
Panas sinar matahari pagi terasa menyentuh pipiku. Seseorang sudah membuka jendela. Arka dengan rambut basah bertelanjang dada, hanya memakai celana kolor serta berkalung handuk membawakan segelas air putih untukku.
"Bangun tidur biasakan minum segelas air putih hangat," kata Arka sambil meletakkan segelas air putih di nakas. Botol minum yang ku sediakan untuknya semalam juga sudah tinggal seperempat.
Semalam aku sangat ngantuk sampai lupa jam berapa aku tertidur.
Hah? Seketika itu aku terduduk, bukankah semalam aku tidur di kursi karena kasur sudah ditempati oleh Arka? Lalu bagaimana aku bisa berada di atas tempat tidur ini? Segera ku intip tubuhku di balik selimut, aku masih berpakaian lengkap, piyama dengan celana dan lengan panjang. Apa yang sudah Arka lakukan padaku? Aku mulai mengacak-acak rambutku dan pikiranku entah ke mana. Kalau pun terjadi sesuatu, harusnya itu bukanlah masalah karena Arka adalah suamiku. Aduh, sulit ku percaya kalau aku sekarang sudah menjadi istri.
"Kamu nggak pingin bangun, terus mandi keramas?" tanya Arka yang membuatku semakin was-was.
"Kenapa mesti keramas?" tanyaku berpura-pura santai.
"Kemarin rambutmu dihari spray apa nggak gatel dan terasa kaku?" tanya Arka sambil tersenyum.
Aku lalu turun dari tempat tidur meminum air putih yang sudah disediakan Arka dan bergegas ke kamar mandi.
"Kamu gimana sih, Kas? masak duluan suamimu yang bangun. Ngisin-isini !" kata ibu mengomel saat aku akan sarapan tapi aku malam memilih diam.
"Nggak papa Bu, Kasih itu ngantuk, kecapekan," kata Arka membelaku tanpa ku minta.
Ibu kemudian meninggalkan kami sarapan berdua, ada rasa canggung yang luar biasa saat ini. Aku tidak ingin membayangkan apa yang terjadi antara kami semalam tapi pikiran itu terus saja memenuhi otakku.
"Semalam itu atau tidur di kursi, kenapa paginya aku bangun di atas tempat tidur?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Semalam aku terbangun karena aku ingin minum, kemudian aku yang memindahkan mu ke tempat tidur," kata Arka dengan santai.
"Terus?" tanyaku.
"Kita tidur bareng," jawab Arka seolah ini bukanlah sesuatu yang aneh.
"Teru
s?" desakku lagi.
"Terus kamu berharap apa?" kata Arka sambil mendekatkan wajahnya dengan wajahku dan menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Aku berusaha memundurkan wajahku tapi Arka malah tertawa jahil. Apa kami hanya sekedar tidur bareng? Aku mencoba menghindarinya dengan membereskan piring dan peralatan makan tadi. Sebisa mungkin aku harus menghindari Arka supaya bisa terhindar dari pikiran mesumnya.
Dan kebingungan menuntun langkahku ke rumah Rayi yang lumayan jauh dari rumahku. Ke mana lagi aku harus mengadu kalau bukan kepadanya. Aku ceritakan semua kegelisahanku padanya.
"Bocah gendeng, ya wajar dong. Bagus malahan, kalian kan suami istri memang harus begituan," kata Rayi saat aku curhat tentang semalam.
"Aku nggak nyaman sama sekali, Ra." kataku.
"Kamu itu ya aneh, hal kayak gini diceritain ke aku. Saru !" kata Rayi yang membuatku semakin stress. Lalu aku harus cerita ke siapa? Kalau aku cerita ke ibu, pasti ibu akan mengomeli ku sepanjang hari.
Akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah dan lagi-lagi mendapat omelan dari ibu. Menurut ibu tidak pantas seorang istri keluyuran tanpa izin suami dan ternyata saat aku ke tempat Rayi, Arka mencariku. Semua jadi bertambah tidak nyaman karena bertambahnya aturan dalam hidupku. Rasanya sangat aneh jika harus bersama Arka dimanapun.
Aku kembali ke kamar karena bingung harus berbuat apa. Kemudian Arka datang, dia lalu menggenggam tanganku sambil tersenyum malu-malu. Arka lalu menaikkan tangannya ke wajahku untuk melakukan ciuman. Namun, saat dirinya sudah memajukan wajahnya, aku tiba-tiba menahan tubuhnya. Arkapun langsung memundurkan wajahnya, tidak jadi mencium.
"Kamu mau ngapain?" tanyaku sambil berbisik dan terkesan sedikit galak.
"Nggak ngapa-ngapain, apa sih yang ada di kepalamu?" balas Arka tepat di samping telinga.
"Ka, please, " kataku memohon entah untuk apa.
"Kas, aku tahu keadaanmu. Pernikahan ini tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Aku nggak akan menyentuhmu kalau kamu belum siap. Semalam aku pindahin kamu ke kasur, terus aku yang tidur di kursi," kata Arka sangat lembut padaku.
"Kamu tidur aja situ, tapi jangan bilang siapa-siapa, aku mau nyelonong pulang, mau tidur di rumahku," kata Arka.
Kemudian, Arka akhirnya mendaratkan ciumannya di keningku dengan sangat romantis. melepaskan tanganku dan berlalu pergi.
...****************...
"Kasih, piye to nduk, nduk." terdengar lagi suara Omelan ibu yang membangunkan ku
"Kasih salah apa lagi bu?" tanyaku malas.
"Suamimu sakit kok malah enak-enakan tidur," kata ibu dengan mimik muka marah.
"Arka kok yang nyuruh Kasih tidur, tadi dia baik-baik aja," kataku sambil duduk dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
"Mana dia sekarang?" tanya ibu seperti mengujiku.
"Tadi katanya mau pulang," jawabku apa adanya.
"Udah, Kasih jangan dimarahi. Mereka baru kemarin menikah jadi wajar kalau masih kaget, kecapekan juga," terdengar suara Bu Gendis dan akhirnya aku membuka mata.
"Arka di rumah, badannya panas. Mungkin dia sungkan mau ngomong jadi pulang. Masuknya aja melompat jendela." kata Bu Gendis sambil tertawa.
Akhirnya Bu Gendis membawaku pulang ke rumahnya. Dengan membawa beberapa baju ganti aku berangkat ke sana. Mungkin aku akan wira-wiri antara rumahku dan rumah Arka.
Saat memasuki kamarnya, Arka terlihat terbaring di atas tempat tidur. Ku ulurkan tanganku untuk menyentuh dahinya. Prosedur standar untuk mengecek suhu tubuh dan menentukan demam atau tidak. Badannya memang terasa panas, kasihan Arka pasti semalam dia tidak nyaman tidur di kursi padahal sudah lelah seharian. Tiba-tiba saja Arka menarik tanganku dan menempelkan di pipinya.
"Ma, adik pusing banget," katanya dengan mata masih tertutup.
"Kamu sudah minum obat?" tanyaku pelan.
"Ma, adik nggak mau minum obat. Minum air putih hangat saja yang banyak," kata Arka masih mengira kalau aku adalah Bu Gendis.
Perlahan ku lepaskan tanganku dari pipinya. Aku menemui Bu Gendis dan meminta air hangat di baskom dan handuk kecil untuk kompres serta air hangat untuk Arka minum.
"Bawa termosnya ke kamar," kata Bu Gendis
"Badannya nggak terlalu panas, kalau telaten dikompres sama minum air hangat pasti cepat reda," kataku sok-sokan tahu dunia keperawatan.
"Nggak tahu kenapa, sudah lumayan beberapa tahun terakhir ini Arka susah sekali minum obat." kata Bu Gendis mengeluh.
Aku bergegas kembali ke kamar, mencelupkan handuk ke dalam baskom, memerasnya kemudian menempelkan di dahi Arka. Tangannya sesekali menggenggam tanganku dan seperti mengigau dia berkata, "Ma, adik pasti sembuh kan?".
Anak manja ini, hanya demam saja tapi seperti mengalami sakit berat. Ku ambil handuk di dahinya dan ku pindahkan ke tengkuknya. Arka kemudian meminta minum dan aku menuangkan air ke dalam gelas untuknya. Dia lalu duduk dan membuka mata dan dengan ekspresi kaget menatapku.
"Kasih? Ku kira dari tadi kamu itu mama," katanya salah tingkah.
"Iya, dik. Ini Kasih, bukan mama," kataku menggodanya dan mengulurkan gelas padanya.
Dia kemudian minum namun matanya terus menatapku dengan senyum.
__ADS_1
"Berarti malam ini kamu bobo di sini?" katanya sambil menepuk-nepuk bantal dengan tersenyum usil.
Sebongkah penyesalan muncul karena aku berani menggodanya. Pasti dia akan berusaha membalas dengan perbuatan usil bin jahilnya. Astaga, kenapa serumit dan sekonyol ini rumah tangga ini.