
"Papa masih sehat, seger waras seperti ini kok sudah ribut masalah warisan mas?" kata Arka sambil memalingkan wajah dari Aditya.
"Justru itu, biar semuanya jelas," Aditya lantang tidak mau kalah.
"Ya udah gini aja, semua yang aset atas nama papa ambil aja semua, " kata Arka dan bersiap-siap berdiri dan pergi dari sini.
"Dan semua aset atas nama mama jadi milik adik," kata Bu Gendis tampak tegas menatap ke arah Aditya.
"Mama sudah mulai pilih kasih dan membeda-bedakan," tolak Aditya dan berusaha menguasai semuanya
"Arka juga anak papa dan mama, dia juga punya hak. Dan dia anak mama yang berhak meneruskan warisan mama," tegas sekali Bu Gendis menjawabnya.
"Hanya karena aku nggak lahir dari rahim mama, mama sudah tidak menganggap ku lagi?" Aditya mencoba menyudutkan Bu Gendis.
"Nggak ada yang seperti itu Adit, kamu ingin memperjuangkan harta dari Alleya dan memang faktanya hanya Arka yang berhak atas warisan dari Gendis. Segera papa urus ke pengacara untuk segera balik nama," Pak Surya langsung angkat kaki setelah mengatakan hal itu dan Bu Gendis menyusulnya.
Arka terlihat lebih banyak diam dan menyimak. Hanya tinggal kami bertiga di sini. Aku menunggu reaksi selanjutnya dari Arka dan melirik ke arah Aditya yang memasang wajah tidak puas dan menatap Arka dengan wajah penuh kebencian.
Kalau begitu keputusannya, bisa aku simpulkan berarti rumah ini juga menjadi milik Arka dan termasuk villa di pegunungan yang masih dalam proses pengembangan. Tidak sebanyak aset milik Pak Surya tapi kalau ditekuni dengan baik itu sudah cukup bagi kami.
"Terus karena rumah ini milikmu, kamu mau usir aku dan keluargaku?" kata Aditya masih sok kuasa.
Arka tidak menjawab apapun namun berdiri dan menggandengku untuk pergi dari sini. Kami kembali ke paviliun yang walaupun baru beberapa hari kami tempati namun sudah membuat kami merasa nyaman. Sepanjang hari, Arka tidak membicarakan mengenai hal warisan itu. Dia malah sibuk menghubungi arsitek untuk membuat pintu utama ke paviliun ini serta membuat kolam ikan dan aku sibuk dengan beberapa desain yang sudah ku kirim ke Keysha yang sudah mendapat pesanan.
__ADS_1
...****************...
Sudah beberapa bulan sejak kedatangan Aditya. Paviliun sudah mempunyai akses jalan sendiri dan kami sudah tidak pernah ke rumah induk. Proses balik nama juga sudah selesai. Arka juga sudah tidak lagi mengurusi kantor pusat karena menurutnya sudah ada Aditya yang akan membereskan semuanya. Dia tidak mau Aditya menyalah artikan bantuannya dan menganggap kalau Arka malah berniat merebut haknya. Dia lebih fokus mengurus pembangunan villa di pegunungan dan rumah makan nusantara miliknya. Pak Surya dan Bu Gendis sering berkunjung ke paviliun untuk melihat-lihat keadaan kami seperti biasanya.
Aku juga semakin sibuk dengan desain-desain baju yang semakin banyak peminatnya dan menurutku berjalan dengan baik. Keysha bahkan memintaku untuk membuka butik sendiri karena butiknya sudah tidak mampu lagi menampung karyaku. Aku sangat senang karena bagiku ini awal yang baik untuk seorang pemula sepertiku. Aku meminta Rayi untuk mengelola butikku yang berada tidak jauh dari butik milik Keysha karena aku masih bekerjasama dengan Keysha untuk urusan produksi dan marketing dan kami juga masih mengikuti program kehamilan namun nyatanya sampai sekarang aku belum kunjung hamil.
Hari ini kami akan ke dokter spesialis, menurut Arka ada baiknya jika kami mencoba konsultasi untuk program bayi tabung. Tapi sebelum pergi aku memutuskan untuk memasak terlebih dahulu dan Arka menyetujuinya karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan dan cukup waktu sambil menunggu aku selesai memasak.
"Cepat banget selesai urusannya, aku belum selesai masak mas," kataku saat merasa dipeluk dari belakang.
"Kamu harusnya menikah denganku," suara Aditya mengagetkanku.
Aku berusaha memberontak namun Aditya memelukku semakin erat. Untuk membela diri aku terpaksa menusuk tangannya dengan pisau yang ada di tanganku dan menghindarinya yang mencaci sambil menahan sakit karena lukanya terlihat lebar dan darah terus menetes. Aku berlari keluar dan Aditya mengejarku di saat bersamaan Pak Surya dan Bu Gendis datang dan mendekatiku dengan wajah panik dan menatap aneh ke arah Aditya yang berlari keluar dengan tangan berlumuran darah. Dia terlihat gagap saat melihat kedatangan kedua orangtuanya.
"Mas Adit ma, dia tiba-tiba memelukku," kataku sambil ngos-ngosan mengatur napas.
Wajah Pak Surya langsung merah karena amarah dan Bu Gendis melotot ke arah Aditya dengan mata berkaca-kaca dan air mata mengalir dari sudut matanya. Mobil Arka memasuki garasi, segera setelah turun, Arka berlari ke arahku dengan wajah heran dan melihat darah yang mengalir dari tangan Aditya.
"Baru segitu aja udah heboh, dasar kampungan," kata Aditya tanpa rasa bersalah
"Tapi kalau Kasih tidak menghindar pasti kamu berbuat lebih," teriak Pak Surya.
"Ada apa yank?" tanya Arka setengah berbisik lembut padaku dan ku jawab hanya dengan gelengan kepala.
__ADS_1
Bu Gendis kemudian menjelaskan pada Arka apa yang terjadi. Aku kemudian menambahkan kalau aku menusuk tangan Aditya untuk membela diri. Arka memejamkan mata dan menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Saat dia membuka mata, dia membawaku dan Bu Gendis masuk ke dalam rumah namun amarah terasa meliputi dirinya. Sesaat berada di samping Aditya, Arka sempat berhenti sejenak.
"Kita harus membuat perhitungan," kata Arka mengancam
Aditya hanya melirik ke arah Arka dengan tatapan meremehkan. Sampai di dalam rumah, aku berusaha menahan Arka supaya tidak membuat keributan dengan Aditya. Tidak lama kemudian, Pak Surya menyusul masuk dan Aditya ikut di belakangnya. Aku mencoba memegang erat lengan Arka supaya dia bisa menahan diri untuk tidak bertindak anarkis walaupun aku tau kalau Arka bukan orang yang suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan tapi aku harus waspada dan berjaga-jaga.
"Terus kamu mau apa dik? Mau mukul aku?" tiba-tiba Aditya bertanya dengan nada menantang.
"Aku bukan orang liar seperti mas," kata Arka tapi matanya menatap Aditya tajam penuh kebencian.
"Kamu bilang aku liar? Maksudmu apa?" tantang Aditya lagi membuat suasana semakin panas.
"Maksudku aku jauh lebih baik dari Mas Adit, dalam segala hal, itu aja." kata Arka kemudian membawaku masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Masih terdengar teriakan Aditya tidak terima dengan kata-kata Arka. Arka mengisyaratkan kepadaku untuk diam saja dan tidak perlu mempedulikan Aditya dan kedua orang tuanya. Dia malah memintaku untuk bersiap-siap karena kami harus ke klinik untuk melanjutkan program kehamilan.
"Kita fokus saja sama rencana masa depan kita," kata Arka dan kami keluar dari kamar.
Dengan santai Arka berjalan melewati Bu Gendis yang sedang mengobati luka ditangan Aditya dan Pak Surya yang terlihat tertekan dengan kelakuan kedua anaknya. Aku hanya mengikuti Arka yang erat memegang tanganku dan saat mataku berpapasan dengan Aditya dia menyeringai ke arahku dan mengacungkan jari tengahnya padaku dan membuatku ketakutan.
"Abaikan saja, mas Adit itu sedang mabuk, mulutnya aja bau miras," kata Arka.
Kamu pergi namun perasaan was-was menyelimuti hatiku. Perbuatan nekad apalagi yang mungkin akan dilakukan Aditya. Tadi saja tidak ada rasa bersalah di wajahnya.
__ADS_1