
"Kamu terlalu semangat, boros baterai jadi langsung drop," kata Arka saat aku membuka mata.
"Sumpah, aku lemes banget, seperti energiku dihirup oleh siluman," kataku sambil berusaha duduk.
"Siluman ompong?" kata Arka sambil menyodorkan sesendok nasi ke mulutku.
Pantesan ambruk, dari pagi aku belum makan apapun. Aku menolak disuapin, ku ambil semangkok soto panas dan menikmati setiap sendok ya sampai ke tetes kuah terakhir. Rasanya masih kurang tapi aku malu untuk minta tambah.
"Mas sudah makan?" tanyaku saat melihat wajah heran Arka.
"Sudah," jawabnya masih dengan tatapan yang sama
"Kapan?" tanyaku.
"Pas kamu naik kuda," jawab Arka masih melongo.
"Kok ngelihatinnya segitu amat mas?" tanyaku mulai risih dengan cara Arka memandangku.
"Yank, kamu mau nambah nggak? Kayaknya makan mu masih kurang deh. Tunggu sebentar aku ambilin lagi ya," kata Arka kemudian pergi.
Kenapa selalu saja Arka seolah-olah bisa membaca pikiranku ya? Tidak lama, semangkok soto terhidang lagi di depanku dan tambah segelas teh panas. Sangat cocok dengan cuaca dingin yang sempat membuatku menggigil.
"Kok mas tahu kalau aku masih lapar?" tanyaku sambil mengelap sisa makanan yang mampir di ujung bibir.
"Kamu makannya kayak kesurupan siluman ompong gitu," kata Arka sambil tertawa.
"Gimana, nggak lapar, belum sarapan, berkuda, mendaki gunung, lewati lembah," jawabku sambil membereskan alat makanku.
"Yank, aku minta tolong boleh? Tapi kamu jangan marah," kata Arka yang membuatku penasaran.
"Ya lihat dulu mas mintanya apa? Kalau nggak masuk akal ya aku pasti marah," jawabku tapi aku tidak sabar dengan permintaan Arka.
"Tolong kamu temui Awan sekali lagi ya, tadi pagi aku janji untuk mengusahakan bisa mempertemukan kalian," kata Arka yang seketika menyulut emosiku.
__ADS_1
"Kok seolah-olah mas ngumpanin aku ke Awan ya? Apa sih yang ada di pikiran mas?" tanyaku penuh emosi.
"Nggak gitu yank, maksudku semua harus diselesaikan nggak menggantung seperti ini," kata Arka berusaha menenangkan ku.
"Semua sudah selesai sejak kita menikah dan itu sudah sangat jelas nggak ada lagi yang perlu diselesaikan," kataku.
Kepalaku rasanya mau pecah. Aku bingung bagaimana caranya menumpahkan amarah selain dengan air mata dan tangis. Kenapa Arka selalu menganggap nggak akan jadi masalah kalau aku tetap berhubungan dengan Awan. Arka kemudian memelukku dan meminta maaf tapi tetap saja memaksaku untuk bertemu dengan Awan sekali lagi.
"Sudah mas, sudah cukup. Kita bela-belain pindah supaya bisa menjauhi Awan, sekarang mas malah memintaku untuk menemuinya. Untuk apa mas? Supaya aku semakin terluka? Nggak jelas kamu, mas." kataku kemudian keluar dari Villa tanpa tahu ke mana aku harus pergi .
Arka mengikutiku dan dengan santai membopongku kembali ke Villa. Aku berusaha memberontak namun tampang Arka yang tampak tegang dan dingin serta terkesan sangat mengintimidasi membuatku akhirnya mengurungkan niatku. Lagipula kalau aku memberontak, aku bisa jatuh dan itu sangat membahayakan diriku. Belum lagi berpuluh pasang mata menatap kami heran di sepanjang jalan. Arka yang aneh, dia yang salah tapi kenapa malah dia datang dengan tampang sangar seperti itu. Seperti pendekar yang menyimpan dendam. Harusnya aku yang marah, tapi kenapa malah aku yang jadi takut dan menurut padanya? Kami sampai di Villa dan Arka menurunkan aku di sofa di ruang tamu. Aku hanya tertunduk dan diam.
"Nggak baik pergi dari rumah saat marah, lain kali jangan diulang ya," kata Arka dengan tutur yang lembut dan meluluhkan hatiku.
"Mas, saat ini aku hanya ingin mengurus urusan aku, kamu dan kita. Nggak perlu ada Awan atau yang lainnya," kataku sambil menyandarkan kepala di bahunya.
Arka lalu memelukku dan mengangkat daguku, kemudian menghujani wajahku dengan ciuman dan berakhir dengan ciuman di bibir. Saat bibir Arka menempel di menempel di bibirku, rasanya basah dan lembut, ciuman Arka yang pelan dan halus membuatku tergugah untuk membalas ******* bibirnya. Aku menutup mata dan menikmati sentuhan bibir Arka.
Arka perlahan melepaskan bibirnya dan memberikan senyum padaku namun tidak melepaskan diriku. Kami tetap sangat dekat dan tanganku masih menempel di dadanya.
"Maaf, ndan. Kenapa kamu langsung masuk padahal belum ada izin dari tuan rumah," kata Arka protes pada Awan.
"Apa yang kalian lakukan?" pertanyaan Awan yang membuatku tertawa.
"Kami ini suami istri jadi wajar dong," jawabku walaupun ini pertama kali aku dan Arka berciuman dalam durasi lumayan lama.
"Kas, kamu yakin dengan semua ini?" pertanyaan Awan lagi-lagi membuatku semakin tidak bisa menahan emosi.
"Wan, kita tuh sudah selesai sejak aku menikah dengan Arka," jawabku menegaskan pada Awan untuk kesekian kali.
"Aku masih nggak bisa terima semua ini," kata Awan sambil berjalan mendekati kami.
Arka dengan sigap langsung berdiri menghalangi Awan yang mendekat dengan tujuan untuk menarikku. Tangan Arka memegangi tangan Awan supaya Awan tidak bisa menyentuhku.Mereka saling tatap dan tidak ada pergerakkan apapun dari mereka.
__ADS_1
"Ndan, tolong hargai keputusan Kasih. Kamu dengar sendiri kan? Dan tolong jangan datang lagi kalau hanya untuk mengharapkan Kasih kembali," kata Arka sambil melepaskan tangan Awan dengan kasar.
"Kamu jangan ikut campur," kata Awan sambil menunjuk ke arah Arka.
"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita tadi pagi? Maaf, villa ini milikku aku mohon dengan sangat, silahkan pergi dari sini," kata Arka mencoba mengusir Awan.
Awan melangkah mundur dan menatap Arka dengan penuh kebencian. Aku bernapas lega, ku kira mereka akan berkelahi lagi. Awan benar-benar pergi. Perjanjian apa yang mereka bahas? Ingin aku menanyakan pada Arka tapi sepertinya emosi sedang menyelimuti dirinya sehingga aku takut untuk memulai pembicaraan.
Arka kemudian pamit untuk mandi dan meninggalkan aku sendirian di ruang tamu ini. Aku kemudian bergegas kembali ke kamar, takut kalau-kalau Awan hilang akal lalu kembali melakukan hal yang pernah dilakukannya kebun strawberry atau bahkan lebih parah lagi Awan bisa saja menculikku.
Langkahku berhenti saat masuk ke kamar, aku mendapati Arka bertelanjang dada dan hanya ada handuk yang melingkar di pinggangnya. Wow, badannya yang berotot dan air menetes dari rambutnya membuat Arka terlihat sangat seksi. Astaga, makhluk apa yang saat ini ada di hadapanku? Kenapa pesonanya nggak pernah hilang dari mataku
"Cepat banget mandinya," sapaku namun kenapa mataku terus menatapnya tidak mau lepas
"Belum selesai, ini ambil shampo, tadi lupa nggak kebawa." jawab Arka sambil menunjukkan botol shamponya.
Arka lalu menyeringai dan kemudian berjalan mendekat dan bodohnya aku malah melangkah mundur, sampai pintu memaksaku berhenti. Arka malah memepetku sambil tangannya menutup rapat pintu lalu menguncinya. Ku atur napasku saat wajah Arka mulai mendekatiku.
"Ngelihatinnya biasa aja, awas nanti jatuh cinta," bisik Arka di telingaku.
Kembali ku nikmati lembutnya bibir Arka menjelajahi wajahku dan berhenti di bibirku, bahkan Arka terus menerus ******* dan mengecap bibirku atas dan bawah sampai aku merasa kehabisan napas dan perlahan Arka melepaskan ciumannya, namun dahi Arka tetap menempel di dahiku.
"Kenapa diam? kamu berharap lebih dari ini ya?" kata-kata Arka yang membuat jantungku berdegup lebih cepat dan wajahku menjadi memerah.
"Me-memangnya a-apa yang ka-kamu ha-harapkan yang aa-ada di otakku?" tiba-tiba aku gagap.
"Lalu kenapa wajahmu merah seperti itu?" goda Arka sambil tersenyum dan tangannya memeluk erat pinggangku.
"Bukan apa-apa," jawabku sangat cepat.
Arka lalu mengangkat ku dan merebahkanku di atas tempat tidur, dan Arka kemudian menindih badanku.
Aduh, apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1