
"Akal bulusnya Kasih aja biar seluruh harta kekayaan bisa mereka kuasai," kata Aditya saat dia sudah kembali ke rumah dan aku membeberkan hubungannya dengan Tandri.
Aku lalu diam, mungkin ada kesalahan karena aku hanya mendengar cerita dari Pak Irawan tanpa menyelidiki lebih lanjut. Aku tidak punya bukti yang kuat untuk mendukung alibiku. Sudah seperti persidangan yang ditayangkan di setiap stasiun TV saja ini dan aku memilih menundukkan kepala semua tatapan mata yang ada di ruangan ini serasa menembus tubuhku. Aditya merasa seperti mendapat angin dan terus mendesakku. Apa perlu aku meminta Pak Irawan untuk melakukan tes DNA sekali lagi.
"Atas dasar apa yank, kamu berpendapat seperti itu?" suara lembut Arka memecah keheningan
"Saat tahu golongan darah Mas Adit beda dari kalian dan mama Alleya. " jawabku.
"Awalnya aku mengira Alleya main serong kemudian menjebakku untuk bertanggungjawab tapi, kenapa kamu menyimpulkan kalau Tandri adalah adik kandungnya Mas Adit? Hanya karena golongan darah mereka sama?" pertanyaan Pak Surya seolah perlahan mengurai benang kusut di kepalaku.
__ADS_1
"Awalnya aku menemui Tandri untuk berterima kasih, tapi... ... ...." kataku terpotong
"Tapi, pikiran jahat muncul di kepalamu," potong Aditya sangat lantang.
Dengan gagah Aditya mengajak kami untuk ke tempat Pak Irawan untuk membuktikan semua omonganku. Tentu saja aku langsung mengiyakan karena semua akan terbongkar dari sumber yang sama denganku. Pak Irawan dan Tandri berada di rumah saat kami tiba. Aneh, sepertinya mereka sudah tahu kalau kami akan datang. Bu Gendis kemudian berterima kasih pada Tandri karena sudah mau mendonorkan darahnya untuk Aditya. Dan kagetnya aku, pengakuan Tandri berbeda dengan yang pernah diucapkannya padaku. Dia mengaku mendengar percakapan antar perawat dan entah mengapa hatinya tergerak untuk membantu. Pak Irawan, Tandri dan Aditya bersikap bahwa mereka tidak saling kenal. Sampai saat Bu Gendis melihat potret Bu Zulaikha yang tergantung di tembok dengan mata berbinar senang padahal sebelumnya foto itu tidak ada di sana. Ibu Gendis mengenali Bu Zulaikha yang sudah menyusui Aditya. Bu Gendis bahkan memuji keluarga ini dimana ibu dan anaknya sama-sama memberikan kehidupan untuk Aditya. Pak Irawan juga tampak kaget saat Bu Gendis memberitahu bahwa Bu Zulaikha adalah ibu susu Aditya seolah itu hal yang baru diketahuinya. Namun bisa ku tangkap bahwa sesekali Pak Irawan dan Tandri mencuri pandang padaku dan lekas tertunduk saat mata kami beradu. Ingin rasanya aku berteriak, kenapa saat itu aku nggak pakai kamera tersembunyi saja atau alat perekam sebagai barang bukti.
"Kenapa kalian tidak tes DNA lagi aja?" tantangku berusaha membuktikan kebenaran.
"Iya, mungkin yang dimaksud itu tapi kamu salah mengartikan semua dan terburu-buru menyimpulkan," kata Bu Gendis tidak lembut seperti biasanya.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Aditya yang tampak tersenyum tipis penuh kemenangan padaku. Pak Surya dan Bu Gendis menatapku dengan tatapan yang tidak bersahabat namun Arka tetap menggenggam tanganku. Aku harus mencari cara untuk membuktikan ini semua. Kenapa aku merasa kalau aku dijebak dan aku adalah penjahat dalam kasus ini padahal aku berusaha menyampaikan kebenaran. Licik sekali Aditya, pasti ini kelicikan Aditya. Aku yakin semua ini pasti ulahnya karena dia punya waktu seminggu saat baru sadar di rumah sakit sampai saat dia keluar karena saat aku menyebutkan nama Tandri, kepanikan tampak di wajahnya. Semua salahku, kenapa saat itu aku tidak langsung mengungkap semuanya hanya karena merasa itu bukan waktu yang tepat.
...****************...
"Kamu yakin dengan pernyataanmu?" tanya Arka saat kami sudah berduaan.
"Yakin mas, ada Rayi kok yang mendengarkan kisah anak yang ditukar ini," kataku sambil tertunduk lesu merasa dijebak dan disudutkan.
"Kamu harus punya bukti selain Rayi. Rayi kan sahabatmu, bisa saja nanti malah dianggap kalian bersekongkol," kata Arka.
__ADS_1
Aku hanya diam mendengarkan penuturan Arka yang merapatkan tubuhnya dan memelukku. Air mata tak terasa membasahi pipiku, menyesali kebodohanku dan kegagalanku karena kurang cepat dan cekatan. Aku juga tidak mengantisipasi sikap Aditya yang serakah dan licik yang harus aku hadapi. Otakku terus berputar mencari cara. Jangankan rekaman video, foto pun aku tidak punya. CCTV di butik juga tidak bisa berbuat banyak karena saat itu aku dan Tandri hanya membicarakan tentang basa basi bisnis dan Tandri hanya menawarkan ku untuk bertemu Pak Irawan. Sehingga masalah dan situasi yang aku hadapi saat ini tidak bisa diungkapkan di sana. Tapi setidaknya Arka masih mendukungku dan tidak menyalahkanku. Pasti Aditya melakukan ini semua hanya supaya dia bisa terus menguasai harta yang diklaimnya milik Bu Alleya. Walaupun sebenarnya aku tidak peduli tentang itu, aku hanya ingin mengungkap kebenaran dan menjawab pertanyaan mengenai golongan darah Aditya. Kepalaku memutar memori yang menyebabkan aku berpikir kalau Tandri dan Aditya punya hubungan yang tidak biasa. Lalu teringat saat aku stalking di medsos Tandri dan aku menemukan jawabannya.
Diam-diam aku harus meminta bantuan Fiona yang pernah menceritakan semua padaku sebelum aku bertemu Tandri. Semua harus aku lakukan secara rahasia tanpa ada orang yang tahu. Aku harus segera menghubungi Fiona.