MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 29


__ADS_3

"Kenapa sih Ra, kamu seolah-olah mendukung aku sama Arka?" tanyaku.


"Kamu lebih nyaman sama Arka," kata Rayi yang membuatku merasa aneh.


"Apaan sih kamu?" kataku sambil memunggungi Rayi dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


"Kalau sama Awan kamu cenderung membatasi diri, lebih banyak takut melangkah, takut menolak saat dia tiba-tiba ngajak nikah padahal kamu belum siap, takut berteman dengan lelaki manapun karena kamu khawatir Awan cemburu, begitu kan?" kata Rayi namun aku pura-pura tidak peduli.


"Sejak kamu jadian sama Awan, kamu sering overthinking," lanjut Rayi.


Ku renungkan setiap kata Rayi. Iya, karena dengan Arka aku merasa tidak terikat, beda dengan Awan. Aku berusaha membahagiakan Awan walau bertentangan dengan nuraniku. Aku sadar aku sangat mencintai Awan, namun caraku mencintainya cenderung membuatku mengabaikan perasaanku sendiri. Belum lagi urusan perjodohan dengan Arka yang membuat semua semakin rumit.


"Tidur Ra, besok kerja," kataku mencoba menghindari perdebatan dengan Rayi.


...****************...


Sepagi ini Arka sudah sampai lagi di rumah, dia mengajak aku dan Rayi untuk segera bersiap-siap berangkat kerja. Aku dan Rayi saling pandang, masih terlalu pagi untuk pergi.


"Kita bertiga naik mobil, kalau berangkat nanti-nanti kena macet bisa telat," katanya Arka sambil membukakan pintu untuk kami.


Saat masuk ke dalam mobil, Arka sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Katanya demi menghemat waktu, mereka harus sarapan di jalan.


"Kok kamu mau repot-repot anterin kami?" tanyaku sambil menikmati sandwich isi sarden yang rasanya sangat enak.


"Kan Awan nitipin kamu ke aku," jawab Arka yang juga sibuk mengunyah.


"Awan aja nggak pernah antar jemput," kata Rayi yang masih berusaha menyempurnakan dandanannya.


"Awan nggak searah dengan kalian, jadi dia harus muter," jawab Arka yang sekarang fokus mengemudi. Ingin ku katakan kalau Awan pernah menawarkan ku untuk antar jemput namun aku menolaknya, tapi sudahlah rasanya juga tidak penting untuk dibicarakan.

__ADS_1


"Rumahmu kan pinggiran kota ya? gimana bisa searah sama kami?" tanyaku mulai merasa aneh dengan jawaban Arka.


"Diusahakan searah," jawab Arka lagi yang membuatku semakin bingung.


Kami tiba dipabrik tepat waktu. Aku langsung bergegas ke ruang kerjaku, beberapa hari terakhir aku sering izin karena mengurus bapak yang sedang sakit sehingga pekerjaanku menumpuk luar biasa.


...****************...


Seharian yang melelahkan, Arka sudah menunggu di area parkir sambil asyik berbincang dengan satpam pabrik. Sesekali mereka tempak tertawa geli seperti ada sesuatu yang lucu.


"Ngobrolin apa? kayaknya asyik banget," tanyaku saat sudah berada di dalam mobil.


"Urusan lelaki," kata Arka sambil tersenyum dan memamerkan lesung pipinya.


Sore ini Rayi hanya diam, dia mengeluh kecapekan akibat harus menyelesaikan laporan yang menumpuk. Suasana mobil terasa hening, saat aku menoleh ke kursi belakang, ternyata Rayi sudah tertidur pulas. Mungkin karena semalam bergadang, berangkat terlalu pagi, dihajar pekerjaan yang menumpuk sehingga Rayi sudah tidak tahan lagi. Aku juga sesekali menguap karena lelah.


"Kas, sudah sampai nih," suara Arka terdengar begitu dekat di telinga kiriku.


"Nanti kalian mandi dulu, makan malam baru lanjutin tidur, biar jadwalnya nggak kacau," kata Arka yang sudah kembali ke dalam mobil saat aku dan Rayi sudah turun.


"Kenapa?" tanyaku kurang paham.


'Ya kalau kalian lanjut tidur, nanti tengah malam terbangun karena lapar, mana belum mandi badan rasanya nggak nyaman, jadi begadang besok paginya kalian ribut gara-gara kesiangan," kata Arka menjelaskan.


Arka kemudian berlalu pergi, tinggal aku dan Rayi berdiri melambaikan tangan sampai mobilnya hilang dari pandangan. Rayi kembali ke rumahnya dan aku masuk ke kamar. Baru saja ingin merebahkan tubuh untuk lanjut tidur, aku teringat pesan Arka. Aku lalu memaksakan kaki melangkah ke kamar mandi. Terasa sangat segar sehabis mandi, namun aku tidak punya apapun untuk dimakan. Ku telepon Rayi minta bantuan


"Mau makan apa, Ra? Jangan mi instan ya," kataku ketika Rayi mengangkat telepon.


"Pecel lele ujung gang yuk,' ajak Rayi.

__ADS_1


Dengan semangat 45 aku langsung melangkah ke rumah Rayi. Rayi duduk melamun di teras rumah. Bukannya bersiap-siap di atas motor seperti biasanya. Ternyata dia mengajak jalan kaki ke sana.


"Ra, nggak kuat aku sudah laper banget," kataku menolak ajakan Rayi


"Manja!" kata Rayi sambil bersungut-sungut namun akhirnya dia mengeluarkan sepeda motor.


Satu porsi rasanya sangat kurang, mungkin karena aku menguras seluruh tenagaku seharian di pabrik. Rayi terlihat heran dan takjub melihat makanku yang tidak seperti biasa.


"Kowe kesambet,. Kas?" tanya Rayi masih melihatku heran.


"Laper, Ra." kataku sambil menjilat jari menikmati pedas mantepnya pecel lele ini.


Tiba-tiba ponselku berbunyi dan ternyata itu telepon dari Rinto. Dia hanya memberi kabar tentang keadaan bapak di desa. Ibu memintaku untuk sering-sering pulang menjenguk bapak. Aku iyakan saja dulu supaya bapak ibu tidak banyak pikiran. Namun tetap saja risiko kuli pabrik, terikat jam kerja, selain itu sering-sering ke desa juga butuh biaya. Aku sudah terbiasa mandiri, tidak mungkin aku minta uang dari orang tuaku untuk biaya ini itu.


Aku lalu mengajak Rayi pulang. Perut sudah terisi, pikiran pun terisi dengan masalah baru. Heran, kenapa hidupku rasanya jadi berantakan seperti ini. Aku lalu membuka ponselku, ada email dari Awan yang mengirim kata-kata yang dirangkai menjadi puisi indah dan membuatku melayang. Sejenak ku lupakan semua masalah yang ada di hidupku.


"Apa tuh?" tanya Rayi mulai kepo dan merebut ponselku. Ku biarkan saja dia menikmati puisi dari Awan.


"Puisinya bakal kalah sama yang peduli," kata Rayi malah terkesan nyinyir.


"ih, mulut tuh ya," kataku sambil merebut kembali ponsel dari tangan Rayi.


"Sebenarnya kamu itu piye ? Mau lanjut sama Awan atau sama Arka," tanya Rayi dengan nada serius.


"Ya sama Awan lah ,Ra. Kok kamu malah nanya kayak gitu?" kataku.


"Tapi kamu nggak berani batalin perjodohanmu karena bapakmu sakit?" tanya Rayi yang menurutku seperti menabur garam di laut. Untuk apa dia bertanya padahal dia tahu pasti jawabannya.


"Nggak usah nanya kalau sudah tahu jawabannya," kataku ketus

__ADS_1


"Ra seneng mbi caramu. Ini tu masalah besar, kamu tahu penyelesaiannya hanya memilih antara hatimu atau bapakmu. Jangan kelamaan menunda, kasihan bapakmu, kasihan Awan, kasihan Mas Arya juga," kata Rayi penuh emosi.


Tanpa pamit, Rayi lalu berjalan pulang. Kenapa sih Rayi? Nggak biasanya dia seperti itu.


__ADS_2