah sangat bodoh. Belum sehari Arka pergi, aku sudah sangat merindukannya. Cinta dari Arka adalah kenangan terindah bagiku. Aku diberi kesempatan untuk merasakan tulusnya cinta.


"Kamu kenapa yank?" suara yang ku rindukan terdengar saat pintu terbuka.


Aku kemudian berlari berhamburan ke arah pintu dan memeluk Arka yang tampak kebingungan. Aku kemudian memberitahu Arka betapa aku merindukannya dan bertanya ke mana saja dia seharian. Ternyata Arka berada di rumah menyiapkan tempat tinggal untuk Mas Aditya dan keluarganya yang akan tinggal di sini. Saat Pak Surya telepon malam hari dan pagi sekali Arka berangkat ke kantor, mereka membahas tentang kedatangan Mas Aditya. Mas Aditya dan keluarganya memutuskan untuk tinggal juga di sini karena memang dekat dengan villa dan resort pariwisata yang sedang mereka bangun. Kemungkinan ke depannya semua itu akan menjadi urusan Mas Aditya.


"Tapi aku sudah cari di semua sudut rumah mas," kataku merengek sambil mencubit perutnya.


"Di samping kolam koi ada pintu kecil yang modelnya kayak goa, di situ ada paviliun. Kamu nggak tahu ya yank?" tanya Arka keheranan


"Nggak," jawabku sedikit bengong.


"Ya, besok aku ajak ke sana ya," kata Arka sambil tersenyum dan menghapus air mataku.


"Ku kira mas emosi sampai ngambek gara-gara pembicaraan kita semalam," kataku dan menghela napas lega.


"Nggak dong, mana mungkin aku emosi sama kesayanganku," kata Arka sambil memelukku erat.


Arka berinisiatif membersihkan paviliun karena tidak tega meminta tolong Mbok Welas karena pada akhirnya kamilah yang akan tinggal di paviliun dan rumah induk akan ditempati oleh Mas Aditya dan keluarganya. Di Paviliun itu ada dua kamar dan rencana salah satu kamar akan digunakan untuk ruang jahitku. Aku menuruti saja semua yang dikatakan Arka karena biar bagaimanapun, ini rumah keluarga. Kemungkinan semua sudah dibahas oleh keluarganya. Tapi selama ini Arka juga tidak pernah bercerita tentang Mas Aditya kepadaku dan entah mengapa aku menangkap rasa tidak nyaman dari Arka atau perasaanku saja yang salah. Bukankah harusnya Arka merasa senang?

__ADS_1


__ADS_2