MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 46


__ADS_3

Arka tidak pernah berusaha menguasai ku, semua yang dikatakan Awan itu salah besar. Arka selalu membebaskanku melakukan apapun, tidak sedetikpun ada usahanya untuk memaksa ataupun mengekang aku. Dia bahkan menyerahkan semua keputusan di tanganku. Kalau aku bilang 'iya' dia pasti aku setuju dan kalau aku bilang 'tidak' dia pasti akan akur saja. Walaupun aku tidak pernah tahu persis apa yang Arka lakukan di luar sana. Dia memang kadang tidak terbuka padaku bahkan tadi dia bersamaku dan seperti kecolongan dia menemui Awan tanpa sepengetahuanku. Bisa-bisanya Arka mencuri waktu saat bersamamu hanya untuk menemui Awan.


"Arka bukan pawangku, dia teman yang baik," kataku berusaha membela Arka.


"Kamu bahkan menyebut dia teman, padahal kalian akan segera menikah. Kamu nggak pernah tulus jalan sama Arka kan?" desak Awan.


"Terserah aku mau mengganggap apa Arka di hidupku, yang pasti selama ini Arka baik sama aku," kataku selalu membela Arka.


"Kamu belum tahu saja aslinya Arka," kata Awan dengan nada penuh emosi.


"Kalian bertengkar lagi?" tanyaku memastikan


"Nggak, karena aku menghargaimu, sayang. Tapi kalau dia terus menerus berulah seperti tadi aku nggak akan segan untuk mematahkan hidungnya," Awan kemudian mengakhiri penggilannya.


Aku bahkan belum tahu apa yang mereka bicarakan. Aku ingin menghubungi Awan lagi namun hati kecilku mengatakan kalau sebaiknya tidak perlu karena aku khawatir Awan akan berharap padaku. Biarlah, masih ada besok dan aku akan mencoba mencari jawaban dari Arka. Walaupun aku belum tahu bisa berhasil atau tidak.


Aku jadi berpikir keras tentang kata-kata Awan. Aku jadi penasaran seperti apa aslinya Arka. Apakah di balik semua kebaikan yang dia lakukan ada maksud terselubung yang tidak pernah aku ketahui.


...****************...


Hari ini aku menolak diantar jemput Arka. Aku ingin menikmati hari-hariku berangkat dan pulang bersama Rayi menaiki sepeda motor menembus dinginnya pagi dan menerobos kemacetan. Walau Rayi sedikit mengomel karena merasa enaknya diantar jemput seperti tuan putri, tapi akhirnya dia setuju juga karena ini hanya akan berjalan kurang lebih dua bulan ke depan.


Aku langsung ke ruang HRD mengajukan surat pengunduran diriku. Walaupun berat, tapi HRD harus setuju dengan keputusanku. Dalam sisa masa kerjaku, aku harus mengajari asistenku semua pekerjaan karena dialah yang akan menggantikan pekerjaanku untuk sementara. Kalau pekerjaannya bagus, kemungkinan dia yang akan ditetapkan sebagai pengganti ku. Aku akan masuk seperti biasa dua bulan sejak suratku masuk di HRD. Lega rasanya walaupun akhirnya timbul banyak pertanyaan di kepalaku. Bagaimana dengan cicilan KPR kalau aku tidak bekerja? Akan aku apakan rumah ku sekarang? Bagaimana kebutuhanku ke depannya nanti.


...****************...

__ADS_1


Arka ke rumah saat aku pulang. Dia sudah keliling perumahan saat menungguku pulang. Dasar Arka begitu cepat bergaul, banyak tetangga yang sudah mengenalnya bahkan banyak yang suka dengan kehadirannya. Saat Arka sudah pulang, aku menyajikan secangkir kopi untuknya namun dia menolak dan minta segelas air mineral. Alasannya dia sudah minum kopi sore tadi.


"Ya kamu kan ke depannya jadi istriku, jadi aku yang bayarin semua KPR dan kebutuhanmu" kata Arka saat aku mengungkapkan kekhawatiranku.


"Nggak gitu konsepnya, Ka. Aku kan pingin miliki semua dari hasil jerih payahku sendiri," kataku mengungkapkan impianku dari dulu.


"Terus? Kamu keberatan resign?" tanya Arka membuatku diam.


"Kenapa kita harus pindah sih, Ka?" tanyaku pelan.


"Awan tinggal di sini, hanya sesekali ke luar negeri. Kita harus mengalah dan pindah supaya kamu nggak ketemu dia," kata Arka yang membuat aku terkejut.


"Sejak kapan kamu posesif sama aku, Ka?" tanyaku dan teringat kata-kata Awan tentang Arka yang dianggap pawang yang ingin menguasaiku.


"Aku posesif?! Nggak gitu Kas, semua karena Awan masih mengincar kamu terus, padahal kamu nggak mau kan ketemu dia? Aku hanya ingin kamu nyaman," kata Arka sambil menatapku dalam.


"Iya, terakhir semalam sebelum nganterin kamu pulang. Rayi nggak cerita? Semalam aku lihat Rayi cuma kok dia nggak nyapa, apa mungkin bukan Rayi?" kata Arka sangat santai seperti tidak ada yang ditutup-tutupi.


"Iya, Rayi cerita kalau lihat kamu sama Awan tapi kok kamu nggak cerita ke aku?" tuntut ku meminta penjelasan.


"Kamu nggak nanya, jadi ku kira kamu nggak mau tahu," jawaban Arka yang membuat aku melongo.


Hanya karena aku tidak bertanya lalu dia menyimpan semua untuk dirinya sendiri seolah semua ini tidak perlu dibahas. Untung semalam Rayi melihat mereka, jika tidak aku pasti akan menganggap semua baik-baik saja.


"Kalau boleh tahu, kalian ngapain? Berantem lagi?" tanyaku berharap Arka menjawab sejujurnya.

__ADS_1


"Ya, membahas kalau kamu dan aku akan pindah. Tapi sepertinya Awan nggak suka, tapi nggak sampai berantem juga," kata Arka.


Aku sudahi pembicaraan kami, segampang ini mendapat informasi dari Arka. Tapi mengenai kebenarannya aku sendiri tidak bisa memastikan.


"Kalau aku nggak masalah harus bertemu Awan gimana?" tanyaku memancing siapa tahu Arka mau berubah pikiran.


"Ku anterin ke Awan sekarang yuk," ajak Arka seolah menantang ku.


Aku hanya diam tidak memberi jawaban. Sejujurnya aku tidak siap kalau harus bertemu Awan saat ini, mungkin sampai selamanya. Dengan pernikahan ini aku merasa sudah mengkhianati Awan. Mau taruh di mana mukaku kalau sampai aku bertemu dengannya. Jangankan untuk bertemu, menerima telepon dari Awan saja aku masih canggung. Aku hanya menundukkan kepala tidak berani menatap mata Arka. Betapa dia sangat mengerti aku sampai sedetail ini.


Ternyata semalam saat aku mandi, Awan datang ke rumah Arka. Karena menurut Arka aku tidak siap untuk bertemu dengan Awan, Arka meminta Awan untuk pergi dan berjanji akan menemuinya nanti. Arka khawatir kehadiran Awan akan sangat menggangguku sehingga mendadak Arka memutuskan untuk tidak tinggal di kota ini.


"Kamu bilang ke Awan kalau aku sekarang tinggal di rumahmu?" tanyaku menyelidiki.


"Nggak, aku cuma bilang kalau kamu di kamarmu. Dia aja yang menyimpulkan sendiri," kata Arka.


Aku jadi tertawa sendiri mulai memahami sifat Arka yang kalau bicara menggantung. Tidak akan jelas kalau kita tidak berusaha mencari penjelasan.


"Gimana? jadi ketemu Awan nggak?" tanya Arka sekali lagi memastikan dan kujawab dengan bungkam dan diam.


Arka hanya tersenyum melihatku yang kebingungan. Kemudian dia memintaku untuk bersiap-siap karena dia akan mengajakku pergi. Aku turuti perkataan Arka, dan saat di mobil aku mulai bertanya.


"Mau ke mana kita?" tanyaku menirukan suara Dora the Explorer


"Ketemu Awan," kata Arka santai.

__ADS_1


Apa? Di saat aku nggak siap. Aku hanya mengujinya tapi kenapa Arka menganggapnya serius? Aduh senjata makan tuan.


__ADS_2