
Seorang anak muda berusia belasan tahun mendatangi Bu Gendis dan menawarkan diri untuk menjadi pendonor untuk Aditya. Tanpa banyak bertanya kami lalu menghubungi perawat dan meminta mereka untuk segera melakukan tindakan. Entah mengapa aku terdorong untuk diam-diam memfoto pemuda baik hati itu. Biasanya dalam keadaan chaos seperti ini kami bisa saja lupa akan malaikat penolong bagi kami dan mungkin suatu saat nanti saat semua sudah tenang kami perlu untuk menghubunginya dan menyampaikan rasa terima kasih atas bantuannya. Semua sudah teratasi, dan benar saja sang penolong pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Tapi aku yakin aku pasti bisa menemukannya.
Ponselku berdering dan itu dari Fiona yang mengabarkan kalau dia sudah selamat sampai dan saat ini sedang bahagia karena bisa berkumpul dengan keluarganya. Fiona seolah tidak peduli saat aku memberitahunya tentang keadaan Aditya saat ini karena menurutnya Aditya memang pantas mendapatkan semua ini. Itulah ganjaran karena dia sudah menyia-nyiakan kedua darah dagingnya. Kalau dia bertindak semena-mena terhadap Fiona mungkin masih bisa dimaklumi namun apa yang telah dia perbuat terhadap Eurika dan Edna sangatlah tidak bisa dimaafkan. Mendengar penuturan Fiona membuatku memilih untuk diam karena aku merasa tidak berhak untuk menghakimi Aditya.
"Yank, kita pulang yuk. Kita nginep di apartemen untuk sementara karena aku masih merasa capek." ajak Arka dan ku setujui dengan anggukan kepala.
Aku banyak diam dalam perjalanan pulang. Banyak pertanyaan mengenai golongan darah Aditya dan pemuda pendonor darah itu. Bagaimana bisa dia tahu kalau kami membutuhkan pertolongannya sedangkan kami hanya menghubungi orang-orang yang kami kenal. Ingin aku tanyakan pada Arka tapi sepertinya dia belum tertarik untuk membahas hal itu saat ini. Apa mungkin Bu Alleya hamil dengan pria lain sebelum atau bahkan saat menikah dengan Pak Surya? Tapi mana mungkin Bu Alleya melakukan tindakan yang menurutku sangat rendah. Tapi bukankah Bu Alleya yang terlebih dahulu menginginkan untuk menikahi Pak Surya? Tapi kenapa dia tega mengkhianatinya.
"Yank, kita sudah sampai lho," kata Arka yang membuyarkan lamunanku.
Aku kemudian melangkah keluar dari mobil dan langsung berjalan begitu saja dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan. Aku merasakan ada seseorang yang mengikutiku dan itu membuatku mulai mengurangi kecepatan langkahku. Jantungku mulai terpacu cepat dan ketakutan mulai menyelimuti diriku. Ku lirik pergelangan tanganku dan ternyata jam menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Aku memutuskan untuk kembali mempercepat langkahku saat terdengar suara parau memanggil namaku. Sampai saat terasa tangan yang kekar menahan pundakku dan berusaha membungkam mulutku saat aku berusaha memberontak dan berteriak.
"Apaan sih kamu yank? Kayak orang kesurupan aja," suara Arka membuatku mematung seketika.
"Mas?" panggilku heran.
"Kamu kenapa? Di mobil bengong, turun dari mobil langsung ngeloyor salah arah, dipanggil nggak dengar, eh malah teriak-teriak kayak orang dibegal," tegur Arka yang membuatku semakin tidak berkutik.
"Mas aku... ... ....," mataku aku masih kebingungan sambil memandang sekeliling.
"Kamu kecapekan yank," kata Arka.
Arka kemudian menarikku ke punggungnya dan memintaku berpegang erat saat dia menggendongku. Ku rapatkan dadaku di punggungnya dan ku lingkarkan tanganku di bahunya. Aku tertawa cekikikan mengingat tingkah anehku. Terkenang saat hari pemakaman bapak, Arka yang sejak lama berada di belakangku membuat pikiranku ke mana-mana.
__ADS_1
"Aku turun aja mas, kasian nanti mas kecapekan," alasanku saat aku merasa ada beberapa pasang mata menatapku tajam.
"Bentar lagi sampai, harus sesuai aplikasi dong. Biar dapat bintang lima," kata Arka yang mengundang tawa.
Ya sudah lah, Arka ini suamiku. Jadi wajar kalau dia memanjakanku. Begitu sampai aku langsung mandi dan tidur. Lega rasanya bisa melepaskan lelah di atas tempat tidur yang nyaman ini.
...****************...
Mumpung masih berada di kota ini, aku menyempatkan diri ke butik sekalian temu kangen dengan Rayi. Arka juga harus pergi sebentar karena ada urusan yang ingin diselesaikannya. Nanti saat Arka sudah selesai, dia akan menjemputku dan kami akan ke rumah sakit untuk menjenguk Aditya. Kalau keadaannya sudah membaik kami akan segera kembali ke Villa namun jika belum memungkinkan untuk ditinggal, kami akan tinggal di kota ini untuk beberapa waktu. Saat tiba di butik, hanya ada dua karyawan yang sigap melayaniku.
"Rayi ada?" tanyaku kepada salah satu dari mereka dan sepertinya mereka tidak mengenaliku.
"Kak Rayi belum datang, sejak hamil datangnya agak siangan." jawabnya sambil tersenyum.
"Ya udah aku tungguin aja," jawabku membalas senyumnya.
"Maaf Bu, kalau mau menunggu Kak Rayi, mohon tunggu di tempat yang tersedia. Itu tugas kami melayani pelanggan," bisik salah satu karyawan sangat sopan padaku.
Aku memakluminya dan berusaha memberinya ruang untuk bekerja. Ah, tapi aku merasa sedikit tersinggung, bisa-bisanya dia memanggilku dengan sebutan 'bu' sedangkan memanggil Rayi dengan sebutan 'kak'. Ngadi-adi sekali Rayi ini, sok asyik banget dia. Pasti dia yang meminta untuk dipanggil dengan sebutan 'kakak'. Makhluk yang aku julidin di dalam hati akhirnya muncul juga dan dengan senyum mengembang menyapa pelanggan yang datang tanpa menyadari kehadiranku di sini. Perlahan aku mendekatinya dan dengan lantang menyapanya.
"Silahkan kakak," kataku dengan sikap sempurna seperti pramugari yang siap melayani penerbangan anda.
"Kasih!!" teriak Rayi kegirangan "Kenapa kalian nggak minta Kasih masuk ke dalam?" tegur Rayi pada kedua karyawan itu.
__ADS_1
"Maaf kak, kami nggak tahu kalau ini Bu Kasih," jawab mereka hampir serentak dan terlihat tidak enak dan merasa bersalah padaku.
"Gimana sih kalian, sama bos sendiri nggak kenal," protes Rayi.
Pelanggan itu ternyata terlihat antusias saat mengetahui siapa aku. Mereka kemudian memintaku membuatkan desain khusus untuk seragam pegawai mereka. Mereka berharap dengan motif batik yang sama, mereka bisa memiliki model berbeda untuk divisi yang berbeda. Tentu saja aku sangat senang melayani mereka. Langsung detik itu juga aku menuangkan ide dan keinginan mereka di atas selembar kertas. Total ada empat model yang mereka harapkan dan aku bisa menuntaskannya saat itu juga dan mereka puas dengan desain yang aku tawarkan. Sekarang mereka tinggal memilih motif batik dan itu bisa dilayani oleh karyawan yang belakangan aku tahu bernama Erna dan Anggi. Rayi lalu mengajakku masuk ke ruang kantor. Walaupun dia hamil tapi dia masih terlihat gesit dan ceria. Perutnya juga belum terlihat membesar karena usia kehamilannya juga baru dua bulan
"Kamu nggak mual muntah?" tanyaku padanya.
"Nggak cuma lebih malas aja, pingin turu terus," jawab Rayi.
"Terus Rinto gimana?" tanyaku.
"Yo wis, karena aku males semua pekerjaan rumah dia yang beresin. Aku bangun di atas jam delapan. Angel nek tangi subuh," jawab Rayi sambil mengambil minuman untukku.
"Udah kayak juragan kamu," ledekku sambil tertawa.
"Iyolah, tangi turu ngerti beres," jawab Rayi dengan wajah songong.
Dia lalu menanyaiku tentang apa yang terjadi padaku walaupun secara garis besar aku selalu melaporkan padanya lewat ponsel. Sangat bersemangat menantikan cerita dariku. Walaupun sebenarnya semua sudah aku ceritakan padanya lewat ponsel. Tapi benar juga, rasanya lebih puas kalau menceritakan semuanya secara langsung.
"Pendonor darah itu namanya Tandri," kata Rayi dengan mantap
"Kok kamu tahu?" tanyaku terheran.
__ADS_1
"Ndeso. ya cari di sosmed to yo," jawab Rayi
Aku baru tahu ternyata dengan foto kita bisa menemukan seseorang di sosial media. Aku kemudian stalking di Facebook dan instagramnya dan betapa kagetnya aku saat tahu kalau dia berteman dengan Fiona. Kok bisa?