
Jantungku berdetak karena akhirnya aku bisa bertemu dengan lelaki itu. Dia datang di waktu yang tepat, saat kami membutuhkan bantuan. Seperti apa dia? Sebuah MPV berwarna putih terparkir di depan rumah. Rinto keluar dari mobil dan menyongsong kami. Sebenarnya aku tidak mau menerima bantuan lelaki itu karena aku tidak ingin berhutang budi padanya. Tapi hanya inilah satu-satunya cara supaya kami bisa segera kembali ke kota.
"Ayo, keburu ambulansnya jauh," kata Rinto sambil membukakan pintu belakang untuk kami.
Dengan was was aku melangkah masuk ke dalam mobil itu, dan di sana hanya ada seorang pria paruh baya yang terlihat sangat santun. Ternyata lelaki itu tidak ada di sini, yang menghantar kami adalah sopir pribadinya. Sedikit merasa lega karena tidak harus bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini namu juga rasa penasaran semakin bersarang di benakku. Aku juga tidak berani untuk menanyakan tentangnya baik pada Rinto maupun sopir itu.
"Sebenarnya bapak kenapa, To?" tanyaku pada Rinto membuka pembicaraan.
"Sejak kamu terakhir ke sini, paklik itu nggak pernah sehat. Kambuh-kambuhan terus," kata Rinto sambil pandangan fokus ke jalan.
"Kowe kok ora ngabari aku, To?" Kata Rayi protes karena Rinto tidak memberi kabar tentang keadaan bapak.
"ndak dibolehin Bulik," kata Rinto membantah protes Rayi.
Sebenarnya dari kemarin bapak sudah merasa lebih baik dari hari sebelumnya sehingga bapak memberanikan diri turun ke sawah. Katanya bosan jika hanya diam di rumah atau memantau pengerjaan sawah dan ladang dari kejauhan. Tapi hari ini, para petani menemukan bapak terpeleset dan terjatuh lalu pingsan. Segera mereka membawanya ke puskesmas, tapi menurut keterangan dokter bapak terserang stroke dan mengalami koma sehingga harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan dengan peralatan yang lebih lengkap.
"Bapak sampai koma?!" jujur aku sangat terkejut dengan kabar ini.
"Iyo e Kas, maaf ya Kas, kabarnya kemungkinan paklik juga lumpuh sebelah," kata Rinto yang membuat perasaanku semakin tidak karuan.
Aku hanya terbengong, ingin menangis juga rasanya air mata sudah terkuras habis. Semua berawal dari keegoisanku yang menolak permintaan bapak, dan dengan lantang aku menolaknya. Ibarat aku harus memilih antara kebahagiaan orangtuaku atau kebahagiaanku sendiri yang harus aku perjuangkan. Spontan ku acak-acak rambutku karena tidak tahu harus berbuat apa lagi.
...****************...
__ADS_1
Ibu duduk termenung di luar ruang ICU. Saat melihat kedatanganku ibu langsung memelukku sambil terisak. Ibu masih menunggu keterangan dari dokter mengenai perkembangan kesehatan bapak. Kami hanya diam sibuk menata hati dan perasaan masing-masing.
"Sebenarnya bapak kenapa, Bu?" aku memberanikan diri bertanya.
"Bapakmu banyak pikiran, nduk. Antara menepati janjinya atau membahagiakan anak satu-satunya," kata ibu yang membuatku merasa terbebani.
"Maaf kan aku, Bu," kataku sambil menunduk.
"Bapak merasa bersalah, harusnya dulu sebelum menyetujui permintaan Mas Sur, bapak tanya dulu ke kamu. Bapakmu pekewuh kalau harus membatalkan semuanya. Itu yang membuat pikiran bapakmu berat," kata ibu sambil sesekali menghapus air matanya.
Ya Tuhan,durhakakah aku pada kedua orangtuaku? Semua salahku sampai bapak harus menanggung semua ini. Sepertinya aku harus mengalahkan egoku, tidak sanggup aku melihat derita kedua orang tuaku.
"Bapak maunya aku gimana?" kataku pelan pada ibu.
Tidak lama kemudian, dokter memanggil kami mengatakan bapak sudah melewati masa kritisnya dan mengabarkan kalau bapak mengalami lumpuh di wajah dan tubuh sebelah kiri. Namun, menurut dokter penyakit stroke bisa disembuhkan melalui tetapi. Namun saat ini bapak harus tetap menjalani rawat inap untuk beberapa hari.
Setelah memastikan semua baik-baik saja, aku lalu duduk dan melepaskan lelah yang baru terasa. Ku periksa ponselku dan ada banyak panggilan tak terjawab dari Awan. Sengaja ku abaikan, maafkan aku Awan, rasanya hubungan ini terlalu rumit dan jalan kita akan sulit.
...****************...
Hari ini bapak sudah bisa pulang ke rumah. Aku izin lagi dari pabrik untuk mengantar bapak pulang ke desa. Rayi tidak pernah mau ketinggalan, dia juga ikut bersama kami. Walaupun saat ini bapak harus duduk di kursi roda dan sulit berbicara, namun semangat bapak untuk sembuh sangat tinggi. Apalagi saat ibu memberitahu ayah jika aku bersedia berkenalan dengan lelaki itu dan membicarakan perjodohan mereka. Ada lega di hati melihat senyum semangat dari bapak.
Semua sudah siap di dalam mobil yang disewa Rinto untuk menjemput kami pulang ke desa.
__ADS_1
Suasana lebih santai, tidak tegang seperti saat menyusul bapak beberapa hari yang lalu. Ku genggam tangan bapak disepanjang jalan. Terukir janji dalam hati, aku akan membahagiakan bapak dan menuruti apapun keinginan bapak. Jika bapak menginginkan perjodohan ini dipercepat aku akan berusaha keras untuk menurutinya.
"Tadi pas kamu belum sampai ke rumah sakit, calon suamimu jenguk bapak lagi, nduk. Tapi dia buru-buru pergi karena dia sibuk," kata ibu dengan senyum sumringah.
Menurut cerita ibu, lelaki itu sering menjenguk bapak, tapi entah kenapa dia sering datang saat aku sedang tidak ada di sana. Dalam hatiku sedikit terhibur, mungkin saja kami memang tidak berjodoh. Sepele seperti ini saja kami sulit bertemu. Kalau memang tidak ada jodoh untuk apa dipaksakan?
Hatiku terkadang masih bimbang dan labil. Kadang aku berusaha keras untuk berlapang dada menerima perjodohan ini tapi di satu sisi aku juga masih ada keinginan supaya semua ini bisa dibatalkan.
Aku menguap, rasa lelah dan kantuk menyerang diriku, perjalanan masih jauh, kemungkinan masih ada tiga jam lagi, aku memutuskan untuk memejamkan mata dan berharap bisa tidur sejenak. Namun suara Rayi dan ibu yang berdebat membahas sinetron entah apa lumayan mengganggu kenyamanan.
"Ra, diam dong, polusi suara tau! Nggak penting juga ribut cuma gara-gara sinetron," kataku sambil melempari Rayi dengan bantal leher.
"Lho, bude yang mulai lho," kata Rayi membela diri dan melimpahkan kesalahan pada ibu.
"Ya kamu nanggepinnya biasa aja, nggak usah berlebihan pakai emosi seperti itu," kataku tidak berani menyalahkan ibu.
"Bude sing ngamuk," kata Rayi masih terus membela diri.
"Kalian berdua ributnya malah lebih berisik dari tadi," kata Rinto yang membuat kami semua tertawa.
Tanpa terasa kami sudah hampir tiba di rumah. Dari kejauhan terlihat mobil MPV putih yang kami tumpangi saat itu. Terlihat Pakde Marto dan Bude Rini sibuk melayani tamu yang duduk di teras. Seorang wanita cantik yang terlihat sangat anggun dan lelaki bertubuh gempal. Dan seorang lelaki memakai hodie dan celana cargo selutut sedang membelakangi kami karen sepertinya dia lebih tertarik melihat ke arah sekelompok orang yang menjemur padi.
"Lho, itu keluarga Mas Sur, Pak," kata ibu bersemangat.
__ADS_1
Ibu turun terlebih dahulu untuk menyambut tamunya, sedang aku, Rayi dan Rinto membantu bapak untuk turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya. Lelaki berhodie putih itu bergegas membantu kami dan betapa aku kaget melihat wajah yang sangat ku kenal itu tersenyum di depanku dan Rayi.