
Pak Surya datang ke paviliun saat aku menyapu sambil bersenandung ringan. Dia tersenyum padaku walau sebenarnya tampak ketegangan di wajahnya. Aku segera menyambutnya dan memintanya masuk ke rumah. Ternyata Pak Surya datang untuk menemui Mbok Welas. Ku hidangkan segelas teh hangat dan menawari Pak Surya sarapan namun dia menolaknya. Arka yang baru selesai mandi ikut bergabung dengan Pak Surya di ruang tamu. Kedatangan Pak Surya ternyata hanya untuk meminta Mbok Welas supaya mau tinggal bersama Aditya di rumah induk.
"Papa nggak tahu aja kalau mas semena-mena sama Mbok Welas. Mbok Welas bukan babu pa," protes Arka tidak terima
"Tapi Mbok Welas nggak boleh pilih kasih dik, mau ngurusin kamu tapi menolak masmu," Pak Surya masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Mbok Welas itu punya hak buat milih orang hidup-hidup dia, terserah dia mau sama siapa," tolak Arka semakin keras
"Tapi masmu membutuhkan Mbok Welas," Pak Surya masih berusaha meyakinkan Arka.
"Ya udah pa, daripada buat rebutan, hari ini juga Arka pulangin Mbok Welas ke rumahnya. Dia juga punya anak dan cucu yang lebih membutuhkannya daripada kita," keputusan Arka sepertinya sudah final
"Kalau bercanda jangan kelewatan," tolak Pak Surya yang menganggap Arka tidak serius dengan ucapannya.
__ADS_1
"Gampang, kalau kelewatan tinggal putar balik," balas Arka asal dan berdiri meninggalkan Pak Surya.
Mbok Welas dari tadi hanya diam menyimak akhirnya buka suara dan mengatakan pada Pak Surya kalau selama ini memang Mbok Welas ada di keluarga ini hanya untuk menemani Arka. Dia tahu ketidakadilan yang mereka lakukan terhadap Arka yang selalu harus mengalah pada Aditya hanya karena mereka iba pada Aditya yang sedari lahir sudah kehilangan ibu kandungnya. Tapi menurut Mbok Welas, Aditya tidak pernah kekurangan kasih sayang dari seorang ibu karena Bu Gendis sangat menyayangi Aditya bahkan perhatiannya lebih besar kepada Aditya ketimbang Arka. Itulah yang menjadi alasan kenapa Mbok Welas lebih memilih Arka yang menurutnya malah kekurangan kasih sayang dari ibu kandungnya.
Arka juga lebih membebaskan Mbok Welas tanpa mengatur dia harus tidur di mana, mau berbuat apa semua terserah Mbok Welas. Bahkan jika Mbok Welas seharian tidak melakukan apapun dan hanya menonton TV sepanjang hari, Arka tidak pernah keberatan apalagi sampai menegurnya. Arka memang jauh lebih mandiri, kalaupun Mbok Welas tidak membantunya untuk urusan rumah tangga, Arka bisa menyelesaikannya sendiri. Mbok Welas benar-benar diperlakukan seperti tuan rumah, bukan seperti orang yang menumpang. Mbok Welas juga menceritakan pada Pak Surya betapa kurang ajarnya Aditya yang memintaku untuk menjadi istrinya.
Kekecewaan, emosi dan malu bercampur aduk dan terlihat jelas di wajah Pak Surya. Dia mengira kalau pertengkaran semalam hanya karena Mbok Welas yang dipaksa Arka untuk tinggal di paviliun padahal sebenarnya Mbok Welas berada di sini karena keinginannya sendiri. Pak Surya sesekali memegang kepalanya dan memberi pijatan ringan di pelipisnya. Tanpa banyak kata Pak Surya meninggalkan paviliun dan kembali ke rumah induk.
...****************...
"Udah minta izin mama?" tanyaku karena khawatir bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
"Nggak perlu, dari pintu di balik kolam koi sampai dan seluruh lokasi paviliun ini sudah pecah sertifikat atas namaku dan itu sudah sejak aku berusia 17 tahun, kado ulangtahun dari mama jadi terserah aku mau berbuat apa," kata Arka sambil tersenyum.
__ADS_1
Gila, kado sweet seventeen nya Arka berupa properti, apalah daya aku yang saat umur segitu hanya mendapat hadiah KTP karena sudah cukup umur. Aku hanya mampu menggaruk-garuk kepalaku, seolah baru sadar kalau status sosialku dan Arka bagai langit dan bumi.
"Langit dan awan aja, kalau langit dan bumi kejauhan," kata Arka sambil tersenyum saat aku mengutarakan hal itu padanya.
"Awan itu hanya menumpang di langit, suatu saat akan jadi titik-titik air yang jatuh ke bumi," kata Mbok Welas sangat puitis, maklum korban sinetron.
"Sama aja, akhirnya jadi seperti langit dan bumi," kataku sambil terkekeh.
"Tapi setidaknya pernah bersama dan menjadi hujan itu berarti bermanfaat untuk yang lain, bagus dong yank," kata Arka sambil mengacak-acak poniku.
Kenapa pembicaraan ini terasa sangat dalam ya? Tapi aneh juga, kami seolah mengucilkan diri dari penghuni rumah induk padahal harusnya kami bisa memiliki hubungan yang erat karena ikatan darah dan garis keturunan. 'Entah siapa yang salah ku tak tahu' penggalangan nyanyian yang ramai di sosmed itu mendadak terngiang di telingaku. Tapi kalau boleh jujur, aku merasa lebih nyaman di sini, entah karena sudah terbiasa dengan rumah yang sederhana atau karena aku merasa lebih dekat lagi dengan Arka.
Dering ponsel Arka memotong pembicaraan kami yang sedang seru. Aneh saja, itu panggilan dari Pak Surya yang meminta aku dan Arka untuk ke rumah induk dan Arka mengiyakannya. Semua sudah berkumpul di meja makan saat kami sudah di rumah induk. Ada dua orang anak perempuan yang tampak berlari-larian. Yang besar berusia sekitar tujuh sampai delapan tahun sedangkan yang kecil kemungkinan berusia tiga tahun. Yang kecil menangis sambil mengejar kakaknya karena sepertinya mereka berebutan boneka. Spontan aku mendekati mereka dengan niat untuk melerai mereka namun apa yang ku dapatkan? Si Kakak malah memukul kepalaku dengan boneka. Anak yang kecil memberontak melepaskan diri dari tanganku dan berlari menuju Bu Gendis karena aku masih asing di matanya. Bukannya menolongku, Arka malah menertawakan aku. Si kakak terus melotot ke arahku dan tampak bersiap-siap untuk melancarkan serangan berikutnya dan membuatku sigap berdiri dan berjalan menuju ke meja makan dan bergabung dengan semua yang ada di sana.
__ADS_1
Bu Gendis memperkenalkan kami dengan Fiona, istri Aditya. Kulitnya putih bersih dan matanya sedikit sipit, tubuhnya agak berisi dan dia kelihatan sangat ramah dengan gaya bicara yang membawaku ke dunia Upin Ipin. Anak yang besar bernama Eurika dan yang kecil bernama Edna. Tapi dari semua yang ada di ruangan ini, tatapan liar Aditya ke arahku membuatku merasa sangat tidak nyaman. Bagaimana mungkin di depan istri dan anak-anaknya dia bisa bertingkah seperti itu.
Hening mengisi ruangan saat Fiona membawa kedua anaknya masuk ke dalam kamar. Pak Surya berdeham sebelum memulai pembicaraan. Hal penting apa ya yang akan dibahas?