MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 91


__ADS_3

Satu minggu lebih kami di desa dan hari ini kami pulang ke rumah. Tidak seperti biasanya, Mbok Welas tidak ada di depan TV, namun rumah sudah tampak rapi. Tanaman di taman dan kolam ikan tampak jauh lebih bersih dan asri, tampak lebih terawat dari sebelumnya. Rumah terlihat sepi namun aroma masakan menuntun langkahku menuju ke dapur. Mbok Welas dan Lovely sedang sibuk memasak bersama. Tidak seperti biasanya, Lovely memakai kaos putih polos dan rok flanel kotak model klok selutut dengan rambut dikucir kuda. Terlihat sederhana dan sangat sesuai dengan usianya, tampak imut dan menggemaskan.


"Lho, kok sudah sampai rumah?" tanya Mbok Welas heran.


"Kok tumben Lovely bantuin?" tanyaku tidak kalah heran dengan Mbok Welas.


"Oh? Lopi baru mbok hukum. Kalau dia nggak nurut, mau tak usir," kata Mbok Welas namun terkesan gagap.


Arka yang baru saja masuk ke dapur kemudian mengajakku untuk meninggalkan Mbok Welas dan Lovely. Arka memintaku untuk beristirahat dan aku menurutinya. Arka pamit untuk melakukan zoom meeting dan aku menuju ke ruang jahitku. Sudah rindu aku untuk berkarya. Aku masih belum menyelesaikan daster untuk Arka. Aku tertawa saat membayangkan Arka memakai daster itu. Siapa suruh dia minta dibuatkan daster, ya aku penuhilah. Aku tercengang saat membuka pintu ruang jahitku. Semua tampak rapi dan seperti ada yang memakainya. Aku bergegas ke dapur dan menemui Mbok Welas yang sudah selesai masak dan sedang menata makanan di meja makan.


"Mbok yang pakai, kenapa? Kamu keberatan nduk?" pengakuan Mbok Welas yang membuatku curiga kalau dia sedang berbohong.


"Nggak apa-apa sih mbok, ya udah aku ke sana lagi," kataku sambil berlalu pergi.


Mengapa aku merasa ada yang ditutupi oleh Mbok Welas? Karena selama ini walaupun aku pergi dalam waktu lama Mbok Welas tidak pernah sekalipun menjamah ruang jahitku walaupun sekedar untuk membersihkannya. Hanya di awal saja Mbok Welas menjahit di sana, setelah itu mbok Welas seperti tidak peduli lagi. Ya sudahlah, mungkin seminggu ini Mbok Welas sedang ingin berbuat sesuatu karena suntuk harus tinggal serumah dengan Lovely. Belum sempat aku berkarya, Mbok Welas sudah memanggil untuk makan siang dan ternyata Lovely tidak ikut makan bersama karena sudah makan terlebih dahulu dan sekarang sedang sibuk di kamarnya. Aku buru-buru menyelesaikan makan ku karena aku sudah tidak sabar untuk mengeksekusi karya pertamaku.


Hari sudah menjelang malam saat aku selesai. Senang sekali dan aku harus segera menunjukkannya pada Arka. Tapi, di mana Arka? apa dia masih sibuk di ruang kerja? Nanti saja aku mencarinya, sebaiknya aku mandi dulu, Arka sangat suka kalau aku habis mandi dan berbau wangi.


...****************...

__ADS_1


"Kak, udahan aja yuk, kita bilang aja ke Kak Kasih," terdengar suara Lovely saat aku sampai di depan pintu ruang kerja.


"Nanti dong Love, kamu kenapa nggak sabaran sih?" kata Arka dengan suara yang lembut dan sangat menenangkan.


"Iih, Kak Arka nakal banget sih," jawab Lovely dengan nada yang terdengar riang..


Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke ruang kerja. Tapi pembicaraan mereka tidak seperti yang ku bayangkan. Cara bicara Lovely tidak terdengar seperti seorang perempuan penggoda, tapi terdengar sangat manja dan menggemaskan. Mereka terkesan sangat akrab seperti adik beradik. Layaknya seorang adik yang meminta sesuatu pada kakaknya. Apa yang ingin Lovely sampaikan padaku?


Entah kenapa aku malah kembali ke ruang jahitku yang terlihat masih berantakan. Aku kemudian membersihkan dan merapikan ruang jahit namun suara Lovely yang imut masih terngiang di telingaku. Aku lalu duduk selonjoran di lantai dan daster untuk Arka ku kalungkan di leherku. Sampai saat pintar terbuka dan Arka masuk dengan senyumnya yang membuat aku lupa kalau aku sedang bermasalah dengannya.


"Kok duduk di sini yank? Kan ada kursi," kata Arka kemudian ikut duduk di sampingku.


"Kamu kapan mandinya? udah wangi gini," kata Arka sambil mengecup puncak kepalaku.


"Mas sibuk sama Lovely sampai lupa sama aku," protesku terdengar menggerutu.


"Cemburu ya yank? Kata Vidi Aldiano, cemburu menguras bak mandi lho," canda Arka sambil memainkan ujung rambutku.


"Ga juga, orang kita pakai shower nggak punya bak mandi," aku membalas candaannya namun dengan nada ketus dan terkesan bermalas-malasan.

__ADS_1


Aku kemudian memberikan daster untuk Arka begitu saja. Sangat jauh dari ekspektasi yang berharap penuh kelucuan dan tawa lepas. Semua ini gara-gara Lovely. Rasanya malas untuk melanjutkan semua, semangatku hilang seiring sikap Arka yang seolah tidak berbuat salah. Benar-benar pintar menyimpan rahasia. Tiba-tiba Lovely datang dengan dandanan yang menurutku menor, kembali seperti perempuan tidak tahu diri. Arka segera pergi meninggalkan kami berdua.


"You pikir kalau you ngambek terus Arka peduli?" kata Lovely sambil memperhatikan kuku-kukunya.


"Mau peduli mau nggak, kamu pikir aku peduli?" kataku sambil berjalan dan dengan sengaja menabrak bahunya.


Dia pikir dia siapa? Tanpa menyindir seperti itu saja hatiku sudah panas apalagi mendengar kata-kata pedasnya. Menyingkir adalah jalan terbaik. Tidak perlu ditanggapi. Mungkin dia merasa di atas angin karena pada faktanya di belakangku Arka memperlakukannya dengan baik. Aduh Arka, kenapa kamu membuat kepalaku pusing seperti ini? Sebenarnya ada apa antara kamu dan Lovely? Kenapa di depan dan di belakangku kalian berbeda? Di depanku kamu sangat acuh pada Lovely tapi di belakangku kalian sangat akrab. Dan Lovely sangat sopan memanggil aku dan Arka dengan sebutan 'Kakak'. Kenapa begitu banyak pertanyaan bermunculan di kepalaku?


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa," teriakku saat langkahku berhenti di samping kolam ikan.


Terdengar langkah kaki berlarian mendekatiku. Air mata mulai membasahi pipiku dan terasa Arka yang panik mendekapku dan berusaha menenangkanku. Tapi tangisku malah semakin menjadi, semua pertanyaan yang mengalir di kepalaku tumpah menjadi air mata penuh kekesalan. Arka kemudian membopongku dan membawaku ke ruang tengah dan yang paling aneh. Lovely tampak panik dan sibuk membantu Arka mulai dari mengambilkan minum untukku dan tidak berhenti meminta maaf bahkan sampai ikut menangis. Dalam keheranan aku berusaha menata emosiku, mengatur napas dan berusaha tegar menghadapi Lovely.


"Kok kamu ikut panik sampai nangis? Ada apa?" tanyaku sambil mengusap air mata yang basah di pipi.


"Aku udah bilang sama Kak Arka, udahan aja. Tapi Kak Arka malah ngeyel," kata Lovely yang membuatku semakin bingung.


"Ini mengenai apa?" tanyaku dengan nada semakin meninggi.


"Yank, kamu tenang dulu, kendalikan emosimu, nanti kalau semua sudah baik-baik saja baru aku ceritain semuanya. OK ?!" kata Arka yang hanya mampu membuatku menghela napas panjang.

__ADS_1


Apa sih maksud mereka?


__ADS_2