MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 83


__ADS_3

"Iya, pa." keluar juga kata-kata dari tenggorokanku.


"Lho? Arka mana?" tanya Pak Surya.


"Maaf pa, Kasih yang jawab. Mas Arka di kamar mandi." kataku dengan jantung berdebar kencang


"Bilang sama Arka, papa tunggu di Apartemen, ini serius," kata Pak Surya sambil menutup telepon.


Aku memberitahukan Arka tentang telepon dari Pak Surya. Arka terlihat sedikit gusar dan menelepon Pak Surya serta menjauh dariku yang berarti Arka tidak ingin aku tahu apa yang mereka bicarakan. Hatiku mulai gelisah, hanya karena Arka menuruti aku yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Lovely, Arka malah jadi berselisih dengan Pak Surya. Sampai saat Arka kembali ke kamar dengan muka merah seperti menahan amarah dan mengajakku pergi. Aku hanya menuruti tanpa banyak bertanya. Sepertinya ini akan menjadi masalah yang lumayan panjang.


Ternyata kami kembali ke gedung apartemen yang sama tapi di unit yang berbeda. Dan mataku sedikit terbelalak saat memasuk unit yang bukan merupakan apartemen biasa. It's a penthouse. Ruangannya jauh lebih luas dengan langit-langit yang lebih tinggi. Unit ini tidak hanya memiliki kamar tidur, kamar mandi dan dapur tapi juga terdapat ruangan lainnya. Ruangan tersebut di antaranya foyer, ruang tengah, ruang kerja dan ruang meeting sendiri dan juga ada teras untuk melihat pemandangan yang indah di luar gedung.


Pak Surya, Bu Gendis dan Lovely duduk tengah seperti menunggu kedatangan kami. Kami ikut duduk bersama mereka. Muka tegang Pak Surya membuatku tidak sanggup menatapnya, Bu Gendis terlihat cemas sedangkan Lovely dengan mata sembabnya mencoba berdiri mungkin ingin mendekati Arka.


"Tetap di situ atau aku pergi," kata Arka saat membaca gelagat Lovely,


Arka terlihat sangat tegas, setegas saat dia memimpin rapat di kantor. Lovely kembali duduk Sambil mengusap air matanya. Hening. Tiada satupun yang bersuara. Sesekali terdengar isak Lovely. Sangat aneh, bisa-bisa menangis sampai segitunya seperti ada kerabatnya yang meninggal.


"Kamu nggak kasian lihat Lovely seperti ini?" Kata Pak Surya pada Arka sambil menunjuk ke arah lovely.


"Apa hubungannya dengan Arka, pa?" tanya Arka dengan tatapan mata yang tajam ke arah Lovely.

__ADS_1


"Dia jauh-jauh ke sini hanya untuk bertemu kamu, kamu malah kabur sama Kasih," bentak Pak Surya sedang Bu Gendis berusaha menenangkannya.


"Lho?! Dia kan ke sini mau belajar, katanya mau belajar bisnis dari awal? Aku nggak kabur, aku hanya menikmati hari-hari bersama istriku tanpa gangguan" Arka terus membantah walau aku berusaha mengisyaratkan padanya untuk diam.


"Dia maunya belajar sama kamu," kata Bu Gendis lembut berusaha menetralisir keadaan.


"Ma, Arka kan bukan guru, Arka juga dari dulu jarang ngantor karena kata papa Arka nggak becus, ya jangan kasih dia belajar sama orang yang salah dong," kata Arka membuat suasana kembali memanas.


Perdebatan demi perdebatan antara Arka dan Pak Surya semakin sengit. Pak Surya yang berbicara dengan membentak dan emosi tinggi selalu dibantah oleh Arka yang menjawab dengan nada santai terkesan dingin namun dengan kata-kata yang tajam menyakitkan.


"Dik, intinya papa mau kamu nemenin Lovely, itu aja," kata Bu Gendis mencoba menengahi.


"Ma, tapi aku mau menemani istriku, istriku jauh lebih penting dari Lovely," kata Arka yang membuatku ingin membusungkan dada di depan Lovely.


Pak Surya lalu menjelaskan apa yang dilihatnya di CCTV kantor saat Awan tiba-tiba memelukku. Lidahku kelu tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Semua itu tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Pak Surya dan bahkan sekarang aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Awan. Aku tertunduk malu dan diliputi rasa bersalah.


"Nggak masalah bagiku, Papa kan pernah berpesan agar aku tidak terlalu mendesak Kasih, aku harus pelan-pelan dan sabar merebut hatinya," kata Arka membuat Pak Surya kebingungan.


"Tapi dia sudah mengkhianatimu, Ka." tiba-tiba saja Lovely yang sedari tadi diam ikut berbicara.


"Lalu kenapa?" tanya Arka dengan nada menantang.

__ADS_1


"Ayah cuma nggak mau kamu sakit hati," kata Pak Surya dengan nada bicara yang mulai melunak.


Arka lalu berdiri dan menarik tanganku seolah memberi isyarat kalau kami harus pergi dari sini. Saat kami baru berjalan beberapa langkah, Pak Surya memohon agar Arka berhenti dan kembali. Tujuannya tetap sama, agar Arka mau menemani Lovely yang mulai berlinangan air mata lagi dan bagiku semua ini terlalu drama.


"Papa marah karena Awan memeluk Arka, lalu sekarang papa membiarkan Lovely sesuka hati memelukku tanpa mempertimbangkan perasaan Kasih?" kata Arka ketika menghentikan langkah.


"Bukan itu maksud papa, hanya kasian Lovely," kata Pak Surya sambil menghela napas panjang.


"Lalu? Papa nggak kasian sama Kasih? Papa bahkan nggak pernah minta maaf atas apa yang papa lakukan padanya. Kalau hanya untuk kasian pada Lovely, lalu kenapa papa menjodohkanku dengan Kasih? Asal papa tahu, karena perjodohan ini Kasih terus menerus merasa bersalah atas kematian bapaknya, karena perjodohan ini, Kasih harus merelakan Awan dan menahan sakit hatinya, saat dia mulai bisa menata hatinya untukku, papa memintaku untuk begitu saja mengabaikannya hanya demi seorang Lovely yang nggak ada artinya dihidupku? Maaf pa, untuk kali ini aku nggak bisa menuruti kemauan papa" kata Arka sambil meneruskan langkahnya dan aku harus mengikutinya karena Arka terus menggandeng tanganku.


Aku berusaha menghentikan langkah Arka karena mendengar tangisan Lovely yang semakin histeris. Namun Arka memintaku untuk tidak menghiraukannya. Kami kembali ke hotel, dan sepanjang jalan Arka bercerita tentang Lovely yang sangat dimanja oleh keluarganya hanya karena dia satu-satunya cucu perempuan di keluarga. Lalu apa bedanya dengan aku? Anak yang bertahun-tahun ditunggu kelahirannya. Apa Pak Surya tidak tahu tentang itu? Kemungkinan Pak Surya merasa sungkan dengan keluarga besar Lovely kalau sampai mereka tahu Lovely selalu bersedih selama berada di sini padahal Pak Surya sudah berjanji akan menjaga Lovely dengan baik.


Sepanjang jalan, ponsel Arka terus berdering dan itu adalah panggilan dari Pak Surya. Arka tidak ingin menjawabnya dan bahkan melarangku untuk menolaknya.


"Mas, jangan hanya karena aku, kamu bertengkar dengan papa seperti ini," aku berusaha membujuk Arka.


"Nggak untuk saat ini yank, emosiku sedang tidak stabil. Aku harus menenangkan pikiran dulu," kata Arka yang kemudian memintaku menonaktifkan ponselnya.


"Terus?" tanyaku berharap ada solusi terbaik.


"Ya kita tidur dulu, besok kita temui papa lagi dengan pikiran yang jernih dan kita bicarakan baik-baik," kata Arka sambil menepuk pipiku.

__ADS_1


Semoga itu bukan hanya kata-kata kosong dari Arka hanya untuk menenangkan aku. Lalu apa besok Arka akan menemui Pak Surya? Lalu apa yang akan dikatakan pada Pak Surya untuk mendamaikan mereka berdua? Siapa sih Lovely sebenarnya? Kenapa Pak Surya mati-matian membelanya? Begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku.


__ADS_2