MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 102


__ADS_3

Selesai makan malam, Arka mengajakku ke rumah induk. Seperti tamu yang datang dari jauh, aku dan Arka masuk ke rumah induk dan duduk di ruang tamu. Arka tidak sedikitpun membiarkanku bebas ke mana-mana seperti biasanya. Tangannya tetap memegang tanganku dan tidak lama kemudian Bu Gendis mendekati kami.


"Ayo masuk," kata Bu Gendis sambil berusaha menarik Arka.


"Di sini aja, ma." tolak Arka sambil merengek seperti anak TK yang tidak mau masuk sekolah.


Kami sudah seperti orang asing di sini karena menurut Arka kalau memang Aditya membebaskan Arka untuk berada di rumah induk, dia tidak akan menyuruh kami untuk pindah ke paviliun hanya dengan alasan dia perlu ruang untuk keluarganya. Rumah ini ada empat kamar dan setidaknya dua kamar cukup untuk keluarganya. Aditya datang ke ruang tamu dan menegur Arka yang tidak ikut makan malam di rumah induk sehingga dia hanya makan berdua dengan Bu Gendis. Ternyata istri dan anak-anaknya menginap di hotel karena tidak suka berada di rumah ini dengan alasan tidak suka dengan rumah model lawas seperti ini.


"Semua ini karena adik yang tinggal di sini tapi tidak merenovasi rumah jadi berkelas, lebih modern," kata Aditya dan Arka hanya acuh dengan kata-katanya.


"Mas, jangan menyalahkan adik. Ini rumah masa kecil mama, banyak kenangan mama di sini jadi biar saja seperti semula," Bu Gendis mencoba menengahi


"Udahlah ma, ibarat Arka napas aja udah salah di mata Mas Adit," kata-kata Arka yang membuat semua terdiam.


Tapi entah hanya perasaanku saja atau memang demikian adanya. Mata Aditya terus menatapku dengan tatapan yang tajam dan seolah tidak melepaskan pandangannya dariku dan Arka menatap Aditya seperti macan yang siap menerkam mangsanya. Ini benar-benar membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku membayangkan akan ada pertemuan penuh tangis haru karena saling melepas rindu lalu canda tawa bahagia mengenang indahnya masa kecil tapi suasana dingin dan tengang ini cukup membantah semua bayangan yang sempat mampir di pikiranku.


"Arka ke sini cuma mau ngajak Mbok Welas untuk tinggal sama Arka." kata Arka tanpa basa-basi lagi.

__ADS_1


"Seenaknya aja, terus siapa yang mengurus rumah ini?" Aditya menolak dengan nada yang lumayan tinggi.


"Aku ngajak Mbok Welas ke sini bukan untuk mengurus rumah ini. Dia itu seperti ibuku sendiri dan dia ke sini sebagai baktiku kepadanya. Kalau mas butuh ART, cari aja yang lain," kata Arka tegas.


Aku mulai salut dengan Arka dan merasa bodoh dengan pikiranku yang sempat beranggapan kalau Arka tidak peduli dengan nasib Mbok Welas. Arka kemudian berteriak memanggil Mbok Welas dan tampak Mbok Welas berlari kecil dari dalam. Arka kemudian berdiri lalu berjalan mendekati Mbok Welas dan merangkulnya menuju ke pintu. Spontan aku mengikuti langkah Arka. Aditya menatap Arka dengan tatapan penuh emosi karena merasa Arka membangkang dan tidak menghormatinya.


"Oke, boleh kamu ambil Mbok Welas, tapi istrimu yang cantik itu harus tinggal denganku," teriak Aditya yang mampu menghentikan langkah kami dan membuat kami seketika membeku.


"Maksudnya apa?" tanya Arka tanpa membalikkan badan.


"Jangan pura-pura bodoh lah dik, dari awal dia itu jodohku. Ku kira dia gadis desa yang dekil tapi siapa sangka dia secantik dan sangat menarik seperti ini. Aku menyesal dulu menolaknya dan kamu harus mengembalikan dia padaku karena aku lebih berhak untuk menjadi suaminya," kata Aditya seperti seseorang yang tidak memiliki akal sehat.


Arka sudah berada di depan Aditya dan sukses melayangkan tinju tepat di wajahnya. Jelas saja Arka merasa terhina dan diinjak-injak martabatnya sebagai seorang suami. Bu Gendis mulai panik dan menangis berusaha melerai namun ditahan oleh Mbok Welas. Semua terhenti saat terdengar suara Pak Surya yang baru saja datang. Arka melangkah mundur kemudian memelukku sangat erat. Darah mengucur deras dari hidung Aditya. Bu Gendis kemudian membantu Aditya untuk duduk kembali di sofa dan mengusap rambut Aditya. Pak Surya melotot ke arah kedua anaknya secara bergantian.


"Mas boleh ambil semua harta, perusahaan rumah, apa saja yang menurut mas itu hak mas sebagai anak Mama Alleya, tapi maaf istriku bukan bagian dari warisan keluarga ini." kata Arka yang menatap Aditya dengan tatapan penuh kebencian.


Arka kemudian mengajakku keluar dan menggandeng tangan Mbok Welas tanpa mempedulikan omelan Pak Surya. Aditya memang keterlaluan. Apa dia tidak memikirkan perasaan istri dan anak-anaknya dengan pemikiran gobloknya itu? Apa dia tidak mencintai istrinya sampai bisa punya pemikiran kalau dia berhak menjadi suamiku hanya karena memandang fisik? Dalam hati aku terus mengomel dan mengutuk Aditya yang menurutku sudah tidak waras. Ingin rasanya ku jambak dan ku cakar seluruh wajahnya.

__ADS_1


...****************...


Arka meminta Mbok Welas untuk tidur di kamar denganku dan dia memilih tidur di ruang jahit. Kebetulan di ruang jahit ada tempat tidur kecil yang memang tidak kami keluarkan. Kecil memang, hanya berukuran 90x200 tapi cukup untuk satu orang. Namun Mbok Welas menolak karena menurutnya tidak baik kalau suami istri tidur terpisah. Jadinya Mbok Welas yang tidur di ruang jahit untuk sementara.


"Inhale exhale," kataku mencoba menghibur Arka saat kami berdua sudah berada di kamar.


"Asal kamu tahu yank, aku akan memperjuangkan istriku sampai aku mati," kata Arka sambil membelai rambutku.


Arka kemudian menarikku dengan lembut dan meletakkan kepalaku di dadanya. Rasanya sangat nyaman seolah tidak ada masalah berarti selama aku masih bersama Arka. Inilah misteri kehidupan, aku dipertemukan dengan suami yang bukan pilihanku tapi nyatanya dia yang terbaik untukku. Perlahan ku pejamkan mata, berusaha melupakan semua masalah yang ada. Dengan kelakuan absurd Aditya yang seperti apa aku harus menghadapinya ke depannya. Dan aku juga harus berusaha meredam emosi Arka yang tampak membakar saat berhadapan dengan Aditya. Bisa dikatakan aku sudah mendapat jawaban kenapa Arka tidak bisa rukun dengan Aditya. Aku melirik ke arah Arka yang tampak melamun.


"Udah mas, kita fokus sama keluarga kecil kita aja dulu," kataku sambil mengecup pipi Arka berharap bisa menenangkan perasaannya.


"Aku sayang kamu, Arka Aryasatya, suamiku," kataku lagi


"Akhir-akhir ini aku merasa selalu bahagia karena kamu Kasih Dinanti, istriku." kataku Arka sambil mengecup puncak kepalaku.


Aku kemudian memejamkan mata, berharap semua akan baik-baik saja dan tersimpan juga harapan besar agar Aditya dan Arka bisa bersahabat dan rukun.

__ADS_1


__ADS_2