
Ponsel Awan terus berdering, itu adalah panggilan dari Chloe. Aku terus menatap Awan yang enggan menjawab panggilan itu. Namun, ponselnya terus berdering tanpa henti dan membuatku risih.
"Kenapa nggak dijawab?" tanyaku pelan.
"Rese dia," kata Awan sambil fokus mengemudi.
Ponselnya berdering lagi, ku alihkan pandanganku ke luar jendela karena sejujurnya aku merasa terganggu. Ingin rasanya ku jawab saja tapi aku harus menghormati privasi Awan. Namun, untuk kesekian kalinya ponsel itu berdering lagi. Awan memintaku untuk menjawabnya dan aku melakukannya. Ku jawab dengan mode loudspeaker supaya Awan bisa mendengarkan pembicaraan kami.
"Halo," kataku sambil menunggu suara dari seberang menjawab.
"Halo, kak yang punya HP ini barusan kecelakaan di depan lobi hotel. Terakhir HP nya masih nyala dan sedang melakukan panggilan ke nomer kakak," kata suara laki-laki di saluran telepon.
"Sekarang di mana?" tanyaku panik sambil memandang Awan.
"Di bawa ke rumah sakit terdekat mungkin. Ini HP sama barang-barangnya dititipin di security hotel," jawabnya lagi.
"OK, terima kasih infonya ya mas, segera kami susul ke rumah sakit," kataku lalu mengakhiri panggilan.
Awan lalu memutar balik dan mengemudikan mobilnya mencari rumah sakit yang dimaksud. Menurutnya rumah sakit yang paling dekat adalah rumah sakit tempat ayahnya dirawat tadi. Karena kecelakaan baru saja terjadi, kemungkinan besar Chloe masih dirawat di IGD. Sesampainya di rumah sakit, Awan memintaku untuk turun dan mencari Chloe di IGD sementara dia harus memarkir mobilnya di basement. Aku langsung masuk ke ruang IGD dan bertanya pada perawat yang jaga mengenai korban kecelakaan di hotel. Benar dugaan Awan bahwa Chloe dilarikan ke rumah sakit ini. Perawat itu lalu mengantar aku ke Chloe.
Chloe berbaring di tempat tidur dan tangannya sudah dipasangi infus. Menurut perawat, kepalanya mengalami benturan keras sehingga tidak sadarkan diri tapi kondisinya tidak mengkhawatirkan. Pihak rumah sakit menunggu keluarga pasien untuk meneruskan prosedur rawat inap dan mengurus administrasinya. Ponselku berbunyi dan segera aku keluar dari ruang IGD untuk menjawab panggilan telepon dari Awan
"Gimana sayang?" tanya Awan
"Iya, ada di IGD," jawabku setengah berbisik.
"Sayang tunggu di situ ya, sebentar lagi aku naik," kata Awan lalu menutup teleponnya.
__ADS_1
Aku baru sadar ternyata dari pagi, saat kami hanya berdua Awan selalu memanggilku dengan kata 'sayang'. Aku mulai tersipu-sipu sendiri. Aku tersadar, ini bukan waktunya kasmaran seperti itu, ada Chloe yang harus diurus. Aku kemudian menemui suster tadi dan mengaku jika aku adalah kerabat dari Chloe. Aku menanyakan apa yang harus aku lakukan selanjutnya supaya pasien bisa ditangani lebih lanjut. Perawat memintaku untuk ke ruang administrasi untuk menandatangani beberapa berkas persetujuan dan mencari kamar untuk pasien. Aku bertemu dengan Awan yang baru keluar dari lift saat aku keluar dari IGD menuju lobi pendaftaran.
"Mau ke mana, sayang?" mau ke lobi administrasi mengurus rawat inap.
"Oh, tadi aku sudah menghubungi pihak hotel. Tas dan dompet Chloe masih di sana. Aku sudah minta seseorang mengirimnya ke sini. Untuk rawat inap butuh KTP," kata Awan menjelaskan.
"Sepertinya itulah bisa disusulkan, yang penting kita urus dulu mana yang bisa," kataku.
Setelah ribet wira-wiri di bagian administrasi, Chloe akhirnya pindah ke kamar rawat inap. Awan memilih perawatan kelas 1 untuk Chloe dan semua biaya dia yang akan menanggungnya. Tanpa sengaja kami berpapasan dengan ibu Awan karena kamar Chloe dekat dengan kamar perawatan ayah Awan.
"Kalian belum pergi?" tanya ibu Awan heran.
"No, mom. Tadi kami sudah pergi, ini kembali lagi ngurus Chloe kecelakaan," kata Awan menjelaskan ke ibunya.
"Chloe? Oh my God. Sekarang gimana?" tanya ibu Awan dengan nada panik.
"Syukurlah," kata ibunya sambil mengelus dada.
"Itu, adiknya Chloe sudah datang, kita pergi ya sayang," kata Awan menggandeng tanganku walau sebenarnya aku malu digandeng seperti itu di depan ibunya.
"Wait, you call her sayang?" tanya ibunya dengan nada terkejut yang membuat nyaliku menciut.
"Of course, she's my girlfriend, right? Soon, she will be my wife," kata Awan yang yang membuatku rasanya ingin menghilang seketika dari hadapan ibunya.
"That's a great news. Nanti kita bicarakan setelah daddy pulang," kata ibunya sambil mengelus-elus punggungku padahal aku sudah merasa mulai tidak berkutik.
Ibunya kemudian kembali ke tempat ayahnya setelah sebelumnya basa-basi dan cipika-cipiki dengan adiknya Chloe yang bernama Sophie. Kami segera mendekati Sophie. Setelah Awan menceritakan apa yang terjadi pada Chloe, kami lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Dari percakapan Awan dengan Sophie, aku jadi tahu kronologi kecelakaan Chloe. Saat Chloe melihat kami di lobi hotel, Chloe bergegas mengejar kami tanpa melihat sekitarnya dan ditabrak oleh mobil yang memasuki area lobi hotel. Chloe terjatuh lalu kepalanya terbentur pilar dengan keras. Pihak hotel lalu menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.
Sambil berjalan menuju area parkir, Awan menceritakan padaku kalau keluarga Awan dan Chloe memiliki hubungan yang baik. Baik itu untuk urusan bisnis maupun untuk urusan pribadi. Ibu Awan dan Ibunya Chloe bersahabat sejak masih kuliah. Mereka sering pergi bersama, tidak heran jika Chloe sering mengaku-aku kalau dia adalah pacar dari Awan. Namun sifatnya yang agresif membuat Awan selalu berusaha menghindarinya.
...****************...
Kami tiba di rumahku saat hari menjelang sore. Aku sudah lelah dan mulai malas beres-beres, dan ku tunda semuanya sampai besok. Belum sempat kami masuk rumah, Rayi juga baru datang entah dari mana memarkirkan sepeda motornya tepat di samping mobil Awan. Wajahnya tampak sumringah dan berbahagia.
"Berbunga-bunga sekali nona," kata Awan yang memang suka menggoda Rayi.
"Iya dong, mosok berkumbang-kumbang?" jawab Rayi yang disambut tawa oleh Awan.
"Dari mana?" tanyaku.
"Ketemu buyer," jawab Rayi dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Sabtu lho ini," protesku karena harusnya hari ini libur.
"Wong bisnis ndak kenal hari. Iya toh Bung Awan?" katanya dengan nada congkak.
"Ketemu Pak Surya?" tanyaku menebak
"Anaknya dong, Genji Takiya," jawabnya sambil berjalan masuk ke rumah.
"Maksudnya apa sih dia? Sepeda motornya ditinggal di sini, dianya pulang sendiri. Nggak beres tuh anak," kataku menggerutu yang disambut tawa oleh Awan.
Awan lalu pamit pulang dan meminta maaf karena hari ini semua yang kami jalani tidak sesuai rencana. Dia mencium keningku sebelum pergi dan aku melambaikan tangan ketika mobilnya bergerak meninggalkan rumahku. Baru saja aku akan melangkahkan kaki masuk ke rumah saat Bara, lelaki yang memicu pertengkaranku dengan Awan beberapa hari sebelum kami jadian tiba-tiba datang ke rumahku dengan senyumnya yang sebenarnya menyebalkan. Aduh, petaka apa yang akan dibawa oleh Bara ini?
__ADS_1