
Sekitar dua minggu yang lalu Awan datang menemui ibu. Hanya untuk memastikan kalau aku baik-baik saja. Dia juga menanyakan pada ibu keadaanku dan apa aku masih mencintainya. Tentu saja ibu mengatakan kalau aku menjalankan rumah tangga dengan penuh kebahagiaan apalagi aku sudah melahirkan seorang anak. Ibu tidak mengada-ada karena memang begitu adanya. Awan sama sekali belum bisa memaafkan dirinya yang tidak bisa berjuang untuk mendapatkanku. Awan merasa dia hanya kurang cepat bertindak sehingga dia gagal menikahiku dan membiarkan Arka mempersunting ku. Awan bahkan sampai meneteskan air mata, dia juga tidak tahu mengapa begitu sulit melupakanku. Ibu malah meminta maaf padaku karena pada saat itu tidak bisa membujuk bapak untuk membatalkan perjodohanku dan Arka. Walau sebenarnya sudah ku jelaskan bahwa semua ini adalah pilihanku. Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini.
"Cinta yang sebenarnya nggak perlu takut akan masa lalu. Memang sebaiknya menikah dengan orang yang di cintai tapi, kata orang Jawa witing tresno jalaran soko kulino, lama-lama cinta itu bisa tumbuh, yang penting dalam rumah tangga kalian bisa saling menghargai,saling mengisi dan bisa jadi sahabat terbaik," kata ibu yang membuatku lama merenung.
"Iya Bu," hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
"Bapak dan ibu minta maaf karena sudah memaksamu menikah padahal kamu sudah punya pilihan sendiri," kata yang keluar dari mulut ibu membuatku terkejut.
"Nggak ada yang salah bu, Arka itu suami yang baik, aku nggak pernah menyesal menikahinya," kataku sambil memegang tangan ibu.
"Semoga begitu terus ya nduk, ibu berharap kamu langgeng sama Arka sampai maut memisahkan," kata ibu sambil memegang tanganku.
Ibu kemudian pamit masuk karena ingin beristirahat kemudian Rayi keluar dengan muka tidak enak seperti terakhir kali kami berbicara. Aku tahu lama-lama dia bosan dan eneg dengan tingkahku yang masih bingung dengan perasaanku sendiri. Rayi duduk di sampingku dengan bibir mencucu. Aku tahu, dia pasti mencuri dengar perbincangan ku dengan ibu tadi.
__ADS_1
"Kamu pikir melupakan cinta itu semudah jajan cilok di lapangan?" kataku berharap dia mau mengerti perasaanku
"Tapi kan sudah sekian lama kalian pisah," kata Rayi masih menyalahkanku.
"Iya, aku nggak tahu aja kenapa bisa begini," balasku sambil menghela napas.
"tahu perasaanmu ngalor ngidul gini, Arka ku sikat aja dulu," kata Rayi dengan songongnya.
"Kenapa Awan selalu hadir dalam hidupku?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.
Lalu aku mengajak Rayi membahas tentang butik daripada berlarut-larut membahas tentang Awan. Ada pesanan yang mesti diselesaikan segera dan untuk itu aku harus ke kota. Sekarang memang butikku jadi jauh lebih mandiri karena Keysha sudah tidak pernah lagi membantuku. Kami mempunyai beberapa Staff Administrasi yang memang sangat membantu namun pekerjaannya harus terus dipantau. Mungkin besok atau lusa aku perlu ke butik untuk membereskan beberapa pekerjaan. Pak Surya juga meminta Arka untuk membantunya menemui beberapa client penting dari luar negeri. Aku membahas masalah ini dengan ibu sebelumnya dan ibu menawarkan diri untuk menjaga Aahva. Ini juga tidak ada lama, hanya tiga atau empat hari. Selebihnya pekerjaan bisa ku pantau dari Villa seperti biasa. Andai saja aku berani menghadapi Awan, pasti aku tidak perlu wira-wiri terlalu jauh, kasihan juga Aahva, apalagi kalau nanti dia sudah bersekolah, pasti akan sangat merepotkan.
...****************...
__ADS_1
Saat makan malam, aku menceritakan semua rencana pekerjaan dan kemajuan butikku pada Arka. Dia terlihat sangat tertarik dan antusias menyimak setiap perkataan yang aku sampaikan padanya.
"Rinto mau beli rumah sendiri, kontrakan yang dulu dipakai Rayi itu dijual yank. Rumah itu yang rencananya mau mereka beli," kata Arka setelah kami selesai makan malam.
"Oh ya? Terus?" tanyaku antusias.
"Otomatis rumahmu jadi nggak ada yang pakai dong, kita tinggal situ aja ya," kata Arka dengan senyum mengembang." Jadi kita tinggal di sana aja, kamu juga jadi bisa lebih fokus kerjanya. Bila perlu kalau ada rumah tetangga lain yang dijual, kita beli aja. Bisa dipakai untuk kantor," lanjut Arka lagi
Tentu saja aku senang karena aku akan tinggal lagi di situ, di lingkungan yang sudah sangat ramah dan baik bagiku, menjadi warga Pak RT yang sekarang sudah naik pangkat menjadi RW dan yang terpenting, Rayi juga akan menjadi tetanggaku. Arka berniat tinggal di situ karena ada beberapa pekerjaan yang mengharuskannya sering berada di kota. Dia juga lelah kalau harus wira-wiri terlalu sering. Ibu tentu saja akan ikut bersama kami sementara waktu. Arka juga berencana merenovasi rumah kami untuk menambah kamar sehingga rumah akan menjadi dia lantai. Sementara rumah direnovasi, kami akan tinggal di apartemen. Aku tersenyum melihat aku yang kegirangan sambil membereskan meja makan dan dan bersenandung senang. Beres sudah pekerjaan aku kemudian menidurkan Aahva dan terasa Arka memelukku sangat erat dari belakang.
"Kok meluknya erat banget mas?" tanyaku sambil meletakkan Arka di tempat tidurnya.
"Nanti kalau kembali ke kota, kita pasti ketemu Awan. Apalagi dia tahu rumah kita, apa kamu siap?" tanya Arka semakin mempererat peluknya dan aku membalikkan badan dan menatap ke dalam mata Arka yang berharap jawaban jujur dariku.
__ADS_1
"Aku pasti bisa mas, karena kamu suami terhebat di dunia," jawabku mantap tanpa ada ragu.
Sudah tidak sabar menjalani hidup di kota lagi setelah sekian lama berpindah-pindah, aku hanya berharap kami bisa menetap di sana dan bahagia membesarkan Aahva dan adiknya yang mungkin akan lahir 9 bulan kemudian. Aku hanya perlu waktu yang tepat untuk memberitahu Arka tentang hasil testpack ku tadi sore.