
Awan langsung berdiri dan mendekati Arka. Aku juga lantas bangkit dan berdiri di antara mereka. Berharap kejadian yang lalu tidak terjadi lagi. Arka malah menarikku ke belakangnya.
"Semua bisa dibicarakan baik-baik, ndan" kata Arka yang berdiri sangat dekat dengan Awan.
"Kenapa kamu nggak pernah jujur?" kata Awan sambil menunjuk ke arah Arka.
"Semua ada waktunya untuk jujur, saat ini biar aku yang jagain Kasih. Kamu fokus saja mengembangkan bisnismu. Nanti aku akan memberitahumu kalau menurutku waktunya sudah tepat," kata Arka dengan sangat tenang walau terlihat jelas amarah di mata Awan.
"Kamu pikir kamu siapa mengaturku?" tanya Awan semakin merasa direndahkan. Kepalan tangannya sudah melaju ke wajah Arka, namun Arka dengan sigap menghindarinya dan menahan tangan Awan.
"Kita bisa bicara baik-baik, ndan. Kasihan Kasih kalau kita ribut." kata Arka mencoba mendamaikan keadaan
"Kamu harusnya tahu kalau kamu penyebab kekacaian ini," kata Awan yang sedari tadi diliputi amarah yang meledak-ledak.
"Serahkan semua sama Kasih, biar Kasih yang menentukan dia maunya seperti apa," kata Arka dan tangannya tetap memegang lenganku dan memastikan aku tetap dibelakangnya.
"Maaf, Wan. Aku tetap pada keputusanku untuk menuruti keinginan bapak," kataku berusaha meyakinkan Awan.
"Kas, kamu masih punya waktu untuk memikirkannya lagi," kata Awan mendesakku.
Aku hanya bisa menatapnya dengan air mata berlinang. Ingin ku katakan kalau sebenarnya aku tidak ingin berpisah darinya, tapi keadaan yang memaksaku. Hatiku mulai bimbang, tapi aku sadar dari awal, apapun keputusan yang aku ambil pasti akan ada hati yang terluka.
Saat itu Awan berusaha untuk menarikku namun Arka menghalanginya dan terus melindungi ku di belakangnya seolah Arka tidak ingin Awan menyentuhku.
"Jangan paksa Kasih! Tenang dulu, jangan emosian seperti ini, ndan" kata Arya menahan Awan yang mencoba maju.
"Untuk apa memperjuangkan bapakmu? Bapakmu sudah meninggal, kita nggak perlu restunya lagi," Kata Awan sambil berteriak.
Mendengar kata-kata itu hatiku rasanya bagai disambar petir. Ku lepaskan tanganku dari Arka dan aku maju sangat dekat di depan Awan.
"Apapun yang terjadi, dia itu bapakku, Sampai kapanpun aku akan menuruti semua keinginannya. Kamu pikir kamu siapa semudah itu meremehkan bapak?" balasku berteriak dengan air mata berlinang.
__ADS_1
Ku tinggalkan mereka berdua dan aku masuk ke kamar. Terserah mereka mau berantem sampai babak belur, aku sudah tidak peduli. Tega-teganya Awan menganggap baktiku kepada bapak itu sesuatu yang tidak penting. Harusnya dia tahu, sejak aku menentang bapak demi dia, sejak itulah kesehatan bapak menurun. Kalau dia memang mencintaiku, harusnya dia bisa mengalah dan membiarkan aku bahagia bukan malah menambah kesedihan dan rasa bersalahku terhadap bapak semakin besar.
...****************...
"Kas," suara Rayi terdengar panik sambil menggedor pintu.
Aku melangkah dengan malas dan membukakan pintu.
"Awan berantem sama Arka di depan," katanya dengan tergesa-gesa
"Udah tahu," kataku sambil berusaha menutup pintu namun Rayi menahannya.
"Mereka dibawa ke rumah Pak RT, karena TKP nya di rumahmu, kamu yang dimintai pertanggungjawaban sama Pak RT," kata Rayi sambil menarikku keluar.
Ada-ada saja perkara sampai ke Pak RT, kenapa nggak naik sampai Kapolri sekalian? Ceritanya, saat Rayi datang ke rumah, Awan menghajar Arka yang sudah tergeletak di lantai, namun Arka tidak membalas sama sekali, dia hanya berusaha menahan serangan Awan. Karena panik, Rayi lalu berteriak meminta tolong dan warga berdatangan serta membawa mereka ke rumah Pak RT.
"Kamu nggak dengar ribut-ribut?" tanya Rayi keheranan.
"Ada apa sih, Kas?" tanya Rayi tidak sabar namun tidak ku jawab.
Kamu memasuki rumah Pak RT. Awan tampak menatap Arka dengan penuh kebencian sedang Arka memegangi rahangnya, ada sisa darah di sudut bibirnya. Sengaja aku melewati Awan dan duduk di samping Arka sambil melihat matanya yang membiru.
"Kamu mau jadi atlit MMA?" tanyaku sambil berbisik dan disambut senyum oleh Arka.
"Maaf Te, ini urusan pribadi malah jadi merepotkan warga," kataku pada Pak RT dan semua mata tertuju padaku menuntut penjelasan.
"Gimana ceritanya mbak Kasih?" tanya Pak RT.
"Izin Te, kalau boleh biar kami selesaikan sendiri," kataku. Malu juga untuk mengatakan yang sebenarnya, nanti dikira sok cantik.
Tapi Pak RT tetap mendesak meminta penjelasan, aku akhirnya hanya memperkenalkan Arka sebagai tunanganku dan memperjelas kalau kami akan segera menikah dan Awan adalah mantan pacarku. Mungkin dengan demikian mereka bisa menarik kesimpulan sendiri, terserah cerita apa yang akan beredar di masyarakat. Aku izin untuk mengajak Arka pulang supaya aku bisa mengobati lukanya.
__ADS_1
"Terus, Mas yang ini?" tanya Pak RT sambil menepuk bahu Awan.
"Dia kan nggak papa, Te. Nggak cidera apa-apa. Bisa pulang sendiri kan?" jawabku dan ku lihat amarah masih ada di mata Awan.
"Apa saya juga harus terluka supaya dibawa pulang sama Mbak Kasih?" candaan Pak RT spontan membuat warga ketawa.
"Jangan dong, Te. Nanti saya yang babak belur dihajar Bu RT dong," jawabku menjawab candaan Pak RT.
"Kalau mau ambil aja , Kas," kata Bu RT ikut bercanda
"Saya yang ini aja," kataku sambil tertawa dan menarik tangan Arka dan memintanya berdiri.
Dengan mengabaikan Awan, aku lalu pamit pada Pak RT dan warga. Terselip benci di hati untuknya, bukan karena dia telah membuat keributan namun lebih karena aku teringat kata-katanya tentang bapak.
...****************...
"Maaf Kas, malah jadi seperti ini," kata Arka saat aku mencoba mengobati lukanya.
"Ke dokter ya?" kataku sambil mengabaikan permintaan maaf Arka
"Nggak perlu," jawab Arka sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tadi ke sini cuma mau nganterin tas kamu yang ketinggalan di mobil, takutnya ada yang penting," kata Arka sambil menunjukkan tas yang tergeletak di atas sofa.
Arka lalu pamit pulang, aku menyarankan agar dia pulang dengan taksi online saja, nanti kalau dia sudah baikan barulah kembali untuk mengambil mobilnya. Tapi Arka berusaha keras meyakinkanku kalau dia baik-baik saja. Rayi malah menawarkan untuk mengantarkan Arka pulang dengan sepeda motor. Namun Arka tetap pulang sendiri.
"Kasih!" panggil Arka sebelum membuka pintu mobil
"Iya," jawabku singkat
"Lain kali, kalau ada dua lelaki ribut, kamu jangan berdiri di tengah seperti tadi." kata Arka memperingatkan ku." Baik-baik ya kalian berdua, kalian harus bahagia," lanjut Arka yang kemudian pergi.
__ADS_1
Aku dan Rayi saling pandang dan mengganggap masalah ini selesai, namun tampak Awan kembali lagi. Mau apa lagi dia?