
"Pagi zheyeng, tumben kamu bangun duluan? Takut diapa-apain ya?" kata mas Arka saat aku menyiapkan sarapan untuknya.
Diapa-apain apa? Arka semalam tidur sangat nyenyak sedang aku tidak bisa tidur sama sekali gara-gara panggilan malam itu. Kalau itu salah sambung, nggak mungkin nama kontaknya keluar. Masih dengan pertanyaan yang sama, ngapain jam segitu ada perempuan yang menelpon Arka? Malas juga ku tanyakan sama Arka, nanti dia malah merasa sok penting lagi.
"Yank!" Arka memanggilku lagi.
"Iya, " jawabku singkat dan terkesan jutek.
"Kamu kenapa? Ngambek? Itunya masih sakit ya?" tanya Arka sambil menebak-nebak.
"Nggak, hati yang sakit," kataku sambil menarik kursi untuk Arka duduk dan meletakkan nasi goreng di depannya.
"Kenapa? Kok tiba-tiba sakit hati?" tanya Arka masih dengan wajah ceria dan itu membuatku semakin sebel.
"Tanya aja sama diri mas sendiri," kataku sambil makan.
Aku perlu makan karena sakit hati perlu tenaga ekstra. Sedikitpun aku tidak menatap Arka yang mulai kebingungan. Sepanjang sarapan, Arka terus menatapku keheranan sambil mengingat-ingat sesuatu. Apa dia belum mengecek ponselnya? Atau dia tidak tahu kalau semalam aku mengetahui seorang gadis sudah menghubunginya? Aku benar-benar mendiamkan Arka dan lama kelamaan Arka menunjukkan kepanikannya. Selesai sarapan mas Arka ke ruang kerjanya dan aku kemudian membereskan semua dan lanjut dengan membantu Mbok Welas walaupun Mbok Welas terus melarangku. Aku harus menyibukkan diri supaya tidak berurusan dengan Arka.
Saat jam 10 Mbok Welas mulai nongkrong di depan TV dan aku memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan. Ke mana aja walaupun aku tidak tahu jalan yang penting tidak diam di rumah, siapa tahu ada yang menarik di luar sana. Jalan kaki saja, daripada naik bus kota atau angkutan tapi tidak tahu rute, malah bisa tersesat sangat jauh, lebih baik jalan kaki, kalau mulai bingung tinggal balik arah saja. Lagi pula aku tidak berniat minggat, hanya ingin pergi sebentar mencari angin segar. Sampai tiba-tiba ada tangan yang menggandengku.
"Mau ke mana? Nggak baik pergi dalam keadaan ngambek, nanti bisa kesambet," kata Arka yang sudah di sampingku dengan senyumnya yang meluluhkan hati.
"Bosan di rumah. Kok mas ngikutin aku? Nggak kerja?" kataku berusaha menutupi semua.
__ADS_1
"Kerja nggak bisa fokus, apalagi kamu pergi tanpa pamit gini," kata Arka dan membuat aku menghentikan langkahku.
"Kenapa memangnya?" tanyaku mulai jutek lagi, sumpah mood swing melebihi saat PMS.
"Kalau kamu hilang gimana?" tanya Arka masih berusaha bercanda.
"Bagus dong, kamu bisa bebas sama gadismu yang kamu panggil lovely itu," akhirnya tak mampu aku simpan, aku mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.
Arka tampak kaget dan sedikit melotot mendengar perkataanku itu. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikannya, dengan cepat Arka menarikku dan membawaku pulang ke rumah. Tanpa basa-basi dulu dengan Mbok Welas, Arka langsung membawaku ke kamar dan memintaku duduk di meja rias.
"Gara-gara ini?" tanya Arka sambil menunjukkan ponselnya.
Ternyata tadi pagi Arka balas meneleponnya dan itu hampir satu jam. Sepertinya jantungku mulai tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuhku dengan ritme normal. Rasanya dadaku bertambah sesak melihat kenyataan ini.
Kan harusnya aku yang marah? Tapi kenapa sikap dingin Arka membuatku merasa semakin terpojokkan? Seperti bumerang, amarah ini malah berbalik menyerang ku.
"I-ini siapa yang telpon, mas?" tanyaku sedikit takut melihat ekspresi Arka yang tegang tanpa senyum.
"Itu, Lovely, L-O-V-E-L-Y namanya lovely, bukan panggilan spesial atau apapun. Dia anak dari rekan bisnis papa yang saat ini tinggal di luar negeri," kata Arka sangat tegas dan jelas.
Aku terdiam. Bodohnya aku terlalu kekanak-kanakan, semua pasti ada jawaban kalau aku bertanya. Tidak meraba-raba sendiri dan bermain dengan emosiku sendiri. Bingung karena ulahku sendiri. Aku menunduk, air mataku jatuh menangisi kebodohanku yang konyol. Terasa Arka memelukku dan mencium puncak kepalaku. Dia mengusap punggungku dan meminta maaf karena bersikap kasar padaku. Tapi harusnya akulah yang meminta maaf karena telah salah paham padanya. Akulah yang menjadi penyebab semua ini.
"Kamu cemburu, yank?" Arka mulai menanyaiku dengan senyum jahilnya.
__ADS_1
"Nggak," jawabku sambil membuang muka dan menghapus sisa air mata yang masih basah di pipi.
"Nggak salah, maksudnya?" goda Arka lagi dan aku tersenyum.
Arka lalu bercerita tentang Lovely yang tujuh tahun lebih muda darinya dan baru belajar mengelola perusahaan keluarga mereka. Sudah beberapa hari ini mereka berhubungan, namun karena tadi itu menurut Lovely sangat darurat, dia terpaksa menelepon meminta bantuan Arka. Kemungkinan minggu depan Lovely akan bergabung dengan perusahaan Pak Surya. Jadi anak magang supaya dia paham dengan seluk-beluk perusahaan.
"Kamu nggak tanya Mbok Welas? Mbok Welas kenal kok," kata Arka lagi dan membuatku semakin malu.
"Habis namanya mencurigakan," aku beralasan supaya tidak terlalu merasa bersalah.
"Namamu juga Kasih, Kasihku. Ada juga yang namanya Cinta, Kalau anak kita lahir, namanya Tresno aja, njawani" kata Arka yang kemudian menepuk pipiku dan kembali ke ruang kerjanya.
Anak? Apa Arka sungguh-sungguh ingin mempunyai keturunan dariku? Aku juga harus siap, ya mungkin nanti aku akan mengajak Arka untuk belanja bulanan dan membeli susu persiapan kehamilan dan beberapa vitamin. Supaya anak kami nanti lahir dengan sehat dan kuat. Kalau anakku nanti mirip Arka, pasti luar biasa lucu dan menggemaskan. Semoga anakku juga memiliki lesung pipi yang mempermanis senyumnya dan juga sabar serta dewasa, tidak ceroboh dan konyol sepertiku. Tiba-tiba ponsel Arka yang berada di tanganku bergetar dan itu panggilan dari Lovely. Ku beranikan diri untuk menjawabnya.
"Ka, nanti kamu yang jemput aku ya di bandara. Aku kangen pingin meluk kamu, kiss-kiss kamu," suara Lovely terdengar sangat manja dan terkesan menggoda.
"Iya, nanti aku sampaikan ke Mas Arka," jawabku sambil menelan ludah yang terkumpul dan ingin meluapkan semua emosi dan caci maki.
"Ini siapa?" tanyanya sangat centil.
"Saya istrinya Mas Arka," jawabku dengan bangganya memperkenalkan diri supaya anak kemarin sore itu tau diri.
"Arka sudah nikah? Kapan? Kok dia nggak cerita? Oh, pasti yang dijodoh-jodohin sama Om Surya itu ya? Kesian ya, kalian berpura-pura bahagia padahal nggak saling cinta," kata Lovely sok tahu.
__ADS_1
Tahu apa dia tentang perasaan kami? Terus kalau kami tidak saling cinta, dia mau seenaknya memeluk dan mencium suami orang? Bisa genit dan manja sama suamiku? OK, aku anggap ini sebagai perang memperebutkan cinta. Mungkin dia perlu belajar tentang ungkapan Semuanya adil dalam perang dan cinta.