
Ku perhatikan lagi dengan seksama siapa tahu aku yang salah melihat dan ternyata itu benar-benar mereka. Untuk apa kami bersusah payah pindah ke kota lain namun masih bisa bertemu di sini? Aku terus memperhatikan mereka.
"Lihat apa Kas?" tanya Arka yang sudah ada di belakangku.
"Itu kan Chloe,Sophie sama Awan," jawabku sambil menunjuk ke arah mereka.
"Oh iya, ternyata mereka juga ikut," jawab Arka terkesan santai dan tidak terkejut sama sekali.
"Kok bisa ikut?" tanyaku lagi
"Ini kan semacam lelangan, siapapun bisa ikut. Mereka kan saingan bisnis kita," penjelasan Arka cukup membuatku mengerti.
Apa Awan tahu kalau aku juga di sini menemani Arka? Aku tidak pernah benar-benar siap untuk bertemu lagi dengannya. 'Masih tersimpan semua kenangan' suara Mahalini memenuhi kepalaku. Ingin ku teriakkan nyanyian itu, tapi pasti Arka akan berkomentar yang menyakitkan lagi.
"Ya udah, kamu istirahat dulu ya, aku mau ketemu relasi sebentar," kata Arka yang mengulurkan tangan untukku dan mencium keningku seperti biasa.
Aku lalu melingkarkan tangan di pinggangnya dan meletakkan kepalaku di dadanya. Entah mengapa aku merasa ingin memeluknya dan tidak ingin jauh darinya. Ingin rasanya ku tahan Arka di sini.
"Aku ikut boleh?" tanyaku.
"Kan aku kerja, nanti kamu bosan. Tumben kamu jadi manja gini?" kata Arka sambil tangannya membelai rambutku dan mencium puncak kepalaku.
"Mas nggak suka?" tanyaku lagi.
"Seneng banget cuman tak tepat waktu. Ya udah aku berangkat dulu ya," kata Arka dan aku melepaskan pelukkanku.
Jam segini juga pasti Rayi sedang sibuk bekerja. Aku lalu keluar berjalan-jalan dengan memakai hoodie milik Arka. Menurut Pak Santo, penjaga Villa ini, di dekat sini ada kebun strawberry yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki serta dibuka untuk wisata petik strawberry dan kebetulan ini musim panen raya. Dengan semangat 45 dan nyanyian maju tak gentar di hati, ku ayunkan langkah kakiku menuju ke arah kebun strawberry yang dimaksud sesuai dengan petunjuk Pak Santo. Lumayanlah daripada hanya berdiam diri di Villa. Dan akhirnya, setelah tersesat berkali-kali sampai juga aku di tempat tujuan setelah diantarkan oleh segerombolan anak kecil yang kuberi coklat sebagai ucapan terima kasihku. Karena ini bukan hari libur, suasana di kebun terlihat sepi, hanya ada dua orang bapak-bapak yang bertugas menjaga dan melayani pengunjung yang datang. Aku mendekati mereka dan mengatakan tujuan kedatanganku ke sini dan mereka memberiku gunting dan sebuah keranjang kecil.
Aku kemudian menuju ke bagian tengah kebun strawberry ini. Baru kali ini aku melihat tanaman strawbery yang ternyata memiliki batang yang pendek seolah-olah tidak berbatang dan bersifat merayap. Namun, Strawberry memiliki batang utama yang tersusun dengan daun-daun yang melingkari batang dengan jarak yang sangat rapat. Awalnya ku kira pohon strawberry itu besar tinggi seperti pohon mangga atau pohon jambu. Aku lalu jongkok, dan berbekal gunting dan keranjang yang diberikan oleh petugas kebun, aku mulai asyik memetik strawberry sambil sesekali memakannya. Rasa asam manis bermain di lidahku, sungguh enak.
"Enak ya, sayang?" suara tidak asing itu mampir ke telingaku.
__ADS_1
Aku menoleh dan Awan jongkok di sampingku dengan senyumnya. Dengan mata berkaca-kaca Awan berusaha memelukku namun aku kemudian berusaha menghindarinya dan segera berdiri. Awan kemudian ikut berdiri dan menatapku sedih dan kecewa.
"Kenapa?" tanya Awan yang membuatku sedikit emosi.
"Wan, aku ini istri orang, kamu nggak bisa dong main peluk sesuka kamu," kataku sangat tegas.
"Kas, saat aku tahu Arka ke sini, aku bersusah payah merayu Sophie supaya aku bisa ikut, karena aku tahu kamu juga akan ada di sini," kata Awan seolah mengabaikan perkataanku tadi.
"Untuk apa kamu nyari aku? Kita udah selesai, Wan" kataku pelan sambil menghela napas.
"Kas, aku kangen sama kamu," kata Awan lagi sambil berusaha mendekatiku
"Wan, sejak aku menikah dengan Arka sejak itu udah nggak ada apa-apa lagi di antara kita," kataku lagi berusaha menjelaskan dan aku terus berusaha menghindarinya.
"Menikah dengan Arka yang tidak pernah kamu cintai. Kamu nggak akan pernah bahagia," kata Awan.
Awan lalu menarik tanganku dengan kasar sampai aku jatuh ke dalam pelukannya. Dia terus mendekap erat tubuhku meski aku meronta berusaha melepaskan diri. Dia terus mengatakan betapa dia sangat mencintaiku dan tidak ingin melepaskanku. Aku menjadi semakin panik saat sadar ternyata hanya ada kami berdua di sini. Ingin ku berteriak namun bibir Awan sudah menempel dan membasahi bibirku. Aku merasa semakin tidak bisa bergerak dan sulit bernapas. Sampai aku merasakan seseorang menarik tubuhku dan melayangkan tinju ke wajah Awan dan Awan jatuh tersungkur ke tanah.
"Kamu nggak usah ikut campur," kata Awan sambil berusaha berdiri.
"Ndan, dia istriku, aku harus menjaganya," kata Arka sambil terus berusaha melindungi ku dari Awan.
"Alright Captain, dan dia nggak akan pernah mencintaimu!" teriak Awan yang membuat beberapa orang berdatangan.
"Iya, aku akui saat ini aku tidak mencintainya. Tapi saat ini dialah lelaki terbaik dalam hidupku, dia tidak pernah memaksaku, dia selalu menjagaku dan membahagiakan aku. Karena perbuatanmu tadi, cintaku mulai menghilang dan aku perlahan mulai membencimu," kataku berlinangan air mata.
"Kasih," panggil Awan dengan nada melunak dan lembut.
Aku sudah tidak mahu mendengarkan Awan lagi dan meminta Arka untuk membawaku pergi jauh dari sini. Aku tidak bisa terima bahwa Awan yang selama ini aku cintai ternyata tega dengan semena-mena melakukan tindak pelecehan terhadapku.
"Arka! Kita belum selesai!" masih terdengar teriakan Awan saat kami mulai menjauhinya.
__ADS_1
...****************...
Aku hanya duduk termenung di atas tempat tidur dan menyelimuti kakiku yang kedinginan. Arka duduk di depanku sambil menatapku dengan mata penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Harusnya aku mengajakmu ke manapun aku pergi," kata Arka sambil menyelipkan rambut di telingaku dan menghapus air mataku.
"Mas nggak salah," kataku sambil terus terisak dalam tangis yang tak kunjung henti.
Arka tahu kalau Awan tidak datang untuk urusan bisnis dari Sophie. Sophie juga yang meminta Arka untuk menyusulku karena Sophie tahu kalau Awan sedang menuju ke Villa untuk menemui ku. Kemungkinan diam-diam Awan membuntuti ku.
Saat Arka tiba di Villa, dia diberitahu oleh Pak Santo kalau aku keluar berjalan-jalan dan kemungkinan aku pergi ke kebun strawberry. Ke sanalah Arka mencariku dan saat tiba di lokasi, Awan sedang melakukan tindakan yang tidak senonoh itu.
"Awan itu sebenarnya baik, tapi dia terlalu putus asa sampai hilang akal sehatnya," kata Arka masih berusaha membela Awan saat aku terus menerus menghujat Awan.
Suasana menjadi hening dan hanya sesekali terdengar suara Isak tangisku sampai saat Pak Santo mengetuk pintu kamar dan Arka membukanya.
"Ada tamu Mas, katanya teman Mas Arka," kata Pak Santo
"Siapa Pak?" tanya Arka dengan nada sangat sopan.
"Anu Mas, Mbak Sophie sama Mas Awan katanya," kata Pak Santo.
"Ya udah, minta tolong tunggu sebentar ya Pak, sebentar lagi saya turun," kata Arka dan Pak Santo pun berlalu pergi.
Untuk apa mereka ke sini? Lalu kenapa bersama Sophie? Kekecewaanku pada Awan masih menguasai diriku. Rasanya amarah memenuhi diriku namun hanya bisa ku tumpahkan dengan air mata.
"Kamu mau tetap di sini atau mau bertemu dengan mereka? Siapa tahu dia datang untuk minta maaf," kata Arka sambil menggenggam kedua tanganku
"Aku nggak Sudi bertemu Awan, Mas" kataku sambil menunduk dan air mataku menetes di tangan Arka.
"Ya udah, aku temui mereka biar semua cepat selesai," kata Arka sambil berlalu pergi.
__ADS_1